Alchesia

Alchesia
Chapter 64 Pesta 1



Ketika kami tiba di istana, banyak tamu sudah hadir di sana. Terlihat kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan bangsawan atau para pejabat negara. 


Jika kuingat lagi, mungkin hanya kami saja yang merupakan petualang dan juga yang bukan berasal dari ras beast ini. Meskipun anggota party atau lebih tepatnya mantan anggota dari party milik Yuna juga petualang namun mereka berasal dari kalangan bangsawan juga.


Saat turun dari kereta kami berpapasan dengan Yuna. 


“Lama tidak berjumpa,” sapa Yuna.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Laura.


“Baik, kalau kalian?”


“Baik juga.”


Luna tiba-tiba berbisik padaku,”Siapa perempuan ini?”


Ini pertama kali mereka bertemu. Aku mengatakan pada Luna kalau perempuan itu adalah Yuna. Mendengar hal itu, Luna dan teman-temannya terkejut. Mungkin mereka tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Yuna secepat ini.


“Ngomong-ngomong, aku melihat beberapa orang baru. Apa mereka anggotamu, Ciel?” tanya Yuna sambil melihat Luna dan teman-temannya yang berada di belakangku.


Luna berjalan kedepan dan memperkenalkan dirinya beserta teman-temannya. Tapi, karena gugup akhirnya mereka tidak bisa berkata-kata.


“Mereka ini adalah anggota party barumu, Luna dan teman-temannya. Untuk perkenalan secara pribadi bisa kalian lakukan saja nanti,” kataku.


Yuna tersenyum dan menggenggam tangan Luna, “Jadi kalian yang akan menemaniku nanti. Aku Yuna senang bertemu dengan kalian.”


“Ka.. kami juga senang bertemu dengan anda,” kata Luna.


“Tidak perlu menggunakana Bahasa yang formal, kita berteman bukan?”


“Baiklah.”


Yuna mengajak Luna dan teman-temannya masuk ke dalam istana, sedangkan aku dan kelompokku mengikuti dari belakang.


Yuna menjelaskan, kalau selain bangsawan beberapa orang dari kalangan biasa juga hadir. Ada pedagang, pengusaha, dan juga petualang yang berjasa. 


Kami masuk ke dalam istana yang memiliki gaya jepang atau lebih tepatnya kastil. Pesta diadakan di taman belakang. 


Ternyata yang datang cukup banyak juga. Aku melihat anggota party Yuna yang dulu juga hadir. Mereka menatapku dengan sinis. Mungkin karena kejadian penaklukan dungeon waktu itu.


Setidaknya aku sudah mulai terbiasa dengan tatapan seperti ini. Tapi berbeda dengan Emilia yang menatap mereka dengan dingin juga. 


“Sudahlah Emilia,” kataku.


“Tapi…,” keluh Emilia pelan.


“Aku tidak apa-apa, tapi terima kasih sudah marah untukku.”


Emilia tersenyum.


Charlote dan Laura pergi mencoba beberapa makanan yang di sediakan di acara ini. Begitu juga dengan Luna dan yang lainnya.


Ketika kutanya apakah Emilia mau makan sesuatu, ia menjawab tidak dan menolak meninggalkanku sendiri. Karena itu aku harus mengambil beberapa makanan. Meskipun sebenarnya aku sendiri masih belum merasa lapar.


Emilia juga mengikutiku namun dia tetap menempel padaku. Aku merasa tidak enak bukan karena hal ini, tapi ada tatapan iri yang mengarah padaku atau lebih tepatnya cemburu.


Bila kuingat lagi, sejak kami masuk memang beberapa pria menatap ke arah Emilia dan mencoba tersenyum padanya. Namun Emilia tidak mempedulikan mereka.


“Emilia, kenapa kamu tidak mencoba menemui mereka?” tanyaku penasaran.


“Itu karena tatapan mereka pada master membuatku melihat mereka tidak ada bedanya dengan monster yang kita lawan di dungeon,” jawab Emilia dingin.


Aku baru tahu kalau ternyata Emilia juga bisa seperti ini. 


“Selain itu, aku juga sama sekali tidak tertarik dengan mereka,” imbuh Emilia.


Tapi selain Emilia, beberapa dari mereka juga memperhatikan Laura. Untuk alasannya, itu tidak perlu ditanyakan lagi, yaitu sama dengan Emilia. Untuk Charlote tidak ada, tapi aku yakin saat dewasa nanti, ia akan menjadi wanita yang sangat cantik.


Ketika aku dan Emilia sedang makan, Yuna datang menghampiri kami.


“Kelompok yang kalian bawa ternyata sangat baik, aku jadi tidak tega membawa mereka ke medan perang,” kata Yuna.


“Tunggu! Tadi kau bilang Luna adik dari Laura?” tanya Yuna terkejut.


Aku menganggukan kepala.


“Itu membuatku semakin tidak enak lagi.”


Laura dan Charlote datang ke tempat kami.


“Tidak enak tentang apa?” tanya Laura penasaran.


Aku kemudian memberitahu Laura dan Charlote tentang apa yang baru saja kami bicarakan.


“Mengenai hal itu, kamu tidak perlu khawatir, Yuna. Seperti yang Ciel katakan, Luna sangat ingin bergabung dengan kelompok pahlawan. Begitu pula dengan teman-temannya,” kata Laura.


“Kalau begitu syukurlah. Terima kasih untuk kalian.”


Selain itu, aku dari tadi belum melihat keluarga kerajaan. Karena penasaran aku bertanya kepada Yuna.


“Mengenai itu, keluarga kerajaan akan hadir sebentar lagi. Meja mereka ada penjaga yang berada di ujung sana,” jawab Yuna.


Yuna juga menjelaskan kalau kebiasaan keluarga kerajaan hadir di pesta sedikit terlambat. Hal itu dimaksudkan supaya para tamu menikmati pesta dan juga berbicara dengan yang lain. 


Mereka akan sungkan untuk menjadi diri sendiri bila ada keluarga kerajaan. Semua yang hadir juga mengerti akan hal itu. Meskipun sang raja sendiri juga mengatakan tidak apa untuk menikmati pestanya.


“Seperti itu ya. Emilia apa kamu tahu soal ini?”


“Ya, aku pernah mendengar dari kedua orang tuaku.”


Yuna bertanya kepada Emilia tentang kedua orang tuanya. Emilia menjawab kalau kedua orang tuanya adalah penduduk Sakura Empire sebelumnya. Ini pertama kali aku tahu juga.


“Ini berbeda dengan pesta di tempatku,” kata Charlote tiba-tiba.


“Maksudnya?” tanya Yuna.


Kami belum memberitahu Yuna siapa Charlote sebenarnya. Emilia dan Laura menatapku seolah menandakan tidak apa kalau memberitahu Yuna. 


Ketika aku akan memberitahu Yuna, Charlote mengatakan kalau sebenarnya ia adalah seorang bangsawan di Ellis. Tapi ia tidak memberitahukan kalau ia seorang putri.


Ini mengambil jalan tengah untuk melindungi keluarga kerajaan Ellis dan juga hubungan dengan Sakura Empire. 


Meski Charlote masih anak-anak, ia lebih mengerti politik daripada aku dan yang lain. Tidak heran kalau suatu saat nanti ia bisa menjadi seorang ratu.


“Aku tidak tahu harus berkata apa, tapi yang pasti kelompok kalian unik. Bahkan kenalan kalian juga,” kata Yuna sambil tertawa.


Kami melanjutkan perbincangan kami, terutama membahas pahlawan dari negara lain. Yuna sedikit terkejut dengan pahlawan lain terutama tentang sifat mereka. 


“Hal ini juga yang menjadi alasan kami mau menbantumu,” kataku.


“Itu benar. Kamu berbeda dari yang lain,” sambung Emilia.


Saat kami sedang berbicara, terdengar suara yang mengatakan, “Keluarga kerajaan akan segera tiba.”


Semua tamu langsung melihat ke arah pintu istana. Kemudian terlihat anggota keluarga kerajaan keluar dari pintu itu. Mereka bejumlah 4 orang. Raja, ratu, serta pangeran dan juga putri.


Pangeran mungkin seusia dengan Emilia atau lebih tua dan untuk putri seusia dengan Charlote. Mereka sempat melihat ke arahku dan juga Emilia.  


Mereka terlihat mirip dengan Emilia, War Beast serigala perak. Emilia melihat mereka dengan raut wajah terkejut. 


“Ada apa Emilia?” tanyaku.


“Aku hanya sedikit terkejut master. Karena kupikir hanya aku saja serigala perak yang tersisa setelah orang tuaku meninggal.”


“Apa kamu tidak apa?”


“Ya, aku tidak apa. Maaf membuat master khawatir.”


Kemudian, para anggota keluarga kerajaan itu berjalan menuju ke meja mereka.