Alchesia

Alchesia
Chapter 41 Penyelidikan



Kami bertiga kembai ke penginapan tempat kami menginap sebelumnya dan menunggu hingga pagi hari. Kami juga melakukan giliran jaga untuk mengantisipasi bila ada serangan.


Pada pagi harinya kegiatan di kota berlangsung seperti biasa seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Selain itu pasukan kerajaan yang semalam tidak terlihat di kota sekarang lalu lalang.


Gerbang kota yang aku hancurkan sebelumnya telah kembali utuh. Bekas pertarungan di kota juga tidak terlihat sama sekali.


Ini benar-benar aneh. Aku merasa kalau lawan kami kali ini adalah seseorang yang ahli menggunakan sihir.


Emilia dan Laura menyelidiki area sekitar istana untuk memastikan apa semua tempat yang kami lewati kembali seperti semula. Sedangkan aku pergi menyelidiki di beberapa rumah bangsawan.


Beberapa rumah bangsawan terlihat normal. Beberapa orang keluar masuk rumah itu tanpa ada keanehan sama sekali.


Namun beberapa rumah bangsawan terasa sangat sepi. Tidak ada tanda-tanda kehidupan dari rumah itu, seperti rumah hantu. Aku bertanya kepada penduduk sekitar mengenai rumah itu dan mereka menjawab kalau rumah itu sudah tidak ditinggali sejak beberapa bulan yang lalu.


Aku merasa semakin bingung setelah mendengar jawaban mereka. Kemarin rumah-rumah ini terlihat masih normal-normal saja, tapi sekarang sudah kosong.


Aku mencoba masuk ke rumah itu melalui salah satu jendela. Ketika aku masuk rumah itu benar-benar berantakan. Tidak ada siapa-siapa di dalam.


Aku kemudian mencari di setiap ruangan yang ada di rumah itu dan hasilnya nihil. Aku tidak menemukan satu orang pun di rumah itu.


Ketika aku akan keluar dari rumah, tiba-tiba sebuah pisau dilemparkan kepadaku dari belakang. Aku menangkisnya menggunakan Gladio.


Ketika aku melihat ke arah orang yang melemparkan pisau itu, aku melihat seseorang yang mengenakan pakaian pelayan di sana. Bukan hanya 1 atau 2 orang saja tapi banyak dan mereka membawa pisau.


Aku mengamati wajah mereka dan ternyata mereka sudah mati. Berarti yang ada di hadapanku saat ini adalah mayat hidup yang di kendalikan.


Mereka kemudian maju menyerangku secara bersamaan. Karena mereka hanya maya hidup, aku jadi tidak perlu ragu untuk melawan mereka. Aku menggunakan Grando untuk membekukan dan mengahncurkan mereka dalam sekejap.


Setelah selesai aku pergi meninggalkan rumah itu dan kembali ke penginapan untuk berkumpul kembali dengan yang lainnya. Ketika aku masuk ke dalam kamar, Emilia dan juga Laura sudah menungguku di dalam.


“Maaf, aku terlambat.”


“Tidak apa master, kami juga baru saja sampai ke sini.”


“Kalau begitu, kita mulai laporan dari penyelidikan kita hari ini,” kata Laura.


“Baiklah dimulaiku.”


Aku menceritakan hasil penyelidikanku di rumah-rumah para bangsawan. Dari yang normal hingga yang kosong. Aku juga menceritakan serangan mayat hidup dari salah 1 rumah bangsawan yang kosong tadi.


“Master juga melawan mayat hidup disana?”


“Ya. Tunggu kamu tadi mengatakan juga?” tanyaku.


“Benar Ciel. Kami juga melawan mayat hidup, namum bukan mengenakan pakaian pelayan. Mereka adalah para pasukan yang kita lawan semalam. Selain itu jendral juga ada diantaranya,” jelas Laura.


“Kami juga mengalahkan mereka semua, karena mereka adalah mayat hidup,” sambung Emilia.


Ini agak menggangguku. Aku belum membebaskan mereka dari Grando, bahkan aku tidak membunuh mereka. Tapi kenapa mereka bisa berubah menjadi mayat hidup dan siapa yang membuatnya itu yang sedang aku pikirkan.


“Master, memangnya mereka yang dibekukan sudah dilepaskan?”


“Itu yang menjadi pertanyaanya Emilia. Aku tidak melakukan apa-apa lagi pada mereka setelah aku membekukan mereka. Selain itu jika mereka menjadi mayat hidup, bukannya ada yang membunuh mereka?”


“Itu benar. Walaupun seorang necromancer pun, mereka memerlukan mayat untuk dihidupkan bukan yang masih hidup.”


“Atau mungkin kita melawan lebih dari 1 orang sekarang ini. Maksudku dalam kategori pemimpin bukan pasukannya,” kataku.


Kemudian kami menyusun beberapa rencana untuk sekarang. Awalnya kami hanya ingin membuat sebuah rencana saja, namun karena kami masih belum mengetahui musuh kami dengan pasti, maka kami membuat beberapa.


Rencana ini untuk berjaga-jaga bila sewaktu-waktu kami harus bertarung. Aku tidak berharap terjadi pertarungan dengan mereka untuk sementara waktu atau setidaknya hingga bantuan dari Tron datang.


“Aku ingin mencari relik untuk glyph yang ada di kota ini dulu.”


“Akan kami temani master,” kata Emilia.


“Aku juga ingin membeli beberapa air suci dan juga potion untuk berjaga-jaga,” sambung Laura.


Kami pergi berbelanja. Aku bertanya kepada beberapa orang tentang toko dungeon yang ada di kota ini. Ternyata tempatnya tidak jauh dari Silver Cat.


Kemudian kami pergi ke toko yang dimaksud. Kami terkejut ketika baru sampai karena toko itu sangat besar. Ukurannya sudah seperti sebuah penginapan saja.


Di dalam kami menemukan beberapa barang dari dungeon, mulai dari senjata hingga tumbuhan yang ada di dalam dungeon.


Aku pergi mencari di bagian relik. Sementara Laura melihat-lihat di bagian perlengkapan bersama dengan Emilia.


Setelah mencari aku akhirnya menemukan 1 relik untuk glyph. Aku merasa hampir kebanyakan relik yang aku dapatkan seperti barang bekas. Selama ini aku hanya membelinya saja walaupun juga ada yang aku dapatkan, tapi mau bagaimana lagi.


Aku kemudian membayar untuk relik itu. Emilia dan Laura juga datang untuk membayar barang yang mereka beli. Setelah itu kami pergi ke toko potion untuk membeli keperluan Laura.


Seperti sebelumnya, kami tidak merasakan keanehan di kota ini. Namun kami tahu kalau musuh kami selalu mengawasi kota ini dan mungkin kami. Sebelum kami pergi tadi, Laura memberikan Divine Protection untuk melindungi diri kami.


Sebelum kami kembali ke Silver Cat, ada 1 tempat yang harus kami kunjungi untuk mendapatkan air suci. Tempat itu adalah gereja.


Kami berkeliling kota untuk mencarinya, namun tidak ada satu pun yang kami temukan. Ketika kami bertanya kepada penduduk, mereka menjawab kalau di kota ini tidak ada gereja.


“Ini aneh, kemarin ada beberapa sekarang seakan-akan tidak pernah ada,” kata Emilia.


“Menurut dugaanku, mereka menghancurkannya sebelum kita kembali,” jelas Laura.


“Sekarang, kita kembali dulu ke Silver Cat,” ajakku.


Ketika kami kembali, aku mengeluarkan 2 relik dari dalam storage milikku.


“Kenapa ada 2 master? Darimana asalnya?” tanya Emilia penasaran.


“1 yang tadi aku beli, lalu 1 lagi dari Regyus.”


“Regyus? Bagaimana bisa?” tanya Laura terkejut.


“Aku tidak tahu bagaimananya tapi ini muncul begitu saja setelah Regyus tewas.”


“Hati-hati master.”


Pertama aku menghancurkan relik yang aku beli dan menyerap kekuatan yang keluar dari dalamnya.


Glyph Luminatio telah diperoleh.


Aku kemudian membaca fungsinya. Ternyata kemampuannya adalah menghasilkan bola cahaya yang melindungi penggunanya. Ini berguna sekali sebagai pelindung dan juga cocok untuk musuh yang kami lawan kali ini.


Kemudian aku menghancurkan relik yang aku dapatkan dari Regyus.


Glyph Umbra telah diperoleh.


Fungsi glyph ini adalah menggerakan bayangan untuk menyerang musuh. Sepertinya ini bisa digunakan untuk menyerang dan bertahan.


Setelah itu aku memberitahu soal Luminatio kepada Emilia dan juga Laura. Mereka tahu kalau dengan ini kami lebih mudah mengalahkan para mayat hidup itu.


Selain itu nanti malam kami juga ingin menyelidiki apakah hari ini akan sama seperti kemarin. Kami juga ingin tahu darimana orang-orang yang mengenakan jubah hitam kemarin datang.