
August mungkin berpikir kalau menjinakan naga itu sama seperti menjinakan monster lainnya. Aku harap ia percaya dengan apa yang baru saja aku katakan.
Walau semua yang aku katakan tidak semuanya benar. Soal naga yang mematuhi orang yang lebih kuat itu, aku mengingatnya dari buku yang pernah aku baca. Buku itu mengatakan kalau naga memiliki harga diri yang tinggi.
Selain itu naga milikku pada awalnya adalah sebuah glyph yang ditingkatkan atau lebih tepatnya dirubah oleh Rinoa menjadi monster familiar.
Aku juga khawatir kalau suatu saat nanti mereka akan menggunakannya sebagai alat militer.
Aku juga mengatakan kekuatan dari nagaku sebenarnya sebagai perbandingan kekuatan kami dengan pahlawan dan juga pasukan kerajaan.
"Kalau kau sekuat itu, seharusnya raja tidak perlu pergi meninggalkan ibukota."
"Sudah hentikan August!!"
Di luar dugaan raja menjadi marah kepada pangeran August.
"Tapi…"
"Aku tahu alasan kenapa ia tidak bisa melakukannya. Dia tidak ingin ada warga yang terluka atau terbunuh. Pertarungan di dalam kota hanya akan membawa para penduduk terlibat."
"Itu benar. Meski bertarung di dalam kota, ia tetap memaksa musuh untuk tidak mendekat ke rumah penduduk," sambung ratu.
Jadi mereka menyadari apa yang sudah kulakukan ketika menyelamatkan mereka.
"Jadi kalian…," kata Evan terkejut.
"Itu benar. Kami melakukan hal itu karena apa yang dikatakan yang mulia," kata Emilia.
Setelah masalah naga selesai, Laura memberitahu mengenai 7 dosa. Walau begitu kami tidak bisa memberitahu kekuatan mereka karena kami mendapatkan informasi itu hanya dari Daimon.
Setelah Laura memberitahu mengenai 7 dosa, orang-orang di tempat itu semakin terkejut. Mungkin mereka berpikir sama dengan kami kalau para jendral kalah, maka tinggal raja iblis saja. Namun kenyataanya berkata lain.
"Kalau begitu kita harus memberitahukan hal ini kepada kerajaan lain juga. Segera kirim pesan kepada kerajaan lain mengenai hal ini," kata raja.
Kemudian raja membubarkan pertemuan ini. Kami bertiga dibawa raja dan ratu beserta menuju ke ruang keluarga mereka. Di ruang itu hanya ada raja, ratu, Charles, dan Charlote bersama kami bertiga. Pangeran August pergi bersama pahlawan Evan dan juga kelompoknya.
"Maaf membawa kalian bertiga ke sini," kata raja.
"Tidak masalah."
"Kami ingin bertanya sesuatu dan tolong jawab dengan sejujurnya."
Aku melihat Emilia dan juga Laura. Mereka berdua menganggukan kepala tanda mengerti.
"Baiklah. Kami mengerti."
"Sebelum kami bertanya, aku ingin meminta maaf atas tindakan yang telah dilakukan oleh August tadi," kata raja sambil menundukan kepalanya.
Ratu serta Charles dan Charlote juga menundukan kepala mereka bertiga.
"Tidak apa. Aku tidak terlalu memikirkannya. Jadi tolong angkat kepala kalian," kataku.
Aku merasa tidak enak kalau keluarga raja menundukan kepala mereka untuk kesalahan yang sepele dan juga bukan mereka berempat yang melakukannya.
Raja kemudian bertanya, "Apa benar yang dikalahkan Evan adalah salah seorang jendral iblis?"
"Benar, kenapa anda bertanya seperti itu?" kata Laura.
"Tidak. Aku hanya merasa ada yang janggal dengan kekuatannya. Dulu aku pernah bertemu dengan salah satu dari mereka dan ia lebih kuat dari apa yang dilawan Evan."
"Jadi anda juga pernah bertemu dengan salah satunya?" tanya Emilia.
"Benar. Ia bernama Regyus, jendral yang dikalahkan Evan di Tron. Ia lebih kuat dari Dulahan. Namun ketika melawan Dulahan, Evan terlihat kesulitan."
Memang benar apa yang dikatakan raja, kalau Evan yang mengalahkan Regyus seharusnya ia tidak mengalami kesulitan ketika menghadapi Dulahan pikirku.
"Jadi aku ingin tanya sekali lagi apa benar Dulahan adalah jedral iblis?"
"Hah… memang hebat pengalaman raja. Aku akan menjawabnya, ia bukan jendral iblis."
"Lalu siapa dia?" tanya Charlote.
"Ia hanya bawahannya saja," jawab Laura.
"Lalu dimana jendral yang asli?" tanya Charles.
"Tenang saja ia sudah tidak ada," jawab Emilia tenang.
"Kami sudah mengalahkannya," kataku.
"Master!"
"Ciel!"
Emilia dan Laura terkejut dengan apa yang aku katakan.
"Tidak apa. Sebelum aku menceritakan kejadian yang sesungguhnya, aku minta ini dirahasiakan. Apa kalian setuju?"
"Baik kami mengerti."
Kemudian aku menceritakan kejadian yang terjadi setelah kami bertiga keluar dari Royal Dungeon. Laura dan Emilia juga membantuku untuk bercerita.
"Itulah yang sebenarnya terjadi."
"Lalu, apa benar Evanlah yang mengalahkan Regyus?"
Aku menggelengkan kepala dan berkata, "Tidak. Akulah yang mengalahkannya dalam pertarungan satu lawan satu."
"Kau? mengalahkannya dalam duel?"
"Itu benar yang mulia, hanya kami bertiga yang tahu hal itu," jawab Laura.
"Tapi bagaimana bisa ada cerita kalau Evan yang mengalahkannya?" tanya ratu.
"Ada teman kami yang membantu untuk masalah itu. Ia memanipulasi ingatan orang-orang Tron."
Aku tidak bisa mengatakan kalau salah satu dewa yang melakukannya. Hal itu akan membuat mereka semakin terkejut.
Aku juga memberitahukan alasan kami menyembunyikannya adalah agar tidak terjadi kepanikan. Pahlawan Evan sebenarnya bisa mengalahkannya, tapi ia masih belum cukup kuat.
Dengan alasan itu juga aku sekali lagi meminta agar Evan dan kelompoknya melakukan penjelajahan dungeon. Kita tidak punya banyak waktu, mengingat pasukan iblis bisa masuk ke ibukota dengan mudahnya.
"Jika itu yang sebenarnya terjadi, kalian pasti bisa mengalahkahkan Black Dragon juga."
"Tidak. Kami tidak bisa mengalahkannya sekarang," kata Emilia.
"Kenapa?" tanya Charlote dengan nada kecewa.
"Karena kami sudah mengalahkannya sebelum melawan Regyus," jawab Laura.
Sesuai dugaan mereka juga terkejut mendengar hal ini. Banyak hal yang menbuat mereka terkejut hari ini.
"Berarti, naga Calamity yang kau maksud tadi adalah Black Dragon?" tanya Charles.
"Ya. Aku juga mendapatkan nagaku darinya."
"Tidak menherankan kau sampai tidak mau menyerahkan naga itu kepada kami. Lalu bagaimana dengan Evan sendiri sekarang?"
"Seperti kataku, ia masih perlu berlatih. Menjadi seorang pahlawan, bukan berarti kau dapat kekuatan besar yang bisa dengan mudah kau gunakan. Kau perlu latihan untuk menguasai kekuatan itu."
"Kami juga menjadi sekuat sekarang karena kami mengalami banyak hal yang terus membuat kami berkembang dan semakin kuat," kata Emilia.
Ia menceritakan kalau dulu ia pernah menjadi seorang budak hingga bertemu denganku. Kemudian ia melakukan perjalanan denganku dan menjadi ia yang sekarang ini.
"Aku mengerti. Kami akan melakukan sesuai dengan permintaanmu."
"Lalu apa rencana kalian bertiga selanjutnya?" tanya ratu.
"Kami akan pergi ke tempat pahlawan berikutnya."
"Jadi kalian akan ke Tornia?" tanya Charles.
"Tidak. Kami berasal dari sana."
"Berarti kalian sudah bertemu dengan Rafael?"
"Sudah," jawab Emilia.
"Ia juga sama seperti Evan, masih kurang pengalaman," sambung Laura.
"Begitu ya, berarti tujuan kalian berikutnya adalah Sakura Empire, negeri para beast human."
"Benar," kataku.