
Resepsionis penginapan itu, juga memberitahuku beberapa hal lain mengenai Yuna. Selain dirinya ia juga memberitahuku tentang anggota party milik Yuna.
Aku memesan 2 kamar dengan 2 buah tempat tidur untuk masing-masing kamar. Seperti biasa aku satu kamar dengan Emilia. Sedang Laura akan bersama dengan Charlote.
Aku meminta Laura dan Charlote untuk datang ke kamarku setelah meletakan barang-barang mereka. Aku ingin membicarakan tentang rencana besok dan juga masalah pahlawan dari Sakura Empire.
Kamar tempat kami menginap memiliki 2 buah kasur dengan sebuah meja kecil di antaranya. Di atas meja itu terdapat lampu tidur. Selain itu ada juga meja yang lebih besar dengan sebuah bangku.
Aku dan Emilia menunggu yang lain sambil berbincang-bincang.
"Emilia, apa kamu pernah datang ke sini?"
"Untuk ke kota ini belum. Tapi aku ingat samar-samar, ketika masih kecil, aku pernah berada di salah satu kota Sakura Empire. Namun aku lupa nama kota itu. Memangnya kenapa master?"
"Tidak, aku hanya ingin tahu saja."
Tok tok tok
Ada seseorang yang mengetuk pintu kamar.
"Ciel, ini aku dan Charlote."
"Masuk saja."
Setelah mereka masuk, kami memulai pembicaraan. Emilia dan aku duduk di kasurku. Sedangkan Charlote dan Laura duduk di kasur Emilia. Kami duduk berhadapan.
"Baiklah. Jadi apa yang ingin kamu bicarakan Ciel?" tanya Laura.
"Aku ingin membicarakan masalah dungeon dan juga pahlawan dari Sakura Empire."
"Master, kita mulai dari pahlawan saja, lalu baru masalah dungeon."
Laura dan Charlote menganggukan kepala mereka tanda kalau mereka berdua setuju dengan saran Emilia.
"Untuk pahlawan, kita tadi audah bertemu dengannya."
"Apa? Kapan? Dimana?" tanya Laura terkejut.
Emilia dan Charlote juga terkejut setelah mendengarnya. Hal itu tergambar dari ekspresi wajah mereka berdua.
"Tadi, ketika kita baru masuk ke dalam penginapan, kita berpapasan dengannya."
"Jangan-jangan gadis manusia yang memiliki rambut berwarna hitam tadi ya master?"
"Tepat sekali Emilia."
"Jadi kakak berambut hitam tadi ya," kata Charlote.
"Tidak kusangka kalau kita akan bertemu dengannya secepat ini," kata Laura.
Aku mengerti mereka juga terkejut dengan hal ini. Ini sama denganku ketika pertama kali mendengarnya tadi siang.
"Aku juga mendapat beberapa informasi mengenai dirinya dari resepsionis penginapan tadi."
"Lalu, apa saja itu?" tanya Laura.
"Yuna sepertinya tidak seperti Rafael maupun Evan. Ia tidak terlena dengan nama pahlawan. Selama ini ia memperkuat dirinya agar bisa segera mengalahkan raja iblis."
"Lalu soal perang saudaranya?" tanya Charlote.
"Ia sepertinya memaksa fraksi militer untuk tidak melakukan pergerakan dengan cara menunjukan kekuatannya. Yuna hanya ingin fokus pada raja iblis."
"Jadi ia tidak ingin terlibat dalam perang ini?" tanya Emilia.
"Ya. Ia tahu kalau raja iblis dikalahkan, ia bisa kembali ke dunia kami. Jadi perang ini juga akan berakhir."
"Ia tahu alasan militer sangat menginginkannya karena mereka ingin menjadikannya senjata. Tapi tunggu, dunia kami? Kak Ciel, kamu orang dari dunia lain?" tanya Charlote terkejut.
Aku lupa menceritakan hal itu sebelumnya.
Kemudian, aku menceritakan bagaimana aku datang ke dunia ini. Tapi hanya sampai menyentuh bola kristal di Tornia.
"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Charlote.
Di sini aku bingung mau bicara apa. Aku tidak ingin menceritakan kejadian yang terjadi saat aku di penjara. Emilia dan Laura juga terdiam.
"Kejadian selanjutnya bukan sesuatu yang baik untuk diceritakan, Charlote," kataku.
"Tapi, aku ingin mengetahuinya. kak Emilia dan juga kak Laura juga tahu kan?"
Aku melihat Emilia dan Laura memberikan kode tidak masalah untuk menceritakannya.
Setelah itu, aku menceritakan semuanya hingga tiba di Ellis. Ini serasa aku merangkum cerita hidupku selama ini.
"Aku mengerti sekarang, jadi kalian bertiga memiliki Class khusus juga?"
"Ya. Aku yang paling baru saja mendapatkannya. Sekarang aku seorang saint," jawab Laura.
"Tapi apa aku bisa mendapatkanya juga?" tanya Charlote.
"Hmmm… aku tidak tahu soal itu. Semuanya bergantung dengan Rinoa," kataku.
Aku, Emilia, dan juga Laura mendapatkan class khusus ini dari Rinoa dqn syarat untuk mendapatkanya sendiri aku juga tidak tahu.
"Ok. Kita lanjut membahas masalah pahlawan," kata Emilia.
"Yuna ini memiliki party bukan?" tanya Laura.
"Kita juga sudah bertemu dengan mereka."
"Yang berada di belakang Yuna tadi?" tanya Charlote.
"Ya. Katanya mereka adalah bangsawan dan juga petualang dengan peringkat A. Jadi mereka mungkin saja lebih kuat dari party Evan."
"Mendengarnya, membuatku semakin yakin kalau Yuna ini benar-benar jauh lebih kuat dari Rafael dan Evan," kata Emilia dengan nada serius.
Aku, Emilia, dan Laura tahu seberapa kuatnya Rafael dan Evan. Mereka masih belum siap fan perlu untuk meningkatkan kekuatan mereka lagi.
Pembicaraan mengenai pahlawan hanya sampai di situ. Kemudian kami mulai membahas mengenai dungeon.
Pertama-tama Laura menjelaskan kepada Charlote mengenai dungeon. Ia memberitahu lingkungan, monster, dan juga harta yang ada di dalam dungeon. Tidak lupa ia juga memberitahu seberapa bahayanya di dalam dungeon itu.
Setelah itu aku menjelaskan formasi untuk kelompok di dalam dungeon. Biasanya jumlah anggotanya sangat banyak, jadi aku hanya memberitahu peran mage di dalam kelompok.
"Aku mengerti. Seorang mage akan memberi serangan kuat dari jarak jauh untuk membantu garis depan bukan?"
"Benar. Sampai sekarang, master berperan sebagai mage juga. Tapi karena sekarang ada kamu, maka ini akan menjadi lebih mudah," kata Emilia.
Keesokan harinya kami pergi keluar kota untuk mencoba formasi kami. Selain itu aku juga ingin tahu sampai seberapa kemampuan Charlote.
Kami melawan sekelompok ogre yang berada di hutan. Emilia dan aku ada di garis depan, sementara Laura dan Charlote di belakang.
Beberapa kali Charlote meleset ketika menembakan sihir.
Seperti dugaanku, ia masih belum terbiasa dalam kelompok. Pengambilan keputusannya juga masih perlu dilatih.
Setelah selesai aku mengumpulkan mereka. Rencananya setelah ini kami akan membeli beberapa perlengkapan untuk menaklukan dungeon besok.
"Kita tidak akan ikut dalam misi besok," kataku.
Emilia dan Laura mengerti dengan apa yang aku katakan barusan. Mereka juga menyadari kalau Charlote masih belum siap. Mungkin selama ini ia hanya mendapat last hit atau pukulan terakhir saja pikirku.
"Kenapa kita tidak ikut?" tanya Charlote bingung.
"Kamu belum siap Charlote. Bila yang maju hanya kelompok kita itu tidak masalah, tapi besok bukan hanya kita saja yang masuk."
"Maaf, karena aku…," kata Charlote pelan.
Laura memeluk Charlote dan berkata, "Tidak apa. Ini bukan salahmu."
"Itu benar, kita akan masuk ke sana begitu kamu sudah siap Charlote," kata Emilia.
"Itu benar. Aku belum menyelesaikan kalimatku tadi. Kita akan masuk setelah mereka, jadi kamu bisa berlatih perlahan di sana," kataku.
Emilia dan Laura tersenyum.
"Terima kasih teman-teman."