Alchesia

Alchesia
Chapter 68 Keadaan Darurat



Raja dan ratu terlihat sedang memikirkan sesuatu.


“Aku masih tidak percaya kalau Zen bisa kalah dari pasukan iblis. Dia bahkan bisa melawan 100 orang pasukan elit sendirian,” kata raja.


“Emilia, sebenarnya iblis seperti apa yang menyerang desamu dan berapa banyak?” tanya ratu.


“Tidak banyak. Hanya 1 iblis saja, yaitu naga berkepala dua dan beberapa pasukannya,” jawab Emilia.  


Emilia mengatakan kalau ayah dan ibunya berhasil mengalahkan pasukan iblis dibantu dengan para penduduk. Namun begitu naga itu muncul, semuanya berubah menjadi lautan api.


Hanya naga itu yang tersisa, namun hanya dia sendiri yang menghancurkan desa dan membunuh penduduknya. 


“Kalau naga, itu memang mustahil,” kata raja.


Hingga saat ini, di Sakura Empire hanya beberapa kali melawan naga. Itupun harus menggabungkan kekuatan militer dan petualang. Zen juga pernah namun dengan bantuan kerajaan dan petualang.


Aku merasa tidak enak dengan mereka. 1 negara bergerak untuk melawan naga. Sedangkan kami hanya bertiga ketika melawan black dragon. Itu membuatku kembali berpikir mengenai kekuatan milikku dan juga Emilia.


“Lalu, kemana tujuan kalian selanjutnya apa?” tanya ratu.


Aku bingung akan menjawab apa, karena tujuan kami dari awal juga tidak terlalu jelas. Tapi yang pasti tujuan utama kami tidak berubah, yaitu raja iblis.


Sekarang kami sudah bertemu dengan semua pahlawan yang dipanggil, namun 2 dari mereka masih belum siap untuk pertempuran sesungguhnya. 


Kalau begitu, bisa dikatakan tujuan kami selanjutnya adalah menahan pergerakan pasuka iblis. Setidaknya hingga mereka semua benar-benar siap. Sejujurnya aku ingin segera mengalahkan raja iblis, namun kami tidak tahu kekuatannya.


Jika kami asal serang, ada kemungkinan kalau pasukan miliknya juga akan menyerang ke negara lain saat kami di sana. Ini sulit sekali.


Emilia, Laura, dan juga Charlote melihat ke arahku untuk memberitahu kalau mereka akan mengikuti semua keputusanku.


“Untuk sekarang, kami akan tetap berada di sini untuk sementara,” jawabku terpaksa.


“Kalian bisa tinggal di istana kalau begitu,” kata raja.


“Maaf, untuk itu saya menolak.”


Emilia, Laura, dan Charlote menganggukan kepala tanda setuju.


“Seperti kata Emilia, identitasnya harus tetap menjadi rahasia. Selain itu kami lebih bebas jika berada di luar,” kataku menjelaskan.


“Baiklah kalau itu keinginan kalian, tapi seperti yang ratu katakan tadi, jangan sungkan untuk meminta bantuan kami,” kata raja.


Setelah itu, kami pergi meninggalkan ruangan itu. Saat kami keluar, seorang pelayan datang dan membisikkan sesuatu kepada raja. 


“Segera kumpulkan para petinggi,” kata raja.


“Baik yang mulia.”


Sepertinya ada masalah gawat. Untuk sekarang kami tidak perlu ikut campur sebelum tahu situasinya. Kami berempat berjalan keluar istana. Yuna yang melihat kami telah selesai mengantar hingga ke penginapan.


Selama di jalan, aku melihat banyak sekali prajurit yang berjalan ke sana ke sini. Jumlahnya lebih banyak dari kemarin. Ada hal yang benar-benar penting yang terjadi dan kuharap tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kami tadi.


Di kamarku dan Emilia, kami mengadakan rapat darurat untuk membahas masalah yang paling penting untuk saat ini.


“Kalian tahukan masalah apa yang ingin kubahas?” tanyaku.


“Ya. Kami sudah tahu,” kata Laura.


Memang kami akan tinggal untuk sementara di Sakura Empire, tapi untuk langkah selanjutnya dan apa yang akan kami lakukan di sini itu belum ditentukan. Untuk sementara, level kami sudah cukup tinggi.


Namun itu sepertinya masih belum cukup apalagi kata-kata terakhir dari Lich adalah masih ada 7 dosa di pasukan iblis dan 2 jendral lain. Kemungkinan 7 dosa itu lebih kuat dari semua musuh yang kami hadapi hingga saat ini.


“Itu sudah pasti untuk level, tapi untuk informasi akan sulit. Selama ini, kebetulan saja kita bisa bertemu dengan pasukan iblis,” kata Laura.


“Ada kemungkinan pertempuran selanjutnya adalah di sini, master” kata Emilia.


Aku mengerti maksud Emilia. 2 pertempuran sebelumnya terjadi di tempat dimana pahlawan berada. Hutan elf dan ibukota Ellis adalah tempat 2 pertempuran sebelumnya.


“Tapi, ada kemungkinan juga di Tornia,” kata Charlote.


“Kita hanya melawan mereka di Ellis, berarti ada 2 kemungkinan,” kataku.


“Tornia dan Sakura Empire. Jika sampai terjadi di Tornia, mereka mungkin belum mampu,” kata Emilia.


Itu benar, bukannya aku berharap Sakura Empire diserang. Tapi lebih baik berada di dekat sini karena kami bisa membantu. 


“Kalau begitu kita meningkatkan level saja dan untuk informasi nanti,” kataku.


Emilia, Laura, dan Charlote setuju. Kemudian kami pergi menuju ke guild untuk mengambil misi.


Sesampainya di gulid, kejadian yang sudah sering terjadi ketika kami masuk ke guild kembali terulang. Kejadian itu adalah, 3 orang temanku diundang untuk ke party lain dan tentu saja mereka menolak.


Hal itu berakibat pada diriku yang dilihat dengan tatapan iri dan kesal. Namun Emilia membalas mereka dengan aura membunuhnya. Laura dan Charlote juga melakukan hal yang sama.


“Kalian, hentikan itu! Aku tidak apa-apa. Karena sering jadi aku sudah terbiasa. Tapi terima kasih,” kataku.


Aku belum pernah melihat Laura dan Charlote marah karena hal ini. Kalau Emilia selalu. Bukannya aku tidak mau membalas atau apa. Tapi kalau terjadi perkelahian akan menambah masalah yang tidak perlu.


Itu kukatan pada mereka bertiga. Mereka meminta maaf dan akan berusaha menahan diri. Sejujurnya tidak masalah jika tidak terjadi apa-apa.


“Selamat datang, apa ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis.


“Kami ingin mengambil misi,” kata Charlote.


Kami ingin Charlote belajar mengambil misi. Namun…


“Maaf, untuk sekarang, semua misi tidak bisa diambil.”


“Kenapa?” tanya Laura.


“Tadi pagi ada pengumuman untuk tidak bepergian keluar kota atau negara.”


Itu berarti saat raja menerima laporan tadi sesudah pertemuan dengan kami. 


“Lalu, apa penyebabnya?” tanya Emilia.


Resepsionis itu mengatakan kalau Liden menyatakan perang dengan Sakura Empire lagi. Ia tidak tahu penyebabnya, namun yang pasti ini perintah dari raja Liden.


Raja Liden sekarang adalah putra mahkota yang diceritakan raja tadi. Ia sekarang sudah menjadi raja selama 10 tahun. Banyak yang berpendapat kalau ia adalah raja yang tidak suka perang.


Tapi melihat hal ini, ada sesuatu yang janggal. Semua tidak percaya kalau Liden menyatakan perang. 


Karena tidak bisa mengambil misi, kami memutuskan untuk kembali ke penginapan. Di jalan, kami bertemu dengan Yuna dan yang lain. Yuna ingin membicarakan sesuatu dengan kami. Karena kamar kami sempit, akhirnya kami ikut Yuna ke istana.


Di istana banyak pejabat dan prajurit yang lalu lalang. Ini pasti karena pernyataan perang itu sehingga menyebabkan keributan. Bahkan ada beberapa senjata berat yang disiapkan.


Yuna dan lain hanya diam tidak mengatakan apa-apa. Lebih tepatnya mereka tidak ingin membicarakannya di sini.