Alchesia

Alchesia
Chapter 26 Black Dragon



“Emilia, Laura bangun.”


“Sudah saatnya ganti ya?” tanya Laura masih mengantuk.


“Bukan. Ini sudah pagi, ayo berangkat.”


“Eh? Master tidak tidur?” tanya Emilia. Wajahnya terlihat mencemaskan diriku.


“Ya.”


Emilia kemudian memegang tanganku dan bertanya, “ Apa master baik-baik saja nanti?”


“Aku baik-baik saja Emilia. Selain itu aku juga ingin kalian istirahat yang cukup.”


“Terima kasih Ciel.”


Kami membereskan tenda dan lalu pergi menuju Blood Hill untuk mengalahkan Black Dragon. Kami akan melawan monster yang bahkan lebih kuat dari boss dungeon.


Sebelum kami masuk ke dalam wilayah Black Dragon, aku menggunakan God Blessing dan Laura menggunakan Holly Protection pada kami bertiga. Setelah itu barulah kami masuk ke dalam wilayah Black Dragon.


 Bau daging terbakar yang sangat menyengat sudah tercium, padahal kami baru masuk beberapa langkah saja. Aku sudah tahu kalau korban dari Black Dragon ini sangat banyak, tapi aku tidak tahu kalau bisa separah ini.


Kami terus berjalan melewati rerumputan yang berwarna hitam karena hangus terbakar. Aku melihat banyak mayat baik manusia maupun binatang bergeletakan dimana-mana. Semuanya hangus terbakar.


Aku kemudian menyiapkan Arcus dan juga Ignis untuk berjaga-jaga. Emilia juga menyiapkan masamune yang sudah dibalut dengan Blue Fire miliknya. Ini pertama kalinya aku dan Emilia bergerak dengan sangat berhati-hati.


“Apa kamu sudah melihatnya?” tanyaku pada Laura karena sejak masuk ke sini, kami belum melihat Black Dragon.


“Belum. Mungkin dia sedang berada di puncak bukit,” jawab Laura.


Aku merasa ada yang tidak beres dengan hal ini. Kami tahu kalau siapa pun yang masuk ke dalam wilayah ini, pasti akan langsung diserang. Tapi hingga saat ini kami belum melihat keberadaan Black Dragon itu sendiri.


“Jangan-jangan ia sedang melawan seseorang disisi lain bukit ini,” pikirku.


Kemudian aku berkata kepada Emilia dan Laura kalau kita akan bergerak menuju sisi lain Blood Hill menggunakan Caleo agar lebih cepat.


“Memangnya ada apa di sisi lain, Ciel?”


“Ini hanya firasatku, tapi ia berada di sisi lain bukit ini dan juga sedang bertarung,” jelasku.


Kami bergerak ke sana secepat yang kami bisa. Aku hanya berharap kalau siapa pun yang ada di sana masih hidup.


Tapi ketika kami tiba, semuanya sudah terlambat. Mereka telah hangus terbakar.


“Kita terlambat,” kata Laura.


Aku melihat Laura seperti ketakutan. Mukanya menjadi pucat. Ia mingkin mengingat kejadian dimana semua anggota party miliknya dimusnahkan oleh Black Dragon.


Black Dragon kemudian melihat ke arah kami dan terbang mendekat. Inilah saat dimulainya pertarungan kami melawan monster ini.


Aku menembakan beberapa panah api kepadanya dan Emilia juga menembakkan Blue Fire miliknya. Namun seperti dugaanku itu semua tidak dapat melukainya. Kami harus menemukan cara untuk menyerangnya.


Kulihat Laura masih terdiam, Black Dragon itu kian mendekati kami.


“Maaf Laura,” kataku sambil memeluk Laura.


Aku membawa Laura menjauh sementara Emilia memancing Black Dragon. Jika Laura terus seperti ini maka ia pasti akan terbunuh. Kupikir kami harus memintanya mundur. Aku dan Emilia yang akan mengatasi Black Dragon


.


“Maaf Ciel,” kata Laura dengan suara pelan. Aku tahu ia sangat ketakutan.


“Laura, pergilah. Tinggalkan tempat ini.”


“Lalu, bagaimana dengan dirimu dan Emilia?”


“Kami akan menahannya hingga kau berhasil menjauh dari sini. Nanti kami akan menyusulmu.”


“Tapi…”


Aku mengusap kepalanya dan tersenyum. Kemudian aku pergi membantu Emilia. Sepertinya kami harus menyusun rencana baru. Memang dari awal aku berencana pergi dengan Emilia saja, karena aku tahu hal ini pasti akan terjadi pada Laura. Ini salahku menyetujuinya untuk ikut bersama kami.


Aku menggunakan Caleo dan mengganti Arcus dengan Gladio. Aku akan mencoba melawannya dari jarak dekat. Kulihat Emilia menggunkan Mirror Image untuk membagi dirinya. Sesekali ia menyerang dari dekat tapi juga terkadang menyerang dari jarak jauh.


Aku juga menggunakan Caleo kepada Emilia agar ia dapat melakukan pertarungan di udara. Aku menyerang Black Dragon secara cepat di beberapa bagian. Tapi aku memfokuskannya pada leher dan juga sayap.


Tapi, tiba-tiba Black Dragon itu terbang tinggi menjauhi kami. Aku merasa ada yang tidak beres di sini. Dia mulai menarik nafas.


“Jangan-jangan…”


Aku tahu, dia pasti akan menembakan api. Tapi kenapa tidak dari tadi ia menembakan api.


“Emilia menjauh dari sini sekarang!”


Aku dan Emilia menjauh. Ternyarta benar ia menyemburkan api. Semburannya memiliki lingkup yang sangat luas. Aku bahkan bisa merasakan panas dari api tersebut walaupun kami sudah menjauh. Jika kami tidak menggabungkan God Blessing dengan Holly Protection.


“Emilia fokus menyerang sayapnya, itu lebih mudah dilukai daripada bagian yang lain. Selain itu kita harus membuatnya tetap di darat.”


“Baik master.”


Semburan Black Dragon akhirnya berhenti, aku dan Emilia berusaha menyerangnya lagi. Aku penasaran mengenai kemampuan api miliknya.


“Apa dia tidak bisa menggunakannya terus menerus? Mungkin ia seperti meriam. Setelah menembak akan overheat atau kepanasan.” pikirku.


Kami berdua terus menyerang sayapnya. Tapi ketika kami akan memotongnya, ia kembali menjauh dari kami. Ini saatnya dia menyemburkan api lagi.


Ketika dia akan mengeluarkan api, tiba-tiba tembakan cahaya mengenai sayap kirinya hingga terputus. Kemudian Black Dragon jatuh ke tanah setelah kehilangan salah satu sayapnya. Aku melihat ke bawah dan ternyata itu adalah Laura.


Aku kemudian menghampirinya.


“Kenapa kamu masih di sini?”


“Maaf. Aku tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak ingin kehilangan kalian berdua, orang-orang yang berharga untukku.”


“Tapi, apa kamu sudah tidah apa-apa?”


“Ya. Walaupun aku masih takut, tapi itu tidak akan menghalangiku.”


“Baiklah. Ayo kita kalahkan dia dan pulang.”


“Ya,” kata Laura dengan menganggukan kepalanya.


Aku melihat Black Dragon yang jatuh sedang terbakar oleh apinya sendiri. Beberapa saat kemudian api itu padam dan Black Dragon penuh dengan luka bakar. Ini adalah kesempatan emas kami.


“Emilia dan Laura tahan pergerakannya, aku punya rencana.”


Aku tahu kami tidak mungkin menyerangnya terus-terusan untuk membuat luka. Tapi akibat dari dirinya terbakar tadi, luka di kepalanya cukup parah hingga aku mungkin bisa menyerangnya menggunakan Arcus.


Emilia dan Laura memulai serangannya. Mereka menyerang bagian kakinya sekarang agar meminimalkan pergerakan dari Black Dragon. Setelah berganti Glyph, aku menyerangnya dan ternyata tidak berhasil.


Aku mencoba digabungkan dengan Ignis tapi hasilnya sama saja. Aku berpikir apa mungkin kalau gabungan kekuatan dari Union Arcus dan Union Ignis bisa digunakan atau tidak.  


Setelah mencobanya ternyata bisa. Aku belum tahu hasi dari serangannya tapi aku merasa kalau ini akan berhasil.


“Emilia menjauh dari sana!”


Setelah Emilia menjauh aku menembakan gabungan dari 2 Glyph Union tadi. Black Dragon menggunakan ekornya untuk membelokkan arahnya ke langit.


“Gagal?” tanya Laura.


“Tidak, memang ini yang kuincar.”


Beberapa saat kemudian panah api yang terbang ke langit itu berubah jadi hujan panah api. Panah-panah itu membakar Black Dragon. Selain itu beberapa panah mengenai luka dari Black Dragon hingga ia juga terbakar dari dalam.


Aku merasa pertarungan ini sebenarnya tidak terlalu sulit asalkan menemukan cara yang tepat. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya Black Dragon itu mati.


Laura berjalan mendekatiku.


“Terima kasih sudah membantuku untuk membalaskan teman-temanku dan juga untuk melindungi masa depan kami dari Black Dragon.”


“Sama-sama.”


Emilia berlari ke arah kami dan ia memeluk Laura.


“Kamu tidak apa-apa kan Laura?”


“Ya, terima kasih. Maaf membuatmu khawatir.