Alchesia

Alchesia
Chapter 62 Undangan Sakura Empire



Beberapa petualang yang kembali dari misi penaklukan dungeon ini kembali ke penginapan mereka masing-masing. Sementara itu yang lainnya pergi ke guild bersama Guild master. Sedangkan yang terluka, segera dibawa ke rumah sakit.


Aku dan juga teman-temanku diajak oleh Guild master ikut ke guild untuk membuat laporan mengenai misi kali ini kepada pihak istana. Di dalam guild sendiri aku melihat banyak orang yang bukan petualang berada di sana.


"Siapa mereka?" tanya Charlote.


"Mereka adalah anggota keluarga dari para petualang yang menjalankan misi penaklukan dungeon ini. Mereka menunggu kepulangan keluarga mereka yang menjadi petualang," jawab Guild master.


Meskipun kami berhasil mengalahkan Gigantor boss dari dungeon itu, beberapa petualang juda ada yang kehilangan nyawanya dalam menjalankan misi ini. Besok akan diadakan pemakamana untuk para petualang yang meninggal.


Inilah kenyataannya. Tidak seperti di dalam game, ketika kamu mati dalam menjalankan misi, kamu tidak akan hidup kembali. Jika kamu mati, itulah akhir dari hidupmu. Di sini nyawa kami dipertaruhkan ketika menjadi seorang petualang.


Charlote ikut menangis saat melihat anggota keluarga para petualang yang meninggal ketika menjalankan misi penaklukan dungeon ini menangis. Emilia dan Laura juga menunjukan ekspresi sedih.


"Ayo, kita ke ruanganku untuk membahas apa yang harus dilaporkan ke istana," ajak Guild master.


Wajahnya juga terlihat lelah dan juga sedih setelah memberitahukan tentang para petualang yang meninggal.


Kami berempat dan juga Yuna ikut ke dalam ruangan Guild master. Party Yuna tidak diajak karena untuk menjaga kerahasiaan dan juga karena mereka tidak ikut mengalahkan Gigantor.


Laura menggandeng Charlote yang masih sedih. Kami naik ke lantai 2 dimana ruangan iti berada.


Ruangan itu cukup luas menurutku. Mungkin berukuran 5 x 6 meter. Di dalamnya terdapat meja kerja milik guild master dengan kursinya.


Selain itu terdapat sebuah meja persegi panjang dengan 2 buah sofa di kiri dan kanannya Ada juga beberapa lemari yang tidak kutahu apa isinya. Tapi aku melihat ada lemari yang berisi buku.


"Silahkan duduk," kata guild master.


"Terima kasih," jawab Laura.


Guild master duduk di kursinya sedangkan kami berlima duduk di sofa. Aku, Emilia, dan Yuna. Sedangkan di sofa yang lain duduk Laura dan Charlote.


Guild master mulai bertanya kepada Yuna tentang pertarungan kami melawan Gigantor di dalam ruangan boss sebelumnya. Sepertinya ia tahu kalau bukan Yuna yang mengalahkan Gigantor.


Tapi memang faktanya bukan kami berempat juga yang mengalahkan Gigantor. Kelompokku dan Yuna bekerja sama untuk mengalahkannya.


Disini Yuna menjelaskan cerita itu. Bagaimana kami bekerja sama untuk melawan Gigantor. Kemudian guild master bertanya kenapa kami berlima tidak menceritakan hal itu ketika keluar dan malah mengatakan kalau Yuna yang mengalahkannya.


"Alasannya sederhana," kata Laura.


"Untuk mencegah kecemasan dan ketakutan dari masyarakat," sambung Charlote.


"Itu benar. Kami sudah bertemu dengan 2 pahlawan lainya dan dari mereka tidak ada atau belum ada yang seperti Yuna," kata Emilia.


"Begitu ya. Tunggu dulu, kalian tadi mengatakan kalau kalian sudah bertemu dengan pahlawan lainnya?"


Aku, Emilia, dan Laura menganggukan kepala.


"Hanya Charlote yang baru bertemu seorang pahlawan selain Yuna. Ia adalah pahlawan dari kerajaan Ellis," jelasku.


"Jadi kalian berasal dari Ellis?"


"Tidak semua, hanya aku dan Charlote." jawab Laura.


"Lalu kalian berdua dari Tornia?"


"Benar," jawab Emilia.


Aku menjelaskan kalau pahlawan lain baru mulai serius mengenai pasukan iblis ini setelah mereka tahu kalau sebenarnya ini masalah serius. Hanya Yuna yang menanggapi masalah perang ini dengan serius.


Selain itu Emilia juga mengatakan kalau pahlawan yang lain terlena dengan kehidupan nyaman bangsawan jadi mereka tidak tahu sulitnya pertempuran. Yuna juga tahu akan hal itu karena partynya berisi anak bangsawan.


Mereka terlihat arogan hanya karena anak seorang bangsawan dan meremehkan situasi di dalam dungeon. Yuna juga mengatakan hal yang sama dengan kami.


Aku menyarankan agar party Yuna diganti dengan petualang yang lebih baik lagi.


Aku dan Laura saling menatap. Kemudian kami mengangguk. Sepertinya kami memiliki pemikiran yang sama.


"Tidak sulit," kata Laura.


"Iya. Kami bisa merekomendasikan petualang dari Ellis," sambungku.


"Siapa?" tanya Yuna penasaran.


"Adikku, Luna. Ia juga membantu pertempuran merebut ibukota Ellis. Bagaimana?"


"Aku setuju," jawab Yuna.


"Kalau Yuna berkata seperti itu maka tidak masalah. Tapi menurut aturan harus ada anggota yang berasal dari Sakura Empire."


"Tenang saja. Di kelompok Yuna ada 2 orang," sahut Laura.


"Baiklah kalau begitu. Aku akan mencoba membicarakannya dengan raja."


Kemudian kami keluar dari situ. Aku dan kelompokku kembali ke penginapan. Sedangkan Yuna kembali ke ibukota bersama kelompoknya.


Seminggu telah berlalu dan selama itu kami melatih Charlote di dalam dungeon lagi. Bukan hanya Charlote tapi kami juga ikut naik level.


Aku sudah mencapai level 80, Emilia 78, Laura 85, dan Charlote 55. Charlote naik level paling banyak diantara kami.


Ketika kami baru kembali dari dungeon, guild master memanggil kami. Ketika kami masuk ke dalam ruanganya, Luna dan 2 orang anggota partynya juga ada di sana.


Seorang manusia kucing dan juga kelinci. Mereka semua wanita.


"Kakak," kata Luna sambil memeluk Laura.


"Kenapa kamu bisa di sini?"


"Aku mendapat surat dari guild master di sini untuk datang kemari."


"Lalu anggotamu yang lain?" tanya Emilia.


"Mereka bergabung dengan Evan. Hanya kami bertiga yang datang."


"Yuna sekarang berada di ibukota kan?" tanyaku.


"Ya. Untuk itu juga aku memanggil kalian," jawab guild master.


Guild master mengeluarkan sebuah surat dari dalam lacinya dan memberikannya kepadaku. Ia memintaku membuka surat itu dan membaca isinya.


Emilia, Laura, dan Charlote juga ikut membacanya karena penasaran. Pada awalnya kami terkejut karena itu surat dari istana, tapi akhirnya kami merasa tenang.


Surat itu adalah surat undangan untuk menghadiri perayaan kalahnya Gigantor. Merka meminta kami untuk datang ke sana.


"Lalu, apa hubungan surat ini dengan Luna?" tanya Charlote.


"Kelompok Luna akan pergi ke sana bersama dengan kalian berempat sebagai perwakilan guild. Lalu untuk masalah selanjutnya bergantung pada kalian dan Yuna."


Aku mengerti, Luna akan menjadi kelompoknya Yuna dan kami yang bertugas membantu masalah itu. Ini benar-benar masalah yang sangat merepotkan.


Tapi ada kemungkinan juga peran Charlote akan sangat besar dalam masalah ini. Ketika aku menatap Charlote. ia juga menatap balik padaku. Ia sepertinya tahu apa yang harus ia lakukan nantinya.


Hingga sekarang, kami belum memberitahu siapa Charlote. Jika mereka akan memaksakan masalah kebangsawanan, kami akan melawan balik dengan Charlote serta kekuatan kelompok kami.


Sebenarnya beberapa hari yang lalu Mia juga mengirim surat. Ia juga akan membantu bila dibutuhkan. Kami punya banyak dukungan sekarang.


Beberapa hari setelah pertemuan itu kami berangkat menuju ke ibukota Sakura Empire, yang bernama Yamato. Mirip nama kapal perang dulu pikirku.