Alchesia

Alchesia
Chapter 49 Merebut Ibukota



Kami muncul di dalam istana, atau tepatnya berada di ruang depan tempat kami seharusnya berada setelah masuk. Ruangan itu gelap dan kotor.


Aku mengingat kejadian di ilusi kami saat itu dan membandingkannya dengan saat ini. Namun aku tetap mencoba berpikir positif.


Emilia dan Laura kelihatanya sudah pulih dari pengaruh ilusi. Mata mereka sudah terlihat lebih cerah dari saat kami melawan Dead Eye.


Untuk memastikannya, aku bertanya kepada mereka berdua, "Apa kalian sudah merasa lebih baik sekarang?"


"Iya master. Aku sudah merasa lebih baik," jawab Emilia tersenyum.


"Aku juga. 3 hari dalam ilusi itu terasa sangat mengerikan bagiku. Tapi aku sekarang sudah merasa lebih baik," jawab Laura.


"Tapi kalian juga harus mengingat akan hal itu juga. Kita tidak boleh membiarkan nyawa para penduduk hilang. Selain itu kita yang sudah melihat akibatnya, harus menjadi lebih baik."


"Baik."


"Ya Ciel," kata Laura.


Kami berjalan menuju ke ruang tahta. Di dalam istana pun, pasukan iblis juga menyerang kami. Namun jumlah mereka tidak sebanyak yang kami lawan dalam ilusi. Keadaan istana pun juga tidak separah di sana.


Walau begitu, kami jadi tahu kalau istana sudah di kuasai pasukan iblis. Beberapa monster seperti orc dan juga skeleton ada juga di dalam istana. Selain itu ada juga beberapa mayat hidup dari para prajurit dan pelayan istana.


Kami melawan mereka satu persatu. Aku tidak pernah menyangkan kalau mereka bisa membawa masuk orc ke sini. Kupikir mereka ada di sini mungkin untuk memperkuat pertahanan mereka, karena skeleton dan mayat hidup tidak terlalu kuat.


Kami berhasil mengalahkan mereka tanpa mengalami kesulitan apapun. Kami terus menuju ke ruang tahta.


Kami akhirnya tiba di depan ruang tahta. Pintu besar menuju ruang tahta juga sudah hancur. Kami melangkah masuk ruang tahta.


Di sana aku melihat ada sosok yang sedang duduk di singgasana raja. Ia mengenakan jubah dan membawa tongkat dengan kepala tengkorak. Matanya mengeluarkan cahaya biru. Ia menatap tajam ke arah kami.


Ia kemudian berdiri dan berjalan ke arah kami.


"Akhirnya kalian bisa sampai ke tempat ini. Sudah seminggu sejak kalian menghilang."


"Apa seminggu? Jangan-jangan…," kata Laura.


"Tidak Laura. Ini berbeda dari apa yang sudah kita lihat di sana. Coba kamu lihat tidak ada kekacauan di dalam kota."


"Itu benar Laura. Aku juga tidak mendengar kekacauan di dalam kota," sambung Emilia.


"Kekacauan? Apa yang kalian


bicarakan?" tanya orang itu.


"Tidak ada hubungannya denganmu, siapa kau?" tanya Laura.


"Maaf, aku lupa memperkenalkan diri. Namaku Daimon, salah satu jendral raja iblis."


"Jendral raja iblis?" kata Laura terkejut.


"Jadi ia sama dengan Regyus sepertinya. Melihat apa yang ada di sini, ia pasti seorang necromancer," kataku.


Daimon tersenyum dan berkata, "Itu benar. Aku seorang necromancer, namun bukan sekedar necromancer."


Aku menyiapkan Luminatio untukku dan juga Umbra untuk Laura. Selain itu aku menggunakan Gladio Ignis dan Gladio Grando sebagai senjata.


Laura langsung menggunakan Divine Protection dan Null All. Emilia mengeluarkan kedua pedangnya dan melapisinya dengan Blue Fire. Kami bersiap untuk bertarung.


"Hah, kalian ini tidak bisa lebih santai sedikit rupanya. Kalau begitu aku akan bermain dengan kalian."


Boss Daimon The Lich King telah muncul.


"Lich King? Jadi dia Lich King," kataku.


"Dia Lich King? pantas saja master," kata Emilia.


"Maksudmu?"


"Lich King adalah raja necromancer. Ia bisa mengendalikan undead dalam jumlah banyak. Bila ia hanya necromancer biasa maka mayat hidup yang kita lawan tidak akan sebanyak tadi," jelas Laura.


Setahuku Lich itu berbentuk skeleton dan Daimon ini manusia. Bagaimana bisa ia adalah Lich pikirku. Tapi itu tidak begitu penting.


"Sepertinya di sana juga sudah dimulai," kata Daimon.


"Apa yang dimulai?"


"Perang. Kemarin raja dan pahlawan datang membawa pasukan untuk merebut ibukota. Kalian tidak perlu khawatir aku tidak akan ke sana. Namun sebagai gantinya yang memimpin pasukanku di sana adalah bawahan terkuatku, Dulahan."


"Ini gawat master, Dulahan itu mungkin masih terlalu kuat untuk Evan. Kita harus segera mengalahkan Lich ini."


"Ayo, kita mulai."


Aku menggunakan Caleo untuk mendorong Emilia pada Daimon. Ia langsung menyerang Daimon dengan serangan beruntun.


Daimon mengeluarkan sebuah lingkaran sihir dan dari situ muncul tangan yang terbuat dari kerangka. Tangan itu melindungi Daimon dari serangan Emilia.


"Tidak akan kubiarkan," kata Laura.


Ia menggunakan Holy Cross pada tangan itu dan menghancurkanya. Aku juga maju membantu Emilia. Necromancer sangat lemah untuk pertarungan jarak dekat tanpa pasukannya.


Daimon melompat mundur untuk menghindar dari seranganku dan Emilia. Ia kemudian menembakan api biru yang sama dengan Emilia. Namun, Emilia mengatasinya dengan menembakan api miliknya. Api Emilia lebih kuat dari api Daimon dan meluncur langsung ke arah Daimon.


Sekali lagi Daimon mengeluarkan lingkaran sihir dan memanggil perisai raksasa. Perisai itu menahan serangan Emilia.


"Kau lupa denganku?"


Aku berpindah ke belakang Daimon menggunakan Caleo dan menyerangnya. Ia berusaha menahan seranganku menggunakan tongkatnya.


"Bukan ini saja yang kupunya."


Aku mengeluarkan kekuatan Ignis untuk membakar tongkatnya dan juga membekukan kakinya menggunakan Grando. Tiba-tiba di bawahku muncul lingkaran sihir dan kemudian keluar sebuah pilar api yang membuatku terbakar serta terlempar.


"Ciel!" kata Laura sambil berlari ke arahku.


"Rasakan ini."


Daimon akan menyerang Laura. Emilia ingin mencegahnya, namun ia ditahan oleh persiai Daimon.


Daimon mengeluarkan sebuah pedang dari tongkatnya dan melemparkannya ke arah Laura. Ketika pedang itu akan mengenai Laura, Umbra miliku melindunginya dengan membentuk perisai.


"Kamu tidak apa-apa Ciel?"


"Ya. Terima kasih karena Divine Protection milikmu, aku tidak mengalami luka fatal."


Aku kemudian berdiri dan meluncur ke arah Daimon. Laura menembakan Holy Ray ke perisai yang sedang menahan Emilia dan menghancurkanya.


"Emilia, gunakan ini," kata Laura.


Ia memberikan Holy Blessing pada dragon slayer dan masamune milik Emilia. Skill itu membuat senjata Emilia memiliki atribut suci sehingga bisa melawan Daimon.


Aku menggunakan Gladio Luminatio untuk melawan Daimon setelah tahu ia lemah dengan atribut suci.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?"


"3 pengguna atribut suci melawanku. Ini semakin menarik saja. Kalau begitua aku juga akan serius melawan kalian."


Di bawah Daimon muncul lingkaran sihir. Kemudian muncul api biru yang membakar dirinya.


"Aku merasakan kekuatan besar muncul dari sana," kataku.


"Sama master, aku juga merasakannya."


"Ini kekuatan aslinya mungkin," kata Laura.


"Kalian berdua bersiap untuk pertarungan yang lebih sulit dari sebelumnya."


Emilia dan Laura mengangguk.


Beberapa saat kemudian muncul sosok yang tinggi dan melayang. Wajah tengkorak dengan api berwarna biru di matanya. Ia mengenakan jubah hitam dan mahkota di kepalanya. Dengan senjata pedang di tangan kanan dan tongkat sihir di kirinya.


"Ini wujud asliku, sang Lich King."