
Hari sesudah pesta aku mengajak Emilia dan juga Laura untuk berdiskusi mengenai tujuan kami selanjutnya. Aku juga memberitahu mereka mengenai 3 jendral iblis selain Regyus.
“Dari mana kamu mendapatkan informasi itu?” tanya Laura.
“Regyus yang mengatakannya.”
“Tapi master, apa kita dapat mempercayai kata-katanya?” tanya Emilia.
Aku melihat Laura dan ia juga sepertinya ingin menanyakan hal yan sama dengan Emilia.
“Aku juga tidak terlallu percaya, tapi ini satu-satunya informasi yang kita punya mengenai petinggi pasukan iblis.”
Setelah itu kami terdiam untuk beberapa saat. Lalu Laura mulai berbicara lagi.
“Kalau begitu, untuk sementara kita juga pergi menuju ibukota Ellis saja. Ada kemungkinan di sana kita juga akan melawan pasukan iblis kembali.”
“Tapi kenapa pasuka iblis menyerang ke sana?” tanya Emilia.
“Aku juga merasa kalau mereka akan ke sana. Setelah merea tidak bisa mengalahkan kota ini, tujuan mereka berikutnya pastinya ibukota untuk mempercepat penaklukan kerajaan ini,” kataku.
“Kamu juga merasakan itu Ciel? Tapi kalau aku sendiri merasa mereka akan mengincar Evan disana.”
“Jadi ada kemungkinan itu juga. Laura berapa jarak dari sini menuju ibukota?” tanya Emilia.
“Sekitar 2 hari berjalan kaki,” jawab Laura.
“Master kita sebaiknya ke sana terlebih dahulu. Kita juga tidak tahu kapan mereka akan ke sana dan juga bagaimana cara mereka sampai ke sana,” kata Emilia dengan wajah serius.
Aku merasa perkataan Emilia benar juga. Kami tidak memiliki informasi bagaimana mereka bisa sampai ke sana dan juga aku ingin tahu apa mereka melakukan teleportasi.
Aku pernah melihat jarak dari wilayah raja iblis ke Ellis sangat jauh bahkan untuk ke kota ini. Jika memang benar mereka menggunakan teleportas maka, pasukan iblis bisa datang sewaktu-waktu.
Sekarang ada 2 pilihan bagi kami pergi ke ibu kota atau tetap di sini hingga Evan berangkat. Ada 2 kemungkinan mereka menyerang menurut kami tadi dan salah satunya Evan. Kami juga sudah tahu kalau Evan akan berangkat 2 hari lagi.
Ini pilihan yang sulit. Aku tahu Evan dan yang lainnya belum siap untuk melawan jendral iblis untuk saat ini. Mereka seharusnya masuk ke dalam sebuah dungeon dan menaklukannya terlebih dahulu atau setidaknya pernah melawan guardian.
“Apa keputusannya sekarang? Kalau kita berangkat hari ini, besok kita sudah sampai ibukota,” kataku.
“Aku akan ikut apapun keputusan master,” kata Emilia.
“Kalau Laura?”
“Aku akan tetap di kota ini. Aku akan berangkat ke ibukota bersama dengan Evan. Selain itu Luna juga akan menemani Evan dan kelompoknya menuju ibukota,” jawab Laura.
“Aku mengerti. Kamu juga pasti khawatir bila tempat ini di serang lagi bukan?”
“Iya.”
“Kalau begitu aku akan pergi ke ibukota. Nanti kita akan bertemu di sana. Emilia, bagaimana denganmu?”
“Seperti yang aku katakan, aku akan ikut dengan master pergi ke ibukota.”
“Baiklah. Kamu tidak masalahkan Laura?”
“Iya,” jawab Laura.
Ini adalah satu-satunya jalan agar kami bisa berjaga di dua tempat yang berbeda. Selain itu aku juga lebih yakin jika ada Laura di sini untuk berjaga daripada menyerahkannya kepada Evan dan partynya.
Setelah itu aku dan Emilia mempersiapkan keperluan kami untuk perjalanan. Siang harinya aku dan Emilia berangkat. Alura mengantar kami hingga ke gerbang kota.
“Kalian berdua berhati-hati ya,” kata Laura.
“Iya, kamu juga Laura. Kami akan menunggumu di ibukota,” kata Emilia.
Kemudian aku dan Emilia pergi menuju ibukota. Kami berjalan kaki hingga kami tidak terlihat dari kota Tron. Kami melakukannya agar tidak ada yang tahu kalau kami menggunakan Caleo untuk perjalanan kami.
Ketika hari sudah malam kami beristirahat dan mendirikan tenda.
“Master, bolehkah aku yang jaga pertama?” tanya Emilia.
“Tentu. Tidak biasanya kamu jaga pertama. Ada apa?” tanyaku penasaran.
Ini pertama kalinya bagi Emilia untuk jaga malam giliran pertama. Aku merasa ia sedang gelisah.
“Tidak. Hanya saja ketika melawan Regyus, aku tidak melakukan apa-apa untuk membantu.”
“Emilia, aku tidak masalah dengan kejadian kemarin. Itukan duel 1 lawan 1, jadi kamu tidak perlu memikirkannya.”
“Bukan itu. Kemarin untuk pertama kalinya aku merasa akan kehilangan seseorang yang berharga lagi,” kata Emilia.
Emilia mulai menangis. Dia khawatir kalau aku akan meninggalkannya.
“Aku tidak akan kemana-mana Emilia. Aku janji kemarin itu yang terakhir kalinya.”
Emilia mengangguk dan berkata,”Sungguh?”
“Iya. Aku janji.”
Setelah itu Emilia memintaku untuk tidur terlebih dahulu. Ketika giliranku jaga, Emilia membangunkanku dan sekarang giliran dirinya untuk tidur.
Setelah hari sudah mulai terang kami berdua melanjutkan perjalanan kami menuju ibukota.
Di perjalanan kami berdua mendengar suara seseorang yang meminta pertolongan. Aku dan Emilia kemudian segera pergi meuju ke arah sumber suara itu.
Ketika sampai, kami melihat dua orang anak sedang dikepung oleh beberapa orang. Orang-orang itu sepertinya adalah kelompok bandit yang sedang beraksi.
Aku langsung menggunakan Arcus untuk menyerang mereka. Emilia juga maju, tapi ia tidak menggunakan pedangnya sama sekali. Ia bertarung menggunakan tangan kosong.
Beberapa saat kemudian, kami berdua berhasil mengalahkan para bandit itu. Bandit yang dikalahkan tadi kemudian kami ikat.
“Kalian berdua tidak apa-apa?” tanyaku.
“Iya. Terima kasih telah menyelamatkan kami. Perkenalkan namaku Charles dan ini adik perempuanku Charlote.”
“Sama-sama. Aku Ciel dan ini temanku Emilia.”
Pakaian yang mereka kenakan terlihat mahal. Mungkin mereka berdua adalah anak seorang bangsawan atau pedagang kaya pikirku.
“Kenapa kalian bisa sampai diserang oleh para bandit?” tanya Emilia.
“Sebenarnya kami diculik oleh mereka dari ibukota. Ketika mereka beristirahat aku dan Charlote berusaha melarikan diri tapi tertangkap kembali.”
“Ibukota? Kami juga sedang menuju ke sana. Bagaimana kalau kami antar kalian berdua?”
Mereka berdua saling menatap dan kemudian menganggukan kepala.
“Baik. Mohon bantuannya,” kata Charles.
Aku kemudian menggendong Charles dan Emilia menggendong Charlote. Mereka berdua terlihat panik ketika kami gendong.
“Tenang saja,” kataku sambil mengaktifkan Caleo.
Kemudian kami segera bergerak menuju ibukota. Mungkin kami akan sampai di sana pada sore hari, karena masalah kecil tadi.
Aku melihat mereka berdua ketakutan ketika kami meluncur menggunakan Caleo. Ini wajar saja, dulu Laura dan Mia juga sama saat pertama kali mengguanakannya.
Sesuai perkiraan kami sampai di ibukota pada sore hari. Di depan kota aku melihat beberapa orang sedang berkumpul. Melihat pakaian yang mereka kenakan, sepertinya mereka adalah prajurit.
Ketika kami akan masuk ke ibukota, para prajurit itu mengarahkan senjata mereka kepada kami. Tentu saja aku dan Emilia terkejut. Kami tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan alasan mereka mengarahkan senjatanya kepada kami.