Alchesia

Alchesia
Chapter 39 Kudeta ?



Setelah pertandingan itu, beberapa bangsawan berusaha mendekatiku dan Emilia. Mereka ada yang menawarkan uang, jabatan, dan yang lainnya. Tapi tentu saja kami menolaknya.


Bahkan diantara pasukan kerajaan ada juga yang meminta kami melatih mereka dan kami juga menolaknya. Ini bukan karena kami tidak suka dengan mereka, tapi karena ada hal yang lebih penting untuk dilakukan.


Hari sesudah pertandingan dengan jendral. Aku dan Emilia sedang berada di kamar.


“Emilia, kita tidak bisa terus menerus tinggal di sini,” kataku.


“Aku mengerti maksud master. Jika kita terus di sini, kita tidak dapat bergerak kan?”


“Iya. Selain itu kamu bisa lihat sendiri apa yang dilakukan oleh para bangsawan dan juga prajurit kepada kita. Maka dari itu, hari ini kita akan keluar dari istana dan tinggal di penginapan saja.”


“Baik. Aku akan ikut master,” sahut Emilia.


Kemudian aku dan Emilia pergi menemui Charles dan juga Charlote. Kami mengatakan mengenai pembicaraanku dan Emilia. Pada awalnya mereka menolak, tapi setelah aku menjelaskan situasinya mereka setuju.


Kemudian Charles dan Charlote menemui raja untuk memberitahu kalau kami akan pergi meninggalkan istana. Kami menunggu di kamar sementara itu.


Beberapa saat kemudian mereka berdua kembali dan menyampaikan kalau raja juga sudah menyetujuinya. Setelah mendengar hal itu, aku dan Emilia membereskan barang-barang kami ke dalam Storage.


Kami bedua diantar oleh Charles dan Charlote menuju ke luar. Mereka terlihat sedih ketika kami akan pergi.


“Kita masih bisa bertemu. Kami hanya tingga di luar istana saja,” kataku.


“Iya itu benar, kami masih akan di kota ini,” sambung Emilia.


“Baiklah,” kata Charlote.


“Sebelum kalian pergi, apa kalian tahu kalau Evan beserta dengan kelompoknya akan tiba di ibu kota besok?” tanya Charles.


“Iya. Mereka juga akan datang bersama dengan beberapa petualang termasuk salah satu diantaranya adalah teman kami,” jawabku.


“Aku dengar mereka hanya mengantar Evan sampai masuk ke dalam kota saja. Setelah itu mereka berpisah,” jelas Charlote.


“Benarkah? Berarti kita bisa bertemu dengan Laura tanpa ke istana master,” kata Emilia senang.


“Iya. Kita tidak perlu bertemu dengan para bangsawan dan para prajurit itu,” kataku.


Charles dan Charlote terlihat cemberut. Sepertinya kami salah bicara.


“Tapi kami sesekali akan datang diam-diam untuk menemui kalian,” kataku.


“Itu benar,” sambung Emilia.


“Baiklah, sampai jumpa lagi,” kata Charlote sambil melambaikan tangan.


Aku dan Emilia kemudian pergi mencari penginapan. Kami bertanya kepada beberapa orang tentang penginapan dengan harga terjangkau untuk petualang. Kebanyakan dari mereka menyarankan untuk menginap di Silver Cat.


Kemudian kamu berdua mencari penginapan itu, namun sebelum itu kami pergi untuk memeli makan siang. Kota ini sangat besar sehingga kami kesulitan mencari Silver Cat.


Kami bertanya kepada beberapa orang arah menuju Silver Cat. Setelah beberapa waktu kami akhirnya menemukan tempat itu. Tempat itu terletak agak jauh dari istana ternyata.


Tempat itu cukup besar untuk penginapan petualang. Di dalam banyak sekali petualang yang keluar masuk. Aku dan Emilia memesan kamar.


Aku bertanya kepada Emilia apakah ingin kamar masing-masing atau seperti biasa dan ia menjawab seperti biasa. Akhirnya aku memesan 1 kamar dengan 2 tempat tidur. Harga untuk kamar yang kami pesan adalah 20 tembaga permalam.


Setelah membayar kami langsung menuju ke kamar. Di dalam kamar kami membicarakan rencana kami selanjutnya tapi sebelum itu ada hal yang lebih penting yang ingin kami bicarakan.


“Iya. Ada yang aneh. Aku semat mendengar kalau ada beberapa bangsawan oposisi sedang mengumpulkan kekuatan dan aku rasa merekalah yang meminta bantuan kepada kita.”


“Jadi kamu mendengarnya juga,” kataku.


“Lalu apa rencana kita selanjutnya master?” tanya Emilia.


“Untuk sementara kita awasi dulu. Ada kemungkinan juga mereka membujuk Evan untuk bergabung dengan mereka.”


“Jadi musuh kita sekarang bukan hanya pasukan iblis, tapi juga manusia.”


Sebenarnya aku tidak ingin kami terlibat dalam permasalahan politik suatu negara tapi karena ada Charles dan juga Charlote, kami mau tidak mau harus terlibat.


Aku juga ingin tahu alasan mereka mengumpulkan kekuatan. Yang aku khawatirkan adalah mereka akan melakukan kudeta kepada raja.


Keesokan harinya, aku dan Emilia menunggu kedatangan Evan di gerbang kota. Ketika kami sampai, jendral dan beberapa pasukannya sudah ada di sana. Aku dan Emilia memilih untuk tidak mendekat lagi. Kami mencari tempat lain untuk menunggu.


Tidak lama kemudian, Mereka datang. Selain petualang, mereka juga ditemani oleh beberapa pasukan elf. Itu pasti untuk mengawal Teresia pikirku.


Jendral dan pasukannya menyambut mereka serta mengantar ke istana. Laura yang ada di rombongan itu memilih tidak ikut setelah melihatku dan Emilia dari kejauhan.


Setelah berpisah dengan Evan dan yang lain, Laura datang menghampiri kami berdua. Dia terlihat sangat senang ketika bertemu dengan kami. Selain itu ia juga sengan karena dugaan kami berdua salah atau lebih tepatnya belum terjadi.


Kami mengajak Laura ke sebuah restaurant untuk makan. Sambil makan, kami saling menceritakan kejadian yang kami alami masing-masing ketika terpisah.


Laura menceritakan kalau dirinya mengalami beberapa masalaj saat keberangkatan. Teresia melarang Laura untuk ikut dengan alasan untuk menjaga kota. Tapi itu semua hanya pengalihan atas kekalahan Evan sebelumnya.


Laura bisa berangkat karena mendapat rekomendasi dari Dave dan juga untuk menemuiku di ibukota. Laura datang bukan sebagai pengawal Evan melainkan sebagai orang yang pergi ke tempat yang sama.


Aku dan Emilia kemudian menceritakan pertemuan kami dengan Charles serta Charlote. Lalu siapa mereka hingga pertandingan dengan jendral dan kejadian setelahnya.


Aku dan Emilia tidak menceritakan rencana para bangsawan terlebih dahulu karena kita sedang berada di luar. Setelah makan kami pergi menuju ke Silver Cat.


Ketika kami ingin memesan kamar untuk Laura, mereka menawarkan kami sebuah kamar dengan 3 tempat tidur. Emilia dan Laura setuju dengan kamar itu. Lalu aku memesan kamar itu.


Aku dan Emilia kembali ke kamar kamisebelumnya untuk mengambil beberapa barang. Setelah itu kami menuju kamar kami yang baru.


Setelah kami masuk, Laura sudah menunggu kami.


“Selain itu ada informasi apa lagi?” tanya Laura.


“Darimana kamu tahu?” tanya Laura.


“Ketika menjemputku tadi kalian bersembunyi, selain itu perbincangan kita tadi seakan-akan sengaja dihentikan,” jawab Laura.


“Memang hebat peringkat A,” kataku.


“Tidak…. Itu hanya…,” kata Laura malu.


Aku lalu menceritakan mengenai masalah para bangsawan yang merekrut kami untuk bergabung dengan mereka. Serta aku juga menceritakan adanya kemungkinan kudeta.


Laura mengerti tentang apa yang kami katakan. Dia juga tahu kalau kami akan berhadapan dengan Evan dan kelompoknya lagi.


“Sekarang apa rencana kita?” tanya Laura.


“Untuk sekarang kita hanya mengawasi mereka dulu,” jawabku.