
Aku dengan Emilia dan juga Laura menyusun rencana untuk pertandingan kami besok. Rencananya Emilia akan bertarung di depan, lalu aku di tengah, dan Laura akan menjadi support di belakang.
Untuk musuh yang paling merepotkan mungkin adalah assassin, karena ia bisa menyerang diam-diam. Itu akan membahayakan posisi Laura.
Sedangkan bagian serangan mereka akan lebih berbahaya mage atau penyihir. Serangannya pasti ada yang bertipe area. Jadi ia akan menjadi prioritasku.
Emilia past bisa menangani Evan dan paladin yang akan menjadi garis depan mereka. Selain itu Teresia juga akan menjadi lawanku.
Aku juga harus menjaga Laura yang ada di belakang dari assassin. Secara kualitas kami kalah tapi dari kuantitas kami di atas mereka.
Keesokan harinya kami bertiga berangkat menuju ke arena pertandingan. Kami berjalan bersama-sama dengan orang-orang yang ingin melihat pertandingan kami. Mereka tidak tahu siapa yang menjadi lawan Evan, sehingga mereka tidak mengenali kami.
Dalam pertandingan ini aku tidak berencana menggunakan Exitium, karena akan sangat berbahaya. Ketika kami melawan Black Dragon saja, kami hampir saja terbunuh karena serangan itu.
Selain itu Laura juga tidak akan menggunakan Divine Protection miliknya. Skill baru itu sangat langka, sehingga ada kemungkinan Laura diincar oleh kerajaan.
Aku bertanya pada Laura apakah Luna akan melihat pertandingan kami. Laura menjawab mungkin Luna akan melihatnya. Selain itu ia juga akan datang bersama dengan anggota party lamanya.
Aku merasa senang mendengarnya karena Luna dapat berpetualang dengan party lamanya kembali.
Kami masuk melalui pintu yang dikhususkan untuk mereka yang bertanding. Aku belum melihat Evan dan juga kelompoknya. Kupikir mereka pasti sudah di dalam.
Dari dalam lorong aku bisa mendengar suara para penonton yang sangat riuh. Aku juga menyiapkan Arcus sebagai senjataku.
"Laura, kenapa kita belum bertemu dengan Evan dan party miliknya?" tanya Emilia.
"Mereka ada di sisi satunya, jadi kita tidak bisa bertemu. Aturannya memang seperti itu."
"Lalu apa kita akan terluka ketika menerima serangan?" tanyaku.
"Selama tidak mematikan maka tetap terluka. Namun bila mematikan, serangan itu akan ditangkis oleh perlindungan arena dan menyebabkan pingsan."
Beberapa saat kemudian terdengar suara yang memanggil kami untuk masuk ke arena.
"Kalian siap?" tanyaku.
Emilia dan juga Laura menganggukan kepala mereka. Wajah mereka juga menunjukan keyakinan akan memenangkan pertarungan ini.
Kami masuk ke dalam arena. Tempat itu seperti colosseum. Terdengar sorakan yang mendukung Evan.
"Yah, itu wajar. Kami bukan siapa-siapa," pikirku.
Tapi ada suara yang berkata,"Kalian bertiga berjuanglah."
Kami menoleh ke arah sumber suara itu dan ternyata itu adalah Luna. Ia benar-benar datang. Bukan hanya dirinya tapi juga party Luna juga mendukung kami.
Lalu kelompok Evan masuk ke dalam arena. Perlengkapan yang mereka kenakan sangat bagus. Mereka mendapatkan dukungan dari kerajaan pastinya. Sedangkan kami, harus mencari dan membeli sendiri.
Seperti dugaanku formasi Evan ialah Evan dan paladin yang bernama Roze itu di depan, lalu Teresia dan juga mage Lisa ada di belakang. Sedangkan assassin yang bernama Nia di dekat Teresia dan juga Lisa.
Emilia menggunakan ryuken dan juga masamune yang sudah di lapisi dengan Blue Fire. Sedangkan Laura juga menyiapkan Holy Protection untuk Emilia, karena ia akan berada di garis depan.
Ketika pertarungan dimulai Emilia langsung maju menyerang Roze. Ia melancarkan serangan beruntun yang bertujuan untuk menghancurkan perisai Roze.
Evan tidak tinggal diam dan membantu Roze. Ia menyerang Emilia menggunakan pedangnya, tapi Emilia melompat untuk menghindar. Ia kemudian membalas menggunakan Blue Fire. Evan menghindari serangan itu.
Emilia memang mengincar hal itu. Tepat di belakang Evan ada Nia yang bersiap menghilang. Jadi karena Evan menghindari serangan Emilia, Nia yang jadi kena serangan itu. Nia langsung tidak sadarkan diri ketika terkena Blue Fire.
Pola serangan milik kelompok Evan sangat tidak jelas. Seharusnya Lisa dan Teresia menyerang aku atau Laura, tapi mereka malah membantu Evan.
"Ciel, mereka…," kata Laura.
"Aku tahu. Mereka tidak punya strategi yang baik. Pola mereka juga…," balasku. Aku malas melanjutkannya.
Tapi penonton tetap memberi semangat kepada kelompok Evan. Malah semakin kencang.
"Aku merasa kita seperti penjahat," kataku.
Laura tersenyum mendengar hal itu.
Aku terus menerus menyerang Teresia dan juga Lisa sehingga mereka tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik.
Emilia masih melawan Evan. Ia terus menerus melancarkan serangan yang membuat armor milik Evan rusak berat. Lisa yang melihat hal itu berinisiatif menjadi perisai untuk Teresia agar bisa menyerang balik.
Tapi aku tidak akan membiarkannya. Aku menggunakan Arcus Union sehingga muncul hujan panah. Lisa tidak mengira kalau aku akan menyerang area.
Selain itu Laura juga menembakan Holy Ray kepada Teresia hingga terpental keluar arena.
"Teresia!!!" teriak Evan.
Sepertinya ia kesal dengan serangan Laura yang baru saja. Ia menyerang Emilia lebih kuat lagi.
Roze dapat keluar dari Holy Wall ketika Laura menyerang Teresia. Roze langsung berlari baju menyerang Laura. Kami sudah tahu hal ini akan terjadi, jadi aku menembak Roze beberapa kali.
Seranganku mengenai bahu kanan dan juga kedua kakinya hingga ia terjatuh. Tapi ia berusaha untuk berdiri lagi.
"Aku tidak akan menyerah," kata Roze.
"Aku suka semangatmu, tapi caramu salah."
Aku menembak tepat di kepalanya dan menyebabkan tidak sadarkan diri. Untungnya tadi aku tanya Laura soal serangan mematikan.
Lisa terlihat putus asa setelah tahu kalau mereka sekarang sudah kalah jumlah. Namun Evan dan Lisa tidak menunjukan tanda-tanda menyerah. Itu bagus sekaligus bodoh menurutku.
Kami akan mengakhiri drama ini sekarang. Aku kemudian memberi tanda pada Emilia untuk mengakhiri perlawanan dari Evan. Sedangkan aku sendiri yang akan menumbangkan Lisa.
Aku menembakkan beberapa panah langsung ke arah Lisa yang masih ketakutan dan menyebabkan ia pingsan. Sekarang tinggal Emilia dan Evan.
Emilia menambah kecepatan serangannya untum menumbangkan Evan. Serangan itu membuat Evan sangat kewalahan. Ia tidak bisa menandingi kecepatan Emilia. Hingga akhirnya ia menerima serangan fatal hingga pingsan.
Sesuai dugaan mereka terlalu bangga dengan nama kelompok pahlawan hingga mereka tidak berkembang dan kalah melawan kami bertiga.
Evan dan kelompoknya dibawa ke ruang perawatan yang ada di arena. Aku, Emilia, dan juga Laura pergi meninggalkan arena dan kembali ke rumah Laura.
Ketika keluar, kami bertemu dengan Luna dan juga partynya.
"Kalian hebat sekali," kata salah seorang dari mereka.
"Kakak, apa benar mereka berdua ini peringkat C?" tanya Luna pada Laura.
"Itu benar. Namun peringkat hanya status mereka saja. Kekuatan mereka yang sebenarnya…, kamu bisa lihat sendiri."