
Boss Gigantor telah muncul.
"Dia boss dungeonnya?" tanya Charlote.
"Ya. Kita masih bisa mundur sekarang, sebelum ia melihat kita. Bagaimana Ciel?" ucap Laura.
"Kita akan menghadapinya. Tapi Charlote tidak perlu ikut, karena ini berbahaya," kataku.
Charlote mendekat padaku dan kemudian ia memegang tanganku serta berkata, "Tidak, aku akan ikut bersama kalian."
Ia mengatakanya dengan wajah yang pebuh dengan keyakinan. Aku melihat Emilia dan Laura. Mereka menganggukan kepala. Kalau begini kita akan maju bersama melawan Gigantor, boss dari dungeon ini.
Aku menggunakan Gladio Ignis untuk memanggil pedang api yang akan menjadi senjataku dan juga Lumimatio untuk memanggil 2 buah bola cahaya yang akan melindungiku.
Emilia mengeluarkan kedua pedangnya dan melapisinya dengan api berwarna biru. Ia juga menggunakan Mirror Image untuk menciptakan bayangan dirinya.
Sebagai perlindungan, Laura menggunakan Divine Protection dan juga Null All. Charlote juga sudah mempersiapkan senjata dan skill miliknya untuk bertarung.
"Sebagai permulaan, aku akan memanggil naga untuk mendorong Gigantor masuk kembali ke dalam ruangan boss. Lalu aku akan membuat dinding es untuk menutup lubang di dinding."
"Baik. Kalau begitu kami akan segera masuk begitu Gigantor sudah terdorong masuk ke dalam sana," kata Emilia.
"Apa kamu siap Charlote?" tanya Laura.
"Ya. Ayo kita lakukan," jawab Charlote dengan penuh semangat.
Aku memanggil nagaku dan memerintahkannya untuk mendorong Gigantor masuk kembali ke dalam ruangan boss. Sementara itu Emilia, Laura, dan juga Charlote bersiap untuk segera masuk ke dalam ruangan boss itu.
Para petualang yang melihat naga yang tiba-tiba muncul, menjadi panik dan ketakutan. Bahkan Yuna juga bersiap menyerangnya.
Tapi begitu nagaku mendorong Gigantor, Yuna menurunkan senjatanya, begitu pula dengan para petualang yang lain. Segera setelah Gigantor masuk, kami berempat menyusul masuk ke dalam ruangan boss.
Begitu kami masuk, aku membuat dinding es untuk menutup lubang yang dibuat oleh Gigantor. Sekarang yang berada di dalam ruangan hanya kami dan juga Gigantor atau begitulah yang aku kira.
"Ciel, lihat ada seseorang yang juga berada di dalam sini," kata Laura menunjuk orang yang dimaksud.
Setelah aku perhatikan, ternyata orang itu adalah Yuna. Ia juga berada di dalam ruangan boss ini.
Emilia menghampiri Yuna dan bertanya, "Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Aku ingin ikut melawan Gigantor," jawabnya.
"Dimana party yang bersamamu?" tanya Laura.
"Mereka berada di luar. Aku segera berlari meyusul begitu kalian masuk ke sini," jawab Yuna.
Ini semakin kacau. Kami harus menjaga Yuna juga kalau seperti ini. Aku juga belum mengetahui kekuatan Yuna jadi untuk berjaga-jaga, aku menggunakan Umbra untuk membuat bayangan Yuna menjadi perisai.
"Apa ini?" tanya Yuna panik ketika bayanganya bergerak.
"Tenanglah, itu skill milik masterku. Itu akan melindungimu," jelas Emilia.
"Kamu diam dan lihat saja," kata Laura.
Aku mengerti maksud dari Laura mengatakanya. Itu demi keselamatan Yuna sendiri. Ia khawatir kalau Yuna seperti pahlawan yang lainnya.
"Tapi…," kata Yuna.
Emilia dan Laura meninggalkan Yuna tanpa berkata apa-apa lagi.
Aku memegang kepala Charlote dan bertanya, "Apa kamu sudah siap?"
"Ya. Ayo kita lakukan," jawab Charlote tegas.
Aku dan Emilia segera maju, tapi sebelum itu aku menghilangkan nagaku terlebih dahulu agar tidak menghabiskan mana. Semakin lama naga itu berada di sini, semakin banyak mana yang terpakai.
Tapi ia tidak tahu kalau aku dan Emilia sudah berada di dekatnya. Emilia dan pasukan bayangannya menyerang Gigantor dengan serangan beruntun. Sedangkan aku membekukan kakinya agar tidak bergerak.
Ketika Gigantor akan menyerangku, Laura membuat dinding cahaya menggunakan Holy Wall. Dinding itu berhasil menahan serangan Gigantor.
Charlote menembakan bola-bola api pada kapak Gigantor untuk menghancurkanya. Aku juga membantu menggunakan pedang api milikku.
Sementara itu tangan Gigantor yang lain berusaha melawan Emilia dan pasukannya. Gigantor menggunakan skill Howl untuk membuat gelombang udara yang membuat aku dan Emilia terlempar menjauh darinya.
Gigantor berlari ke arah Emilia untuk menyerangnya, namun Charlote melindungi Emilia dengan dinding api dari skill Fire Wall miliknya.
Yuna yang melihat hal itu berinisiatif maju menyerang. Ia menggunakan katana miliknya untuk menyerang kepala Gigantor, tapi ia dihantam oleh Gigantor hingga membentur lantai. Untung saja ia berhasil selamat karena perlindungan dari Umbra.
Aku kemudian menyerang Gigantor untuk menjauhkannya dari Yuna. Kemudian Laura ke tempat Yuna untuk mengobatinya.
Aku, Emilia, dan Charlote bertarung melawan Gigantor. Charlote memberikan dukungan serangan jarak jauh dengan sangat baik.
Sementara itu, Laura yang sedang mengobati Yuna bertanya, "Kenapa kamu nekat?"
"Aku ingin membantu kalian dan menjadi sekuat kalian. Aku sadar kalau masih lemah."
"Apa maksudmu?"
"Beberapa hari yang lalu, Dewi Rinoa berbicara tentang kalian. Ia mengatakan kalau kalian sangat kuat dan aku juga ingin menjadi kuat agar bisa kembali ke duniaku."
"Kamu…," kata Laura.
"Ya. Aku juga tahu kalau laki-laki yang disana itu juga dari duniaku. Ia ingin mengalahkan raja iblis agar bisa kembali. Karena tujuan kami sama, setidaknya aku ingin membantu," kata Yuna.
"Ternyata kamu seperti ini. Kukira kamu sama dengan pahlawan yang lain. Kalau begitu ayo kita berjuang bersama kami."
"Terima kasih," kata Yuna.
Sesaat kemudian Yuna sudah bersama denganku dan Emilia berada di garis depan.
"Maaf, merepotkan kalian," katanya.
Emilia dan aku hanya tersenyum.
Yuna menggunakan skill Light Speed untuk meningkatkan kecepatannya. Serta ia juga menggunakan Shogun Form untuk membuat dirinya memiliki kekuatan serangan dan pertahanan yang lebih baik.
Kami bertiga di depan dan Laura serta Charlote di belakang terus menyerang Gigantor. Ia tidak memiliki kesempatan untuk menyerang balik karena Charlote dan Laura menyerangnya ketika akan melakukannya.
ROAAAAARGHHH
Ia memasuki rage mode. Kekuatan dan juga kecepatannya akan meningkat dengan drastis. Ia mengayunkan kapaknya sehingga menciptakan serangan angin yang dapat menggores dinding.
Aku membuat dinding es dan Charlote membuat dinding api untuk menahannya. Emilia dan Yuna didukung dengan skill cahaya Laura menyerang Gigantor yang sedang mengamuk.
Mereka berhasil membuat Gigantor menjatuhkan senjatanya.
"Master, Charlote sekarang!" kata Emilia.
Aku menggunakan pedang cahaya dari Gladio Lumimatio untuk seranga akhir. Sementara Charlote membuat Gigantor menjadi lambat dengan Ice Blast miliknya.
Dengan beberapa tebasan kilat, Gigantor berhasil aku kalahkan. Akhirnya boss pertama Charlote dan Yuna tumbang. Mereka berdua terlihat sangat senang sekali.
"Yuna, kita berhasil," kata Emilia.
"Terima kasih."
Sementara itu Laura memeluk Charlote dan mengucapkan selamat karena menyelesaikan sebuah dungeon untuk pertama kalinya.