
Ketika kami mendekati tubuh Black Dragon yang sudah terbakar, terdengar suara yang berasal dari tubuh itu.
“Terima kasih karena telah menghentikanku.”
Kami bertiga menjadi kebingungan dengan sumber suara itu. Kami juga reflek bersiap bertarung, karena kami mebira kalau Black Dragon masih hidup.
Tapi aku memberanikan diri untuk bertanya, “Apakah itu dirimu Black Dragon?”
“Benar, ini aku.”
“Kenapa kau menyerang orang-orang?” tanya Laura.
“Maaf soal itu. Sebenarnya aku sudah mati 10 tahun yang lalu.”
“Mati? Tapi bagaimana dirimu bisa masih hidup sekarang?” tanya Emilia.
“10 tahun yang lalu setelah aku mati, seseorang mencoba menbangkitkan diriku dengan suatu ritual. Ia berhasil membangkitkan pada waktu itu, tapi aku hidup dengan tidak memiliki jiwa.”
“Maksudnya?” tanyaku. Aku tidak mengerti masalah dengan tanpa jiwa.
“Aku memang kembali hidup tapi aku seperti binatang liar. Aku menyerang siapapun yang masuk ke dalam wilayahku tanpa tahu apa-apa.”
“Jadi itu sebabnya? Lalu kenapa kau bisa masuk ke dalam dungeon?” tanya Laura.
“Aku tidak tahu. Aku tidak begitu ingat.”
Aku merasa sejak ia dibangkitkan ada kemungkinan jiwanya disegel hingga ada seseorang yang membunuhnya. Jadi bukannya dia tidak memiliki jiwa. Jika ia tidak memiliki jiwa maka seharusnya ia tidak bisa berbicara dengan kami sekarang.
Aku membisikan kepada Laura dan juga Emilia tentang apa yang aku pikirkan mengenai keadaan Black Dragon selama ini. Aku juga mengatakan kepada mereka berdua kemungkinan orang yang membangkitkan Black Dragon ada hubungannya dengan raja iblis.
“Aku mengerti. Jika ada kemungkinan seperti itu, berarti niat dari orang itu adalah memulai peperangan sejak 10 tahun yang lalu,” kata Laura.
“Karena mereka tidak dapat mengendalikannya jadi mereka tidak bisa memulainya dulu kan, master?” kata Emilia.
“Itu benar.”
“Apa kalian sudah selesai?”
Aku menganggukan kepala.
“Sebagai permintaan maaf aku akan memberikan kepada kalian hadiah.”
Emilia telah mendapatkan Ryuken.
Laura telah mendapatkan Divine Protection.
Emilia dan Laura telah mendapatkan hadiah mereka. Emilia mendapatkan pedang dan Laura mendapatkan skill. Aku harus mengatakan sesuatu sebelum mendapatkan hadiah.
“Maaf sebelumnya. Sejujurnya aku tidak bisa menerima senjata apapun.”
“Apa maksudmu?”
“Ini menyangkut skill milikku yang bernama Glyph. Skill itu membuatku tidak bisa menggunakan senjata apapun.”
“Glyph? Apa kalian pernah bertemu dengan Rinoa?”
“Dari mana kau tahu soal Rinoa?” tanyaku.
“Aku dan Rinoa sudah berteman sejak dulu. Ia adalah seorang pahlawan yang mengalahkan raja iblis 100 tahun yang lalu.”
“Eh? Maksudmu ia adalah orang dengan class pahlawan?”
“Benar. Ia sudah lama meninggal. Sekarang ia menjadi salah satu dari dewa yang ada di dunia ini.”
“Dewa? Berarti ia mewariskan skill ini kepadaku. Selain itu jangan-jangan ia adalah orang yang memanggilku kemari?”
Emilia memegang tanganku dan berkata kalau mungkin saja itu benar setelah melihat keadaanku sekarang. Laura juga berkata sama.
“Jadi kau bukan dari dunia ini ya? Itu sama dengan Rinoa. Namu ia adalah orang yang direinkarnasi.”
“Jadi Rinoa juga berasal dari duniaku?”
“Ya. Dulu aku membantunya dalam peperangan. Aku juga tahu kekuatan skill itu. Maka dari itu aku akan memberikan Glyph untuk membantumu. Ini sebagai pengganti diriku yang tidak dapat membantumu dalam perang.”
“Tidak masalah. Aku menghargai itu.”
Glyph Exitium telah didapatkan.
Skill Dragon Force telah didapatkan.
“Skill itu dariku dan Glyph itu dari Rinoa. Sebelum meninggal ia memintaku untuk memberikannya pada pewarisnya.”
“Terima kasih.”
“Kalau begitu aku akan pergi menuju ke tempat Rinoa. Selamat tinggal dan semoga berhasil.”
“Selamat tinggal.”
Kemudian tubuh Black Dragon itu hancur menjadi debu. Setelah itu kami pulang menuju hutan elf. Di perjalanan aku memeriksa Glyph yang baru saja aku dapatkan.Setelah aku baca, ternyata fungsinya adalah menembakan api naga dan juga mengeluarkan aura naga.
Selain itu skill yang aku dapatkan berfungsi untuk meningkatkan kekuatan fisik dan juga sihir. Aku juga memeriksa level kami masing-masing. Aku sekarang sudah level 55, Emilia 52, dan Laura 68. Kenaikan level ini sangat banyak.
Tujuan kami setelah kembali ke hutan elf adalah untuk melihat pahlawan yang dipanggil dan juga memastika kekuatannya. Aku hanya berharap ia tidak seperti pahlawan yang datang bersamaku dulu.
Sebelum pulang kami beristrahat terlebih dahulu. Kami akan bergerak pada malam hari agar besok pagi kami bisa sampai di hutan elf. Ketika sudah waktunya, kami segera menuju hutan elf menggunakan Caleo.
Ketika tiba di gerbang, kami berpapasan dengan sekelompok petualang dan juga banyak sekali perajurit elf yang kelura dari kota. Mereka seperti akan berperang karena perlengkapan yang mereka kenakan.
Kami menunggu sampai mereka semua keluar, setelah itu kami masuk ke dalam. Tujuan pertama kami adalah melaporkan misi yang kami selesaikan dan mengambil hadiahnya di guild.
“Apa kalian berpapasan dengan pasukan tadi pagi?” tanya petugas guild.
“Ya. Memangnya mereka akan pergi kemana?” tanya Laura.
“Mereka adalah pasukan yang dikirim untuk mengalahkan Black Dragon.”
“Seperti itu kah,” kataku pelan.
Mereka tidak akan menemukan apa-apa disana bahkan mayat dari Black Dragon juga tidak ada di sana. Bukti kalau ia sudah tidak ada hanyalah debu dan juga bekas perarungan kami.
“Ini hadiahnya,” kata petugas guild sambil memberikan kantung hadiah.
“Terima kasih. Kalau boleh tahu kapan pahlawan akan kembali ke kota ini?” tanyaku.
“Sepertinya hari ini. Kemungkinannya siang nanti.”
“Baiklah kalau begitu.”
Kami bertiga kemudian pulang menuju ke rumah Laura. Aku ingin cepat-cepat tidur, tapi sebelum itu kami harus makan dulu. Kami mampir ke sebuah tempat makan untuk mengisi perut kami.
Di tempat itu belum banyak orang yang datang karena kami sampai di kota pagi-pagi sekali. Banyak penduduk yang masih belum memulai aktivitas harian mereka. Setelah selesai makan, kami pulang.
Aku langsung menuju kamar untuk mengambil peralatan mandi dulu. Setelah mandi aku langsung tidur. Aku tidak tahu apa yang akan dilakukan Emilia dan Laura. Tapi melihat kondisi, sepertinya mereka juga akan melakukan hal yang sama denganku.
Ketika bangun, aku melihat Emilia juga tidur. Hari sudah siang, berarti pahlawan Evan dan juga Teresia telah kembali. Aku ingin pergi menuju guild, tapi nanti tunggu Emilia dan Laura dulu pikirku.
Aku ingin membiarkan mereka beristirahat dulu setelah mengalami pertarungan seperti itu. Aku menuju ke ruang tamu dan di sana Luna sedang membaca buku.
“Kamu sudah bangun Ciel?”
“Iya. Kamu baca buku apa?”
“Buku tentang skill. Aku ingin menjadi petualang.”
“Petualang? Class milikmu apa?”
“Aku seorang mage. Kalau kamu?”
“Aku hanya seorang swordman,” jawabku.
Aku terpaksa berbohong untuk melindungi identitasku.
“Tapi kamu tidak membawa pedang? Ini aneh.”
Luna menatapku dengan serius.
“Jangan-jangan pedang yang dibawa Emilia?”
“Itu benar. Aku baru ingat, apa pahlawan Evan sudah kembali?”
“Sudah. Baru saja aku berpapasan dengannya di jalan.”
“Ok. Aku akan kembali ke kamarku.”
Aku kemudian kembali ke kamar. Aku tidak ingin ditanya lagi.