Alchesia

Alchesia
Chapter 57 Awal Penaklukan Yuna



Malam harinya, ketika teman-temanku sudah tertidur, aku mengeluarkan relik glyph yang sudah aku dapatkan dari Lich King. Aku mau mengambil kekuatan dari relik itu. Seperti biasa setelah kuhancurkan, aku menyerap kekuatan glyph yang keluar dari dalam relik itu.


Glyph Fulgur telah diperoleh.


Ketika aku membaca fungsi dari glyph ini, ternyata ia digunakan untuk mengeluarkan sihir listrik. Satu lagi glyph sihir aku dapatkan. Aku jadi penasaran apa ada glyph senjata lain selain Gladio dan Arcus. Soalnya aku baru memiliki 2 itu saja untuk senjata.


Keesokan paginya, para petualang yang akan berangkat untuk menjalankan misi penaklukan dungeon telah berkumpul di depan guild. Kalau kulihat sekilas mungkin berjumlah 100 orang lebih yang ikut dalam misi.


Aku dan kelompokku juga datang ke guild namun kami tidak masuk ke dalam dan menunggu kelompok penakluk ini berangkat. Kami berada di dekat salah satu tempat makan yang berada di situ.


Beberapa penduduk juga datang ke depan guild. Kurasa mereka mungkin penasaran dan ingin melihat dari dekat kelompok yang akan menaklukan dungeon ini.


Tempat ini jadi seperti festival karena saking ramainya. Bahkan beberapa toko tutup hanya untuk melihat keberangkatan para petualang ini saja.


Ini mengingatkanku ketika menaklukan dungeon kedua dulu. Kami juga berangkat dengan kelompok besar seperti ini, tapi para penduduk di kota tidak sampai berkumpul dan menjadikannnya sebuah tontonan.


Aku melihat ada petualang yang mengenakan perlengkapan yang terlihat sangat bagus dan sepertinya harga dari perlengkapannya juga mahal. Ada juga yang mengenakan perlengkapan yang biasa saja, tapi kelihatanya ia petualang dengan peringkat atas karena tubuhnya penuh dengan luka.


"Sepertinya ini akan lebih baik daripada waktu kita masih berada di Tornia, master," kata Emilia.


"Ya. Kurasa kamu benar."


"Persiapan mereka juga sangat baik. Selain itu sepertinya banyak petualang berpengalaman yang ikut serta dalam misi ini," kata Laura.


"Jadi mereka pasti bisa menyelesaikan misi ini?" tanya Charlote dengan polosnya.


"Ya. Tapi masih ada kemungkinan gagal juga," jawab Emilia.


Charlote memiringkan kepalanya kesamping dan berkata, "Maksudnya?"


"Maksud Emilia adalah sekarang bergantung pada medan dan juga monster jenis apa di dalam dungeon," jelas Laura.


Sejujurnya aku merasa khawatir dengan misi penaklukan ini. Selain itu aku juga merasa mereka akan kesulitan ketika berada di dalam dungeon. Terutama adalah bagian boss dari dungeon itu.


Sayangnya boss dungeon hanya muncul sekali dan setelah di kalahkan, ia akan muncul sebagai guardian dungeon di dungeon lain yang lebih sulit dari sebelumnya. Itu membuat para petualang tidak memiliki informasi dari setiap boss dungeon.


Setelah itu, seseorang pria paruh baya dengan armor lengkap keluar dari bangunan guild. Ia membawa perisai kecil dan sebuah palu yang sangat besar. Orang tampak gagah dengan perlengkapannya itu. Dilihat dari ekornya ia seorang manusia harimau.


"Guild master!" kata beberapa orang petualang yang berkumpul di situ.


"Apa ia yang akan memimpin misi ini?" bisik mereka.


"Jadi dia guild master di kota ini dan ia juga yang akan memimpin dalam misi penaklukan dungeon ini," kataku dalam hati.


Selain ia beberapa orang juga keluar dari bangunan guild mengikutinya. Mereka juga memakai perlengkapan lengkap.


"Misi kali ini aku yang akan memimpin pasukan penakluk dungeon ini. Sekarang kita berangkat menuju dungeon itu," kata guild master.


Pasukan penakluk dungeon akhirnya berangkat. Mereka terlihat sangat bersemangat sekali untuk menjalankan misi kali ini.


"Master…," bisik Emilia.


"Ya. Kita juga akan berangkat. Tapi sebelum itu kalian pakai jubah ini."


"Ini untuk apa Ciel?" tanya Laura setelah menerima jubah itu.


"Ini jubah untuk kamuflase, aku baru saja selesai membuatnya," jawabku.


"Coba master punya ini waktu kita ada di Ellis. Pasti akan jadi lebih mudah untuk menyusup," kata Emilia bercanda.


"Ya mau bagaimana lagi. Bahan yang kubutuhkan ada di Royal Dungeon. Jadi aku baru bisa membuatnya sekarang."


Jubah itu berwarna hitam dengan garis putih pada bagian bawahnya. Ia juga memiliki tudung kepala.


Setelah memakainya kami segera berangkat mengikuti pasukan penakluk. Jubah ini membuat kami tidak terdeteksi kecuali menggunakan skill tingkat A atau S.


Serta memiliki kemampuan penyembuh walau untuk luka ringan. Hal itu bertujuan agar Laura hanya menyembuhkan luka berat karena itu membutuhkan mana yang cukup banyak.


Kami melewati hutan tempat kami berlatih bersama Charlote kemarin. Terus ke arah dalam hingga kami tiba di sebuah sungai. Aku baru tahu kalau ada sungai di tempat ini karena kemarin kami tidak masuk jauh ke dalam.


Kami mengikuti aliran sungai itu. Tidak lupa aku juga meninggalkan petunjuk untuk jalan kami kembali. Aku hanya berencana tidak untuk berlama-lama di dalam dungeon.


Setelah beberapa lama, kami akhirnya tiba di jalan masuk dungeon itu. Jalan masuknya adalah mulut gua yang sangat besar. Mungkin sekitar 20 meter untuk tingginya. Umumnya hanya sampai 5 meter saja tapi ini 4 kali lipatnya.


"Sepertinya monster di dalam berukuran sangat besar," kata seorang petualang.


"Ya. Ini lebih besar dari orc atau ogre. Apa mungkin ada naga di dalam?"


"Aku harap tidak ada. Aku belum pernah melawan mereka."


"Bukan hanya kau, tapi kebanyakan dari kita belum pernah."


Sepertinya mereka takut dengan monster jenis apa yang di dalam. Tapi kalau dibandingkan dengan kami yang pernah melawan naga, ini tidak ada apa-apanya.


Selain itu kurasa monster di sini kemungkinan sebesar Manticore yang pernah kami lawan dulu. Tapi itu pastinya lebih lemah dari yang sebelumnya.


Kulihat Yuna dan party miliknya juga sedang berkumpul bersama dengan guild master.


"Pahlawan Yuna, ini misi penaklukan dungeon pertamamu bukan?" tanya guild master.


"Ya. Bukan hanya aku saja, tapi juga partyku."


"Nanti bila kita menghadapi boss dan situasi menjadi bahaya, aku minta kalian segera mundur."


"Kau meremehkan kami?" tanya salah seorang dari anggota party Yuna.


"Jika kalian tewas, maka kerajaan ini akan berakhir. Terutama kau pahlawan. Bukan hanya kerajaan, tapi seluruh dunia ini."


"Aku mengerti. Kami akan segera mundur jika situasinya menjadi sangat berbahaya," kata Yuna.


Tidak kusangka kalau Yuna akan setuju dengan hal itu. Sepertinya ia tahu maksud dari guild master. Jika situasi berbahaya itu akan menunjukan seberapa kekuatan Yuna dan partynya sekarang hingga mereka tidak bisa mengatasinya.


Selai itu kurasa guild master tahu kalau bertarung sambil melindungi itu sangat sulit dan bahkan akan menjadi beban. Makanya ia meminta Yuna dan partynya mundur jika berbahaya.


"Baiklah. Kita akan masuk sekarang. Bersiaplah untuk bertarung!!"