Alchesia

Alchesia
Chapter 22 Menuju Ellis



Seminggu telah berlalu.


Hari dimana Rafael dan yang lainnya kembali ke ibukota dan juga hari keberangkatan kami menuju Ellis telah tiba. Selama Seminggu ini Aku, Emilia, dan Laura sudah melatih Marie agar menjadi lebih kuat.


Banyak yang berubah dari Marie, baik dari segi kekuatan maupun hal yang lainnya. Ia semakin baik dalam pengambilan keputusan. Kami juga melatihnya di dalam dungeon. Aku tidak tahu dengan Rafael dan yang lainnya.


Sebenarnya kami ingin melatih mereka juga tapi, tidak ada seorang pun dari kami yang memiliki class yang sama dengan mereka. Maka dari itu lebih baik bagi kami menyerahkan bagian melatih mereka pada guild.


Mia dan Guild master serta beberapa petualang peringkat A yang melatih mereka. Aku hanya bisa berharap mereka sudah semakin baik dari yang sebelumnya. Kudengar mereka juga beberapa kali masuk ke dungeon.


Hari sebelum keberangkatan, terdengar seseorang mengetuk kamarku dan Emilia. Laura juga ada di kamarku saat ini. Ketika aku membuka pintu, ternyata orang itu adalah Marie.


“Permisi, apa aku mengganggu kalian?” tanya Marie dengan malu-malu.


“Tidak. Ayo masuk saja!”


Marie masuk dan duduk di atas kasur Emilia bersama Laura. Sedangkan aku dan Emilia duduk di atas kasurku. Ini hari terakhir kami bisa berbicara dengan Marie sebelum kami berpisah.


“Ada apa Marie?” tanya Laura.


“Aku ingin mengucapkan terima kasih karena sudah melatihku selama seminggu ini. Aku tidak dapat memberikan apa-apa sebagai balasannya,” kata Marie dengan nada kecewa.


“Tidak apa Marie,” kata Laura.


“Itu benar Marie. Kami melatihmu karena kami ingin membantumu,” kataku.


“Terima kasih. Sebenarnya aku ingin bergabung dengan kalian, tapi…,” kata Marie.


“Kami mengerti. Suatu saat nanti, kita pasti bisa bersama,” Emilia berusaha menghibur Marie.


Kami masih membicarakan beberapa hal, termasuk rencana kami ke depannya. Marie memberitahu kami kalau bulan depan akan di adakan pertemuan antar pahlawan. Dalam pertemuan itu mereka akan membahas rencana ke depannya.


Setelah itu Marie kembali ke temoat Rafael dan yang lainnya. Aku, Emilia, dan Laura kemudian membahas tujuan kami setelah melewati perbatasan.


“Laura, kemana kita setelah melewati perbatasan?”


“Aku rasa kita bisa menuju ke kota terdekat atau berbelok langsung menuju hutan elf,” jawab Laura.


“Hutan itu tempat tinggalmu kan?” tanya Emilia.


Laura menganggukan kepalanya.


“Perbandingan jarak menuju ke kota dan hutan elf itu mana yang lebih jauh?” tanyaku.


“Ke hutan tentunya,” jawab Laura.


“Bagaimana kalau menggunakan Caleo?”


“Mungkin itu bisa lebih cepat daripada kita berjalan kaki atau menggunakan kuda. Tapi apa kamu tidak masalah?” tanya Laura.


“Aku tidak masalah dengan itu. Semakin cepat kita menuju tujuan akan semakin baik. Selain itu kalau tidak salah di hutan elf ada pahlawan yang dipanggil oleh kerajaan Ellis bukan? Walau cuma 1 orang.”


“Itu benar. Ia seorang laki-laki dari dunia yang sama denganmu dan sekarang ia bersama seorang gadis elf dengan class archer.”


“Di tambah mereka berdua menjadi 7 orang, berarti tinggal 2 lagi kan Master?” tanya Emilia.


“Ya Emilia. Tinggal 2 lagi.”


“Tunggu dulu apa yang kalian rencanakan dengan pahlawan yang lainnya?” tanya Laura.


“Kami hanya ingin menguji kekuatan mereka sekarang ini sudah seberapa. Hanya itu saja kan Master?” kata Emilia dengan mengedipkan matanya.


Aku menganggukan kepalaku. Kulihat Laura menjadi bingung.


“Begini Laura jika pasukan raja iblis menyerang secara mendadak, mereka harus sudah siap.”


“Tapi kan ada kamu juga,” kata Laura.


“Bukan itu masalahnya. Master sendiri juga tidak mungkin melawan semuanya sendiri. Setidaknya kita bisa mengukur kesiapan mereka sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana kita juga harus menjadi kuat,” jelas Emilia.


“Aku mengerti.”


Setelah mereka berangkat giliran kami juga berangkat. Tapi sebelum itu sesuai janji kami harus bertemu dengan Mia untuk memberitahu alasan kami pergi dari sini menuju ke Ellis. Jika ia berusaha menghalangi setelah kuberitahu identitasku, maka kami siap menghadapinya.


Kami tidak dapat menukannya dimana pun, akhirnya kami memutuskan untuk pergi. Tapi kami bertemu dengan Mia di dekat gerbang kota. Ia sudah menunggu kami di sana.


“Jadi ini adalah harinya ya?” tanya Mia.


“Ya.”


“Kalau begitu sekarang bisa kalian ceritakan alasan kalian pergi?”


“Baik. Lagipula kami sudah janji akan menceritakan padamu.”


Aku memberitahukan siapa diriku yang sebenarnya terlebih dahulu. Kemudian kau menceritakan semua yang terjadi di istana, bagaimana aku dipanggil bersama yang lainnya hingga aku yang menjadi buronan selama ini.


Ketika aku bercerita, Emilia sudah mempersiapkan diri untuk mengantisipasi kalau Mia menyerang. Begitu pula dengan Laura. Selama beberapa saat Mia tidak mengucapkan apapun setelah aku selesai. Kurasa ia tidak percaya dengan apa yang baru saja kuceritakan.


Namun…


“Jadi selama ini?”


“Ya.”


“Itu menjelaskan kekuatanmu. Lalu alasan kenapa kalian tidak mengatakannya?” tanya Mia.


“Itu untuk melindungi kalian. Jika kerajaan tahu maka kalian pasti akan terkena masalah karena membantu kami.”


“Baiklah aku mengerti.”


“Maafkan kami Mia,” kata Emilia.


“Tidak apa, lagipula kita pasti akan bertemu lagi. Kalau begitu aku akan kembali ke istana untuk mengawasi mereka.”


“Eh? Apa yang baru saja kamu katakan?” tanya Laura.


“Aku akan kembali ke istana.”


“Aku juga akan memberitahu kalian, aku adalah Rumia Khriscie, putri pertama kerajaan Tornia sekaligus pewaris tahta.”


Setelah mendengar hal itu, tentu saja kami terkejut. Emilia maju ke depan untuk melindungiku.


“Tenang saja aku bukan musuh. Sebenarnya aku datang ke kota ini untuk mencarimu Ciel.”


“Aku?”


 “Ya. Aku merasa aneh saja ada seseorang yang menyerang Felicia dengan penjagaan seketat itu. Selain itu ia diserang di penjara bawah tanah.”


“Lalu, kemana kamu ketika kami di panggil.”


“Aku berada di Ellis dan aku juga yang mengabarkan kalau kerajaan lain telah memanggil pahlawan. Aku belum sampai istana ketika Felicia di serang. Setelah itu aku pergi ke kota ini.”


“Kenapa Felicia tidak mengenalimu?” tanya Emilia.


“Aku menggunakan skill relikku yang bernama Shadow Mask untuk mengelabuinya. Hanya petugas guild dan Guild master saja yang tahu siapa aku sebenarnya.”


"Pedang yang kamu pakai itu relik?" tanya Laura.


"Benar Laura."


“Kami sekarang mengerti. Kalau begitu kami akan berangkat,” kataku.


“Baiklah. Hati-hati dan sampai jumpa lagi,” kata Rumia.


“Sampai jumpa.”


Setelah itu kami pergi menuju ke perbatasan. Pos perbatasan itu tidak terlalu jauh dari kota Sina. Ketika kami sampai, kami hanya perlu menujukkan kartu petualang kami dan juga membayar pajak saja.


Kami berjalan lagi hingga tiba di pos milik Ellis. Hal yang sama kami lakukan untuk masuk ke Ellis. Akhirnya kami sampai juga di Ellis setelah beberapa lama. Selanjutnya tujuan kami adalah hutan Elf.