
Kami bertiga bersiap bertarung melawan Lich King. Aku merasakan tekanan luar biasa darinya. Udara di ruangan ini menjadi sangat dingin.
"Aura membunuh yang sangat besar keluar dari dirinya," kata Emilia.
"Tekanan yang sangat luar biasa. Aku kagum sebelumnya kamu dapat melawan salah satu jendral sendirian, Ciel," kata Laura.
"Memang aku sendirian tapi tidak ada tekanan seperti ini sebelumnya."
Ketika aku menghadapi Regyus sebelumnya, ia tidak mengeluarkan tekanan dan aura semacam ini padaku. Ini pertama kalinya aku merasakan tekanan sebesar ini.
"Jadi kau yang sudah mengalahkan Regyus? Tapi jangan samakan diriku dengannya."
Daimon mengayunkan tongkatnya dari atas ke bawah.
DUAAAAARRRRR
Petir menyambar dari langit dan menghancurkan atap istana. Petir itu kemudian masuk ke dalam tongkatnya.
Aku bisa melihat tongkat itu sekarang di aliri listrik. Ini semakin gawat, bukan hanya kekuatan fisiknya saja yang meningkat, namun juga kekuatan sihirnya.
"Rasakan ini."
Dia menembakan listrik ke arah kami bertiga. Tapi Luminatio milikku menetralkas serangan itu dengan baik. Daimon langsung memulai pertarungan.
Emilia mengeluarkan bayangannya dan berlari menyerang Daimon. Pertarungan pedang antara Daimon melawan Emilia dan bayangannya di mulai.
Aku juga maju menyerangnya. Daimon mengeluarkan lingkaran sihir dari tongkatnya ke arahku. Laura langsung membuat Holy Wall di depan lingkaran itu untuk menahan serangan dari Daimon.
"Terima kasih Laura."
"Sama-sama."
"Rasakan ini!!"
Aku menembakan serangan menggunakan Luminatio Union. Aku mengincar bagian wajah dan juga senjatanya. Tapi dia mengeluarkan gelombang yang membuat Emilia terlempar dan kemudian ia juga membuat perisai dari tulang untuk menahan seranganku.
"Holy Cross."
Laura mengeluarkan skill miliknya untuk menghancurkan perisai itu. Di balik perisai itu, Daimon telah bersiap menyerang dengan menggunakan pedangnya.
Ketika perisai tulang miliknya dihancurkan oleh Laura, ia menebas diriku. Walau aku berhasil menghindar, perutku terkena tebasan itu meski sedikit.
"Master, berhati-hatilah dengan pedang itu. Ia mengalirkan sihir pada pedangnya."
Berarti aku bukan terkena pedang miliknya namun terkena sihir yang mengalir pada pedang itu. Untung saja lukanya tidak terlalu dalam.
Daimon lalu menembakan beberapa bola api kepada kami bertiga. Laura berusaha menahannya dengan menggunakan Holy Wall, namun gagal. Bola-bola api itu langsung meluncur ke arah kami.
Untuk menghentikan bola-bola api itu, aku mengeluarkan bola api raksasa dengan Ingis Union dan itu berhasil. Dari asap yang muncul setelah kedua serangan tadi bertemu, Daimon keluar dan menyerang Laura dengan pedangnya.
Emilia yang berada di dekat Laura menggunakan Mirror Image. Ia menggunakan bayangannya untuk melindungi Laura. Lalu Emilia menyerang Daimon dan memaksanya mundur dari Laura.
Diam-diam aku mengaktifkan Grando Union. Di langit-langit ruangan itu muncul bunga mawar es yang kemudian hancur. Tubuh Daimon sedikit demi sedikit membeku mulai dari kakinya.
Ketika kupikir ini sudah selesai, Daimon memotong kakinya untuk melepaskan diri dari efek pembekuan Grando Union. Ia kemudian terbang serta melancarkan serangan listrik kepadaku.
Emilia mengeluarkan Blue Fire miliknya untuk melindungi diriku. Laura juga mengaktifkan Holy Cross di atas Daimon dan menjatuhkannya.
"Jangan kau pikir dengan ini kau bisa menjatuhkanku," kata Daimon sambil menghancurkan skill Laura dengan tongkatnya.
"Tapi aku bisa menyerangmu menggunakan ini," kataku.
Aku menggunakan Gladio Luminatio. Serangan ini memberikan beban yang besar pada tubuh, karena memaksa penggunanya bergerak secepat cahaya. Maka dari itu aku juga menggunakan Dragon Force untuk memperkuat diriku.
SLAAAAAASHHHH
Satu serangan cepat kulancarkan. Aku sendiri tidak tahu kapan, tapi aku merasa sudah menyerangnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Daimon.
"Tunggu dan lihat saja."
Bahkan Emilia dan Laura saja terlihat bingung dengan apa yang aku lakukan.
"Master, apa benar sudah menyerangnya?"
"Aku dan Emilia hanya melihat kamu mengayunkan pedangmu saja."
Aku hanya tersenyum mendengar itu.
BLAARRRR
Lantai tempatku berpijak tiba-tiba hancur.
Daimon mengarahkan tongkatnya kepada kami lagi. Ia bersiap menggunakan sihirnya, namun…
KRAAAAKKK
Tongkatnya terbagi menjadi beberapa bagian. Ia tidak akan bisa menggunakan tongkatnya lagi.
"Bagaimana bisa?" Daimon terlihat terkejut saat melihat tongkatnya terpotong-potong.
"Ini seranganku. Berikutnya adalah dirimu Daimon."
Setelah mendengar kata-kata yang kuucapkan baru saja, Daimon menggunakan sihirnya. Di lantai ruang tahta muncul lingkaran sihir dan dari situ muncul mayat hidup yang cukup banyak.
"Sekarang, bisakah kau dapat menyerangku?"
"Tentu saja ia bisa," kata Laura tiba-tiba.
Laura kemudian mengaktifkan Holy Judgement. Skill ini memanggil atau lebih tepatnya menciptakan cahaya yang turun dari langit. Serangan ini bersifat area.
Ketika cahaya itu mengenai para mayat hidup yang sudah dipanggil oleh Daimon, mereka semua terbakar. Bahkan Daimon pun juga tidak bisa bertahan dari serangan ini. Ia juga menerima luka dari skill milik Laura ini.
Setelah menerima serangan dari Laura, Daimon berusaha menyerang Laura. Emilia yang melihat hal itu berusaha menghentikannya. Ia dan Daimon sekali lagi beradu pedang.
Mereka berdua sama-sama kuat. Tidak kusangka kalau Daimon masih sekuat ini meski ia sudah terluka karena serangan Laura baru saja.
Emilia terus menekan Daimon. Ia bahkan bisa memdaratkan serangan yang melukai Daimon. Luka-luka itu juga memberikan efek terbakar karena gabungan dari Blue Fire milik Emilia yang ditambah elemen suci dari Laura.
Daimon menggunakan gelombang sihir untuk melempar Emilia menjauh darinya.
"Master, sekarang!"
"Baik. Terima kasih Emilia."
Sekarang serangan kedua akan kulancarkan.
"Tidak akan aku biarkan kau menyerangku lagi."
Daimon membuat lapisan pertahanan untuk melindungi dirinya dari seranganku.
"Itu tidak ada artinya," kataku.
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah menyerangmu sebelum kau membuat perisai."
"Tidak mungkin."
Beberapa saat kemudian, dari tubuh Daimon muncul banyak luka. Itu adalah serangan keduaku menggunakan Gladio Luminatio, beberapa serangan dengan kecepatan cahaya.
Daimon kemudian jatuh ke lantai. Ini sudah berakhir sepertinya.
"Inikah akhirnya?" tanya Daimon yang sudah sekarat.
"Ya. Ini akhir darimu," kataku.
"Sebagai hadiah, aku akan memberikan relik listrik ini padamu," kata Daimon sambil memberikan sebuah relik.
Relik itu melayang dan mendarat di tanganku.
"Bagaimana dengan pertarungan di luar dinding?" tanya Laura.
"Tenang saja, itu juga akan berakhir. Saat aku mati, Dulahan juga akan menghilang bersama denganku."
Tubuh Daimon perlahan mulai menghilang.
"Masih ada 2 jendral iblis lagi yang akan kalian hadapi, namun jangan senang dulu. Setelah mereka kalian akan melawan pasukan elit raja iblis yaitu sang 7 dosa."
"Jadi masih ada lagi?" tanya Emilia.
"Tentu. Perjalanan kalian masih sangat panjang untuk mengalahkan raja iblis."
Setelah mengatakan hal itu, tubuh Daimon menghilang lenyap.
Kami bertiga saling memandang.
"Mau bagaimana lagi, kita masih harus melakukan banyak hal lagi."
"Iya master."
Ini adalah akhir dari pertarungan kami di Ellis. Ibukota sudah berhasil kami ambil alih. Sekarang aku berlevel 70, Emilia 67, dan Laura 78.