Alchesia

Alchesia
Chapter 40 Lari dari Ibukota



Pada malam harinya, seluruh gerbang ibukota ditutup. Aku tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Selain itu beberapa orang yang menggunakan pakaian serba hitam berjalan menuju istana.


Anehnya tidak ada orang di jalanan kota ini. Kota seakan-akan telah menjadi kota hantu. Aku segera membangunkan Emilia dan Laura.


Aku mengkhawatirkan Charles dan juga Charlote. Setelah Emilia dan Laura bangun, kami bertiga segera pergi menuju istana.


Kami melewati atap-atap bangunan agar tidak ketahuan oleh orang-orang yang mengenakan jubah hitam itu.


“Apa kalian merasakan sesuatu yang familiar dari orang-orang berjubah hitam itu?” tanyaku.


“Iya. Mereka memiliki aura yang sama dengan pasukan iblis,” kata Emilia.


Ras Emilia memiliki tingkat kepekaan yang lebih tinggi dari ras lainnya.


“Aku juga bisa meraskan mana dari pasukan iblis. Tapi mereka ini manusia bukan?” kata Laura.


“Apa ini yang dimasksudkan oleh Rinoa dan Regyus kalau pasukan iblis ini pada awalnya adalah manusia?”


“Mungkin saja master.”


Kami terus melanjutkan perjalanan kami menuju istana. Dari kejauhan aku bisa melihat beberapa bangsawan bersama dengan orang-orang yang mengenakan jubah hitam sedang mengepung istana.


Ada yang aneh disana, yaitu aku tidak melihat satupun pasukan kerajaan yang menjaga istana. Sebenarnya apa yang sedang terjadi disana. Aku harap Charles dan juga Charlote baik-baik saja.


Kami bertiga masuk ke istana melalui kamar yang aku dan Emilia pakai sebelumnya. Ketika aku dan Emilia akan meninggalkan istana, aku sengaja tidak mengunci jendela kamar itu untuk berjaga-jaga.


Istana itu gelap gulita. Malah seperti istana raja iblis. Ketika kami masuk, tidak ada 1 orang pun di lorong istana. Kami kemudian pergi menuju ke kamar Charles dan juga Charlote.


Aku mengetuk pintu kamar itu, namun tidak ada jawaban. Aku kemudian mencoba membuka pintu itu.


“Charles, Charlote…” bisikku memanggil mereka berdua.


Tidak ada jawaban. Namun tiba-tiba ada orang yang berlari dan memelukku. Setelah kulihat itu adalah Charlote. Syukurlah ia baik-baik saja.


“Aku senang kalian ada disini,” kata Charlote sambil menangis.


Aku mengusap kepalanya untuk menenangkannya.


Setelah ia sudah tenang, aku bertanya kepadanya apa yang sebenarnya terjadi.


“Tiba-tiba jendral dan pasukannya menyerang kami. Ayah dan ibu beserta dengan beberapa pelayan ditangkap.”


“Lalu bagaimana dengan Charles?” tanya Emilia.


“Ia berhasil lolos bersama dengan Evan dan yang lainnya. Aku sebelumnya tertangkap, tapi salah seorang pelayan menyerang mereka dan membuatku bisa lari.”


“Apa kamu tahu dimana mereka sekarang?” tanyaku.


Charlote menggelengkan kepalanya.


“Bagaimana sekarang Ciel?” tanya Laura.


“Kita selamatkan raja dan ratu, lalu pergi dari sini.”


“Baik master,” kata Emilia.


“Charlote, kamu tetap berada dekat dengan Laura.”


“Laura?” tanya Charlote.


Laura kemudian memperkenalkan dirinya kepada Charlote.


Sebelum pergi Laura memberikan sesuatu kepadaku. Setelah kulihat itu adalah relik.


“Darimana kamu mendapatkannya?”


“Ketika alu menunggu keberangakatan Evan, aku pergi ke toko dungeon dan menemukannya. Tapi aku tidak tahu apa isinya.”


“Tidak masalah. Aku berhutang padamu.”


“Tidak. Itu hadiah dariku karena telah membantuku."


“Terima kasih.”


Aku menghancurkan relik itu dan menyerap glyph yang ada di dalamnya.


Glyph Grando telah diperoleh.


Aku kemudian membaca keterangannya dan itu adalah glyph berelemen es. Dengan ini aku mempunyai 2 elemen glyph ditambah dengan Ignis.


“Charlote apa kamu kepikiran suatu tempat dimana ayah dan ibumu ditawan?”


“Mungkin di penjara bawah tanah,” jawab Charlote.


“Baiklah. Sekarang kamu beritahukan arahnya.”


“Kalian mengganggu!!” kataku sambil menyerang mereka menggunakan Grando.


Mereka kubekukan untuk sekarang, karena aku merasa mereka sedang dikendalikan oleh seseorang. Emilia juga aku minta untuk membuat mereka tidak sadarkan diri saja.


Kami sekarang berada di halaman istana dan menuju ke penjara bawah tanah istana. Di situ kami harus melawan banyak sekali prajurit termasuk jendral. Aku menggunakan Grando Union.


Serangan itu menciptakan bunga es yang besar kemudian meledak dan membekukan jendral dan para prajurit. Jika aku jentikan jariku maka mereka akan hancur. Namun aku hanya ingin menahan mereka saja.


Segera, kami masuk ke dalam penjara itu dan mencari orang-orang yang ditawan. Kami berpencar untuk mencarinya. 


“Kami menemukannya!” teriak Laura yang bersama dengan Charlote.


Aku kemudian membukakan pintu penjara. Hanya ada raja dan ratu serta 4 orang pelayan. Charlote kemudian memeluk ayah dan ibunya.


“Charlote kita tidak bisa berlama-lama disini,” kataku.


“Iya.”


“Kalau begitu kalian bersama Emilia dan Laura cari kereta kuda, sementara aku melakukan sesuatu dengan mereka yang mengepung istana.”


“Tapi…,” kata Charlote khawatir.


“Tidak apa. Percaya saja dengan master,” kata Emilia.


Setelah keluar dari penjara kami berpisah sementara. Aku kemudian naik ke atas dinding istana. Kulihat mereka semakin mendekat, jadi aku menyerang mereka menggunakan Arcus.


Beberapa saat kemudian Emilia, Laura dan juga yang lainnya datang. Aku kemudian membukakan gerbang istana.


“Laura kamu bisa mengemudikan kereta kuda?” tanyaku.


“Iya, aku dulu pernah berlatih.”


“Bagus. Kita akan menuju ke luar dari kota ini. Aku dan Emilia akan melindungimu,” kataku.


Aku juga memanggil naga menggunakan glyph milikku. Ketika naga itu keluar orang-orang yang mengenakan jubah hitam itu tidak berani mendekat.


“Itu…,” kata Charlote.


“Tenang saja. Naga itu milik Ciel,” jelas Laura.


Naga milikku menyerang siapa pun yang mendekati kami. Aku dan Emilia juga menyerang mereka. Untuk melawan orang-orang itu aku menggunakan Arcus Ignis. Aku dan Emilia berusaha menyerang mereka tanpa mengenai bangunan untuk menghindari korbam dari penduduk.


Di jalan kami bertemu dengan Evan dan kelompoknya. Evan yang terkejut dengan naga milikku berusaha menyerangnya namun di tahan oleh Emilia menggunakan masamune.


“Hentikan, naga itu milik masterku,” kata Emilia berusaha menghentikan Evan.


“Apa? Bagaimana mungkin seorang manusia bisa mengendalikan naga?” tanya Teresia.


“Sudah hentikan. Naga itu memang milik Ciel,” kata raja dari dalam kereta.


Selain kelompok Evan, kami juga bertemu dengan pasukan elf dan juga Luna serta kelompoknya. Mereka tidak terkena pengaruh dari pasukan iblis untungnya.


“Charles, masuklah ke dalam kereta,” kataku.


“Baik. Terima kasih sudah menyelamatkan keluargaku.”


“Nanti saja terima kasihnya. Sekarang kita harus segera keluar dari kota ini,” kata Laura.


Kami segera melanjutkan perjalanan kami. Ketika kami sudah dekat dengan gerbang, orang-orang berjubah hitam dalam jumlah banyak memblokade jalan. Langsung saja mereka kuhancurkan menggunakan Ignis Union. Serangan itu juga menghancurkan gerbang kota.


Dari samping, mereka juga berusaha menyerang kami, namun kami berhasil menghentikannya. Dari belakang juga ada yang mengejar kami. Naga milikku menyerang mereka yang mengejar.


“Ayo! tinggal sedikit lagi,” kataku.


Begitu kamu berhasil keluar dari kota, aku menutup lubang yang aku buat tadi menggunakan Grando agar mereka tidak bisa mengejar kami.


Setelah agak jauh dari kota, kami berhenti.


“Evan, tolong kamu bawa keluarga raja ke Tron,” kataku.


“Lalu, apa yang akan kalian lakukan?” tanya Evan.


“Kami akan kembali ke ibukota untuk mencari tahu sumber masalahnya.”


“Kalian bertiga?” tanya Teresia.


“Iya. Aku menduga ini ada hubungannya dengan pasukan iblis. Sekarang lebih baik kalian mengumpulkan pasukan untuk merebut kembali ibukota,” kataku.


“Baiklah,” jawab Evan.


Raja juga menyetujuinya. Putra pertama raja juga akan kembali, ia membawa beberapa pasukan dari kerajaan lain setelah mendengar kalau Ellis diserang oleh pasukan iblis.


Setelah itu, Aku, Emilia, dan juga Laura kembali ke ibukota. Sementara yang lainnya menuju ke Tron.