Alchesia

Alchesia
Chapter 69 Awal Serangan Liden



Kami masuk ke sebuah ruangan yang cukup besar. Ruangan itu seperti sebuah kamar apartemen. Luna memberitahuku kalau ruangan ini adalah ruangan yang digunakan mereka sekarang.


Sebelumnya Yuna selalu tinggal sendiri namun sekarang ia memiliki teman yang sebenarnya. Luna juga mengatakan kalau tujuan mereka bukan hanya mengalahkan raja iblis saja, tapi membantu Yuna kembali juga.


Selama ini Yuna tidak memiliki teman yang memikirkan tentangnya juga. Mereka hanya mengincar hasil dari mengalahkan raja iblis. Baik itu kekuasaan, uang, atau pengaruh politik.


Sekarang kami akan membahas sesuatu dengan Yuna, yaitu masalah Liden. 


“Maaf, tiba-tiba mengajak kalian ke sini,” kata Yuna sambil menundukan kepala.


“Tidak apa Yuna, kita kan teman,” kataku.


“Kami juga ada sesuatu yang ingin dibicarakan juga,” sambung Laura.


“Soal perang ini bukan?” tanya Yuna.


Aku dan teman-temanku menganggukan kepala.


Yuna memberitahu tidak terlalu banyak informasi yang ia peroleh. Ia hanya tahu kalau perang ini adalah usaha Liden untuk menaklukan Sakura Empire dan bukan sekedar merebut wilayah.


Selain itu Yuna tidak bisa ikut dalam peperangan karena pahlawan adalah milik semua negara. Sebenarnya Yuna sangat ingin ikut membantu Sakura Empire.


Jika Yuna ikut dalam perang ini, maka pahlawan lain juga akan ikut membantu Liden. Pahlawan hanya bisa dilawan oleh pahlawan.


Bila mereka saling berhadapan dan sampai ada yang terbunuh, pasukan iblislah yang paling diuntungkan. Ini akan sangat banyak mengurangi kekuatan tempur.


Sekarang Sakura Empire sedang mencari jalan damai. Mereka mengirim pesan ke Liden untuk mengajak diskusi. Namun hingga sekarang belum ada tanggapan dari Liden.


Pasukan Liden sendiri sudah sampai di perbatasan. Sekarang mereka sedang berhadapan dengan pasukan Sakura Empire. 


“Begitulah dari informasi yang kudapatkan. Lalu untuk kalian?”


“Kami merasa ada kejanggalan dalam perang ini dan kami ingin menyelidikinya,” jawabku.


“Kalau begitu, aku ingin minta tolong kepada kalian untuk membantu Sakura Empire. Aku mohon,” kata Yuna.


“Kami mohon,” kata Luna dan yang lainnya.


Aku berpikir sejenak untuk mengambil keputusan. 


“Baiklah. Itu juga sesuai dengan tujuan kami.”


“Kami pasti akan membantu,” sambung Emilia.


Setelah itu, aku dan kelompokku kembali kepenginapan untuk membereskan barang-barang kami dan kemudian pergi ke perbatasan, tempat terjadi pertempuran sekarang.


Namun, ketika kami akan keluar dari kota, para penjaga menghadang kami dan meminta kami kembali. Aku tidak bisa mengatakan kalau kami akan ke perbatasan untuk menghentikan pertempuran.


Jika meminta bantuan istana, maka akan menimbulkan kecurigaan publik. Mereka akan bertanya-tanya kenapa kami bisa keluar. Hingga akan berakibat pada terbongkarnya identitas Emilia.


Laura dan Charlote kembali ke penginapan, sementara aku dan Emilia berjalan menyusuri dinding. Kami mencari tempat dimana penjagaannya tidak terlalu ketat. 


Setelah beberapa lama mencari, kami menemukannya. Jalan ini akan memutar karena terdapat di sisi selatan kota sedangkan tujuan kami ada di utara. 


Kami berdua kembali ke penginapan untuk memberitahu Laura dan Charlote. Selain itu kami juga berencana untuk keluar pada malam hari. 


Ketika hari sudah mulai gelap, para penduduk segera kembali ke rumah mereka masing-masing. Toko-toko dan tempat makan juga tutup. Ini berarti ada jam malam di Yamato. 


“Sekarang bagaimana master?” tanya Emilia.


“Kita tetap akan keluar dari Yamato.”


“Caranya?” tanya Laura.


“Seperti setiap perjalanan kita,” jawabku santai.


“Jangan-jangan…,” kata Charlote cemas. 


Beberapa saat kemudian.


WUUZZZZZZ


Aku menggunakan Caleo untuk membawa kami menuju dinding selatan. Sebenarnya aku juga berencana akan menggunakan Caleo saat memanjat. Dengan menggunnakan ini kami bisa lebih cepat.


Sesuai rencana semula kami dengan cepat sampai di dinding dan beberapa saat kemudian kami meluncur keluar. Ada beberapa penjaga kota yang melihat kami dan tercengang.


“Sampai jumpa Yamato!” kataku kencang.


Kami mendarat dan segera berjalan ke utara sambil mengisi MP ku yang tersisa setengah. Ini salahku karena tidak mengatur kecepatan dan jumlahnya. Semakin banyak jumlah dan kecepatannya akan semakin banyak MP yang diperlukan.


Kuharap para penjaga itu tidak keluar dari kota untuk mencari kami. Jika terjadi Yuna dan keluarga kerajaan juga akan kerepotan. 


Kami tidak memberitahu keluarga kerajaan kalau akan keluar dari kota. Jika mereka mencari kami, kuserahkan kepada Yuna untuk menjelaskannya.


Sepertinya MP milikku sudah penuh. 


“Sekarang, kita akan melanjutkan dengan Caleo,” kataku.


Sebelumnya aku sudah diberikan peta oleh Luna. Dengan bantuan peta itu, kami segera bergerak menuju ke medan perang.


Kemungkinan kami akan tiba di sana besok tengah hari. Itu berarti jika perang sudah dimulai, kami sampai di tengah peperangan. Kuharap keadaan di sana masih baik-baik saja.


“Apa ada yang lelah atau mau beristirahat?” tanyaku. 


“Aku dan Emilia tidak apa. Bagaimana denganmu dan Charlote?” tanya Laura.


Untuk Charlote yang masih berusia 12 tahun, perjalanan ini mungkin akan memberatkannya. Jika ia lelah kami akan beristirahat.


“Aku juga masih kuat,” jawab Charlote.


“Kalau begitu kita masih bisa lanjut karena aku juga tidak apa-apa.”


Kami melanjutkan perjalan hingga matahari terbit. 


Untuk sementara kami beristirahat. Emilia, Laura, dan Charlote tidur, sedangkan aku berjaga dan memasak sarapan. Aku tidak tidur karena memiliki skill Dragon Force. Skill ini dapat membuatku tidak tidur selama beberapa hari juga.


Walau beristirahat sebentar, kami tetap akan tiba di sana siang nanti. Aku sedang memikirkan apa yang akan kami lakukan ketika sampai di sana dan peang sedang berlangsung. 


Bila aku memanggil naga, kedua belah pihak akan kebingungan dan ketakutan. Mungkin juga mereka akan pergi meninggalkan perang. Tapi mungkin juga mereka akan menyerang nagaku, itupun kalau mereka berani.


Ketika tiga putri tidur itu bangun, kami mulai sarapan sambil membicarakan apa yang akan kami lakukan setibanya disana. 


“Jika memang terjadi perang, mungkin kita harus masuk langsung ke tengah dan memisahkan mereka,” kata Laura.


“Memukul mundur mereka kembali ke wilayah mereka masing-masing,” sambung Charlote.


“Tapi, jika diingat lagi, Sakura Empire lebih ke bertahan. Kemungkinan pihak Lidenlah yang tidak mundur begitu kita tiba,” kata Emilia.


“Jika hal itu terjadi, maka mau tidak mau kita akan melawan Liden sendiri. Tapi tanpa menggunakan nama Sakura Empire,” kataku.


Ini akan jadi pertempuran pertama Charlote dengan musuh sesama manusia. Ini lebih berat daripada melawan monster atau iblis baginya. Ada kemungkinan ia akan bertemu dengan pilihan membunuh atau dibunuh.


Kalau dia ingin tetap bersama kami maka hal seperti ini pun harus ia lakukan. Untuk anak usia 12 tahun menganmbil nyawa seseorang, dunia ini memang tidak mengenal usia untuk perang.


Untuk itu aku harus memberitahu Charlote tentang apa yang kupikirkan dan kemungkinan yang terjadi disana.


“Kamu bisa menunggu di tempat yang aman bersama nagaku, bila kamu tidak ingin melakukannya,” kataku.


“Itu benar Charlote,” kata Emilia.


“Kami bisa melakukannya untukmu,” sambung Laura.


Charlote terkejut mendengar semua itu. Dia berpikir sejenak.


“Aku tetap akan ikut. Cepat atau lambat aku pasti mengalaminya. Tapi aku lebih memilih bersama kalian,” kata Charlote.


“Baiklah. Tapi jangan memaksakan dirimu,” kataku.


Kami segera melanjutkan perjalanan.