Alchesia

Alchesia
Chapter 38 Skill



Di kamar, Charles dan Charlote bertanya kepada kami tentang petualang. Mulai dari misi-misi yang kami jalani, lalu juga skill dan sihir, hingga monster-monster yang kami lawan.


“Jadi kalian pernah melawan monster-monster di dalam dungeon juga?” tanya Charles.


“Iya. Dungeon pertama kami sangat sulit,” jawab Emilia.


“Aku dengar kalau masuk ke dalam dungeon itu harus dengan banyak orang. Apa itu benar?” tanya Charlote.


“Benar. Apalagi bila dungeon itu masih memiliki boss. Akan sangat berbahaya sekali bila datang sendiri,” jawabku.


“Lalu apa kalian pernah melawan boss dungeon?” tanya Charlote.


Charlote sepertinya sangat tertarik dengan petualang daripada Charles.


“Pernah. Hanya 2 kali saja,” jawab Emilia.


“Berarti skill kalian sangat hebat bukan?” tanya Charles antusias.


“Bukan berarti skill kami hebat. Pada saat kami pertama kali masuk ke dalam sebuah dungeon, skill yang kami miliki bisa dikatakan adalah skill dasar. Hanya Emilia yang memiliki skill menyerang, sedangkan aku hanya bertarung mengandalkan sebuah senjata,” jawabku.


Dari raut wajah Charles, ia terlihat kecewa.


“Walaupun skill itu lemah, bila kamu bisa menguasainya dan digunakan pada saat yang tepat, maka kamu bisa mengalahkan musuh yang jauh lebih kuat,” kata Emilia.


“Benarkah?”


Charles sepertinya ia menganggap kalau memiliki skill hebat adalah hal yang sangat penting. Kalau begitu aku akan memberi tahu dirinya mengenai pertarunganku dan Emilia denga Executioner.


“Aku akan memberitahu kalian rahasia kami berdua. Kami masuk ke dalam dungeon pertama kami dan melawan boss dari dungeon itu hanya dengan 2 orang. Seperti yang aku katakan tadi kami hanya memiliki skill yang lemah,” kataku.


“Itu benar. Bahkan kami hampir saja tewas waktu itu. Namun kami selamat dengan memanfaaat kekuatan dan juga skill yang kami miliki dengan tepat,” sambung Emilia.


Aku kemudian menceritakan bagaimana ketika kami melawan musuh-musuh di hutan pada saat kami pertama menjadi petualang.


“Skill yang hebat tapi asal menggunakan akan menjadi beban,” kataku.


“Maksudnya?” tanya Charlote bingung.


“Di dungeon ke dua, selain melawan boss dari dungeon itu kami juga melawan guardian. Saat itu kami datang dengan kelompok besar. Banyak dari mereka memiliki skill yang hebat, tapi menyerang secara asal-asalan,” kataku.


“Monster macam apa guardian dungeon itu?” tanya Charles.


“Hmmm, dia itu kura-kura raksasa yang bernama Adamantoise. Banya petualang yang menyerang di kepalanya tapi ia selalu beregenerasi. Cara mengalahkannya adalah dengan menghancurkan intinya.”


“Beberapa dari kami yang tahu akan hal itu menyerang cangkang dari Adamantoise untuk mencari inti dari monster itu dan menghancurkannya,” sambung Emilia.


Charles sepertinya sudah mengerti mengenai skill yang hebat bila tidak bisa menggunakan dengan baik akan kalah dengan skill yang lemah tapi digunakan dengan baik.


“Kalian berdua ini petualang dengan peringkat apa?” tanya Charlote.


“Kami peringkat C,” jawab Emilia.


“Bukannya itu berarti kalian ini tidak terlalu kuat untuk masuk dungeon?” tanya Charles.


“Bagi kami itu hanya formalitas saja. Bahkan saat masuk ke dalam dungeon pertama yang aku ceritakan tadi, kami belum resmi menjadi petualang,” jawabku.


Charlote kemudian melihat ke ara pedang Emilia dengan mata yang berbinar.


“Ada apa Charlote? Sepertinya kamu tertarik dengan pedangku?” tanya Emilia.


“Aku penasaran saja dengan senjata milikmu. Selain itu aku juga tidak meilhat senjata yang digunakan Ciel,” jawab Charlote.


“Itu benar. Bukannya Ciel menggunakan panah ketika menyelamatkan kami tadi?” tanya Charles.


“Ah, soal itu juga termasuk skill milikku,” jawabku.


“Bagaimana kalau besok kalian menunjukkan kemampuan kalian?” tanya Charles.


“Maaf Charles. Kami tidak ingin memamerkan skill kami. Selain itu kenapa kami harus menunjukkannya?” tanya Emilia.


“Tentu saja kami tidak terima. Maka dari itu kami ingin kalian berdua melawan beberapa orang dari prajurit untuk membuktikannya. Mungkin jendral juga akan ikut berpartisipasi. Bagaimana menurut kalian?” sambung Charles.


Sebenarnya aku dan Emilia tidak terlalu memperdulikan hal ini, karena kami sudah terbiasa. Tapi karena Chales dan juga Charlote membela kami, jadi kami buat pengecualian.


“Baiklah, tapi ini untuk kalian,” jawabku.


“Kalau begitu besok kalian akan melawan mereka. Kami akan memberitahu ayah,” kata Charles.


Setelah itu mereka berdua pergi untuk memberitahukan hal itu kepada raja. Beberapa saat kemudian mereka kembali dan memberitahu kami kalau raja setuju.


Keesokan harinya aku dan Emilia dibawa menuju arena yang ada di istana. Hari ini juga Laura dan juga kelompok milik Evan berangkat menuju ibukota. Mereka akan sampai besok lusa.


Di arena kami sudah ditunggu oleh jendral dan juga beberapa prajurit.


“Yang akan melawan kalian berdua adalah aku,” kata jendral dengan nada sombong.


“Kalau begitu aku yang akan melawanmu,” jawab Emilia.


“Tidak. Aku ingin kalian berdua menghadapiku.”


“Jendral, aku setuju dengan Emilia untuk bertarung melawanmu 1 lawan 1,” kata Charles.


“Baiklah. Tapi bila kalah jangan kecewa,” kata jendral.


Aku kemudian menepi dari arena bersama dengan Charles dan Charlote. Emilia menyiapkan masamune miliknya. Tidak seperti biasanya, ia akan murni menggunakan pedangnya saja tanpa Blue Fire.


Raja dan ratu serta beberapa bangsawan juga datang melihat pertarungan itu. Dari mata para bagsawan itu, aku melihat kalau mereka mendukung jendral untuk memenangkan pertarungan ini.


Pertarungan dimulai. Jendral langsung memulai serangan kepada Emilia. Serangan yang berupa sabetan berat secara vertikal itu berhasil dihindari. Emilia langsung melancarkan serangan balik.


Ia menggunakan seranga cepat untuk mendorong mundur jendral. Ada yang unik dari serangan Emilia. Ia menggunakan bagian yang tumpul dari masamune untuk menyerang. Masamune sendiri adalah sebuah katana, jadi ia memiliki sisi yang tidak tajam.


Ini merupakan rencanaku dan Emilia. Kami sudah tahu kalau jendral akan melawan kami berdua. Tapi kemarin malam Emilia memintaku untuk tidak bertarung dan aku menyetujuinya.


Namun aku meminta Emilia untuk menggunakan sisi tumpul hingga jendral menggunakan semua skillnya atau ketika Emilia merasa terancam. Namun sejauh ini Emilia belum menggunakan sisi tajamnya.


Mereka masih saling menyerang dalam pertarungan itu. Jendral menggunakan beberapa teknik berpedang untuk melawan Emilia. Ia belum menggunakan 1 skill pun.


“Kau meremehkanku?” tanya jendral kesal.


“Maksudnya?” tanya Emilia balik.


“Dari tadi kau hanya menggunakan bagian tumpul dari pedangmu untuk menyerang. Kalau begitu aku akan menggunakan skill ku untuk mengalahkanmu.”


Pedang milik jendral kemudian bercahaya.


“Ini adalah skill pedang peringkat S milik jendral yang bernama Sword Judgement. Skill ini membuat penggunanya mengeluarkan serangan dalam area yang sangat luas secara beruntun. Namun tenang saja, ada pelindung yang akan melindungi kita,” jelas Charles.


Jendral menyerang Emilia menggunakan skill itu. Emilia melihat ke arahku dan mengangguk yang mengisyaratkan kalau ia akan menggunakan sisi tajam dari masamune.


Emilia melompati serangan pertama dan menyerang jendral dari atas.


“Kau tidak akan bisa menghindari bila menyerang dari udara,” kata jendral dengan yakin.


Ia meremehkan Emilia. Dengan cepat Emilia menyerang jendral sebelum mengeluarkan skillnya. Serangan Emilia membuat pedang milik jendral patah.


Ketika Emilia akan melancarkan serangan langsung, raja menghentikan pertarungan. Ia tahu kalau jendral sudah tidak bisa melanjutkan pertarungan.


Kemudian ia mengumumkan kalau Emilia pemenangnya. Beberapa bawahan jendral tidak menerimanya dan berusaha menyerang Emilia. Namun aku menggunakan Ignis untuk mencegah mereka mendekati Emilia.


“Sudah hentikan. Ini kekalahan kalian,” kata raja berusaha menghentikan para bawahan jendral.


Setelah mendengar kata-kata itu, mereka meletakan senjata. Raja memberitahu jendral dan bawahannya untuk tidak meremehkan orang lagi. Apalagi petualang yang pernah menaklukan dungeon.


Ini pasti ulah dari Charles dan Charlote yang memberitahu raja kalau kami pernah menaklukan dungeon. Charlote berbisik padaku kalau mereka hanya memberitahu raja mengenai kami pernah menaklukan dungeon saja.