
Pada hari kedua kami memperbaiki kota, para petualang banyak yang membicarakan mengenai pesta nanti malam. Mereka terlihat sangat antusias dengan pesta itu.
Beberapa dari mereka ada juga yang membicarakan mengenai pakaian apa yang akan mereka pakai untuk pesta nanti malam. Selain itu ada juga yang membicarakan soal hidangan nanti malam.
Sebelum kami memperbaiki kota, kami juga diberitahu kalau hari ini kami akan bekerja hanya setengah hari. Hal itu dilakukan demi mempersiapkan pesta nanti malam.
Selama aku hidup, aku belum pernah menghadiri pesta semacam ini bahkan di duniaku. Ini akan menjadi kali pertama aku mengikuti pesta semacam ini.
“Emilia, dulu apa kamu pernah menghadiri pesta semacam ini?”
“Pernah. Dulu di kota asalku, ada juga pesta semacam ini untuk merayakan pernikahan bangsawan. Beberapa warga mendapat undangan dan termasuk keluargaku.”
“Seperti itu ya. Lalu pakaian apa yang cocok untuk pesta semacam ini? Soalnya aku belum pernah menghadiri pesta semacam ini.”
“Kalau itu…. Bagaimana kalau kita mencarinya setelah pekerjaan ini selesai?”
“Baiklah."
Kami bedua melanjutkan perbaikan kota. Tiba-tiba, Laura memanggil diriku dan juga Emilia. Kami berdua segera datang ke tempat Laura.
“Ada masalah apa Laura?”
“Bukan masalah besar. Hanya aku ingin menanyakan pakaian apa yang akan kalian pakai di pesta nanti?” tanya Laura.
“Soal itu, nanti seusai kerja aku dan master akan pergi mencari pakaian untuk pesta itu. Apa kamu mau ikut juga?”
“Tentu. Kalau begitu seusai kerja kita berkumpul di sini ya?”
“Baiklah," kataku.
Kemudian kami melanjutkan perbaikan kota. Hari ini kami memperbaiki rumah-rumah yang rusak akibat pertempuran dengan pasukan iblis.
Siang harinya, semua petualang yang membantu perbaikan kota pulang. Aku dan Emilia menunggu Laura di tempat kami janjian tadi pagi. Tidak lama kemudian Laura datang dengan Luna.
“Luna juga ikut?” tanyaku.
“Iya. Aku juga tidak tahu pakaian apa yang sesuai dengan pesta nanti, makannya aku ingin ikut dengan kalian,” kata Luna.
“Berarti alasan kita sama semua. Laura dan Luna juga belum pernah menghadiri pesta semacam ini kan?”
Mereka berdua menggelengkan kepala.
“Kalau kalian, bagaimana?” tanya Laura.
“Aku juga belum, tapi Emilia pernah,” jawabku.
“Mohon bantuannya Emilia,” kata Luna tersenyum.
Kami berempat kemudian pergi ke distrik perbelajaan yang ada di situ. Distrik ini tidak terkena dampak serangan karena terletak di bagian tengah kota dekat dengan istana. Selain kami ada juga beberapa petualang yang sedang mencari pakaian.
“Kita mau mulai darimana?” tanya Laura.
“Kita mulai dari master dulu saja,” jawab Emilia.
“Oke,” kataku.
Kami berkeliling di tempat itu cukup lama karena banyak sekali toko di situ. Selain itu beberapa tempat sudah ramai dan juga memiliki antrian yang panjang.
Setelah lama mencari Emilia menemukan sebuah toko yang ia rasa sesuai untuk kami berempat. Ini akan lebih mempersngkat waktu daripada mencarinya secara terpisah.
Ketika kami masuk kedalam toko itu, di dalamnya terdapat beraneka macam pakaian untuk pesta kerajaan, baik untuk laki-laki maupun perempuan.
Emilia meminta Laura dan Luna lebih dulu mencari gaun yang sesuai dengan mereka, sedangkan ia sendiri akan membantuku memilih pakaian yang sesuai denganku.
Karena bingung aku mengambil beberapa pakaian untuk dicoba. Setelah 3 kali mencoba Emilia mengatakan sesuatu yang membuatku terkejut.
“Bagaimana ini master aku juga bingung?”
“Semua yang coba pakai cocok semua dengan master."
“Ah… itu masalahnya,” pikirku.
Aku akhirnya mencoba pakaian yang keempat dan kata Emilia pakaian ini lebih cocok dari yang sebelumnya. Aku mencoba melihat ke cermin untuk memastikannya dan ternyata sangat sesuai. Kemudian aku mengambil pakaian itu.
Setelah aku mendapatkan pakaian yang akan aku kenakan di pesta, sekarang giliran mencarikan gaun untuk Emilia. Aku mencoba melihat Laura dan Luna, ternyata mereka juga sudah memulai mencoba gaun.
Aku menemani Emilia mencari gaun. Ketika aku menemani Emilia, aku mengingat saat dulu menemani adikku pergi berbelanja. Ia dulu sangat senang bila pergi berbelanja denganku.
“Master?”Emilia memanggilku.
“Kenapa?”
‘Dari tadi master melamun, apa ada masalah?”
“Tidak. Hanya saja aku mengingat adikku. Sepertinya aku sangat ingin bertemu dengan dirinya.”
“Tenang saja master, begitu semua ini selesai kita bisa bertemu dengannya,” kata Emilia menghiburku.
Aku menganggukan kepala.
Setelah beberapa saat Emilia memilih suatu gaun, namun ia tidak menunjukkannya padaku. Dia kemudian pergi mencoba gaun itu. Sepertinya ia ingin membuat kejutan.
Beberapa saat kemudian Emilia sudah memakai gaun itu dan menunjukannya padaku.
“Bagaimana menurutmu master?”
Gaun panjang berwarna biru tua yang ia kenakan itu sangat serasi dengan rambut silver miliknya.
“Hmmm, kamu ingin tahu?”
“Iya,” jawab Emilia antusias.
“Menurutku kamu terlihat sangat cantik menggunakan gaun itu.”
Wajah Emilia memerah dan berkata,”Terima kasih master.”
Kemudian ia berganti lagi dan kami berdua pergi untuk membayar barang yang kami beli. Kami berdua kemudian menuju ke tempat Laura dan juga Luna. Mereka ternyata juga sudah selesai.
Setelah itu kami pergi untuk mencari sepatu. Di dekat toko tempat kami membeli pakaian tadi, ada toko sepatu juga, jadi kami mampir ke tempat itu. Kakhirnya memutuskan untuk membeli di toko itu.
Pada malam harinya kai berempat pergi menuju istana. Selain petualang, raja juga mengundang beberapa orang termasuk penduduk biasa.
Ketika kami sedang makan, terompet berbunyi yang menandakan sang raja datang. Semua orang yang hadir dalam pesta itu memberikan hormat.
“Yang Mulia Raja dan Ratu Elf datang.”
Raja dan ratu memasuki ruang pesta. Namun aku tidak melihat Tereseia datng bersama dengan mereka. Mungkin ia bersama dengan Evan pikirku.
Raja itu mengucapkan terima kasih pada kai para petualang atas usaha mempertahankan kota. Lalu ia memanggil Evan dan juga kelompoknya. Ia memuji mereka karena bisa mengalahkan Regyuss.
Para tamu yang hadir dalam pesta itu memberika tepuk tangan yang meriah atas prestasi Evan dan juga kelompoknya. Mereka juga bersorak untuknya.
“Untuk Evan dan kelompoknya!!” teriak raja.
Diam-diam aku memeriksa level Evan dan yang lainnya. Sesuai dugaanku, mereka bertiga sudah naik beberapa level. Rinoa juga menaikan level mereka. Namun dari segi kekuatan, mereka masihlah sangat lemah.
Beberapa petualang pria yang menghadiri pesta itu berusaha mendekati Emilia. Sepertinya mereka tertarik dengan Emilia. Ada juga petualang yang mengajak Emilia bergabung dengan partynya, namun Emilia menolaknya. Emilia yang kerepotan menhadapi para petualang itu, berlari ke arahku dan kemudian memelukku.
“Master, bagaimana ini? Banyak orang yang mendekatiku. Ada juga yang mengajakku bergabung dengan mereka. Aku tidak suka itu,” kata Emilia manja.
Ini pertama kalinya aku melihat Emilia seperti ini. Aku melihat ke arah para petualang yang berusaha mendekati Emilia tadi. Sesuai dugaan mereka cemburu denganku.
Pesta itu masih berlangsung lama setelah itu. Di pesta itu juga, ada pengunmuman kalau Evan dan kelompoknya akan kembali ke ibukota.