
Pada malam harinya kami tidak tidur untuk menyelidiki kota. Ketika Emilia melihat keluar jendela, kota menjadi gelap gulita dan orang-orang yang mengenakan jubah hitam berkumpul di depan Silver Cat.
“Master, mereka ada di depan,” kata Emilia.
“Jadi mereka sudah tahu kalau kita ada di sini atau tepatnya dari awal mereka sudah mengetahuinya.”
“Mereka hanya menunggu malam hari untuk bergerak. Kupikir musuh kita kali ini tidak bisa bergerak pada siang hari,” kata Laura.
“Mungkin. Lalu apa rencana kita sekarang master?”
“Ayo kita menuju ke istana, tapi bila terlalu bahaya kita mundur terlebih dahulu.”
“Baik,” jawab Emilia dan Laura bersamaan.
Emilia menggunakan masamune dan juga dragon slayer. Sedangkan aku menggunakan Gladio Luminatio atau tepatnya pedang yang dilapisi dengan elemen cahaya. Tidak lupa Laura memberikan Divine Protection untuk kami bertiga.
Kami keluar melalui jendela dan langsung berhadapan dengan orang-orang itu. Ini lebih mudah dri sebelumnya karena kami tidak mengawal siapa pun, jadi kami hanya perlu mengalahkan mereka tanpa merusak kota.
Emilia mengeluarkan Mirror Image untuk membantu pertarungan melawan mereka. Pasukan milik Emilia bertugas membukakan jalan untuk kami menuju ke istana.
Kami bertiga menggunakan Caleo agar bergerak lebih cepat. Beberapa dari orang-orang yang mengenakan jubah hitam itu menembakan bola-bola api kepada kami, namun berkat skill milik Laura serangan itu tidak melukai kami.
Mereka terus mengejar kami menuju ke istana. Dari depan beberapa serangan sihir berupa es dan api meluncur ke arah kami.
“Ini mengganggu saja,” kataku.
Emilia menggunakan Blue Fire dan Laura menggunakan Holy Ray untuk mengalahkan musuh yang ada di depan kami. Sementara aku melawan mereka yang menyerang melalui atap bangunan.
Setelah melewati beberapa bangunan, akhirnya kami tiba di istana. Seperti sebelumnya, istana terlihat kosong dan sepi. Seluruh bangunan gelap.
Orang-orang berjubah hitam itu tidak mengejar kami lagi. Aku pikir mereka takut dengan apa yang ada di dalam istana ini sekarang,
Tidak seperti kemarin, kami tidak menemukan seorang prajurit pun di istana. Padahal kemarin masih ada banyak dari mereka, walaupun semuanya menyerang kami.
“Emilia, Laura, tetap waspada. Kita tidak tahu darimana musuh akan menyerang.”
“Siap master,” kata Emilia.
Tiba-tiba suasana di istana menjadi terasa aneh. Hawa dingin disertai dengan aura membunuh keluar dari dalam bangunan utama istana.
“Ciel, bersiaplah akan ada yang datang,” kata Laura memperingatkan.
“Aku tahu. Laura siapakan beberapa skill pendukung, lalu Emilia seperti biasa.”
Laura menggunakan Null All untuk mengatasi status negatif yang akan kami terima dan juga Emilia memberikan Blue Fire pada kedua pedangnya.
Aku menggunakan Luminatio untuk membuat perlindungan dan aku menggunakan Arcus Grando sebagai senjata. Aku tidak memanggil naga karena tidak ingin adanya kerusakan berat di kota akibat pertarungan kami.
BRUUUUKK
Tiba-tiba dari atas menara, ada beberapa tubuh manusia jatuh. Setelah dilihat baik-baik, ternyata mereka adalah bangsawan yang menghilang tadi siang dan juga mereka yang melakukan kudeta sebelumnya.
Mereka semua sudah tidak bernyawa. Beberapa dari mereka bahkan tidak dalam kondisi utuh. Bagian tubuh mereka seperti dicabik-cabik oleh sesuatu.
Terdengar suara erangan dari atas menara. Ketika kami leihat ke sana, sesosok rakasasa keluar dari menara dengan menghancurkan puncaknya. Kemudian ia melompat dan turun ke hadapan kami.
Leher, tangan, dan juga kakinya terdapat rantai yang sudah putus. Matanya berwarna merah menyala. Ia seperti seekor beruang namun dengan tanduk di kepalanya dan juga memiliki 4 ekor.
Boss Kenrouga telah muncul.
“Boss? Kenapa ada peringatan ini padahal kita bukan sedang berada di dalam dungeon?” Laura terkejut.
“Apa maksudnya master? Kita sedang berada di kota bukan?” tanya Emilia bingung.
“Mungkin kota ini menjadi dungeon pada saat ini. Lawan kita bisa membuat keadaan seperti ini juga rupanya. Sekarang kita kalahkan dia terlebih dahulu.”
Kenrouga memulai serangan menggunakan tiga dari empat ekornya untuk menyerang kami. Serangan itu berhasi kami hindari. Aku melancarkan serangan balik dengan menembakan panah es ke arahnya, namun di tangkis menggunakan ekornya.
Emilia dan Laura juga menyerang balik namun juga ditangkis. Setelah itu Emilia mencoba melakukan pertarungan jarak dekat dengannya. Kenrouga menggunakan kedua tangannya untuk melawan Emilia.
Berbeda dengan ekornya yang bergerak cepat dan juga fleksible, gerakan tangannya cukup lambat. Hal itu memaksa Kenrouga bertarung menggunakan 2 ekornya untuk melawan Emilia, satu untuk menyerang dan yang lain untuk bertahan.
2 ekor yang lain digunakan untuk melawanku dan Laura. Mereka ini seakan-akan memiliki kecerdasan sendiri untuk melawan kami berdua.
Aku menggunakan Umbra untuk membantu Laura, karena ia tidak cocok untuk pertarungan seperti ini. Bayanganku menahan serangan yang mengarah ke Laura.
“Terima kasih Ciel."
Laura tidak memiliki banyak skill bertarung. Kebanyakan skill yang dimilikinya adalah skill pendukung dan penyembuhan. Namun ia masih bisa melakukan sedikit pertarungan senjata.
Kenrouga mengeluarkan listrik dari ekornya yang membuat Emilia terlempar ke arahku. Ketika aku menangkap Emilia, ekor yang sedang melawanku juga mengeluarkan listrik. Bahkan yang sedang melawan Laura juga sama.
Laura dapat menggunakan Holy Wall untuk menangkis listrik itu. Sedangkan aku menangkisnya menggunakan Luminatio yang ternyata bisa melakukannya juga.
Kenrouga mengumpulkan energi di mulutnya, sementara ekornya menyerang kami. Sepertinya ia akan mengeluarkan serangan dengan kekuatan besar.
“Kalian berdua berhati-hatilah. Ia akan menyerang menggunakan kekuatan besar,” kataku.
Ketika ia menembakan energi ke arah kami bertiga, Laura mengaktifkan Holy Wall berlapis untuk menahan serangannya. Dari 5 dinding yang dibuat hanya menyisakan 1 saja, sedangkan yang lainnya hancur.
Aku mengganti senjata ke Gladio Ignis dan juga Gladio Grando. Lalu maju ke depan untuk membantu Emilia. Tapi aku tetap menggunakan Umbra untuk membantu Laura.
Aku melawan 3 ekor milik Kenrouga, sementara Emilia menyerang tubuhnya. Beberapa serangan berahasil didaratkan Emilia. Ekor yang sedang melawan Laura kembali untuk melawan Emilia, namun aku menahannya menggunakan Luminatio.
Aku menggunakan banyak hampir semua glyph kali ini. Setelah semua ekor berkumpul padaku, Laura menggunakan Holy Ray untuk membantu Emilia. Selain itu aku menggunakan Grando Union untuk membekukan ekornya dan kemudian kuhancurkan.
Sekarang ia tidak memiliki kekuatan untuk melawan kami bertiga. Kami lalu melancarkan serangn bertubi-tubi hingga Kenrouga kalah.
Aku naik ke level 65 sedangkan Emilia naik level 61. Lalu Laura naik menjadi level 74. Tubuh Kenrouga kemudian aku masukan ke dalam Storage.
Halaman istana hancur berantakan karena pertarungan kami. Namun tidak ada serangan yang menuju ke luar istana untungya.
Sekarang kami akan masuk ke dalam istana untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di kota ini. Kami juga ingin tahu kenapa bisa ada monster dungeon di kota.
Ketika kami masuk ke dalam istana, kami terkejut dengan apa yang kami lihat. Itu bukan lah ruangan dalam istana, melainkan sebuah dungeon.