
Kami berhenti beberapa kali untuk beristirahat, karena Rafael dan kelompoknya kelelahan setelah pertama kali menghadapi pertarungan sebesar itu. Dari melihat wajah mereka berlima saja aku tahu kalau mereka sangat kelelahan.
“Ini belum seberapa,” kataku.
“Apa maksudmu belum seberapa?” tanya Rafael.
“Kekuatan milik monster yang barusan itu jauh lebih lemah dari boss dungeon.”
“Kalian harus menjadi lebih kuat lagi,” kata Laura.
“Ini pertama kalinya kami menghadapi monster seperti ini, apa kalian pernah?”
“Aku dan Laura pernah melawan yang seperti ini,“ kata Mia.
“Kalau kalian berdua?” tanya Marie.
“Belum ini pertama kalinya. Kami langsung melawan boss sebuah dungeon,” jawab Emilia.
“Tunggu dulu, kalian menghadapi boss? Berapa orang? Kapan?” tanya Mia.
“Aku juga belum pernah dengar,” kata Laura penasaran.
Aku dan Emilia juga belum pernah cerita juga sih…
Jadi wajar mereka berdua belum tahu. Mungkin aku akan menceritakan sedikit kepada mereka dan juga Rafael serta kelompoknya.
“Kami melawannya hanya berdua, Itu terjadi sebelum kami sampai di Sina.”
“Atau tepatnya sebelum kami resmi menjadi petualang,” sambung Emilia.
Setelah mendengar hal itu, mereka semua terlihat sangat terkejut.
“Aku pernah mendengar orang yang bukan petualang mengalahkan goblin atau warg wolf, tapi kalau boss dungeon…,” kata Mia.
“Aku tahu kalian sangat kuat, tapi untuk melawan boss dungeon hanya berdua itu luar biasa,” kata Laura.
Dari kata-kata mereka, aku tahu kalau yang aku ceritakan ini adalah hal yang aneh bagi mereka. Aku ingat ketika aku melawan Executioner dulu kami hanya menggunakan semua yang kami punya. Mulai dari senjata seadanya hingga skill juga.
“Setelah menghadapi pertarungan itu, kami ingin menjadi lebih kuat lagi,” kataku.
“Dulu kami hanya menggunakan senjata yang dibilang biasa saja dan juga skill seadanya,” kata Emilia sambil menatapku.
“Aku ingat juga beberapa tulangku patah dan kami hampir mati hahaha.”
Setelah itu kami melanjutkan perjalanan kami kembali. Kami sampai di luar dungeon ketika hari sudah malam. Kami memutuskan untuk melanjutkan perjalan karena kota tidak jauh lagi. Setelah tiba di kota, aku, Emilia dan juga Laura berpisah dengan Mai serta party pahlawan. Kami kembali ke penginapan kami untuk beristirahat.
Keesokan harinya kami datang ke kantor guild untuk menemui Mia.
“Mia, apa kau ada waktu sebentar ada yang ingin kami bicarakan denganmu.”
“Baik, ayo kita ke ruang pertemuan.”
Kami meuju ruang pertemuan.
“Kamu sudah tahu apa yang ingin kami bicarakan bukan?” tanya Laura.
“Ya. Soal kelompok kemarin bukan?”
“Tepat. Kami ingin tahu apa mereka itu pernah menaklukan dungeon atau melawan guardian?”
“Sejujurnya mereka belum pernah sama sekali. Mereka yang pernah melawan boss ataupun guardian sudah berhenti menjadi petualang, seperti diriku.”
“Lalu apa penyebab adanya petualang yang belum pernah melakukannya?” tanya Emilia.
“Itu karena kota ini jauh dari tempat munculnya dungeon. Salah satu penyebab munculnya sebuah dungeon adalah jumlah kekuatan sihir untuk membentuknya dan kekuatan itu sangat sedikit di daerah ini.”
“Lalu dungeon yang baru saja itu?” tanyaku.
“Dungeon itu adalah dungeon yang baru muncul sejak 5 tahun terakhir.”
“Aku mengerti. Tapi kenapa mereka tidak menuju ke tempat lain untuk melakukannya?” tanya Laura penasaran.
“Soal itu aku juga tidak tahu. Maaf,” Mia menundukan kepalanya.
“Tidak apa-apa Mia. Kami sudah mengerti. Maaf kami membuat masalah,” kataku.
“Tidak. Malah sebaliknya, aku ingin berterima kasih. Berkat kalian mereka bisa belajardan juga karena kalian banyak petualang yang selamat,” kata Mia dengan tersenyum.
“Selain itu, masalah kepergian kami. Kami akan berangkat 1 minggu lagi.”
“Eh? Cepat sekali.”
Mia terlihat sedih dan juga kecewa. Kami sudah lama di kota ini dan Mia juga sudah banyak membantu kami selama ini. Aku sendiri memang merasa berat meninggalkan tempat ini tapi aku tidak punya pilihan lain.
Jika kerajaan tahu kami ada di guild ini, maka Mia dan guild ini akan terkena masalah. Aku tidak ingin hal itu terjadi, jadi kami harus secepatnya menuju ke Ellis.
“Kami tidak tahu.”
“Kenapa?” tanya Mia dengan wajah sedih.
“Kami tidak bisa mengatakannya sekarang, tapi ketika kami berangkat, kami akan memberitahukannya kepadamu,” kata Laura.
“Baiklah. Janji?”
“Kami berjanji,” jawabku.
“Ada yang ingin kutanyakan,” kata Laura.
“Apa itu?”
“Dimana party pahlawan sekarang?”
“Mereka sedang berlatih dengan Guild master.”
“Baiklah terima kasih.”
Kami kemudian pergi ke tempat Rafael dan yang lainnya berlatih. Sebenarnya aku dan Emilia mengikuti Laura saja. Aku tidak tahu apa yang ia ingin lakukan. Tapi kumohon jangan buat masalah.
Setibanya di tempat itu, Laura membisikan sesuatu kepada Guild master.
“Baiklah, tidak masalah,” kata Guild master.
Lalu ia memanggil Marie. Kemudian Laura mengajaknya ikut dengan kami untuk berlatih di hutan. Jadi Laura ingin mengajari Marie secara pribadi sepertinya. Aku dan Emilia juga tidak masalah mengenai hal itu, karena mereka juga sudah tahu siapa Marie.
Kami membawa Marie ke hutan tempat aku dan Emilia ujian menjadi petualang dulu. Di sana Laura melatih Marie dalam hal skill dan pengambilan keputusan. Secara skill ia sangat bagus, tapi masih kurang dalam pengambilan keputusan.
Setelah hari sudah siang, kami memutuskan untuk beristirahat dulu. Kami makan dan minum untuk mengisi tenaga kami. Ketika duduk aku membuka kerudung dan topengku. Marie sangat terkejut melihat diriku.
“Ciel!!” kata Marie.
“Hai Marie.”
“Syukurlah kamu masih hidup. Senang bisa bertemu denganmu lagi.” Marie menangis.
“Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi.”
Aku mengambil jubah Marie dari Storage milikku. Aku sudah meningkatkannya dengan skill Item Craft sehingga jubah itu lebih kuat dari sebelumnya.
“Marie ini aku kembalikan jubah milikmu.”
“Tidak usah,” kata Marie.
“Ambil saja.”
Marie menerimanya. Ketika ia melihat status pada jubah itu ia terkejut.
“Jubah ini lebih kuat dari yang aku pakai sekarang, bagaimana bisa?”
“Aku meningkatkannya itu saja.”
“Hebat. Kamu juga sudah bertambah kuat. Selain itu kamu juga mendapatkan teman.”
Kami cukup lama berbincang-bincang. Aku memperkenalkan Emilia dan Laura. Kami memberitahukan banyak hal untuknya. Dia sangat semangat untuk belajar. Setelah itu kami melanjutkan latihan untuk Marie.
Untuk sekarang aku sudah level 47 dan Emilia 45, sedangkan Laura 60. Banyak juga kenaikan levelnya setelah mengalahkan Adamantoise. Tapi bukan itu saja, monster-monster yang kami lawan juga meningkatkan level kami.
Kami melatih Marie hingga sore hari. Kemudian kami kembali ke kota. Di perjalanan Marie menceritakan bagaimana selama ini mereka berlatih. Latihan mereka selalu diawasi oleh istana dan tidak berbahaya. Tidak mengherankan kalau mereka menjadi seperti sekarang ini.
Marie juga memberitahu kami kalau ia dan yang lainnya akan kembali ke ibukota seminggu lagi. Itu hari yang sama dengan keberangkatan kami. Kemudian Laura menawarkan diri untuk melatih Marie. Aku dan Emilia juga sama. Marie setuju untuk melakukannya.
“Baiklah selama seminggu ini aku mohon bantuannya,” kata Marie.
Aku memberitahu Marie kalau kami akan meninggalkan kerajaan ini dan pergi menuju kerajaan Ellis. Ia sedikit kecewa tapi tanpa kami jelaskan pun ia mengerti.
“Begitu ya…?”
“Tapi kamu tidak perlu cemas. Kita pasti akan bertemu kembali,” kataku.
“Itu benar Marie,” kata Emilia.
“Kita pasti bertemu lagi,” kata Laura.