
Setelah selesai mencoba kemampuan milik Charlote di hutan, kami kembali ke kota. Hari ini, kota semakin ramai dan penuh petualang. Ini pasti gara-gara penaklukan dungeon besok dan juga Yuna yang akan ikut untuk pertama kalinya.
Ini juga menjadi ajang bagi para petualang untuk menunjukan kemampuan mereka kepada Yuna agar bisa bergabung dengan party milik Yuna. Bukan hanya beast human saja yang datang tapi juga ada manusia, elf, dan juga bahkan dwarf.
Mereka sampai seantusias ini hanya karena besok. Rumah-rumah makan juga penuh hingga antri di luar. Selain itu juga, penginapan yang ada di kota ini pastinya penuh.
"Tunggu dulu. Jika mereka sebanyak ini, maka toko-toko item dan ramuan akan kehabisan stok. Kalau begitu kami harus berpencar," pikirku.
Berdasarkan pemikiranku itu, aku membagi tugas untuk berbelanja. Emilia, Laura, dan juga Charlote akan pergi membeli barang-barang serta ramuan yang akan kami perlukan dalam perjalanan besok. Sedangkan aku akan pergi ke guild untuk membatalkan keikutsertaan kami besok.
"Baik master. Aku mengerti."
"Kalau begitu, sampai jumpa di penginapan, Ciel."
"Kalian bertiga hati-hati," kataku.
Ini akan menjadi pelajaran berbelanja kebutuhan petualang untuk Charlote. Aku menyerahkan hal itu pada Emilia dan juga Laura.
Aku sudah tiba di depan guild. Begitu aku masuk, ternyata sama seperti di tempat lain, guild juga penuh dengan para petualang. Ada Yuna juga yang sedang duduk bersama partynya. Mereka dikerumuni oleh para petualang.
"Inilah tidak enaknya menjadi orang yang terkenal," kataku dalam hati.
Yuna melirik diriku, saat aku berjalan di depannya. Atau mungkin itu hanya perasaanku saja.
Tanpa memperdulikan hal itu, aku segera menuju meja resepsionis. Di situ, ada gadis kelinci yang kemarin bertugas ketika kami datang.
"Ada yang bisa aku bantu Ciel?"
"Ya, aku…, tunggu kamu ingat namaku?"
"Tentu. Maaf, kemarin aku belum sempat memperkenalkan diri. Namaku Ruka. Jadi ada yang bisa kubantu."
"Senang berkenalan denganmu Yufi. Aku ingin membatalkan keikut sertaan kelompokku dalam misi penaklukan besok."
"Kenapa?"
"Ada sedikit masalah. Kami tidak ingin mengganggu kelompok besok."
"Baiklah," kata Yufi.
Ketika aku sedang berbicara dengan Yufi, seseorang menyentuh bahuku dari belakang. Ketika aku menoleh ke belakang, ternyata itu Yuna bersama dengan partynya.
"Ada yang bisa aku bantu?" kataku.
"Hmm… tidak. Hanya saja aku penasaran kenapa kamu tidak membawa perlengkapan apapun?"
"Itu saja? Aku meninggalkannya di penginapan"
"Jadi seperti itu…."
Yuna tiba-tiba menghunuskan pedangnya dan mengayunkannya dengan cepat ke leherku. Dia juga mengeluarkan niat membunuh dan rasa haus darah. Tapi ia tidak menyentuhku.
Aku bingung harus apa. Bukan karena takut, tapi apa yang harus aku lakukan untuk menanggapi serangan Yuna. Aku juga tahu ia pasti akan menghentikan ayunan pedangnya.
"Emmm…, aku harus apa setelah kamu melalukan itu tadi?" tanyaku bingung.
Dia menatapku dengan tatapan bingung juga.
"Kenapa kamu tidak menangkis atau menghindari seranganku?" tanya Yuna.
"Kalau kamu tanya kenapa, mungkin karena aku merasakan pedang kosong yang mengarah padaku."
"Pedang kosong?"
"Benar. Kamu hanya mengeluarkan aura membunuh dari dirimu. Tapi serangan yang kamu lancarkan tidak memilikinya, jadi aku merasa tidak perlu melakukan apa-apa."
"Seperti itu ya? Kalau kamu bisa merasakan itu, aku ingin kamu bergabung dengan kami."
"Beraninya kau!!" kata seseorang di sebelah Yuna.
Ia adalah seorang manusia singa. Sepertinya dia marah padaku.
Dengan cepat ia melancarka tinjunya ke arahku. Ini serangan dengan niat membunuh yang besar.
BRAAKKKKK
Semua orang yang berada di guild terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.
Mungkin itu karena aku menahan pukulan itu dengan satu tangan. Ini tidak masalah untukku yang sekarang karena aku mempunyai Dragon Force. Skill ini meningkatkan kekuatan dan ketahanan fisikku.
"Cukup Ruska!!" bentak Yuna.
Manusia singa ini bernama Ruska. Setelah itu ia mundur ke belakang Yuna.
"Sekarang kamu menangkisnya. Kenapa tidak menghindarinya?" tanya Yuna.
"Ya. Bila aku menghindar maka serangan ini akan mengenai Yufi yang berada di belakangku."
"Tapi kamu hebat juga, menahan serangan Ruska dengan tangan kosong. Serangannya barusan bisa menghancurkan kepala Minotaur."
"Mungkin karena aku sering latihan. Jadi kalau kalian cuma mau cari ribut, lebih baik kalian menghemat tenaga untuk besok," kataku.
Kemudian aku berjalan meninggalkan mereka. Tapi sebelum aku pergi, Ruska memanggilku.
"Jangan terlalu sombong bocah, kami akan menaklukan dungeon itu besok. Apa kamu pernah menaklukan dungeon?"
Aku diam karena tidak ingin menjawabnya.
"Ano… sebenarnya orang itu sudah pernah menaklukan dungeon bahkan 2 kali. Ini ada di data kartu guild miliknya. Selain itu ia juga pernah mengalahkan guardian dungeon."
"Apa? Itu mustahil," kata Ruska terkejut.
Bukan hanya dia, namun para petualang yang ada di guild juga sama terkejutnya. Aku jadi penasaran memangnya seberapa hebatnya menaklukan 2 dungeon itu. Nanti aku tanya saja Laura.
Aku meninggalkan tempat itu dan kembali ke penginapan. Tapi sebelumnya, aku akan membeli beberapa makanan untuk mereka bertiga.
Ketika aku baru akan masuk ke penginapan, Emilia, Laura, dan Charlote baru saja datang juga. Syukurlah kami tidak perlu saling menunggu.
Kami masuk ke dalam kamarku untuk membicarakan rencana pergi ke dungeon besok. Tapi sebelum itu aku harus menanyakan masalah menaklukan dungeon terlebih dahulu kepada Laura.
"Itu termasuk hebat. Normalnya para petualang hanya sekali saja menaklukan dungeon. Kebanyakan dari mereka tidak ingin melakukannya lagi karena boss dungeon."
"Jadi seperti itu ya. Mereka trauma dengan kekuatan boss dungeon," kata Emilia.
"Apa boss dari dungeon sekuat itu?" tanya Charlote.
"Ya. Apa kamu takut setelah mengetahuinya?" kataku.
Charlote menggelengkan kepala dan berkata, "Aku sudah mengatakan kalau aku akan bergabung dengan kalian. Jadi tidak ada alasan untuk mundur sekarang."
Setelah itu aku juga menceritakan apa yang terjadi di guild tadi. Mulai dari pertemuanku dengan Yuna hingga masalah dengan Ruska.
"Apa!? beraninya ia melakukan hal itu pada master," kata Emilia kesal.
"Tenanglah Emilia, aku tidak apa-apa. Sekarang masalah kita bukan pada pahlawan tapi kemungkinan anggota partynya yang beranggotakan bangsawan."
Laura juga sepertinya kesal dengan kelakuan Ruska. Ini salahku karena cerita, tapi cepat atau lambat mereka juga pasti akan tahu.
Setelah itu kami membahas perjalanan ke dungeon besok. Tujuan utama kami adalah melatih Charlote di dungeon. Selain itu sebisa mungkin kami tidak ingin terlibat dengan misi penaklukan dungeon besok.
Kami ingin melatih Charlote dalam hal formasi dan juga pengambilan keputusan di dalam party maupun individu. Aku jadi ingat saat melatih Marie. Setelah selesai, kami makan lalu istirahat untuk perjalanan besok.