
"Royal Dungeon?"
"Iya. Sebuah dungeon yang dapat ditinggali. Walaupun ada juga monster di dalamnya. Sekarang ini kalian berada di lantai 2 dari dungeon ini."
"Lalu ada berapa jumlah lantai yang ada di dungeon ini?" tanya Emilia.
"Dungeon ini memiliki 20 lantai. Bila kalian sudah masuk ke lantai 2 kalian tidak bisa keluar, kecuali kalian mengalahkan boss yang ada di lantai 5."
Kami bertiga terkejut setelah mendengar kalau kami tidak bisa kembali lagi kecuali mengalahkan boss yang dimaksud. Kami semakin khawatir mengenai waktu yang akan terpakai di dungeon ini.
Aku memperkirakan kalau raja akan datang dengan pasukan dari Tron sekitar seminggu setelah ia pergi. Itu adalah waktu minimalnya, bisa juga lebih dari itu.
Selain itu kami juga harus menyampaikan informasi tentang musuh yang ada di kota. Walaupun aku yakin selama salah satu pemimpin pasukan iblis tidak ada maka Evan masih bisa mengatasinya.
Selain pasukan dari Tron, mungkin ada beberapa petualang yang akan ikut juga. Mungkin ada juga pasukan dari kerajaan lain yang datang membantu. Tapi itu hanya harapanku saja.
Sekarang kami harus bisa setidaknya mencapai lantai 5 dan mengalahkan boss yang ada di sana agar bisa keluar dari dungeon ini. Monster macam apa yang akan kami hadapi disana kataku dalam hati.
"Selain lantai 2 ini, lantai berapa lagi yang ada penghuninya?" tanyaku memastikan.
"Lantai 6, 11, 16, dan yang terakhir 19. Semuanya lantai sesudah boss kecuali lantai 2 dan 19. Lantai 2 adalah tempat kami menjelaskan dungeon ini."
Aku mungkin tahu alasannya. Lantai 19 digunakan sebagai untuk persiapan melawan boss terakhir. Lalu lantai lainnya digunakan untuk pemulihan dan juga persiapan perjalanan.
"Berapa orang yang sudah masuk ke dungeon ini?" tanya Laura.
"Cukup banyak. Akan tetapi kalianlah yang datang pertama setelah 10 tahun tidak ada orang yang datang."
"10 tahun? Apa penyebabnya?"
Elf itu menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu.
"Kami juga meminta maaf karena menyerang kalian tadi."
"Lalu, mereka sudah sampai lantai berapa?" tanya Emilia.
"Hanya sampai lantai 17 lalu mereka kembali ke lantai 16 untuk pulang. Mungkin karena mereka tidak sanggup melawan monster di sana."
"Apa kalian tidak ingin keluar dari dungeon ini?"
"Lebih tepatnya kami tidak bisa. Kami sama dengan monster di dungeon ini. Kami lahir dari dungeon ini dan hidup menggunakan energi yang ada di dalamnya."
"Seperti itu ya," kata Emilia pelan.
Aku harus menanyakan soal waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lantai 5 dan informasi yang kami butuhkan lainnya.
"Kami ingi tahu waktu yang diperlukan untuk ke lantai 5 itu berapa lama?" tanyaku.
"Bergantung pada kekuatan kalian jika kalian beruntung mungkin 2 sampai 3 sudah sampai di lantai 5. Tapi bila tidak bisa memakan waktu seminggu."
"Beberapa monster seperti hornet, ogre dan slime, namun ada juga naga kecil di sana."
"Terima kasih untuk informasinya. Sekarang kami berangkat."
"Kalian akan berangkat sekarang?"
"Ya. Kami tidak bisa membuang-buang waktu terlalu lama," jawab Emilia.
Sebelum pergi para elf itu memberi beberapa potion dan juga perlengkapan lainnya untuk membantu kami. Setelah mengucapkan terima kasih, kami bertiga berangkat menuju ke lantai berikutnya.
Kami berjalan ditemani oleh beberapa elf hingga sampai di pintu berikutnya. Pintu ini juga sama besarnya dengan pintu sebelumnya. Kemudian kami masuk ke lantai 3 dari Royal Dungeon.
Lantai 3 dari Royal Dungeon adalah sebuah taman bunga. Jika kami tidak bertanya tentang lantai yang memiliki penghuni, kami pasti berpikir kalau lantai ini aman.
Melihat wilayahnya, aku tahu kalau monster yang ada di sini pasti seperti hornet dan juga slime. Tapi kalau melihat langitnya, mungkin ada juga naga di lantai ini.
Baru dibicarakan, beberapa hornet datang menyerang kami. Ukuran mereka lebih besar daripada hornet yang pernah kami lawan. Selain itu hornet ini memiliki warna merah tua sedangkan yang sebelumnya kuning.
SYUUUUTTTT!!!
Mereka menembakan jarum beracun ke arah kami. Hornet-hornet ini benar-benar berbeda dengan yang sebelumnya. Mereka bisa menembakan jarum.
Laura menggunakan Holy Wall untuk menangkis jarum-jarum itu. Aku dan Emilia maju menyerang mereka. Dengan beberapa serangan kami berhasil mengalahkan mereka.
Kami melanjutkan perjalanan di lantai 3 ini. Sangat disayangkan tempat seindah ini adalah dungeon yang dipenuhi oleh monster.
Beberapa saat kemudian, banyak slime berdatangan ke arah kami. Slime-slime ini berukuran kecil namun jumlahnya banyak. Selain itu ada beberapa slime dengan ukuran raksasa juga datang menyusul. Ini perang melawan slime pikirku.
Kombinasi serangan Ignis dan Grando dengan mudah mengalahkan banyak slime yang menyerang kami. Emilia menggunakan Blue Fire untuk membakar slime-sline itu. Untuk sekarang aku meminta Laura untuk menghemat mana, jadi ia menggunakan Light Ball untuk melawan para slime.
Memang jumlah mereka sangat banyak, tapi mereka juga sangat mudah untuk dikalahkan. Setelah beberapa waktu, kami berhasil mengalahkan slime-slime yang menyerang kami.
Baru saja kami selesai berurusan dengan slime, beberapa hornet datang lagi ke arah kami. Aku berpikir kalau mungkin saja ini sama dengan di lantai 1, musuh akan terus berdatangan hingga kami menemukan penyebabnya. Kami juga tidak bisa menemukan pintu menuju ke lantai 4.
Tapi lantai 3 ini mirip dengan taman yang ada di luar dungeon. Walaupun aku tahu kalau langit di atas kami ini adalah langit biru dari sebuah dungeon. Tidak mungkin ke anehan itu ada di atas lagi. Bila tidak di atas berarti ada di bawah.
"Emilia, Laura, tolong kalian tahan mereka sebentar. Aku ingin memeriksa lantai ini dari udara," kataku.
"Baik master. Serahkan pada kami," sahut Emilia.
Aku kemudian menggunakan Caleo untuk terbang dan memeriksa keanehan dari lantai 3 ini. Kupikir akan lebih mudah melihat dari atas secara menyeluruh. Aku menggunakan Luminatio sebelum terbang untuk melindungi Emilia dan Laura.
Dari ujung ke ujung aku memeriksa dengan teliti. Tidak ada suatu keanehan yang terlihat jelas. Namun, ketika aku menambah ketinggian, aku bisa melihat ada 4 titik cahaya yang membentuk sebuah persegi di sekeliling lantai ini.
Tanpa pikir panjang, aku menembakkan panah menggunakan Arcus ke empat titik itu. Ketika titik-titik itu hancur, di tengah-tengah taman bunga ini muncul sebuah pintu raksasa. Pintu itu tidak lain adalah pintu menuju lantai 4.
Ketika mendarat, aku segera memberitahu Emilia dan Laura untuk berlari menuju ke pintu itu. Kami tidak punya waktu untuk melawan monster di sini terus menerus. Mereka berdua segera meninggalkan para monster itu dan berlari menuju ke pintu. Akhirnya kami sampai di lantai 4.