Alchesia

Alchesia
Chapter 28 Tantangan



Beberapa saat kemudian Emilia bangun.


“Kamu sudah bangun Emilia?”


“Sudah,” kata Emilia dengan suara masih setengah mengantuk.


Matanya masih terlihat mengantuk. Kupikir nyawanya belum terkumpul seluruhnya. Dia pasti masih sangat lelah. Pertarungan kami kemarin dan juga perjalanan kami kembali kemari, pasti  membuatnya lelah.


Tok tok tok


Ada seseorang yag mengetuk pintu. Itu pasti Laura pikirku. Ketika aku membuka pintunya ternyata memang benar kalau itu adalah Laura.


“Ada apa Laura?”


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin memeriksa apakah kamu sudah bangun atau belum.”


“Seperti yang kamu lihat sekarang, aku sudah bangun dari tadi.”


“Kalau Emilia?”


“Lihat saja sendiri,” kataku malas.


Emilia masih tiduran di atas kasurnya. Laura masuk ke dalam kamarku. Kemudian kami mendiskusikan masalah pahlawan Evan.


“Kapan kita akan menemui Evan?” tanya Laura.


“Melihat keadaannya mungkin besok adalah waktu yang tepat. Selain itu kamu bisa lihat sendiri, kalau Emilia masih kelelahan. Sejujurnya aku sendiri juga sama.”


“Begitu kah? Aku juga masih lelah sebenarnya. Kalau begitu kita istirahat saja untuk hari ini, baru besok kita ke guild.”


“Baik. Laura, aku tadi sempat mengobrol dengan Luna. Ia tadi berkata kalau dirinya ingin menjadi petualang. Bagaimana menurutmu?”


Laura terlihat tidak terkejut dengan apa yang baru saja aku katakan, berarti ia sudah tahu atau begitulah menurutku.


“Sebenarnya Luna itu sudah pernah menjadi petualang. Ia mencapai peringkat C.”


“Peringkat C?”


“Iya. Ia berhenti setelah partyku dulu dimusnahkan oleh Black Dragon.”


“Kamu yang memintanya?”


“Tidak. Ia berhenti untuk merawatku setelah tragedy itu. Jika tidak ada dririnya mungkin aku sudah menjadi gila.”


“Lalu kenapa ia masih berhenti hingga sekarang? Padahal kamu sudah kembali.”


“Aku rasa ia khawatir kalau aku akan kembali terpuruk. Tapi sekarang aku sudah tidak apa-apa.”


“Kalau begitu kita ajak dia besok ke guild petualang untuk saja.”


“Itu ide bagus. Aku akan berbicara dengannya.”


Setelah itu Laura keluar dari kamarku.


Keesokan harinya ketika kami akan berangkat ke guild, aku bertanya kepada Laura mengenai Luna. Ia menjawab dengan menganggukan kepala, berarti tidak ada masalah. Sesaat kemudian Luna keluar dari rumah dengan menggunakan pakaian petualangnya.


Ia menggenakan jubah berwarna merah dan juga membawa tongkat sihir dengan kristal merah di ujungnya. Selain itu ia juga membawa beberapa buku dan juga obat. Dari situ aku tahu kalau yang dikatakan Laura kemarin itu benar.


Kami kemudian berjalan ke guild. Di jalan Laura memberitahu Emilia mengenai pembicaraanku dengan Laura soal Luna, karena Emilia tertidur lagi ketika kami sedang berbicara.


Tiba-tiba tanganku disentuh oleh Luna. Ia berbisik padaku, ”Sebenarnya misi apa yang kalian bertiga jalankan kemarin? Sejak ia pulang ia terlihat semakin lebih baik.”


“Itu hanya misi berburu dan juga mengumulkan tanaman obat saja.”


“Hmm…?” Luna menatapku dengan curiga.


Setelah itu kami berjalan menuju guild. Ketika tiba aku dan Emilia melihat-lihat misi yang ada di guild, sedangkan Laura menemani Luna untuk mendaftar sebagai petulang.


Sejak kami tiba aku tidak melihat kelompok petualang Evan. Aku pikir mungkin ia belum datang atau ada urusan lain. Kudengar kalau Evan tinggal di istana.


Setelah menunggu beberapa saat, Laura dan Luna menghampiriku.


“Sudah selesai?”


“Sudah,” jawab Laura.


“Mulai dari awal?” tanya Emilia.


“Tidak. Karena aku pernah jadi petualang, aku hanya memperbarui kartu petualangku,” jawab Luna.


Ketika kami sedang memilih misi yang ada, sekelompok orang masuk ke dalam guild dan mendatangi kami.


“Siapa mereka?” bisiku pada Luna.


“Mereka ini adalah pengawal putri Teresia. Kalau mereka ada di sini berarti Evan dan putri juga,” jelas Luna.


Setelah melihat mereka, yang ada dipikiranku hanya mereka ini Evan dan putri Teresia pastinya. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa mereka mendatangi kami.


Awalnya kupikir mereka mencari misi seperti kami, tapi tiba-tiba mereka berdua berdiri di depan Laura.


“Sepertinya aku tahu apa yang mereka inginkan.”


“Saya juga tahu master,” kata Emilia.


Kulihat Luna tidak merespon. Aku yakin ia merasa bingung dengan apa yang sedang terjadi saat ini. Sedangkan Laura sepertinya juga mengetahui maksud mereka.


“Apa anda nona Laura?” tanya Evan.


“Itu benar. Saya tahu maksud kedatangan anda dan saya akan langsung menjawabnya. Saya menolak.”


Luna terlihat terkejut dengan ucapan Laura barusan. Sedangkan aku dan Emilia sudah menebaknya dari awal.


“Tunggu dulu! Ia belum berkata apa pun dan kau langsung menolaknya?” kata Teresia kesal.


Kupikir dari ucapanya terlihat kalau ia sebenaranya kurang pengalaman. Selain itu mungkin ia anak manja. Aku penasaran sebenarnya kalau di peringkat petualang kekuatan mereka berdua itu seberapa.


“Luna, kalau diukur menurut peringkat petualang mereka berdua itu setara apa?” bisiku.


“Mungkin B dan C.”


“B dan C kah?”


Sejujurnya mereka masih jauh dari kata siap untuk melawan pasukan raja iblis. Teresia terlihat sangat kesal mendengar kalimat tolakan dari Laura.  Sekarang ini Laura sudah peringkat A, jadi wajar jika mereka ingin merekrutnya.


“Kau tahu alasanku datang?” tanya Evan.


“Ya. Anda ingin saya bergabung dengan kelompok anda bukan?”


“Benar. Kalau boleh tahu apa alasanmu?”


Dari tatapannya aku tahu kalau ia tipe orang menjujung keadilan yang tinggi. Tapi selain itu aku merasa kalau ia sebenarnya adalah seorang penggila keadilan dan juga penggila pahlawan.


“Saya sudah memiliki kelompok dan saya tidak ingin meninggalkan mereka.”


“Maksudmu dengan manusia dan juga gadis serigala ini? Mereka terlihat lemah,” kata Teresia.


“Tapi mereka akan menghambatmu untuk menjadi lebih kuat,” kata Evan.


“Apa anda menantang kami?” tanya Laura kesal.


Sesaat Teresia diam dan memikirkan sesuatu begitu pula dengan Evan.


“Bagaimana kalau kita mengadakan pertandingan kelompok kami melawan kelompok kalian?” tanya Evan.


“Baiklah. Kalau kami menang kalian jangan mengganggu kami lagi,” kata Laura.


“Dan jika kami menang Laura bergabung dengan kami,” kata Teresia.


“Tapi bukannya tidak seimbang? 3 lawan 2?” tanya Luna.


“Tenang saja kami juga ada anggota lain. Setuju?” ujar Teresia.


“Setuju.”


Aku merasa ada yang aneh. Walaupun Evan terlihat adil, tapi aku tidak suka dengan tatapan Teresia. Sepertinya ia merencanakan sesuatu.


“Besok siang di arena istana, kita akan bertanding,” kata Teresia.


Kemudian mereka pergi meninggalkan guild.


“Apa mereka mempunyai anggota lain Luna?” tanya Emilia.


“Kalau tidak salah ada beberapa. Seorang manusia rubah dengan kelas mage berperingkat A, Mermaid dengan kelas assassin peringkat B, lalu seorang wanita dengan kelas paladin berperingkat A.”


“Jadi itu alasan mereka meminta Laura bergabung. Mereka tidak memiliki seseorang dengan kelas priest,” kataku


“Jadi itu 3 lawan 5. Kak Ciel dan Emilia peringkat apa?” tanya Luna.


“Aku dan Emilia peringkat C dan Laura ini peringkat A.”


“Tidak ada harapan.” 


“Tenang saja. Mereka berdua ini sangat kuat,” kata Laura.


Setelah itu kami meninggalkan guild dan kembali ke rumah Laura dan Luna. Hari ini kami tidak mengambil misi karena pertandingan besok. Kami memilih menyusun rencana.