Alchesia

Alchesia
Chapter 30 Invasi Iblis 1



Aku, Emilia dan juga Laura kembali ke rumah Laura dan Luna setelah pertandingan. Aku melihat beberapa orang merasa kesal dengan kami setelah mengalahkan Evan dan yang lainnya.


Beberapa mengatakan kalau kami melakukan kecurangan, namun ada juga yang mengatakan kalau Evan dan yang lainnya masih perlu berlatih lagi.


"Master, menurutmu kelompok Evan dan Rafael lebih baik yang mana?" tanya Emilia.


"Jujur kalau Evan ini masih belum bisa di andalkan. Ia masih mengira ini permainan. Sedangkan Rafael dan yang lainnya masih membesar-besarkan nama pahlawan."


"Lalu?"


"Sama-sama tidak ada yang baik, tapi di Rafael ada Marie yang sudah lebih kuat dari yang lainnya."


"Seperti itu ya. Kalau menurutku di kelompok Evan masih memiliki emosi yang belum stabil. Jadi mereka sering gegabah dalam mengambil keputusan."


Aku berpikir Emilia sudah jauh berkembang dari yang dulu. Ia yang sekarang bisa menilai kemampuan orang dengan baik. Selain itu ia juga bisa menilai emosi seseorang juga.


"Laura bagaimana denganmu?" tanya Emilia.


"Sebelum aku menjawab aku ingin berterima kasih karena membantuku mengalahkan Black Dragon dan juga Evan."


"Sama-sama," kata Emilia.


"Lalu, menurutku aku memilih kelompon Evan kalau dari karakter. Tapi kalau kekuatan aku memilih Rafael. Benar kata Emilia, ada Marie yang lebih kuat disana."


Kami berjalan bersama kerumunan orang-orang yang pulang dari melihat pertandingan tadi. Luna dan teman-temannya pergi ke guild untuk mengambil misi.


Aku merasa suasana sekarang lebih damai sejak kami mengalahkan Black Dragon.


Ketika kami sudah dekat, alarm tanda bahaya berbunyi. Aku beserta Emilia dan juga Laura pergi menuju gerbang kota.


"Ini tidak mungkin," kata Laura panik.


"Kenapa? Apanya yang tidak mungkin?" tanyaku bingung.


"Tidak ada yang bisa menembus pelindung kota kecuali naga dan pasukan iblis," jawab Laura.


"Berarti ada kemungkinan kalau pasukan iblis menyerang ke sini," ujar Emilia.


Banyak penduduk yang berlarian karena panik. Aku berharap ini bukan serangan pasukan iblis. Evan dan kelompoknya belum siap menghadapi pasukan iblis dan juga naga untuk sekarang.


Kami menuju ke gerbang kota bersama dengan beberapa pasukan yang menuju ke sana. Tapi kami di hadang oleh beberapa prajurit yang sedang mengevakuasi penduduk.


"Kenapa kalian pergi ke sana?" tanya seorang prajurit.


Aku tidak menjawab begitu pula dengan Emilia dan juga Laura. Kalau kami menjawab akan semakin rumit.


"Kenapa kalian diam? Disana pasukan iblis datang."


Itu yang ingin kami tahu. Sekarang semakin kuat alasan kami untuk pergi ke gerbang. Aku mengaktifkan Caleo agar kami bisa melewati prajurit itu dan agar lebih cepat sampai ke gerbang kota.


Kami bergerak di udara sehingga tidak ada yang menghalangi kami. Dari kejauhan aku bisa melihat asap dari arah gerbang.


"Ciel," kata Laura.


"Aku tahu. Mungkin mereka sudah menembus gerbang."


"Tapi apa yang mereka cari di kota ini?" tanya Emilia.


"Mungkin kristal pelindung kota. Kristal itulah yang membuat pelindung kota," jawab Laura.


Ketika sudab dekat, aku mendengar suara pertarungan. Berarti mereka sudah masuk ke dalam kota. Mau tidak mau kami harus mendorong mereka keluar dari kota.


Pasukan mereka mengenakan jubah yang berwarna hitam dan juga kerudung. Dari segi kekuatan pasukan elf menang tapi mereka kalah jumlah serta kurang koordinasi.


Aku menyiapkan Gladio dan juga Ignis. Emilia juga mengeluarkan kedua pedangnya. Sedangkan Laura memberikan kepadaku dan Emilia Holy Protection.


Aku sengaja langsung masuk ke tengah agar bisa memotong mereka menjadi dua. Bagian depan akan melawan Emilia dan juga pasukan elf.


Selain itu, tujuanku adalah untuk menggunakan Exitium untuk memusnahkan pasukan belakang sekaligus.


Aku mulai menyerang mereka menggunakan Gladio untuk membuat ruang. Pasukan iblis yang aku hadapi cukup banyak, tapi mereka tidak terlalu kuat.


Beberapa dari mereka menembakan bola api, tapi aku dilindungi oleh skill Laura. Pasukan iblis yang melawan Emilia ada yang berbalik dan menyerangku.


Laura menembakkan Holy Ray untuk mencegah musuh menyerangku, tapi tetap ada juga yang lolos dari serangannya.


Aku menembakan Ignis untuk mengalahkan mereka. Setelah aku rasa cukup ada ruang, aku langsung menggunakan Exitium.


Ini pertama kali aku menggunakannya. Lalu muncul lingkaran sihir di atas kepalaku dan muncul seekor naga berwarna emas. Ia kemudian menembakkan api ke arah musuh.


Awalnya aku kira ia akan menyerang garis belakang, tapi ternyata juga garis depan pun di hajarnya. Beberapa pasukan elf melarikan diri setelah melihat naga itu. Begitu pula dengan pasukan iblis.


Mereka pergi meninggalkan kota. Aku tidak menemukan pemimpin mereka di sini. Aku berpikir kalau ini belum berakhir dan mereka akan menyerang kembali kota ini.


Naga yang aku panggil itu menghilang beberapa saat kemudian. Emilia dan juga Laura berlari ke arahku.


"Master, yang tadi itu…?" tanya Emilia.


"Benar itu Exitium."


"Tapi bukannya itu menembakkan api?" tanya Laura.


"Aku juga tidak tahu, tapi itulah yang terjadi ketika aku pakai. Setelah aku menggunakannya, ternyata harus menunggu 15 menit untuk menggunakannya lagi."


"Itu sudah pasti. Skill yang hebat pasti ada cooldown atau waktu pengisianya," kata Laura.


"Apa pasukan elf ada yang melihat aku mengeluarkan naga?"


"Itu tidak mungkin master. Mereka terhalang oleh pasukan iblis. Tapi kalau naganya mereka pasti melihatnya," jawab Emilia.


Aku tahu kalau naganya juga pasti terlihat karena ia besar dan juga terbang. Ketika kami kembali, kami berpapasan dengan Evan dan kelompoknya. Mereka datang bersama dengan pasukan elf.


Kami hanya berjalan lewat seakan-akan tidak ada apa-apa. Aku tahu mereka ingin menanyai kami, tapi sepertinya mereka takut.


Kami kembali menuju ke rumah Laura untuk beristirahat. Di jalan aku mendengar kalau para petualang juga akan di tempatkan untuk menjaga gerbang kota sementara.


Ini akan sangat membantu sekali menurutku. Tapi kenapa tadi tidak ada yang datang dari petualang selain kami bertiga. Ketika hal itu aku tanyakan pada Laura, ia menjawab kalau mereka menunggu perintah dari istana elf.


"Jadi ada kemungkinan Luna juga ke sana?" tanya Emilia.


"Tentunya. Hanya peringkat B ke atas yang menerima perintah dari istana," jelas Laura.


"Kami tidak bisa ikut. Nanti kamu sendirian?" tanyaku.


"Tidak. Aku pastinya akan ditugaskan untuk membantu mengobati di belakang. Jadi kalian juga bisa ikut."


"Tapi kalau benar-benar gawat, aku dan Emilia akan maju," kataku.


"Itu benar," sambung Emilia.


"Saat itu tiba, aku juga akan ikut dengan kalian."


Ketika kami sampai, aku langsung mengajak Emilia dan Laura berdiskusi sebentar mengenai pasukan iblis.


Aku memberitahu kalau pasukan yang tadi kami lawan mungkin adalah yang terlemah, mengingat tidak adanya pasukan elit mereka. Selain itu tadi itu sangat mudah. Emilia dan Laura setuju akan hal itu.


Jadi intinya masih ada serangan berikutnya yang akan memiliki kekuatan yang lebih hebat lagi.