Alchesia

Alchesia
Chapter 61 Level 70 ke Atas



Setelah pertarungan melewan Gigantor selesai, Yuna mendekat padaku dan mengucapkan terima kasih. Ia juga meminta maaf atas masalah yang ditimbulkan oleh seorang rekannya saat di guild beberapa hari yang lalu.


"Tidak apa. Aku sudah sering mengalami hal itu dengan pahlawan yang lainnya juga."


"Jadi kamu sudah bertemu juga dengan pahlawan dari negara lain?"


"Ya begitulah," kataku dengan senyum kecil.


Emilia dan juga yang lainnya datang menghampiri kami berdua.


"Kakak pahlawan dari Sakura Empire ya?" tanya Charlote penasaran.


"Ya. Namaku Yuna."


Emilia berbisik padaku. Ia menanyakan keadaan apa yang akan terjadi jika para petualang yang lain tahu kalau yang mengalahkan boss dungeon ini bukan Yuna melainkan kami.


Aku memegang bahu kanannya dan berkata kalau kita semua yang ada di ruangan ini yang mengalahkannya. Lalu kita tinggal mengatakan kalau Yuna lah yang berkontribusi paling banyak.


Laura yang mendengar pembicaraan kami berdua setuju dan menjelaskannya pada Yuna dan Charlote.


Berbeda dengan ketika bersama dengan Rafael dan Evan, Yuna ikut membantu kami dalam pertarungan melawan monster yang kuat ini. Jadi Rinoa tidak perlu mengubah ingatan seperti ketika melawan Regyus.


"Apa? Aku yang berkontribusi paling banyak?"


"Ya. Akan jadi masalah bila mereka tahu kalau yang kami lah yang melakukannya. Selain itu kamu juga ikut dalam pertarungan tadi dan memberikan kontribusi."


"Itu benar. Berbeda dengan pahlawan yang kami temui sebelumnya, kamu lebih kuat dari mereka. Ini baru awal pertarunganmu," kata Emilia.


"Tapi aku merasa tidak enak dengan kalian. Soalnya jika tidak ada kalian aku tidak bisa melakukannya," kata Yuna pelan.


"Maka dari itu kita butuh party untuk membantu. Lain kali kakak jangan bergerak sendiri seperti ini. Ber-ba-ha-ya," tegur Charlote.


"Baiklah aku mengerti. Terima kasih," kata Yuna.


Setelah percakapan kami selesai, aku menghilangkan dinding es yang menutup ruangan boss tadi.


Di luar banyak petualang yang menunggu dengan wajah cemas. Aku mendorong Yuna ke depan. Ia melihat ke arah kami berempat dan kami menganggukan kepala tanda untuk mengatakan hasilnya.


"Aku, Yuna sudah mengalahkan Gigantor, boss dungeon ini. Mereka berempat membantuku mengalahkannya di dalam."


Beberapa orang petualang saling berbisik sambil menatap kami dengan tatapan curiga dan tidak percaya. Bagiku wajar saja petualang tidak dikenal membantu pahlawan mengalah monster, apalagi boss dari sebuah dungeon.


Yuna yang mengetahui hal itu meminta beberapa orang petualang masuk dan memeriksanya. Kami masih meninggalkan mayat Gigantor di dalam. Anggota party Yuna juga masuk untuk memeriksanya.


Hanya Guild master dan juga pasukan guild saja yang tidak masuk. Ia hanya meminta salah seorang dari pasukan guild untuk memeriksa ke dalam.


Guild master menghampiri kami bertiga dan tersenyum.


"Aku senang kalian baik-baik saja. Tapi jangan melakukan hal nekat seperti itu tadi."


"Ya. Aku mengerti. Maaf membuat anda khawatir."


Guild master melihat diriku dan juga Emilia, Laura, serta Charlote.


"Bukankah kalian tidak ikut dalam misi ini?" katanya sambil menunjuk kami.


"Ya. Kami pada mulanya hanya ingin membantu salah satu teman kami untuk menaikan levelnya. Namun ketika kami sedang melakukannya, kami mendengar suara dinding yang hancur. Kemudian kami sampai di sini," kataku walau tidak semuanya adalah kejadian yang sebenarnya.


"Seharusnya kalian tidak boleh ke tempat ini sebelum ditaklukan."


Kemudian dia melihat kami berempat dengan seksama.


"Tunggu dulu… kalian yang pernah menaklukan dungeon sebelumnya bukan?"


"Ya, itulah kami," jawab Laura.


Guild master memegang kepalanya. Ia terlihat seperti sedang memikirkan suatu masalah yang sangat serius.


"Ya gadis kecil aku baik-baik saja. Hanya saja aku tidak percaya kalau petualang seperti kalian datang kemari hanya untuk menaikan level. Selain itu aku juga tidak menyangka hanya dengan bantuan kalian berempat, Yuna bisa mengalahkan Gigantor."


"Itu memang benar. Kami berempat datang ke sini untuk menaikan levelku saja. Kami tidak ingin ikut campur dalam misi ini. Hanya saja, ketika melihat kalian dalam bahaya kami ingin menolong," kata Charlote dengan polosnya.


Bagus Charlote. Kamu mengatakannya dengan sangat baik.


Guild master itu terdiam untuk beberapa saat setelah mendengar perkataan Charlote. Setelah itu ia berkata kalau ia tidak akan mempermasalahkan hal ini lagi karena sudah membantu mengalahkan Gigantor. Ia hanya mengingatkan untuk tidak melakukannya lagi.


"Baik kami mengerti," jawab Charlote dengan memberi hormat.


"Anak kecil, siapa namamu?" tanya Guild master.


"Namaku Charlote dari Ellis," jawab Charlote.


"Dan berapa levelmu sekarang?"


"Sekarang aku sudah level 45."


"Berarti kamu sudah setara dengan salah satu anggota party Yuna. Kalau kalian bertiga?"


Sebelum aku menjawabnya aku memeriksa dulu levelku karena sudah lama aku tidak melihatnya.


"Aku level 75," jawabku.


"Aku 73," kata Emilia.


"Aku berlevel 82," kata Laura.


Mendengar level kami bertiga, Guild master itu menjadi sangat terkejut.


"Kalian bertiga sudah di atas level 70?"


"Ya. Memangnya berapa level tertinggi petualang yang ikut menaklukan dungeon ini?" tanya Laura.


"Kecuali diriku dan Yuna, level paling tinggi adalah 55.Aku sendiri berlevel 80," jawab Guild master.


"Kalau aku baru saja level 65," sambung Yuna.


Ketika kami sedang berbicara para petualang yang masuk ke dalam untuk memeriksa sudah kembali ke sini. Mereka datang dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihat.


"Bagaimana hasilnya?" tanya Guild master.


Mereka hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan itu karena mereka mungkin masih terkejut dengan hasil pertarungan kami di dalam. Guild master yang melihat mereka tidak menjawab menjadi tahu apa hasilnya.


"Ya… sudah ku duga hasilnya akan sama seperti yang kamu katakan Yuna. Tapi aku masih penasaran dengan naga yang muncul tadi," kata Guild master penasaran.


"Ah itu skill milikku. Itu hanya mengeluarkan api berbentuk naga."


Aku harus berbohong pada guild master mengenai skill naga itu. Jika mereka tahu kalau ada skill seperti ini akan semakin gawat bagi kami dan juga Yuna.


Party Yuna yang baru saja keluar, menghampiri Yuna dengan kepala tertunduk.


"Ada apa?" tanya Yuna.


"Kami tidak menyangka bahwa mereka sekuat ini. Padahal jumlah kami lebih banyak tapi kami tidak bisa mengalahkannya," jawab salah seorang dari mereka. Ia adalah seorang wanita kucing.


"Maka dari itu ini menjadi pelajaran untuk kalian, jangan meremehkan orang lain. Level mereka juga sudah di atas 70, kecuali gadis kecil itu," jawab Yuna.


"Baik. Kami mengerti."


Setelah pembicaraan itu, kami kembali ke kota bersama dengan pasukan penakluk. Beberapa orang dari mereka sepertinya masih tidak percaya dengan hasilnya.


Tapi tidak sedikit dari mereka mulai memperhatikan kami terutama Emilia dan Laura. Aku mengerti mereka tertarik dengan Emilia dan juga Laura, tapi itu terlalu jauh bagi mereka.