
Begitu pasukan penakluk masuk, kami berempat menunggu agak lama untuk membuat jarak dengan mereka. Aku tidak ingin kami bertemu dengan mereka karena kemarin aku sudah membatalkan diri untuk ikut serta dalam misi ini.
Tujuan utama hanya melatih Charlote di dungeon serta menaikan levelnya secepat mungkin. Selain itu aku juga ingin mencoba glyph yang baru saja aku peroleh kemarin.
Begitu waktunya tiba, aku mengajak yang lain untuk masuk ke dalam dungeon. Hal pertama yang kami lihat setelah masuk adalah sebuah lorong yang sangat besar. Lorong ini seperti buatan manusia karena dari lantai, dinding, hingga langit-langitnya terbuat dari batu-batu yang tersusun rapi.
Hanya saja di sini tidak ada lukisan atau hiasan yang bisa ditemukan di istana. Selain itu pencahayaannya menggunakan obor dengan api yang berwarna biru mirip dengan istana raja iblis yang pernah aku lihat di anime atau game.
"Master, bukannya kamu dapat relik glyph ketika kita mengalahkan Lich King?" tanya Emilia.
"Ya. Aku juga sudah menyerap kekuatanya."
"Kapan? Aku juga ingin lihat," kata Charlote antusias.
"Kemarin pada waktu kalian sudah tidur, aku melakukannya," jawabku.
"Master curang. Aku juga ingin melihatnya," kata Emilia.
"Maaf maaf, lain kali ya."
"Lalu glyph apa yang kamu dapatkan?" tanya Laura.
"Glyph sihir dengan elemen listrik. Aku ingin mencobanya juga di sini."
Kami terus berjalan masuk. Belum ada monster yang terlihat. Aku juga tidak bisa mendengar suara pertarungan dari pasukan penakluk. Mungkin mereka sudah sangat jauh dari kami pikirku.
Kami akhirnya tiba di sebuah ruangan yang berisi mayat monster. Ukuran mereka sangat besar dan seperti manusia.
"Mereka ini apa?" tanya Charlote.
"Mereka adalah raksasa," jawab Laura.
"Tapi mereka seperti dengan manusia," kata Emilia.
"Pada mulanya mereka termasuk dari antara demihuman seperti kami. Tapi berjalannya waktu pikiran mereka berubah menjadi sama dengan monster," jelas Laura.
"Bagaimana kakak bisa tahu?" tanya Charlote lagi.
"Kami para elf memiliki usia yang panjang. Bahkan ada yang berusia 1000 tahun lebih. Aku mendengarnya dari seorang petualang elf yang berusia 500 tahun."
"Berarti kak Laura masih muda sekali ya?" tanya Charlote.
"Ya bisa dibilang seperti itu."
Ketika kami mendekati mayat-mayat itu, tiba-tiba dari belakang kami terdengar langkah kaki yang mendekat.
"Kalian bertiga bersiaplah untuk bertarung," kataku.
Laura mengaktifkan Divine Protection miliknya untuk kami. Ia menggunakan Null All juga. Emilia mengeluarkan pedangnya dan melapisinya dengan Blue Fire.
Aku memberikan Umbra untuk Laura dan Charlote sebagai perlindungan tambahan. Sedangkan untuk diriku adalah Luminatio.
ROAAAARRRR
Akhirnya mereka muncul, para raksasa. Raksasa-raksasa itu membawa beberapa senjata seperti pedang, kapak, dan palu. Tapi senjata-senjata itu terlihat sudah rusak dan akan segera hancur bila digunakan.
Sebagai pembukaan, aku menyerang mereka menggunaka serangan listrik yang kukeluarkan dari jari telunjukku. Aku berhasil menumbangkan beberapa raksasa dan juga menghancurkan sebagian senjata mereka.
Sekarang saatnya memulai pertarungan jarak dekat.
"Ayo Emilia," kataku.
"Baik master."
Kami berdua maju menyerang dan bila ada raksasa yang akan menyerang kami ketika sedang bertarung, Charlote akan menyerang mereka.
Charlote menghujani mereka dengan bola-bola api. Apabila belum tumbang, aku dan Emilia yang menyelesaikannya. Laura juga membantu dengan menggunakan Holy Ray miliknya.
"Charlote jangan terlalu membuang mana, fokus saja pada yang menyerang Ciel dan Emilia," kata Laura.
Setelah bertarung cukup lama, kami akhirnya mengalahkan mereka semua. Aku kemudian menghitung jumlah raksasa yang kami kalahkan dan jumlah mereka ada 12 raksasa.
Emilia membandingkannya dengan yang dikalahkan oleh pasukan penakluk. Jumlah yang mereka kalahkan ada 10, jadi kami unggul 2 poin.
Aku melihat-lihat bekas mereka bertarung dan ternyata mereka mengalahkan para raksasa itu dengan cepat. Kupikir jumlah petualang di dalamnya juga berpengaruh selain dari kekuatan dan juga skill.
Aku juga memperhatikan cara Charlote bertarung tadi. Ia sudah lebih baik daripada kemarin.
"Charlote, kesini sebentar," kataku.
Charlote datang kepadaku dengan wajah khawatir.
Aku menepuk kepalanya dan berkata, "Kamu jadi lebih baik dari kemarin. Teruskan."
Setelah itu dia tersenyum dan berkata, "Terima kasih, aku akan berusaha lagi."
Kami lalu melanjutkan perjalanan di dungeon ini. Aku harap nanti ada tempat untuk beristirahat seperti di Tornia. Tapi jika bisa wilayah yang tidak ada monsternya.
Kami memasuki sebuah lorong yang ada pilar-pilar batu di kiri dan kanan. Di pilar-pilar itu terdapat beberapa ukiran yang menggambarkan para raksasa dan senjatnya. Di tempat ini, kami juga menemukan mayat-mayat raksasa lagi.
"Kak Ciel, ini…," kata Charlote pelan.
"Ya. Kamu juga sudah paham apa yang akan terjadi selanjutnya kan?"
Berbeda dari area sebelumnya, beberapa raksasa muncul dari kiri dan kanan. Mereka juga membawa senjata seperti sebelumnya, tapi kali ini mereka mengenakan armor juga.
"Tunggu dulu. Mayat-mayat itu tidak memakai armor, tapi yang sekarang memakainya," kata Laura.
"Ya. Jadi itu tandanya mereka lebih kuat dari mayat-mayat itu," kataku.
Aku membekukan kaki mereka agar tidak dapat berjalan dan kemudian kami menyerang mereka. Aku menggunakan Gladio Ignis dan juga Gladio Grando sebagai senjata.
Jumlah mereka lebih sedikit dari yang kami lawan sebelumnya, yaitu hanya 8 raksasa. Serangan mereka memiliki kekuatan yang sangat besar hingga bisa menghancurkan pilar-pilar di ruangan ini.
Ada raksasa yang melemparkan kapak ke arah Charlote, namun ditangkis oleh Umbra yang membentuk sebuah perisai. Charlote menyerang raksasa itu dan berhasil membunuhnya dengan menggunakan Ice Blast miliknya.
"Hebat sekali kamu Charlote," kata Laura.
"Terima kasih," ucap Charlote.
Kami terus melawan mereka hingga semua raksasa itu kalah. Ini juga cukup memakan waktu karena pertahanan mereka kuat sekali. Bahkan aku membutuhkan beberapa serangan untuk menembusnya.
Kulihat level Charlote juga sudah naik, ia sekarang level 32. Tapi sepertinya ia tidak sadar kalau sudah naik sebanyak ini.
"Charlote coba lihat levelmu sekarang," kataku.
Ia kemudian membuka jendela statusnya dan melihat levelnya sekarang.
"Level 32? Aku sekarang level 32," kata Charlote senang.
"Kerja bagus Charlote," puji Emilia.
"Terima kasih. Tanpa kalian aku tidak mungkin naik level sejauh ini," ujar Charlote.
Kami masuk ke area berikutnya. Area itu adalah taman bunga yang sangat luas. Dari sini aku bisa melihat pasukan penakluk yang sudah mendirikan tenda di kejauhan sana.
"Indah sekali, " kata Charlote kagum.
"Kita akan berkemah di sini. Lihat pasukan penakluk ada di sana," kataku.
"Baik master."
Setelah itu aku mengeluarkan tenda dari storage milikku dan Emilia mengeluarkan perlengkapan untuk memasak. Laura membantuku mendirikan tenda dan Charlote membantu Emilia memasak.
Normalnya petualang yang masuk ke dalam dungeon hanya membawa roti dan sup atau juga daging kering untuk perbekalan. Namun karena ada storage kami bisa memasak untuk makan.