
Badanku terasa capek sekali setelah menyelesaikan misi kali ini. Selain harus melawan monster yang kuat seperti itu, aku juga hanya tidur sebentar saja. Sekarang keinginanku hanya tidur.
Ketika aku dan Emilia sudah sampai di kamar, aku langsung berbaring di atas kasur. Rasanya nyaman sekali. Kulihat Emilia juga langsung berbaring di kasurnya setelah berganti pakaian tidur di kamar mandi. Ia juga pasti merasa lelah akibat pertarungan tadi. Dia sudah berjuang dengan baik. Selamat tidur…
Aku baru bangun ketika sudah tengah hari. Emilia masih tertidur ketika aku bangun. Aku ingin membangunkannya, tapi tidak jadi. Aku ingin ia istirahat dengan cukup. Aku kemudian membuka layar status milikku, karena aku ingin melihat class seperti apa yang aku dapatkan.
Class Change : Sekarang anda telah menjadi Glyph Master.
Class apa ini?
Coba aku periksa terlebih dahulu.
Sebelum aku membaca keterangan dari class ini, aku tahu pasti ini berhubungan dengan Glyph. Setelah aku baca, ternyata benar class ini akan muncul saat aku mencapai level 40. Class ini adalah class pengguna Glyph. Ketika terbuka, aku dapat meningkatkan kekuatan dari Glyph milikku.
Aku sekarang belum memiliki Glyph tipe sihir untuk serangan jarak jauh. Aku harap segera mendapatkannya, sehingga tidak merepotkan Emilia lagi untuk serangan jarak jauh. Aku juga menginginkan adanya Glyph tipe support untuk membantu yang lainnya juga. Rakus sekali diriku ini.
Ketika aku masih melihat-lihat layar status milikku, Emilia bangun. Wajahnya terlihat imut sekali ketika bangun tidur. Aku teringat akan adikku ketika ia bangun. Mereka mirip sekali.
“Master sudah bangun?”
“Sudah. Bagaimana tidurmu?”
“Nyenyak sekali master. Mungkin karena kelelahan.”
“Kita akan ke kantor guild untuk mengambil hadiah setelah ini.”
“Baik master, saya akan siap-siap.”
Emilia kemudian menyisir rambutnya dan berganti pakaian. Aku juga harus ganti pakaian setelah Emilia. Setelah Emilia selesai, giliranku untuk ganti. Kami kemudian berangkat menuju kantor guild untuk mengambil hadiah kami. Kira-kira berapa yang akan kami dapatkan ya?
Kami bertemu dengan Laura di depan kantor guild. Ketika kami masuk, aku melihat Mia dan beberapa petugas guild sedang dikerumuni oleh banya petualang. Kalau diingat lagi mereka ini adalah para petualang yang akan dikirim untuk menaklukan dungeon tadi pagi.
Untungnya Mia melihat kami, jadi aku tidak kami tidak perlu memanggilnya. Ia kemudian datang kepada kami.
“Maaf atas keributan ini.”
“Tidak apa-apa. Justru kami yang harus meminta maaf karena datang disaat kalian sedang sibuk seperti ini,” kata Laura.
“Kalian ke sini untuk mengambil hadiah bukan? Kalau begitu aku akan mengambilkannya.”
“Tapi sebelum itu, apa yang sedang terjadi Mia?” tanyaku.
“Mereka ini adalah para petualang yang seharusnya berangkat menjalankan misi penaklukan dungeon yang kalian masuki. Mereka tidak terima kalau misinya dibatalkan dan boss dungeon sudah dikalahkan hanya dengan 2 orang peringkat E dan 1 orang peringat B.”
“Seperti itu masalahnya. Kalau boleh tahu dungeon yang sudah ditaklukan akan menjadi apa?”
“Dungeon yang ditaklukan akan menjadi property milik guild. Dungeon itu akan menjadi dungeon tanpa boss dan biasanya untuk naik level serta mencari item atau senjata.”
Aku rasa mungkin mereka iri atau mungkin ingin mendapatkan hadiah dari menaklukan boss itu. Ada kemungkinan juga mereka ingin menaikan level dengan cepat.
Ketika kami sedang berbicara, salah seorang dari petualang yang berkumpul itu melihat kami dan berteriak,”Itu mereka!!”
Hal itu menyebabkan para petulang yang berkumpul itu berpindah mengerumuni kami.
“Kalian pasti curang!”
“Yang kalian bawa itu pasti bukan boss dungeon!"
“Mana mungkin kalian bisa mengalahkannya!”
“Pria ini juga terlihat lemah!”
Kulihat Emilia kesal mendengar ucapan itu. Ia bersiap mengambil pedangnya, tapi aku memegang tangannya. Mereka masih menuduh kami yang bukan-bukan.
“Lihat wanita serigala itu! Sepertinya ia kesal.”
“Juga Elf itu hanya diam tidak bisa membalas.”
“Mia, apa kamu bisa bawakan kepala monster yang kami kalahkan?”
“Baiklah. Aku aka mengambilkannya.”
Mia mengambil kepala Roxas dan meletakannya di bawahku.
“Sekarang kalian perhatikan baik-baik kepala ini, menurut kalian, monster ini boss atau bukan? Lalu apa kalian bisa melawannya dengan 3 orang kalau kalian bilang kami lemah?”
Setelah mendengar perkataanku, mereka terdiam dan melihat kepala Roxas.
“Kami berusaha mati-matian mengalahkan monster ini dan kalian bilang kami curang. Jika kalian ingin harta yang ada di dungeon ambil saja, karena kami belum mengambilnya.”
Emilia memegang tanganku dan berkata, “Master sudah cukup, saya tidak apa-apa.”
“Aku juga Ciel,” kata Laura juga.
Sepertinya aku sudah terlalu berlebihan, tapi biarlah. Bagiku pertarungan melawan Roxas itu bukan demi harta atau ketenaran, tapi untuk bertahan hidup bagi kami dan juga mereka yang mundur.
“Tapi tetap saja…”
“Benar…”
“Mereka tidak mungkin…”
Sudah kuduga mereka tetap tidak mempercayai kami.
“Jika kalian bilang kalau mereka lemah berarti kalian bodoh!” kata seseorang dari balik kerumunan itu.
“Guild master!” kata Mia terkejut.
“Monster yang mereka lawan ini bernama Roxas. Aku juga baru pertama kali lihat bentuk aslinya. Ia jarang sekali muncul. Roxas memiliki racun yang sangat mematikan dengan level S. Itu bukan sesuatu yang dapat ditahan menggunakan Nul Poison.”
Jadi itu penyebabnya racun yang ia gunakan tidak tertahan oleh skill Laura. Aku samai menggunakan beberapa antidote untuk memulihakannya. Apalagi ketika ia memasuki rage mode, kami harus bertarung di dekat sayap beracunnya.
“Apa benar yang aku katakan ini, Laura?” tanya guild master.
“Benar. Aku tidak merasakannya tapi, Ciel yang terkena racunnya,” kata Laura.
“Ya. Bahkan setelah Laura menggunakan Nul Poison pun masih tidak bisa menahannya. Aku mengerti kenapa banyak yang tewas. Selain karena racun, serangannya juga sangat cepat,” kataku.
“Apa kalian sudah mengerti? Mereka tidak lemah dan juga dengan adanya kepala ini membuktikan kalau merekalah yang mengalahkannya. Selain itu mereka juga tidak mengambil hartanya, jadi kalian bisa mengambilnya,” kata guild master.
“Tapi guild master…”
“Bagi para petualang dungeon itu untuk mencari harta, kekuatan dan juga status. Tapi pertarungan mereka bertiga ini adalah pertarungan untuk bertahan hidup dan kalian merendahkan pertarungan mereka,” kata guild master.
Dia ternyata memiliki pendapat yang sama denganku mengenai pertarungan kami bertiga.
Kemudian para petualang itu kemudian meninggalkan kami satu persatu.
“Maaf, karena kami membuat keributan.”
“Tidak. Kami seharusnya berterima kasih karena berkat kalian kami tidak perlu mengirim petualang menuju kematian,” kata guild master.
“Baiklah. Aku akan mengambilkan hadiahnya,” kata Mia
Kami menunggu sebentar, sementara Mia mengambilkan hadiah. Laura juga memberitahu guild master kalau ia akan bergabung dengan partyku dan Emilia. Beberapa saat kemudian Mia kembali membawa hadiah kami.
Kami mendapatkan 15 gold dan juga untukku serta Emilia mendapat kenaikan peringkat menjadi C. Laura sendiri juga naik ke peringkat A. Kami membagi uangnya 5 gold masing-masing. Akhirnya sekarang kami bisa melewati perbatasan menuju Ellis.