Alchesia

Alchesia
Chapter 33 Ciel vs Regyus



Setelah itu aku mengajak Emilia dan juga Laura pergi menuju gerbang kota yang sudah runtuh. Aku tidak memberitahu alasan kami pergi ke gerbang kota. Selain kami bertiga Luna dan kelompoknya juga ingin ikut dengan kami.


“Luna, sebaiknya kamu tidak ikut,” kataku.


“Kenapa?” tanya Luna.


“Ciel, punya alasan sendiri. Ini demi kebaikanmu,” jawab Laura.


Luna masih berdebat dengan Laura kalau ia ingin ikut dengan kami. Emilia juga membantu Laura untuk mencegah Luna ikut dengan kami. Karen terlalu lama, aku mengaktifkan Caleo untuk kami bertiga. Lalu kami pergi meniggalkan tempat itu.


Kami sampai di gerbang kota dalam sekejap.


“Lalu, apa yang akan kita lakukan?” tanya Laura.


“Aku berencana menjaga di sini. Menurutku, mereka akan menyerang besok pagi.”


“Aku mengerti. Master ingin melawan mereka di luar kota begitu kan?” kata Emilia.


Aku menganggukan kepala.


“Jadi…. Kita akan berada di sini hingga pagi?”


“Ya. Sekarang kamu dan juga Emilia istirahat dulu saja. Aku yang berjaga.”


“Master bagaimana?”


“Nanti kita bergantian jaga.”


“Kali ini sungguhan kan? Kami tidak mau kamu berjaga sepanjang malam,” kata Laura.


“Iya. Sekarang istirahatlah.”


Emilia mengeluarkan tenda dari Storage miliknya. Selain kami bertiga, tidak ada orang lagi. Pasukan elf dan juga para petualang sudah membuat barikade di dalam kota untuk menggantikan gerbang yang sudah hancur.


Kami bergantian jaga hingga pagi. Laura mendapatkan giliran jaga terakhir.


“Ciel, Emilia cepat bangun! Mereka sudah datang.”


“Siapa?” tanya Emilia.


“Pasukan iblis.”


Aku dan Emilia langsung bangun. Di depan kami sudah ada banyak pasukn iblis yang datang. Mereka belum memulai serangan.


“Kalian berdua sudah siap?” tanyaku.


Emilia dan Laura menganggukan kepala.


Rasanya tidak enak baru bangun langsung harus berperang. Sarapan saja belum. Aku harap ini cepat selesai.


Aku tidak menggunakan Exitium terlebih dahulu karena waktu cooldownnya. Selain itu bila aku gunakan sekarang dan ada musuh yang tersisa cukup bahaya.


Laura mengaktifkan Divine Protection miliknya untuk melindungi kami bertiga. Aku menggunakan Gladio dan Ignis. Sementara Emilia menggunakan dua pedang dengan Blue Fire.


Sepertinya para pasukan elf dan juga petualang belum tahu kalau pasukan iblis menyerang. Ini benar-benar hebat 3 orang melawan ribuan.


Aku menembakan Ignis Union untuk mengancurkan barisan depan musuh dan disusul dengan Blue Fire serta Holy Ray. Serangan kami cukup untuk menhanckan barisan depan musuh.


“Ini mudah Ciel,” kata Laura.


“Mungkin karena mereka mengira kita tidak tahu, sehingga mereka belum mempersiapkan diri,” ujar Emilia.


“Mereka siap menyerang tapi tidak siap di serang,” kataku.


Pasukan iblis terlihat panik dengan serangan yang kami lancarkan. Serangan itu juga menghasilkan suara ledakan yang sangat besar. Aku pikir itu akan terdengar hingga ke seluruh kota.


“Ciellll!!!!” terdengar suar teriakan dari dalam pasukan iblis.


Aku kenal dengan suara itu.


Sesaat kemudian sesosok kesatria hitam maju ke depan. Sesuai dugaanku itu adalah Regyus.


“Master, apa itu Regyus?”


“Ya. Kesatria hitam itu adalah Regyus.”


Aku menggunakan Caleo untuk mendekatinya.


“Bila kau menang?”


“Aku tidak perlu mengatakannya.”


“Baiklah.”


Aku tahu kalau dia menang kota pasti akan hancur, meskipun masih ada kesempatan bagi Emilia dan juga Laura untuk mengalahkannya.


Regyus mengeluarkan pendang bayangannya. Tapi kali ini berbeda, pedang itu lebih besar dan berwarna ungu. Dia lebih kuat dari kemarin sepertinya.


Tanpa basa basi Regyus memulai seranganya. Ia melompat ke arahku dan menyerang menggunakan pedangnya. Aku memilih menghindar daripada menahannya. Sebagai balasan aku menggunakan Gladio Union untuk menyerang balik.


Serangan yang dihasilkan sangat kuat tapi juga lambat. Regyus menahan dengan pedang miliknya. Aku menembakan beberapa Ignis sebagai tambahan, tapi Regyus melompat mundur sehingga seranganku kena tanah.


Dia kemudian menancapkan pedangnya ke tanah dan mengeluarkan gelombang bayangan ke arah ku. Aku melompat dan menggunakan Caleo untuk menuju ke arahnya.


Dari jarak dekat aku menembakan Ignis Union tepat di wajahnya. Terjadi ledakan yang membuat diriku dan Regyus terpental menjauhi satu sama lain.


Ketika aku bangkit berdiri, aku melihat ke arah Regyus. Dia masih hidup, tapi helm yang ia kenakan hancur. Sekarang aku bisa melihat wajahnya. Kulit berwarna abu-abu dengan rambut putih panjang serta mata berwarna merah menyala.


Ini kesempatanku menyerang menggunakan Arcus Ignis ke kepalanya yang sudah tidak memakai helm. Ketika aku tembakan, ia menangkis menggunakan pedang miliknya.


Helm itu kembali utuh dan menutupi kepalanya. Aku kehilangan kesempatan untuk langsung menghabisinya. Regyus bangkit berdiri dan bersiap menyerang.


Aku merasa ini lebih sulit dari pada melawan Black Dragon atau boss dungeon. Tapi aku tidak tahu pasti apa penyebabnya. Namun aku merasa kalau penyebabnya karean ini pertarungan 1 lawan 1. Sebelumnya aku dibantu oleh Emilia dan Laura, tapi kali ini aku sendiri.


Regyus menerjang ke arahku. Kali ini aku menahan serangannya. Gladio miliku dan pedangnya saling beradu. Kemudian kami saling beradu kecepatan serangan. Aku baru tahu kalau ia juga bisa menggunakan serangan cepat.


Aku berada di posisi yang tidak menguntungkan. Armor miliknya selalu beregenerasi ketika terbuka, sedangkan aku langsung terluka. Serangannya semakin lama semakin kuat.


“Ayo! Kau masih memiliki kekuatan lainnya bukan!?”


Kata-kata itu seakan mengingatkanku akan sesuatu. Aku ingat kalau bergantung pada glyph hingga melupakan skill lainya. Dalam sekejap aku mengaktifkan semua skill bertarungku mulai dari Weapon Mastery, Glyph Mastery, dan juga Dragon Force.


Kekuatanku meningkat drastis dalam pertarungan ini hingga aku bisa mengimbangi Regyus. Kami masih saling serang satu dengan yang lainnya.


Aku menggunakan Gladio Ignis agar seranganku juga menimbulkan luka bakar pada bagian armor yang terbuka. Sedikit demi sedikit aku merasa ada hasilnya.


“Rasakan ini Ciel!!”


Aku dan Regyus melancarkan serangan dengan kekuatan penuh bersamaan. Pedangnya dan Gladio milikku saling beradu ketahanan.


KRAAKKKK


Pedang Regyus patah. Aku kemudian memfokuskan serangan ke arah dada Regyus hingga aku berhasil menghancurkan armornya. 


“Akan aku akhiri ini Regyus!!!”


Aku menusuk jantung Regyus dengan Gladio Ignis. Sudah pasti dia akan tewas dengan serangan ini.


“Terima kasih sudah mau berduel denganku. Aku sudah puas. Sebagai hadiah aku akan memperingatkanmu bahwa kami para jendral raja iblis adalah manusia yang menjadi undead.”


Setelah mengatakan itu ia tewas. Dengan begini pasukan iblis akan mundur dari kota ini atau setidaknya itu yang aku pikirkan. Tapi ternyata tidak mereka langsung bergerak menyerang kota.


“Exitium,” bisikku.


Muncul lingkaran sihir di atas kepalaku. Dari lingkaran sihir itu keluar seekor naga dan menembakan api ke arah pasukan iblis hingga berkurang 75%. Karena takut, mereka yang tersisa memilih mundur.


Emilia dan Laura datang ke tempatku beberapa saat kemudian.


“Master, para pasukan elf dan juga petualang melihat pertarunganmu baru saja,” kata Emilia sambil menunjuk gerbang kota.


Aku melihat ke sana dan sudah banyak orang berada di gerbang. Luna juga berada di sana.


“Ini gawat,” kataku.


“Kenapa master?”


“Aku kira mereka tidak akan datang, tapi…”


“Mereka datang karena mendengar suara ledakan tadi,” kata Laura.


Ini semakin membuat kami tidak bisa bergerak sembunyi-sembunyi lagi. Seharusnya yang melawannya Evan atau Rafael bukannya aku. Tapi mau bagaimana lagi, kalau aku tidak maju kota akan hancur.