Alchesia

Alchesia
Chapter 19 Pelajaran



Rafael dan kelompoknya mendirikan tenda milik mereka dan juga milik Laura serta Mia di tepian kolam. Aku tidak mendirikan tenda karena kemungkinan aku akan berjaga malam. Emilia juga tidak karena ia ingin menemaniku.


Kami menyalakan api unggun dan memakan bekal yang kami bawa. Mia bertanya kepada Rafael dan kelompoknya bagaimana keadaan dunia kami. Rafael menceritakan beberapa hal begitu pula dengan yang lainnya. Ketika selesai makan aku dan Emilia pergi meninggalkan mereka.


Aku tidak terlalu suka jika berlama-lama dengan mereka. Emilia tahu akan hal itu dan ia menemaniku. Kami berdua duduk tidak terlalu jauh dari mereka, kami bahkan masih bisa mendengar suara percakapan mereka. Tidak lama kemudian Laura menyusul ke tempat kami.


“Bagaimana menurut kalian?”


“Mereka cukup kuat secara individu tapi untuk pertarungan kelompok mereka masih perlu banya belajar menurutku,” kata Laura.


“Saya juga setuju. Tapi secara individu, saya juga melihat ada beberapa kekurangan.”


“Apa itu Emilia?”


“Yang pertama Ruka, sebagai seorang assassin ia masih sangat lambat mengambil keputusan. Kemudian soal Richard, ia hanya asal maju tanpa memperhatikan sekitar.”


“Lalu menurutku juga Marie masih lama dalam memperhatikan kebutuhan tim. Putri Felicia juga masih belum bisa memilih sihir yang efektif,” sambung Laura.


“Menurutku juga seperti itu. Ditambah lagi soal Rafael yang masih ragu-ragu dalam bertarung,” kataku.


“Tapi setidaknya mereka mau belajar,” kata Laura.


Aku dan Emilia tersenyum.


Kami kemudian melanjutkan perbincangan. Kemudian dari tempat Rafael dan yang lain, Marie datang ke tempat kami. Aku tidak tahu kenapa ia datang ke tempat kami.


“Permisi nona Aura, maaf kalau mengganggu. Ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan.”


“Baiklah.”


Ternyata ia mencari Laura untuk meminta beberapa saran dan petunjuk untuk menjadi priest yang baik. Ia mungkin masih merasa bersalah karena pertarungan melawan hornet sebelumnya. Ini bagus untuknya sebagai support ia harus bisa melihat situasi sekitarnya.


Setelah itu Laura dan Marie kembali ke perkemahan.


“Kalian tidak tidur?” tanya Laura.


“Nanti,” jawabku.


Laura masuk ke dalam tenda bersama Mia dan juga Marie. Sementara 4 orang yang lain belum. Aku dan Emilia mendengar apa yang mereka perbincangkan.


“2 orang itu sombong sekali, hanya karena mereka yang menaklukan dungeon saja mau mengajari kita,” kata Ruka.


“Kenapa kita harus ke sini dengan petualang peringkat C. Bila dengan peringkat B atau A aku tidak akan terkena serangan,” ujar Richard dengan nada yang kesal.


“Bahkan gadis setengah binatang itu merasa lebih hebat dariku dalam penggunaan sihir,” kata Felicia.


“Pria bernama Lu itu juga aneh ia penyihir tapi bisa menggunakan mengeluarkan pedang dan menggunakannya dengan baik. Kenapa juga ada elf yang membantu si Lu itu?” kata Ruka.


“Mungkin nona Aura terkena hipnotis dari Lu agar mengikutinya,” jawab Richard.


Kami mendengar semuanya. Jika aku perhatikan Richard ini menaruh hati pada Laura. Selain cantik, ia juga baik dan kuat. Bagi penggemar game juga, elf adalah ras idaman untuk dijadikan pasangan karena kecantikan mereka. Hal yang sangat sering kulihat di game ataupun anime.


Emilia terlihat akan mengeluarkan pedangnya, namun aku menahannya agar tidak gegabah dan menahan diri. Aku tahu ia kesal tapi dunia ini masih membutuhkan mereka. Aku harap 4 pahlawan yang lain tidak seperti mereka.


Kemudian mereka pergi tidur. Aku dan Emilia berjaga di sekitar perkemahan. Beberapa gobli datang menyerang tapi kamu berdua mengalahkannya. Sebelumnya kami tidak menjelajah jauh dari kola mini. Kami hanya sampai ke ruangan Roxas maksimal. Besok kami akan melanjutkan perjalanan lebih dalam.


Besok juga beberapa petualang dari guild dikirim untuk melakukan penjelajahan yang lebih dalam. Kami mungkin akan bergerak bersama mereka agar lebih efektif. Mia juga pernah mengatakan kalau dungeon yang bossnya sudah dikalahkan akan memunculkan 1 monster penggantinya namun lebih lemah.


Setelah memikirkan adanya kemungkinan kami akan berhadapan dengan monster itu besok, jadi aku meminta Emilia beristirahat dahulu. Dari dalam tenda, Mia keluar dan datang ke tempatku.


“Kamu tidak tidur?”


“Tidak. Aku akan berjaga. Tadi beberapa goblin datang, tapi aku dan Emilia mengalahkan mereka.”


“Jadi Emilia berjaga tadi?”


“Ya. Tapi kemudian aku ingat kalau mungkin kita mungkin akan menghadapi pengganti boss atau guardian. Jadi kuminta ia untuk tidur.”


“Seperti itu ya. Ada yang ingin kubicarakan denganmu. Kemarin Laura datang dan mengatakan kalau kalian bertiga akan pergi ke Ellis. Apa itu benar?”


“Itu memang benar. Ini adalah misi terakhir kami di sini. Setelah misi ini selesai kami akan berangkat.”


“Mendadak sekali. Secara pribadi apa alasanmu pergi?”


“Aku tidak bisa menjawabnya. Tapi yang bisa kukatakan adalah untuk bertahan hidup.”


“Bagaimana dengan yang lainnya?” tanya Mia.


“Kalau Laura, ia ingin pulang ke kampung halamanya di Ellis, sedangkan Emilia ingin mengikutiku kemanapun aku pergi.”


“Untuk Laura aku mengerti, sedangkan kamu dan Emilia tidak.”


“Maaf hanya itu yang bisa kuberitahukan.”


“Tidak apa.”


Kemudian Mia kembali ke tendanya.


Ketika mereka bangun, para petualang yang dikirim guild untuk menjelajah datang. Jumlah mereka cukup banyak, lebih banyak dari waktu kami datang. Aku juga melihat Rick diantara mereka.


Mia segera menemui pemimpin tim penjelajah dan meminta agar kami dapat bergabung. Permintaan itu disetujui. Aku kira mungkin karena ada party pahlawan di sini jadi mereka setuju.


Kami semua melanjutkan perjalanan. Richard bergabung dengan pasukan paladin. Laura dan Marie bergabung dengan tim priest. Lalu putri Felicia dengan tim penyihir bersama Mia. Ruka dan Rafael bergabung dengan tim penyerang. Sementara itu aku dan Emilia begerak terpisah dengan rombongan.


Kami bertugas untuk memantau bersama dengan beberapa orang. Rombongan itu sempat beberapa kali di serang oleh monster, tapi mereka berasil mengatasinya. Aku dan Emilia juga menghadapi beberapa monster di perjalanan.


 


Kami semua terus bergerak semakin dalam. Hingga kami tiba di sebuah ruangan yang sangat besar dan luas dengan lantai bebatuan.


“Ruangan apa ini?” tanya Marie kepada Laura.


“Aku juga tidak tahu. Kami tidak masuk lebih dalam sebelumnya.”


Aku punya firasat buruk tentang ruangan ini.


“Emilia siapkan pedangmu, aku merasakan ada yang tidak beres dengan tempat ini.”


“Baik master.”


Tidak berapa lama kemudian terjadi gempa bumi. Bebatuan di bawah kami mulai bergerak. Beberapa petualang terlihat panic, begitu pula dengan kelompok Rafael. Ini dia, kami akan menghadapi guardian.


Lantai di ruangan itu hancur. Munculah sesosok monster raksasa dari bawah tanah. Kami tidak bisa melihatnya dengan jelas karena debu. Beberapa penyihir menggunakan sihir angin untuk menyingkirkan debu itu.


Dan ketika debu itu menghilang, sesosok kura-kura natu raksasa terlihat. Kami akan melawan monster itu. Bagi Rafael dan yang lainnya ini adalah ujian yang harus mereka hadapi.