Alchesia

Alchesia
Chapter 32 Pelajaran



Emilia dan Laura datang ke tempatku berada. Luna juga menemani Laura datang ke tempatku.


"Master!"


Aku melambaikan tanganku.


"Sudah selesaikah Ciel?" tanya Laura.


"Mereka mundur untuk sementara waktu, tapi mereka pastinya akan kembali menyerang."


"Lalu kenapa mereka mundur?" tanya Emilia.


"Aku tidak tahu. Tapi aku tadi berduel dengan Regyus."


"Regyus?"


"Ia adalah pemimpin pasukan iblis yang menyerang ke kota ini."


"Kamu…?" tanya Luna terkejut.


Aku menganggukan kepala. Mungkin Luna masih tidak percaya dengan kekuatanku dan Emilia sekarang, jadi ia meragukan perkataanku.


Setelah itu kami kembali ke guild karena ada panggilan untuk para petualang agar berkumpul. Selain itu ada berita, kalau besok pasukan yang dikirim mengalahkan Black Dragon kembali.


Ketika kami tiba di guild, banyak petualang yang sudah berkumpul di situ. Mulai dari peringkat F hingga peringkat A. Bahkan Evan dan kelompoknya juga ada.


"Jadi ini yang masih bisa bertarung?" kata salah seorang petualang yang ada di situ.


Aku mengerti maksudnya. Melihat jumlah petualang yang sudah berkumpul di tempat ini, jumlah yang ada sekarang lebih sedikit dari kondisi normal. Selain karena ada yang tewas atau terluka, ada juga yang sedang pergi ke luar.


"Ada yang bisa memberitahu kenapa pasukan iblis bisa mundur kali ini?" tanya Teresia.


"Aku juga ingin tahu penyebabnya," kata seorang pria yang bertubuh besar.


Karena penasaran aku bertanya kepada Luna, "Siapa orang itu?"


"Ia adalah guild master di sini. Namanya Dave dengan class Berserker dan peringkat S."


"S?" tanya Emilia terkejut.


"Iya. Di kota ini hanya ada 3 orang peringkat S. Dave, raja elf, dan juga dewi pedang yang sekarang ada di ibukota Ellis."


Raja elf juga seorang petualang dulu. Setelah diangkat menjadi raja ia berhenti menjadi petualang. Selain itu si dewi pedang juga menjadi panglima kerajaan.


Selain itu pasukan penakluk Black Dragon kebanyakan peringkat A, jadi petualang yang tersisa kebanyakan peringkat B ke bawah. Tidak heran bila mereka kewalahan menghadapi raksasa.


Aku pikir mungkin di antara mereka belum ada yang pernah menaklukan dungeon. Mengingat dungeon sendiri jarang muncul karena invasi raja iblis ini.


"Luna apa kau tahu penyebab mundurnya pasukan iblis?" tanya Dave. Ia tahu Luna bersama pasukan elf yang berada di pusat pertempuran.


"Mungkin karena pemimpin mereka yang memberi perintah mundur."


"Pemimpin? Tidak satupun dari kami melawannya," kata Evan.


"Ada kok yang melawan dan mengalahkannya," kata Luna sambil menunjuk diriku.


Semua mata tertuju ke arahku.


"Apa? Ia peringkat C tidak mungkin ia ikut berperang," kata seorang petualang.


Petualang yang lain juga mengatakan hal yang sama. Dave memberi tanda agar mereka diam dan bertanya kepadaku mengenai apa yang dikatakan Luna.


"Benar," jawabku jujur. Aku tidak ada niat untuk merahasiaka ini dari awal. Aku hanya menunggu jika ada yang tanya saja.


Mereka semua tertawa. Emilia dan Laura terlihat kesal melihat mereka menertawakan diriku.


"Kau jangan berbohong. Siapa namamu?" tanya Dave.


"Ciel."


"Tunggu, kau dan 2 orang itu yang mengalahkan Evan di pertandingan kemarin kan?" tanya Dave.


"Ya."


Mereka semua terdiam setelah mendengar hal itu.


"Itu tidak mungkin. Pastinya mereka curang."


"Itu benar."


Beberapa petualang meributkan kalau aku curang ketika melawan Evan.


"Aku baru ingat ada surat dari Tornia," kata Dave sambil mengambil sebuah amplop dari sakunya.


"Apa isinya?" tanya seorang petualang.


"Mereka bertiga pernah menaklukan dungeon dan mengalahkan boss dungeon hanya bertiga. Selain itu, mereka juga mengalahkan guardian dungeon hanya berempat termasuk putri Rumia."


"Mustahil."


"Inilah yang sebenarnya. Surat ini ditulis oleh putri Rumia sendiri," kata Dave.


Ketika mereka masih meributkan surat itu, seorang pembawa pesan datang dan mengatakan kalau pasukan penakluk Black Dragon sudah kembali.


"Apa? Harusnya besok kan? Apa yang terjadi?" kata Dave.


"Ketika kami sampai Black Dragon sudah tidak ada. Kami menemukan jejak pertarungan di tempat itu."


Luna melihat ke arahku setelah mendengar hal itu.


"Jangan-jangan…," kata Luna.


"Itu benar. Kami yang mengalahkannya," kata Laura.


Kembali semua orang di tempat itu terkejut. Mereka masih tidak percaya dengan apa yang mereka dengan baru saja.


"Buktinya?" tanya Dave.


Kami tidak punya bukti berupa potongan dari tubuh Black Dragon karena ia sudah menjadi abu. Tapi Emilia mengeluarkan ryuken untuk menunjukannya.


"Itu pedang biasa kan?" kata Teresia.


Emilia kemudian mengaktifkan aura naga dari pedang itu. Semua orang di tempat itu tumbang. Ada yang pingsan dan juga ada yang tidak bisa berdiri karena ketakutan. Dave dan Evan juga termasuk. Hanya aku dan Laura yang tidak terpengaruh.


"Apa itu? Apa yang terjadi?" tanya Evan.


"Ini aku dapatkan dari Black Dragon," jawab Emilia.


"Berikan itu pada Evan!" kata Teresia.


"Maaf. Kalian bisa lihat sendiri kalau pedang ini tidak suka dengan kalian," kata Emilia.


"Hentikan putri. Kita bukan tandingan mereka bertiga," kata Dave.


Sebelum semakin rumit, aku meminta Emilia untuk memasukan pedangnya kembali.


"Jadi kalian sudah percaya?" tanyaku.


Dave bangkit berdiri dan berkata, "Bahkan untuk peringkat S sepertiku saja takut dengab pedang itu. Sebenarnya kalian peringkat apa?"


"Sudah kami katakan dari awal aku dan Emilia ini peringkat C. Serta Laura berperingkat A."


"Kalian berbohong bukan?" kata Teresia.


"Tidak. Tapi bagi kami itu hanya formalitas. Kalian tahu kan bagaimana menaikan peringkat?" kataku.


"Itu benar. Kekuatan kami tidak diukur untuk peringkat. Peringkat itu diperoleh setelah menjalankan misi, jadi bukan salah kami kalu kami memiliki kekuatan sebesar ini," sambung Emilia.


"Yang dikatakan mereka benar. Kekuatan tidak diukur dalam hal peringkat," jelas Dave.


"Lalu yang memanggil naga itu?" tanya Luna.


"Itu Ciel," jawab Laura.


Mereka makin terkejut mendengar hal itu.


"Bagaimana kalian bisa sekuat itu?" tanya Evan.


"Kami berjuang. Kami tidak seperti pahlawan yang mendapat banyak dukungan. Kami dari awal tanpa mempunyai dukungan hingga menaklukan dugeon sendiri."


"Itu benar. Ketika kami di Tornia, kami juga melatih pahlawan di sana. Kurang lebih orangnya juga sama dengan dirimu," kata Laura.


"Maksudnya?" tanya Evan bingung.


"Kalian terlalu memuja nama pahlawan hingga merasa kalau kalian kuat dan tidak terkalahkan," jelasku.


Sebenarnya Evan ini terlalu memuja keadilan sebagai pahlawan hingga lupa diri juga menurut yang kudengar dari banyak orang. Tapi tidak kukatakan karena aku belum tahu soal itu.


"Harusnya kalian bisa lebih kuat lagi. Tapi mungkin karena sudah merasa kuat jadi kalian hanya mengejar level. Sebenarnya kalian ini kurang pengalaman," sambung Laura.


"Pengalaman?" tanya Teresia.


"Ya."


Evan terdiam merenung. Laura membantu Luna berdiri setelah itu. Kami tidak ingin terlalu lama juga membahas ini sebenarnya, tapi ini demi Evan juga.