Alchesia

Alchesia
Chapter 70 Lawan Misterius



Dari tempat istirahat, perjalanan segera dilanjutkan.


Di peta yang diberikan, perbatasan yang medan perang adalah sebuah kota kecil milik Sakura Empire dan juga sebuah benteng milik Liden. Jika dilihat dari jumlah, Sakura Empire lebih unggul. Tapi tidak dengan kekuatan militer.


Jika kota kecil, itu berarti hanya ada dinding pelindung kecil atau bahkan tidak ada. Ini akan menjadi perang yang melibatkan penduduk. Aku dan yang lain segera mempercepat langkah kami melalui hutan.


Ketika kami sudah dekat, terlihat gumpalan asap membumbung tinggi dan juga terdengar suara pertempuran. Kami segera berisap untuk bertarung. 


Ketika kami keluar dari hutan, Ignis segera meluncur ke arah pasukan Liden. Disusul oleh serangan dari Emilia. Sementara Laura dan Charlote menuju ke kota untuk mengobati yang terluka dan menjaga kota.


Seranganku tadi langsung menghancurkan barisan depan Liden. Pasukan Sakura Empire terlihat terdesak karena kalah jumlah. 


“Kalian mundur sekarang atau berhadapan denganku,” kataku.


Emilia juga meminta pasukan Sakura Empire untuk segera kembali ke kota. Ia juga meminta mereka untuk bersiap melakukan evakuasi pada warga kota.


Namun berbeda dengan pasukan Liden, mereka tetap melanjutkan pertempuran. Serangan mereka asal-asalan dan tidak terkoordinir. Ada yang aneh disini.


Meski begitu, serangan mereka sangat kuat. Hujan bola api yang digunakan oleh pasukan sihir Liden membuat beberapa pasuka Sakura Empire yang kembali ke kota terluka.


Untungnya bola-bola api yang mengarah ke kota dihentikan oleh Charlote. Tapi pasukan Liden masih terus mengejar pasukan Sakura Empire yang mundur. 


Tidak ada pilihan lain sepertinya, aku harus memanggil naga untuk membantu. Sementara Emilia membantu pasukan mundur, aku dan nagaku melawan pasukan Liden.


Pasukan Liden mulai gusar ketika aku memanggil naga. Mereka bergerak dengan lebih berhati-hati. Namun tetap saja mereka bukan lawan yang sesuai dengan nagaku.


Beberapa dari mereka melarikan diri dan kembali ke wilayah Liden. Tapi tetap saja ada yang masih berusaha melawanku. Tentu saja mereka kalah. Apalagi dengan datangnya Emilia.


“Emilia, kita sudah selesai di sini. Sekarang kita pergi ke tempat Laura dan Charlote.”


“Baik master,” kata Emilia.


Bari saja kami akan berjalan, seseorang menyerang Emilia. Orang itu mengenakan jubah merah dan juga topeng. Ia membawa 2 buah katana. 


“Master, itu…,’ kata Emilia sambil menunjuk ke arah katana orang yang menyerang kami.


Katananya dilapisi api berwarna merah. Itu sama dengan Blue Fire milik Emilia, hanya saja berbeda warna. Untuk kekuatan yang dimiliki dan seberapa kuatnya kami belum tahu.


“Master, izinkan aku yang melawan orang itu,” kata Emilia.


“Apa kau yakin melawannya sendiri?”


“Iya. Aku yakin.”


“Baiklah, tapi hati-hati dan jangan gegabah. Jika terlalu sulit segeralah mundur.”


“Baik master.”


Emilia mengeluarkan kedua katanya dan melapisinya dengan Blue Fire. Mereka saling menatap satu sama lain dan bersiap. 


TIIINGGGGGG


Katana mereka saling bertemu dan menghasilkan percikan api berwarna ungu. Emilia melompat mundur, namun dikejar oleh orang misterius itu.


Orang itu menembakan panah api ke arah Emilia. Dengan menggunakan 1 Mirror Image, Emilia menahan serangan itu dan melakukan serang balik.


Orang itu berusaha menghindari setiap serangan Emilia, tapi ia bukan lawan sepadan Emilia dalam hal kecepatan. Emilia berhasil memojokan orang misterius itu.


DUUUAAKKKK


Orang itu menendang Emilia menjauh dan sekali lagi menembakan beberapa anak panah. Kali ini Emilia menghindari serangan itu dengan mudah.


Tapi orang itu berhasil memanfaatkan celah saat Emilia menghindari serangannya dan menyerang Emilia dari jarak dekat. Ia melukai kaki kanan Emilia. 


Emilia juga berhasil melukai tangan orang itu meski dengan waktu serang yang singkat. Ia memang sangat cepat.


Mereka berdua kembali menjaga jarak dan bersiap untuk menyerang lagi. Orang itu sangat ahli mencari celah dan ia sepertinya terbiasa melakukan hal semacam ini.


Mereka saling beradu pedang untuk beberapa saat. Secara kekuatan mereka sekilas tampak seimbang. Keduanya masih memiliki stamina dan juga MP yang sangat cukup untuk bertarung.


Emilia sudah menunjukan 2 skill miliknya yakni Mirror Image dan Blue Fire. Sedangkan lawannya hanya menggunakan skill manipulasi api saja.


Mungkin ia masih memiliki kartu lain yang ada ditangannya. Selain itu ada hal lain yang kupikirkan, yaitu kenapa ia tidak melancarkan serangan ke arahku juga padahal aku juga masuk jangkauan skillnya.


Masing-masing dari mereka sudah terluka namun tidak ada tanda-tanda akan ada yang menyerah. Kuharap pertarungan ini jangan terlalu lama.


Atau itulah yang ia incar. Mengulur waktu untuk pasukan Liden yang mundur dan menyusun kekuatan kembali kemudian melakukan serangan susulan. 


“Ini gawat kenapa aku baru terpikirkan akan hal itu?” gumamku.


Jika aku menyusul mereka sekarang mungkin masih sempat tapi ada yang tidak beres dengan orang ini. Aku harus tetap di sini dan membantu Emilia jika ada sesuatu yang buruk terjadi. 


Mereka diam sesaat dan melapisi senjatanya dengan api yang lebih besar. Aku bisa merasakan panasnya dari tempatku berdiri. Padahal jarak antara mereka denganku sekitar 30 meter. 


Duel dengan api raksasa ini akan mengakhiri pertarungan mereka. Kemungkinan akan terjadi ledakan besar ketika mereka saling bertabrakan. 


Dalam sekejap, mereka melompat dan menabrakan api mereka masing-masing. Sesuai dugaan, muncul ledakan yang sangat besar dan juga sebuah bola api raksasa berwarna ungu. 


Ketika bola api itu menghilang, aku tidak melihat orang itu dimanapun. Untung saja sebelum terjadi ledakan, aku menggunakan Umbra untuk melindungi Emilia.


Aku berjalan ke tempat Emilia dan melihat kesekeliling. Aku tidak bisa menemukan orang itu dimanapun. Mungkin ia menggunakan serangan tadi untuk mundur dan menutupi jejaknya.


“Emilia, kamu tidak apa-apa?” 


“Ya master. Aku baik-baik saja. Hanya ada beberapa luka ringan.”


Aku membantu Emilia berdiri.


“Maaf master, aku gagal,” kata Emilia dengan nada kecewa.


“Tidak apa. Asal kamu baik-baik saja itu sudah cukup. Tapi serangan terakhir tadi bagaimana?”


“Aku tidak merasa mengenainya. Dia mungkin kabur atau masih bersembunyi di sekitar sini.”


“Begitu ya. Sekarang kita kembali ke kota dan bertemu kembali dengan yang lain.”


“Baik master.”


Kami mundur kembali ke kota. Aku masih penasaran dengan orang yang tadi melawan Emilia. Tapi yang jelas ia berada di pihak Liden.


“Emilia, ketika kau bertarung dengannya apa kamu merasakan sesuatu?”


“Seperti mengenalnya atau pernah melawannya?”


“Ya, seperti itulah.”


“Tidak sama sekali. Ini pertama kali aku melihat teknik dan gaya bertarung seperti itu.”


“Hmmm.”


“Maaf, aku tidak banyak membantu.”


“Tidak masalah. Kukira kalian saling kenal karena memiliki senjata dan skill yang mirip.”


Ketika kami sedang berjalan, aku merasa ada seseorang mendekat ke arah kami dari belakang. Ia berniat mengincar Emilia. Aku menoleh ke belakang dan menarik Emilia.


JLEEEEBBB


“Master!” teriak Emilia.


Orang itu datang kembali dan menyerang. Tapi setelah menusuk perutku ia mundur.