
Setelah kami makan, kemudian kami tidur. Aku dan Charlote mendapat giliran jaga pertama. Aku, Emilia, dan Laura juga ingin memberikan pelajaran tentang kehidupan petualang di dalam dungeon.
"Kamu tidak apa-apa kan Charlote?" tanyaku.
Aku sedikit cemas karena Charlote belum pernah jaga malam sebelumnya.
"Aku tidak apa-apa kak. Terima kasih sudah mencemaskanku."
Kemudian Charlote menceritakan kehidupanya ketika berada di istana dan juga ketika ia menaikan level bersama para pengawalnya. Ia sering tersenyum ketika menceritakan tentang petualanganya. Tapi karena ia seorang putri. maka raja dan ratu melarangnya untuk pergi jauh dari kota.
Terkadang ketika ia menceritakan petualanganya pada raja dan ratu, mereka berdua selalu terlihat cemas. Aku mengerti hal itu. Raja dan ratu mengkhawatirkan Charlote sebagai orang tuanya.
Ia kemudian tanya kepadaku mengenai glyph. Aku hanya menjawab dengan apa yang aku ketahui saja.
"Jadi kak Ciel tidak bisa menggunakan senjata apa pun sekarang?"
"Ya. Karena semua senjataku ada di dalam glyph yang aku miliki."
"Enaknya mempunyai skill khusus," kata Charlote.
"Kalau itu aku tidak tahu pasti. Kadang enak kadang juga tidak enak. Itu bergantung pada situasinya."
Kami terus mengobrol hingga ganti giliran jaga malam. Charlote ini sangat suka bercerita dan mendengarkan cerita juga. Ia terlihat sangat senang ketika aku menceritakan boss dungeon pertama yang aku dan Emilia lawan.
"Ciel bangun. Pasukan penakluk sudah mulai bergerak," kata Laura.
Aku segera bangun dan membantu Emilia yang sedang berkemas. Laura dan Charlote bertugas mengawasi pergerakan pasukan penakluk serta mengikuti mereka.
Begitu aku dan Emilia selesai, kami berdua segera menyusul mereka. Untung saja mereka belum jauh sehingga kami dapat menyusul.
Beberapa saat kemudian, kami berempat keluar dari area taman bunga. Area berikutnya adalah sebuah lorong lagi, namun dengan beberapa lukisan yang menempel di dindingnya.
Kami terus mengikuti pasukan penakluk sambil melawan beberapa raksasa untuk menaikan level Charlote. Raksasa di area ini masih sama dengan area sebelumnya. Mereka masih mengenakan armor dan membawa senjata yang rusak.
Area ini tidak menjadi masalah yang berarti bagi kami berempat. Hanya saja jumlah raksasa yang muncul lebih banyak dari sebelumnya.
Lorong ini juga cukup panjang dari yang sebelumnya. Tidak mengherankan kalau jumlah raksasa yang muncul juga banyak. Aku juga melihat banyak sekali mayat raksasa yang sudah dikalahkan oleh pasukan penakluk.
Mereka sepertinya mulai nampak kerepotan menghadapi para raksasa ini. Soalnya aku menemukan banyak senjata yang sengaja dibuang karena rusak serta beberapa keruskan pada dinding karena terkena serangan sihir yang meleset.
Awalnya aku, Emilia, dan Laura hanya ingin melatih Charlote di dalam dungeon, tapi sepertinya kami akan terlibat dengan misi penaklukan kali ini.
Aku melihat Charlote untuk memeriksa apakah dia masih bisa lanjut atau tidak. Charlote terlihat masih mampu melanjutkan sepertinya.
"Bagaimana? Apa kita masih mau lanjut Ciel?" tanya Laura.
Sepertinya ia juga menyadari hal yang sama denganku tentang keadaan Charlote sehingga ia bertanya seperti itu.
"Charlote, sekarang kamu mau lanjut atau mundur? Area berikutnya kemungkinan akan lebih berat lagi," tanya Laura.
"Aku ingin lanjut agar bisa mengekar ketertinggalan levelku," jawab Charlote dengan penuh semangat.
"Baiklah kalau begitu. Tapi jika kamu ingin berhenti atau mundur segera katakan saja," kataku.
"Baik kak."
Sesuai dengan keinginan Charlote, kami melanjutkan penjelajahan kami di dalam dungeon raksasa ini. Benar saja di area berikutnya kami sudah bisa menemukan bukan hanya mayat para raksasa tapi juga mayat dari petualang yang gugur.
"Sepertinya para raksasa di area ini merupakan kelas atas. Mungkin monster dengan peringkat B atau A," kata Laura.
"Lalu, yang kita lawan sebelumnya itu peringkat apa kak?" tanya Charlote penasaran.
"Mereka hanya di peringkat C. Para raksasa sebelumnya lebih lemah dari Goblin Lord dan juga Orc General yang berperingkat B," jelas Laura.
"Berarti kita harus lebih berhati-hati lagi dari yang sebelumnya," kata Emilia.
Aku melihat Charlote dan bertanya, "Apa kamu masih ingin lanjut setelah melihat dan mendengar ini Charlote?"
Ia terlihat mulai ragu. Sepertinya ia takut setelah melihat mayat dari para petualang yang gugur ini. Tangannya gemetar dan wajahnya menjadi pucat. Dia kemudian terduduk di lantai.
Berbeda dari kejadian di istana, kali ini ia harus siap menghadapi resiko dari perjalanan ini. Laura berusaha menenangkan Charlote yang ketakutan dan tidak menjawabku.
Aku dan Emilia berkeliling di area itu untuk memastikan ada tidaknya raksasa di sini. Kami berdua juga menemukan beberapa mayat petualang lagi ketika sedang berkeliling.
Ketika kami kembali ke tempat Laura, Charlote sepertinya sudah mulai tenang.
"Karena seperti ini, sebaiknya kita mundur saja," kataku memberi saran.
"Aku setuju dengan master."
"Kenapa kamu memilih mundur setelah berkeliling? Apa yang kalian temukan?" tanya Laura.
"Kami menemukan mayat-mayat petualang yang gugur lagi di depan sana. Jumlahnya lebih banyak daripada di sini," jawabku.
Charlote berdiri dan berkata, "Aku tidak apa-apa sekarang. Ayo kita lanjutkan."
"Apa benar kamu baik-baik saja Charlote?" tanya Emilia cemas.
Charlote menjawab Emilia dengan menganggukan kepala. Akhirnya kami putuskan untuk tetap melanjutkannya.
Raksasa-raksasa di area ini akhirnya muncul menghadang kami. Seperti mayat-mayat itu. mereka mengenakan armor dan senjata yang baik serta memiliki kulit yang berwarna biru.
Serangan sihir Charlote beberapa kali meleset dari sasaran. Sepertinya ia masih takut karena mengingat kejadian sebelumnya.
Aku dan Emilia membantu Charlote mengalahkan para raksasa yang tidak terkena serangan dari Charlote. Setelah bertarung cukup lama akhirnya kami selesai dan berpindah ke area berikutnya.
Area berikutnya adalah sebuah ruangan yang sangat luas dan juga ada pintu yang berukuran raksasa di ujung ruangan.
"Master, jangan-jangan pintu itu…," kata Emilia sambil menunjuk pintu raksasa itu.
"Ya. Sepertinya itu adalah pintu menuju boss dari dungeon ini."
"Jadi kita akan melawan boss dari dungeon ini?" tanya Laura.
"Hal itu tidak perlu. Tujuan kita hanya membantu Charlote mengejar ketertinggalan level," jawabku.
Ketika kami akan berbalik untuk kembali ke kota, terdengar suara teriakan dari balik pintu raksasa itu. Selain itu. kami juga bisa mendengar suara pertarungan yang sedang terjadi.
BRAAAAKKKKK
Pintu raksasa itu hancur dan beberapa petualang juga terlempar keluar dari dalam ruangan boss itu. Kemudian sosok raksasa berwarna merah berjalan keluar. Ia mengenakan mahkota di kepalanya dan membawa senjata berupa kapak.
Tapi ia tidak mengenakan armor satu pun di tubuhnya. Beberapa petualang berusaha menyerang raksasa itu tapi tidak berefek sama sekali.