Alchesia

Alchesia
Chapter 71 Serangan Darat



“Master,” kata Emilia.


Wajahnya terlihat pucat dan cemas. Ia menopang diriku yang hampir kehilangan kesadaran. Sebelum itu, kuminta nagaku untuk ke kota dan membawa Laura kemari.


“Maaf Emilia, kuserahkan sisanya padamu,” kataku sebelum aku kehilangan kesadaran.


Aku berada di dalam mimpi. Ini ingatan sebelum aku datang ke dunia ini. Aku sedang bersama adikku sebelum berangkat. Aku penasaran tentang keadaanya saat ini.


Sudah beberapa waktu berlalu sejak aku datang ke dunia ini. Sekarang ia sedang bersama kakek dan nenek tentunya. Kuharap mereka sehat-sehat selalu.


Keadaan teman-temanku juga membuatku pensaran. Lebih penting dari itu semua sudah beberapa lama aku tidak masuk kuliah. Aku pasti harus banyak mengejar ketertinggalan.


“Master.”


Suara Emilia terdengar memanggilku.


Aku membuka mataku dan melihat ke sekeliling. Sekarang aku berada di dalam sebuah ruangan. Emilia tidur di kursi yang berada di sebelah kasur.


Laura juga ada bersama dengan Charlote. Mereka tidur di atas sofa. Semuanya berada di sini. Syukurlah mereka baik-baik saja.


“Master,” kata Emilia pelan.


Ia mengigau sepertinya. Untuk sekarang kubiarkan saja ia dan yang lain tidur. Aku menyentuh lukaku untuk memeriksa. Rupanya sudah diperban dan aku juga tidak merasakan sakit. Ini pasti skill milik Laura.


Tapi sampai menggunakan perban, itu berarti saat mengobatiku ia menggunakan skill penyembuhan level rendah. Pasti MP miliknya tersisa sedikit karena membantu mengobati penduduk dan prajurit.


Emilia juga terlihat mengenakan perban dibeberapa bagian. Ini oasti untuk mengobati luka-luka dari pertarungan sebelumnya.


“Hmmmm.”


Sepertinya Emilia sudah bangun.


“Selamat pagi Emilia.”


Dia menatapku dengan wajah bingung. Telinganya bergerak-gerak dan terlihat imut. Ia mengusap matanya.


“Master,” kata Emilia dengan sedikit keras.


Aku memberi isyarat menggunakan jariku untuk tidak berbicara terlalu keras dan membangunkan yang lain. Emilia menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.


“Syukurlah master sudah bangun,” katanya sambil menahan air mata.


“Maaf membuatmu khawatir.”


“Sudah 3 hari master tidak membuka mata, jadi aku takut kalau master….”


Rupanya sudah 3 hari aku tidak sadarkan diri. Ini lama, terlalu lama. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi selama 3 hari itu.


“Aku tahu master ingin tahu apa yang sudah terjadi selama 3 hari ini, tapi kita akan membahasnya setelah Laura dan Charlote bangun.”


“Kamu memang tahu diriku Emilia. Baiklah kita bahas nanti.”


Emilia memberitahu sedikit tentang bagaimana Laura mengobati lukaku. Sesuai dugaanku tadi, ia memang kehabisan MP hingga harus menggunakan potion dan perban.


Skillnya hanya digunakan untuk mengobati luka pada organ dalam lalu sisanya menggunaka potion. Luka tusukannya hingga menembus ke punggungku. Aku juga kehilangan banyak darah, namun berkat beberapa potion hal itu berhasil di atasi.


Tidak berselang lama, Laura dan Charlote bangun. Mereka juga bereaksi sama dengan Emilia tadi.


“Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?” tanya Laura.


Setelah itu, Laura dan Charlote mengambil kursi dan duduk di sebelah Emilia.


“Aku ingin tahu apa yang sudah terjadi selama 3 hari ini. Bisa kalian beritahu?”


Mereka bertiga menganggukan kepala.


Dimulai dari Charlote. Ia memberitahu saat berada di kota bersama dengan Laura, ia melihat nagaku dan segera memanggil Laura. Beberapa prajurit dan penduduk takut saat melihat naga itu, namun ditenangkan oleh Laura.


Kemudian mereka berdua segera menuju ke tempatku dan Emilia. Laura dengan menngunakan sisa MP miliknya segera mengobati lukaku dan menghentikan pendarahannya.


Sementara Laura mengobatiku, Emilia menggunakan potion untuk membantu proses penyembuhannya. Sebelum Laura dan Charlote datang, Emilia sudah melakukannya untuk menghambat pendarahan.


Setelah itu, Charlote segera memasang perban. Untuk Emilia sendiri ia cukup menggunakan potion untuk mengobati lukanya. Meski begitu Laura juga menggunakan skill penyembuhan padanya.


Aku dan Laura segera kembali ke kota dengan menggunakan naga disusul oleh Emilia dan Charlote. Aku segera dibawa ke banguna guild dimana tempat para petualang dirawat.


Selama 3 hari itu pasukan Liden juga datang tapi tidak seperti sebelumnya. Pada 2 hari pertama mereka menyerang dengan pasukan yang lebih besar, namun dikalahkan.


Nagaku, Emilia, dan juga Charlote berperan penting untuk memaksa mudur pasukan Liden. Pada hari ketiga, pasukan dari ibukota datang dan melakukan serangan balik dan menerobos masuk wilayah Liden.


Selain itu ada pengumuman juga dari ibukota. Mereka memutuskan untuk berperang dengan Liden, karena mereka menolak untuk melakukan pertemuan dan malah mengirim pasukan.


Selain itu Sakura Empire mengumumkan kalau Yuna dan partynya tidak akan terlibat dalam perang ini. Hal itu menghasilkan serangan dari Liden yang lebih besar.


Jadi sepertinya Liden takut dengan Yuna atau para pahlawan lain. Mungkin berita tentang paea pahlawan sudah sampai ke mereka. Mulai dari Ellis dan juga Yuna yang menaklukan dungeon.


Liden juga mengirim angkatan laut untuk berperang. Wilayah utama Liden berada di seberang lautan sedangkan hanya wilayah kecil saja yang berada di daratan utama dan bersebelahan dengan Sakura Empire.


Laura memberitahu kalau angkatan laut Sakura Empire adalah yang terkuat dari senua kerajaan. Maka dari itu kemenangan di laut sudah pasti. Namun kenyataannya mereka kalah kemarin lusa.


Inilah yang membuat Sakura Empire bingung. Namun ketika Liden mendekat ke sini angkatan laut mereka kalah dengan angkatan laut Sakura Empire.


Ketika pertempuran dekat dengan wilayah Liden, angkatan laut Sakura Empire kalah. Tapi kalau jauh dari Liden, mereka menang.


Ada yang aneh di sini kurasa. Mungkin ada skill dengan jangkauan luas yang membuat Liden kuat dan orang asing lemah. Tapi untuk skill semacam ini dibutuhkan kekuatan yang besar.


Pasukan yang menyerang daratan tidak bisa melanjutkan perjalanan karena dihadang oleh seseorang yang mengenakan jubah merah dan topeng. Meski kalah jumlah, ia berhasil membuat pasukan Sakura Empire mundur.


Orang itu pasti juga orang yang sama dengan waktu itu. Emilia juga sudah memberitahu Laura dan Charlote tentang apa yang terjadi di medan perang dan mengenai orang yang ia lawan.


Mereka juga setuju kalau orang yang menghadang pasukan Sakura Empire adalah orang yang sama. Selain itu ia juga menggunakan 2 buah katana yang dilapisi dengan api.


Serangan dari darat dan laut tidak bisa dilanjutkan karena tertahan. Untuk sementara Sakura Empire tidak melanjutkan serangan karena buntu. Mereka sedang mencari cara untuk mengatasi masalah ini.


“Itu saja yang kami tahu,” kata Emilia.


“Sekarang apa yang akan kita lakukan?” tanya Laura.


“Kita masih tidak tahu soal kekuatan Liden di seberang sana, karena itu kita akan membantu pasukan darat.”


“Master, untuk orang yang mengenakan jubah itu, aku yang akan melawannya,” kata Emilia.


Aku menganggukan kepala.


“Kali ini kamu harus lebih berhati-hati.”


“Baik master.”