
Pagi harinya, aku, Emilia dan juga Laura pergi menuju guild petualang yang ada di hutan elf. Ketika kami sampai di temat itu, aku terkejut. Sebelumnya aku mengira kalau petualang yang ada di hutan elf berasal dari kaum elf saja namun setelah melihatnya sendiri ternyata tidak.
Aku melihat ras lain selain elf. Ada manusia dan juga manusia setengah binatang seperti Emilia. Namun, juka aku perhatikan baik-baik mereka memang memiliki anggota party elf yang berjumah 2 orang atau lebih.
Kami menuju meja resepsionis untuk mendaftar. Di meja itu ada seorang laki-laki elf yang bertugas.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Kami ingin mendaftar sebagai petualang di tempat ini,” jawab Laura.
“Kalian baru mendaftar atau sudah pernah menajdi petualang sebelumnya?”
“Kami sudah oernah dan ini kartu tanda petualang kami.”
Kami bertiga menyerahkan kartu kami kepada petugas itu. Ia kemudian memerikas kartu kami. Aku tidak tahu apa yang ia periksa. Mungkin keasliannya atau juga identitas yang tertera.
“Ciel dan Emilia peringkat C. Lalu Laura peringkat A. Tunggu dulu Laura?”
Petugas itu terkejut ketika membaca nama Laura. Memangnya apa yang aneh?
“Iya. Aku Laura. Ada masalah apa?”
“Tidak. Hanya saja namamu sama dengan seorang petualang yang partynya dimusnahkan oleh Black Dragon. Kudengar ia berkelana sekarang.”
“Itu memang diriku. Sekarang aku kembali ke sini.”
“Apa!? Dragon survivor telah kembali.”
Petugas itu berteriak sehingga terdengar oleh orang-orang yang ada di situ. Mereka jadi ikut-ikutan heboh karena hal itu.
Dragon survivor? Aku tidak tahu kalau Laura punya julukan seperti itu.
“Hei Laura, apa itu julukanmu?” bisikku pada Laura.
“Aku juga tidak tahu. Ini baru pertama kali aku dengar.”
Aaa… Mungkin selama ini karena ia yang selamat mereka mereka memberikan julukan itu kepadanya.
“Ano… Kenapa Laura bisa dipanggil seperti itu?” tanya Emilia kepada petugas guild.
“Itu karena sampai sekarang ini hanya Laura yang selamat dari Black Dragon.”
Ketika petugas itu mengatakan Black Dragon, wajah Laura berubah menjadi pucat. Kurasa ia masih trauma dengan monster itu sepertinya.
“Berarti sesudah party Laura ada banyak orang yang kehilangan nyawanya karena Black Dragon ini?” tanya Emilia lagi.
“Ya. Party milik Laura adalah korban pertama. Lalu mulai dari pedagang, petualang, bahkan hingga bangsawan kemudian menjadi korbannya.”
Aku mengerti sekarang. Monster itu menjadi ancaman serius sekarang ini buat banyak orang. Jikan kami berhasil mengalahkannya mungkin kami akan naik level banyak.
“Tunggu dulu. Kau bilang bangsawan dan juga pedagang bukan?” tanyaku.
“Ya.”
“Kenapa ada bangsawan dan juga pedagang masuk ke dalam dungeon?”
“Mereka tidak di serang di dalam dungeon tapi di luar.”
Apa?
Bagaimana mungkin ada monster sebesar itu bisa keluar?
Bisa jadi monster itu mungkin bukan berasal dari dalam dungeon sejak awal. Ketika party Laura masuk mungkin saat itu ia juga kebetulan masuk.
“Lokasi mereka di serang pasti berada di wilayah kekuasaan Black Dragon?”
“Tepat. Lokasinya berjarak 1 hari berjalan kaki ke arah timur dari hutan elf. Lebih tepatnya…”
“Blood Hill,” tebak Laura.
“Benar. Kami sedang berkomunikasi dengan kota lain untuk mengirim petualang untuk mengalahkannya. Pihak kerajaan juga akan mengirimkan pasukan untuk mengalahkannya.”
“Kami mengerti. Lalu soal pendaftaran kami?” kata Laura.
“Sebentar lagi selesai. Tingga memberi cap Tron saja.”
Ketika kami mau keluar, aku mendegar salah seorang dari mereka mengatakan kalau hari ini Evan bersama putri Teresia tidak datang ke guild. Aku harap bisa ketemu pahlawan hari ini, tapi sepertinya itu tidak mungkin.
“Laura, tadi petugas itu mengatakan cap Tron?”
“Itu adalah cap kota. Kota ini atau hutan elf ini bernama Tron. Lalu soal pelindung yang aku beritahu kemarin adalah kekuatan dari sihir hutan elf ini.”
“Ok. Aku mengerti. Laura, disini ada toko barang dungeon atau tidak?”
“Ada. Kamu pasti mencari relik Glyph ya?”
“Iya. Tolong antarkan aku kesana.”
“Baiklah.Ayo!”
Kami berkeliling ke beberapa toko yang menjual barang-barang yang berasal dari dungeon. Kebanyakan yang mereka jual adalah aksesoris atau senjata dari dalam dungeon saja. Di toko terakhir aku mendapatkan 1 relik Glyph.
Sesudah itu kami berkeliling lagi melihat-lihat kota. Kami mencoba beberapa makanan khas dari Tron. Kebanyakan hasil olahan dari sayuran dan juga buah. Setelah puas kami kembali ke rumah Laura. Aku dan Emilia masuk ke kamar kami.
Aku akan mengambil kekuatan Glyph yang baru saja aku beli. Sudah 2 Glyph hasil dari pembelian. Kali ini apa ya…?
Glyph panah Arcus sudah didapatkan.
Jadi aku mendapatkan senjata lagi dan kali ini panah. Sekarang aku punya senjata jarak jauh. Sebenarnya Ignis itu juga cukup tapi sangat boros mana. Aku sudah memikirkan soal aku dan Emilia akan menyerang Black Dragon sejak tadi.
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting Emilia.”
“Apa itu master?”
“Aku ingin mengalahkan Black Dragon.”
“Kalau begitu aku juga ikut. Boleh kan?”
“Tentu. Memang aku juga ingin mengajakmu. Aku juga ingin mengajak Laura, tapi sepertinya di masih merasa takut.”
“Jadi kita berdua saja begitu master?”
Belum sempat aku menjawab Emilia, Laura masuk ke kamar kami.
“Tidak. Jadikan 3 orang. Aku juga akan ikut.”
“Kamu yakin?”
“Aku berterima kasih karena kalian mengkhawatirkanku. Tapi ini masalahku dan aku ingin menyelesaikannya.”
“Baiklah. Kami mengerti.”
“Untuk itu, aku mohon bantuannya,” kata Laura.
“Serahkan pada kami,” sahut Emilia.
Kami lalu menentukan hari penyerangan dan kami memilih besok lusa berangkat. Kemudian kami juga akan mencari misi yang berlokasi dekat dengan Blood Hill sebagai kamuflase. Besok kami berencana membeli beberapa perlengkapan dan juga mengambil misi.
Keesokan harinya, kami pertama-tama membeli semua kebutuhan kami untuk penyerangan. Setelah dirasa cukup kami menuju guild untuk mengambil misi yang akan menjadi penyamaran kami. Setelah mencari, kami mengambil misi pengumpulan tanaman obat dalam jumlah banyak serta mengalahkan beberapa hobgoblin.
Kami kembali ke rumah Laura untuk menyusun strategi. Rencananya, kami akan menjalankan misi, baru setelah itu melakukan penyerangan. Bila kami menyerang dulu, maka kami akan kehabisan tenaga untuk menjalankan misi.
“Ini akan jadi penyerangan besar pertama kita di luar dungeon,” kata Emilia.
“Tidak juga. Pasti Laura juga pernah kan?” tanyaku.
“Belum. Ini pertama kalinya buatku. Selama ini aku hanya pernah menyerbu di dalam dungeon,” jawab Laura.
“Jadi ini akan pengalaman pertama kita bersama kah?” kataku.
Emilia dan Laura menganggukan kepala.
“Kita belum tahu seberapa kuat monster itu sekarang, tapi yang pasti ia lebih kuat dari boss dungeon yang kita kalahkan sebelumnya.”
“Itu pasti,” sambung Laura.
“Besok kita berangkat dan menjalankan misi terlebih dahulu, baru besoknya kita akan bertarung habis-habisan.”
Kemudian kami segera tidur, karena kami akan berangkat pagi-pagi sekali.