Alchesia

Alchesia
Chapter 25 Pertahanan Terkuat



Pagi-pagi sekali kami berangkat dari Tron menuju Blood Hill. Kami menggunakan Caleo agar lebih cepat sampai. Laura mengatakan kalau kami menggunakan Caleo, kami akan sampai di Blood Hill dalam waktu setengah hari.


Aku merasa kalau hari ini kami tidak akan melawan Black Dragon, karena hari ini kami akan fokus menjalankan misi terlebih dahulu. Kami akan melawan Black Dragon besok.


Pada siang hari, Aku, Emilia, dan juga Laura tiba di dekat hutan tempat kami akan menjalankan misi. Kami langsung membagi tugas agar misi ini cepat terselesaikan. Emilia dan Laura bertugas mengumpukan tanaman obat sedangkan aku akan pergi untuk mengalahkan beberapa hobgoblin.


Tanaman obat yang dibutuhkan berada di bagian luar hutan, jadi Emilia dan Laura tidak masuk ke dalam hutan. Aku masuk ke dalam hutan sendiri untuk memburu hobgoblin. Aku menggunakan Caleo agar dapat mencari hobgoblin itu dengan cepat.


Setelah menyusuri hutan, aku akhirnya mengunmpulakn sekelompok hobgoblin yang sedang beristirahat. Aku melihat ada beberapa dari mereka membawa kapak. Sepertinya mereka belum menyadari keberadaanku. Kalau begitu aku akan memulai serangan.


Serangan tembakan panah dari Arcus mengenai tepat di kepala beberapa hobgoblin itu. Selanjutnya gabungkan dengan Ignis dan tembak lagi. Serangan itu tidak semuanya mengenai kepala, tapi juga tangan dan kaki.


Walau begitu efek yang dihasilkan adalah terbakarnya para hobgoblin itu dari dalam. Aku tidak menyangka kalau efeknya akan sehebat itu. Itu hampir mirip serangan racun tapi ini menggunakan api dan juga membakarnya dari dalam.


Tunggu dulu...


Aku lupa kalau monster itu terbakar habis maka aku tidak bisa mengambil bukti untuk menyelesaikan misi. Setelah itu aku mencoba melihat ke arah hobgblin yang sudah mati itu dan benar tidak ada yang tersisa.


Aku mendekati hobgoblin yang aku bunuh menggunaka Arcus tadi dan sambil berharap jumlahnya cukup untuk menyelesaikan misi. Aku menghitung mayat hobgoblin yang masih utuh dan ternyata jumlahnya cukup.


Aku merasa lega karena jumahnya cukup karena aku tidak mau berkeliling hutan untuk mencari hobgoblin lagi. Aku memotong kepalanya sebagai bukti, lalu memasukannya ke dalam storage milikku.


Setelah itu aku keluar dari hutan menuju ke tempat Emilia dan juga Laura berada. Aku harap mereka sudah selesai mengumpulkan tanaman obat yang dibutuhkan.


Ketika aku sampai ternyata mereka sudah selesai mengumpulkan tanaman obat. Mereka memasukannya kedalam storage milik Emilia.


"Kalian sudah selesai juga ternyata."


"Iya. Master juga sudah?" tanya Emilia.


Aku menganggukan kepala.


"Selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?" tanya Laura.


"Karena hari sudah mau gelap kita dirikan tenda dahulu. Aku juga ingin menanyakan beberapa hal mengenai Black Dragon."


"Kita akan berkemah di sini?" tanya Emilia.


"Tidak kita akan berkemah di dekat Blood Hill."


Kami kemudian berjalan menuju Blood Hill. Kami tidak menggunkan Caleo karena jaraknya tidak terlalu jauh. Aku bahkan bisa melihat bukit itu dari tempat kami berdiri saat ini.


Ketika kami sudah dekat, aku melihat beberapa pohon yang terbakar dan beberapa mayat. Aku rasa mulai dari sana adalah wilayah kekuasaan dari Black Dragon.


"Tunggu! Kita tidak boleh lebih dekat lagi atau kita akan di serang oleh Black Dragon. Coba kalian lihat," kataku sambil menunjuk ke depan.


"Master benar. Di depan kita itu sudah termasuk wilayah dari Black Dragon," kata Emilia.


"Kalau begitu kita akan berkemah di sini?" tanya Laura.


"Mau bagaimana lagi."


Aku kemudian mengeluarkan tenda dari storage milikku dan mendirikannya, Sementara itu Emilia dan Laura memasak makan malam kami.


Setelah makan malam, kami berdiskusi menegenai Black Dragon. Aku ingin mengetahui informasi tentang kekuatannya meskipun hanya sedikit saja.


"Laura, apa kamu bisa memberitahu kami menegnai Black Dragon?"


"Bisa. Tapi yang kuketahui hanya sedikit."


"Tidak masalah. Sedikit pun juga pasti akan sanagt berguna untuk pertarungan kita nanti."


"Baiklah. Seingatku ia memiliki kemampuan nafas naga berupa api yang berwarna biru. Serangan api itu lebih kuat dari nafas api yang dimiliki oleh naga lain. Panasnya sangat luar biasa."


"Api biru? Bukankah itu mirip dengan Blue Fire milikku?" tanya Emilia.


"Benar. Melihat kekuatan dari serangan milikmu, aku rasa kekuatannya hampir sama," kataku.


"Tapi api miliknya memiliki jangkauan serangan yang sangat luas. Melihat pohon-pohon yang terbakar dan juga mayat yang ada di sana serangannya pasti lebih kuat dari milik Emilia," kata Laura.


Nafas naga yang kuketahui memang sangat kuta karena meruakan serangan utama dari seekor naga. Jika di dalam game damage yang dihasilkan sangat besar.


"Apa kamu bisa menahannya menggunakan Holly Protection?"


"Jadi, mau tidak mau kita harus menghindari serangan api miliknya ya?" kata Emilia.


"Lalu bagaimana dengan pertahanannya?"


"Kulitnya sangat keras. Lebih keras dari Adamantoise. Bahkan dengan sihirpun akan sulit untuk menembus sisiknya," jawab Laura.


"Aku harusnya menanyakan ini dari awal, Black Dragon ini adalah monster dengan rank apa?" tanyaku penasaran.


"Black Dragon ini monster dengan rank S. Biasanya untuk monster seperti ini, guild atau negara akan mengirimkan petualang peringkat S dan juga pasukan dalam jumlah besar."


"Mirip dengan perang jadinya," kataku spontan.


"Memang seperti itu master. Dulu aku juga pernah dengar dari ayahku kalau monster rank S itu memiliki kekuatan seperti sebuah kota atau bahkan bisa negara," jelas Emilia.


"Kamu baru tahu itu sekarang Ciel?" tanya Laura.


"Ya. Sama seperti monster yang sebelumnya aku juga tidak tahu rank monster-monster itu.Tapi tak kusangka kalau Black Dragon ini akan sekuat ini."


Intinya kami akan berperang melawan sebuah negara melihat kekuatan milik Black Dragon. Mungkin aku bisa mengalahkannya dengan menyerang dari dalam, tapi api melawan api. Ini akan sulit.


"Apa ia memiliki inti seperti Adamantoise?" tanya Emilia.


"Tidak ada. Maka dari itu ini sulit sekaligus mudah," jawab Laura.


"Maksudnya?" tanya Emilia bingung.


"Sulit karena kita tidak bisa melakukan satu serangan untuk mengalahkannya. Tapi ini lebih mudah karena kita tidak perlu mencari intinya, sehingga kita hanya perlu melakukan serangan bertubi-tubi."


"Tapi itu juga akan sulit mengingat sisiknya sangat keras," kataku.


"Ini akan sulit master."


"Aku tahu, tapi bukan mustahil mengingat pertarungan kita hingga titik ini."


"Andai kita punya skill God Blessing itu akan memudahkan kita untuk menahan serangan miliknya," kata Laura.


*"God Blessing?"* pikirku.


Aku punya skill itu. Aku mendapatkanya dari Rinoa setelah mengalahkan Executioner.


"Laura, aku punya skill itu."


"Apa?" tanya Laura terkejut.


"Tapi aku hanya bisa menggunakanya sekali."


"Tidak apa, itu cukup memberi kita tambahan kekuatan. Tapi bagaimana kamu bisa memilikinya?"


"Kamu ingat bagaimana aku dapat skill Glyph dan juga masamune milik Emilia?"


"Ya."


"God Blessing ini juga aku dapat dari sana sebagai bonus karena aku tidak mengambil senjata ataupun class."


"Aku mengerti. Jadi itu sebabnya juga hanya bisa sekali pakai saja."


"Tapi bukannya itu skill pemulih?" tanyaku.


"Itu memang benar. Tapi bila digabungkan dengan Holly Protection milikku maka akan jadi skill pertahanan terkuat."


Aku mengerti sekarang dan dengan ini kami berhasil menemukan cara untuk melindungi kami dari serangan Black Dragon. Untuk mengalahkannya kami hanya perlu melancarkan serangan bertubi-tubi.


Setelah itu kami mengistirahatkan diri untuk pertarungan besok.