
"Serahkan mereka berdua bandit!"
Mereka kira kami bandit yang menculik Charles dan juga Charlote.
"Tapi kenapa banyak sekali prajurit untuk dua orang ini saja?"
"Apa jangan-jangan Charles dan Charlote ini bukan anak biasa hingga mengerahkan prajurit sebanyak ini hanya untuk menangkap bandit."
Mereka semakin mendekati kami. Aku juga bisa melihat di barisan belakang mereka ada beberapa penyihir yang bersiap untuk menyerang.
Aku dan Emilia belum mengeluarkan senjata sama sekali. Kami tidak ingin situasinya tambah kacau. Charles dan Charlote ada di antara aku dan Emilia.
Kemudian seorang pria dengan armor lengkap yang memiliki jubah maju ke depan. Aku perkirakan ia mungkin adalah pemimpin pasukan ini.
"Serahkan mereka berdua kepada kami, maka hukuman kalian akan diringankan."
"Tunggu dulu! Kalian turunkan senjata," kata Charles."
"Mereka berdualah yang menyelamatkan kami dari para bandit yang menculik kami," sambung Charlote.
Para prajurit yang mengepung kami menurunkan senjata mereka kemudian. Pria yang berbicara tadi lalu berlutut diikuti oleh semua prajurit yang ada di situ.
"Maafkan kami, yang mulia."
"Yang mulia? siapa sebenarnya Charles dan Charlote? Apa mereka berdua ini anak bangsawan?" kataku dalam hati.
Charles mendekati pria itu dan berkata, " Ayo kita pulang."
"Baik yang mulia."
Sebelum mereka pergi Charlote menggandeng tanganku dan Emilia.
"Kalian juga ikut dengan kami," kata Charlote.
Aku tidak begitu mengerti, tapi untuk sekarang aku dan Emilia akan ikut menuju ke rumah mereka berdua.
Ketika kami berjalan di kota, para penduduk melihat ke arah kami seakan-akan kami ini tontonan. Tapi tidak heran juga kalau berjalan di tengah kota dengan dikawal oleh banyak tentara seperti ini.
Emilia juga terlihat gugup karena hal itu. Selain itu ia juga selalu bersiap untuk bertarung jika terjadi sesuatu.
Kami terus berjalan hingga tiba di istana. Dari situ aku dan Emilia tahu kalau Charles dan Charlote ini memang anak dari seorang bangsawan.
Di dalam istana aku dan Emilia berpisah dengan Charles dan Charlote. Kami berdua di bawa ke sebuab kamar dan diminta untuk beristirahat.
Aku dan Emilia menurut saja. Kami masuk ke dalam sebuah kamar yang sangat besar dan juga mewah. Aku jadi ingat dengan kamar tempat aku tidur saat datang ke dunia ini pertama kali.
Beberapa saat kemudian kami dipanggil oleh seorang pelayan dan diantar untuk bertemu dengan raja. Aku dan Emilia saling memandang bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Ketika kami akan masuk ke ruangan yang dimaksud, pelayan itu memberitahukan beberapa aturan ketika bertemu dengan raja. Setelah selesai, ia mengetuk pintu ruangan itu dan mempersilahkan aku dan Emilia untuk masuk.
Sebagai tambahan kami berdua diizinkan membawa senjata ke dalam. Tapi biasanya hanya pengawal raja yang diizinkan membawa senjata ke dalam ruangan itu.
Di dalam kami sudah ditunggu oleh beberapa orang termasuk Charles dan Charlote serta pria yang memimpin pasukan tadi. Orang-orang yang berada di sana juga mengenakan pakaian yang menunjukan kalau mereka ini adalah bangsawan.
Ini mengingatkanku akan kenangan buruk dimana semua ini dimulai. Ruangan yang merubahku menjadi seperti saat ini.
Kami berdua melangkah maju hingga sampai di depan raja dan kemudian kami berlutut. Charles dan Charlote duduk di samping kiri raja. Sedangkan di sebelah kanan raja adalah sang ratu.
"Selamat datang di istanaku, para penyelamat," kata raja.
Kemudian Charles dan Charlote mendekati kami berdua.
"Kalian kuizinkan untuk berdiri," kata raja.
"Terima kasih karena telah menyelamatkan mereka berdua," kata ratu.
"Maafkan kami atas keributan tadi yang diperbuat oleh jendral dan pasukanya," kata raja menyesal.
Sesuai dengan dugaanku pria tadi adalah pemimpin pasukan dan bukan hanya itu, ternyata ia seorang jendral.
Jendral itu maju dan meminta maaf kepada kami atas kesalah pahaman tadi dan juga mengarahkan senjata kepadaku dan Emilia.
"Kami akan memberi kalian imbalan atas perbuatan yang kalian lakukan," kata raja.
Kemudian seorang pelayan datang dan membawa dua kantung uang.
"Masing-masing dari kalian akan mendapat 10 keping emas," jelas raja.
Aku dan Emilia mengambil kantung itu dan mengucapkan terima kasih atasnya.
Kemudian acara itu berakhir. Para bangsawan yang hadir meninggalkan ruangan. Sementara aku dan Emilia diajak ke ruang keluarga raja. Kami diberitahu kalau keluarga raja ingin berbicara secara pribadi dengan kami berdua.
"Silahkan duduk," kata ratu.
Kami kemudian duduk di sebelah Charles dan Charlote.
"Sebagai orang tua kami secara pribadi mengucapkan terima kasih," kata raja.
"Sama-sama," kataku.
"Charles dan juga Charlote adalah anak ke 2 dan ke 3 kami. Kakak mereka sekarang sedang bertugas di luar untuk membahas serangan pasukan iblis," kata ratu.
"Jadi mereka berdua masih memiliki saudara lagi ya?" kataku dalam hati.
Aku juga penasaran siapa yang lebih tua dari mereka berdua karena mereka ini anak kembar. Tapi itu tidak penting juga sebenarnya.
"Mengenai pasukan iblis, apa anda sudah tahu kalau pasukan iblis sudah menyerang kota Tron?" tanya Emilia.
"Ya. Kami sudah mengetahuinya. Serta tentang Evan yang telah mengalahkan salah satu jendral iblis," jawab raja.
"Kami datang dari kota itu dan ikut serta dalam pertempuran itu," kataku.
"Kami datang ke sini untuk memperingatkan kalau ada kemungkinan pasukan iblis akan menyerang ibukota," sambung Emilia.
"Darimana kalian mendapat informasi itu?" tanya raja.
"Kami tidak dapat memberitahukannya. Selain itu ada kemungkinan juga mereka akan menyerang Tron kembali," jawab Emilia.
"Sekarang kelompok kami dibagi 2, satu di sini dan satu di Tron," sambungku.
"Apa informasi ini dapat dipercaya?" tanya ratu.
Aku sadar kalau mereka pasti meragukan kami, karena merahasiakan sumber informasi itu. Padahal itu hanya spekulasi kami.
Aku juga tidak bisa memberitahukan mengenai kebenaran dari pertempuran Tron, karena akan menimbulkan kepanikan penduduk. Lalu soal pahlawan Evan yang belum siap juga.
Aku kemudian menyarankan raja untuk mengirim Evan dan kelompoknya ke dalam dungeon agar mereka menjadi lebih kuat. Aku menggunakan alasan keadaan Evan setelah mengalahkan Regyus.
"Lalu bagaimana kita mengalahkan pasukan iblis bila tidak ada dirinya?" tanya raja.
"Selama tidak ada jendralnya pasukan kerajaan dan para petualang pasti bisa mengatasinya," jawab Emilia.
Aku harap ada waktu untuk Evan dan kelompoknya meningkatkan kekuatan serta level mereka. Jika seperti ini terus mereka tidak akan mampu untuk mengalahkan raja iblis dan menjadi beban untuk pahlawan lainnya.
Saat pertempuran nanti aku, Emilia, dan Laura pasti akan ikut juga sebagai pendukung. Rafael dan yang lain pasti juga sudah mulai latihan keras dari Mia.
Setelah percakapan itu, aku dan Emilia kembali ke kamar diantar oleh Charles dan juga Charlote.