
Selama tiga hari kami melakukan pencarian penduduk ibukota dan juga mengeluarkan mereka dari sini. Kemungkinan raja berencana menghancurkan seluruh kota karen tidak bisa diselamatkan lagi.
Penduduk yang kami selamatkan 3 hari ini kebanyakan memang berada di tengah kota atau tempat yang jauh dari gerbang kota. 3 hari ini juga, jumlah pasukan iblis semakin bertambah.
Kami juga beberapa kali terlambat untuk menyelamatkan penduduk. Sebelum kami tiba mereka sudah dibunuh oleh pasukan iblis.
Pada mulanya kami merasa mual dan tertekan ketika melihat para penduduk yang tewas, namun karena sudah sering melihatnya selama 3 hari kami menjadi terbiasa.
Walau begitu, kami tetap merasa sedih dan kecewa. Terkadang aku berpikir, kenapa kami harus terjebak di dalam Royal Dungeon atau kenapa kami terlambat.
Dari kami bertiga, Laura paling sering menangis ketika melihat para penduduk yang sudah terbunuh. Ia sering meminta maaf di depan penduduk yang tewas karena tidak bisa menyelamatkan mereka.
Pada hari ketiga atau hari terakhir kami bisa menyelamatkan penduduk, kami bergerak secepat mungkin dan juga kami membuat kota ini menjadi medan perang.
Pasukan iblis yang berjumlah ribuan menyerang kami dari segala arah ketika membawa penduduk keluar dari ibukota. Aku menggunakan nagaku untuk berperang melawan pasukan iblis.
Emilia dan Laura serta bersama dengan beberapa prajurit yang tersisa mengawal para penduduk keluar. Sedangkan aku melawan pasukan iblis agar menjauhi rombongan itu.
Sudah banyak sekali aku menggunakan Glyph Union yang pernah aku pakai untuk bertarung selama 3 hari ini. Aku menggunakannya hingga banyak bangunan menjadi hancur.
Ini adalah gelombang terakhir pengungsi, setelah ini kami misi penyelamatan selesai. Entah apa yang terjadi selanjutnya, aku tidak tahu.
Kepalaku pusing, pengelihatanku mulai kabur. Selain itu jari-jari tanganku terasa kesemutan dan juga terbakar.
Kami terus berlari menuju gerbang kota. Emilia juga terlihat sangat kelelahan begitu juga dengan Laura. Sementara pasukan iblis terus berdatangan.
Aku akan menggunakan Glyph Union yang belum pernah aku pakai sebelumnya, yaitu Luminatio Umbra. Aku tidak tahu efeknya, namun mengingat Ignis Grando, kemungkinan kombinasi ini sangat luar biasa.
Aku berpindah ke bagian belakang rombongan penduduk sambil melawan pasukan iblis. Nagaku juga membantu dengan menembakan beberapa bola api berukuran raksasa.
Ketika para penduduk sudah berhasil keluar dari ibukota, aku langsung mengaktifkan skillku. Tanganku kemudian mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan.
Lalu di langit, muncul sebuah retakan. Retakan itu terus membesar hingga akhirnya pecah. Dari lubang pecahannya itu, muncul suatu energi yang menghisap apapun yang ada di bawahnya. Mulai dari pasukan iblis hingga bangunan yang ada di bawah lubang itu, semuanya terhisap.
Sebagai tambahan ibukota ini memiliki 3 gerbang, 1 sudah aku hancurkan karena Ignis Grando. Lalu 1 lagi hancur karena serangan pasukan iblis. Gerbang terakhir sekarang yang sedang kami gunakan untuk kabur.
Ketika aku menggunakan Luminatio Umbra, tanganku terasa sangat sakit. Oleh karena itu aku hanya menggunakannya sebentar saja.
Kami kemudian membawa pendudu itu menuju ke sebuah tempat yang berada di dalam sebuah hutan dekat ibukota. Di sana, raja beserta pasukannya sedang mempersiapkan diri untuk menyerang ibukota.
Ketika sampai di sana, kami semua terkejut dengan apa yang ada di tempat itu. Pasukan raja telah musnah dan juga raja sendiri telah tewas. Banyak mayat di sana.
Kami berjalan melewati mayat-mayat itu untuk mencari korban yang selamat. Namun tiba-tiba serangan panah sihir meluncur ke arah kami dan menyebabkan semua penduduk dan prajurit tewas.
Hanya kami bertiga yang selamat. Aku melihat ke arah dari mana panah itu berasal, dan ternyata itu pasukan iblis dalam jumlah besar.
”Master apa kita akan…”
“Tidak. Tidak akan kubiarkan itu terjadi.”
Aku melihat ke sekeliling dan ternyata kami telah terkepung. Aku melihat ke langit dan di sana aku menemukan keanehan. Aku tidak melihat matahari di langit padahal ini siang hari.
Aku mulai bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Ketika itu perlahan aku menyadari sesuatu. Sejak kami keluar dari dungeon, tidak ada hal baik dalam waktu 3 hari ini. Semuanya adalah bencana saja.
“Apa jangan-jangan…,” aku mulai menyadari sesuatu.
Aku kemudian memegang Emilia dan juga Laura.
“Ciel, apa yang kau….”
“Diam dan ikuti aku saja.”
Aku kemudian mengatifkan Luminato Umbra di bawah kaki kami bertiga. Sesaat kemudian kami bertiga terhisap olehnya. Emilia dan Laura terkejut.
“Percaya saja denganku,” kataku untuk menenangkan mereka berdua.
Emilia dan Laura menatapku sambil menganggukan kepala tanda bahwa mereka percaya dengan apa yang kulakukan.
Sesaat kemudian kami di sebuah ruangan gelap. Di ruangan itu terdapat sebuah bola mata berawarna merah yang melayang.
“Master ini dimana?”
“Kita masih berada di dalam Royal Dungeon.”
“Apa? Tapi bukannya kita sudah keluar?” tanya Laura bingung.
“Tapi tidak ada pilihan keluar dari Royal Dungeon, hanya ada pilihan keluar.”
“Jadi sekarang?” tanya Emilia.
“Ya ini adalah jalan keluar sebenarnya dari Royal Dungeon.”
Kami bertiga mendekati mata itu dan kemudian ia menatap kami bertiga. Mata itu lalu mengeluarkan cahaya merah di sekelilingnya.
Boss Dead Eye telah muncul.
Sudah kuduga pertarungan boss lagi. Tidak mungkin kami bisa keluar di lantai 5 semudah itu. Kami bersiap untuk bertarung.
Dead Eye menembakan listrik berwarna merah kepada kami bertiga. Aku menggunakan Caleo untuk menghindarinya dan juga Gladio untuk menyerang balik. Sementara Laura menggunakan Holy Wall untuk melindungi dirinya dan juga Emilia.
Emilia kemudian mengeluarkan kedua pedangnya dan melapisinya dengan Blue Fire. Laura memberika Divine Protection kepada kami bertiga.
Emilia kemudian maju menyerang bersama denganku. Serangan dari Dead Eye sangat monoton. Ia hanya menembakan listrik merah kepada kami.
Namun ketika aku dan Emilia mendekatinya, ia mengeluarkan gelombang yang membuat kami berdua terlempar. Laura berusaha menyerangnya dengan menggunakan Holy Ray dan ternyata efektif.
Dead Eye membalas serangan Laura namun gagal karena ada Holy Wall miliknya dan juga Umbra milikku yang melindunginya. Aku kemudian mengganti serangan ke mode jarak jauh. Aku menggunakan 3 glyph sihir, Ignis, Grando, dan juga Luminatio.
Aku menggunakan Luminatio untuk pertahanan. Sementara Ignis dan Grando untuk menyerang. Emilia juga menembakan Blue Fire secara beruntuk ke arah Dead Eye.
Kami bertiga menghujani Dead Eye dengan serangan jarak jauh terus menerus. Ketika ia akan menyerang, aku menggunakan Grando untuk menahannya.
Setelah beberapa saat kami berhasil mengalahkan Dead Eye. Ketika Dead Eye hancur muncul sebuah pintu dengan tulisan “Keluar dari Dungeon” di atasnya.
Pintu itu adalah jalan keluar sesungguhnya dari Royal Dungeon.
“Kita akhirnya bisa keluar,” kataku.
“Iya master,” kata Emilia tersenyum.
“Akhirnya,” ujar Laura lelah.