Alchesia

Alchesia
Chapter 66 Keluarga Emilia 1



Pagi harinya, sebelum pergi ke istana, Aku, Emilia, Laura, dan juga Charlote sarapan terlebih dahulu. Sejak kami pulang dari acara semalam, belum ada yang membahas masalah ini. Seolah-olah semuanya memilih diam agar tidak menyinggung masa lalu Emilia.


Di tengah keheningan itu, Emilia berkata kalau ia tidak apa-apa. Kami tidak perlu sungkan untuk bertanya atau berbicara seperti sebelumnya.


“Aku sendiri tidak tahu hubungan yang kumiliki atau kedua orang tuaku dengan keluarga kerajaan di sini, jadi kalian tenang saja.”


Seperti itulah yang ia katakan dengan tersenyum. Meski begitu tampak dari raut wajahnya menunjukan kecemasan sejak kemarin.


Setelah sarapan, kami kembali ke penginapan dan menunggu Yuna menjemput.


Di depan pintu kamarku dan Emilia, Emilia tiba-tiba menggenggam tanganku.


“Ada apa Emilia?” tanyaku bingung.


“Maaf membuat master dan yang lain khawatir, sebenarnya ada yang ingin aku katakan pada master,” kata Emilia pelan.


Laura dan Charlote mengerti kalau Emilia ingin berbicara secara pribadi denganku. Jadi mereka berdua masuk ke kamar mereka


Aku dan Emilia kemudian duduk di atas kasur kami masing-masing


“Emmm… Master….”


“Ya?”


Kemudian Emilia diam untuk beberapa saat.


Dia masih kebingungan untuk mengungkapkan beban yang berada di dalam hatinya. Aku tetap menunggunya.


Emilia menarik nafas panjang.


“Master, bila aku nanti merupakan keluarga bangsawan atau kerajaan, apa aku boleh tetap disisi master?”


Jadi itu yang ia pikirkan dari kemarin. 


“Tentu saja, kenapa tidak? Charlote juga menemani kita dalam perjalanan meskipun ia seorang putri.”


“Bukan itu yang aku maksudkan. Suatu saat nanti, ketika kembali ke duniamu, apa aku tetap boleh ikut?”


“Kalau itu, apa kamu ingin ikut aku ke sana?”


Pertanyaan dijawab pertanyaan. Soalnya aku sendiri juga tidak bisa asal bawa orang ke sana. Jika Emilia menginginkannya itu tidak masalah.


“Aku ingin tetap bersama master. Meskipun harus ikut master ke dunia sana,” jawab Emilia tanpa ragu.


“Nah…, kamu sudah dapat jawaban dari pertanyaanmu. Untukku sendiri, selama kamu bahagia, kamu bebas untuk ikut denganku, Emilia.”


Emilia tersenyum. 


Sebenarnya, samar-samar aku bisa merasakan kalau Laura dan Charlote menguping pembicaraan kami.


Beberapa saat kemudian Yuna datang menjemput kami. Padahal cukup jalan kaki saja, tapi mereka sampai menjemput menggunakan kereta kuda. 


Sesampainya di istana, kami semua dibawa menuju ke ruangan raja dan ratu. Ruangan yang digunakan bukan ruang singgasana melainkan ruangan pribadi keluarga kerajaan.


Mengingat topik yang akan dibahas kali ini adalah masalah pribadi keluarga, ini jadi pilihan yang tepat. Selain itu Yuna mengatakan kalau raja dan ratu mengosongkan jadwal mereka hari ini demi membicarakan masalah Emilia.


“Permisi yang mulia, saya membawa tamu,” kata Yuna.


“Silahkan masuk.”


Di dalam ruangan itu hanya terdapat raja dan ratu. Pangeran dan putri tidak terlihat di sini.


“Terima kasih Yuna,” kata ratu.


“Sama-sama. Kalau begitu kami akan pergi latihan,” jawab Yuna.


Jadi Yuna dan yang lain tidak ikut dalam pembicaraan ini. Sepertinya ini benar-benar masalah pribadi keluarga kerajaan.


“Kalian semua silahkan duduk,” kata raja.


“Terima kasih.”


Aku kemudian menceritakan bagaimana kami bertemu. Dimulai dengan ketika aku membeli Emilia di pasar budak. Hingga ia menemani perjalananku. 


Aku tidak menceritakan pertemuan kami dengan Rinoa ataupun mengenai kekuatan yang kami dapatkan selama perjalanan. 


“Jadi seperti itu ya. Itu sungguh berat untukmu,” kata ratu sambil menatap Emilia dengan sedih.


“Itu tidak masalah yang mulia. Saya merasa beruntung bisa bertemu dengan master. Bila tidak, entah apa yang akan terjadi pada saya saat ini,” jawab Emilia.


Emilia mengatakan kalau sebelum bertemu denganku, ia belum pernah dibeli. Banyak orang yang tidak menyukainya karena dia berbeda dengan manusia serigala yang lain. 


Itu menandakan kalau mereka tidak tahu apa-apa. Selain itu waktu pertama kali bertemu, Emilia juga sedang sakit. Mungkin mereka berpikir kalau akan membuang-buang uang ketika membeli Emilia.


“Emilia, bagaimana kamu bisa menjadi budak?”


Emilia bercerita kalau dulu ia tinggal bersama orang tuanya di sebuah desa hingga ia berumur 14 tahun. Desa itu sangat indah dan damai. 


Namun semuanya hancur ketika pasukan iblis menyerang. Kedua orang tua Emilia mengorbankan diri untuk menyelamatkan Emilia dan beberapa anak yang lainnya.


Mereka yang selamat berpencar ke berbagai tempat. Emilia bersama seorang temannya yang merupakan manusia setengah kucing pergi bersama. Nama teman Emilia adalah Tamaki.


Emilia dan Tamaki pergi ke beberapa kota untuk mencari tempat tinggal. Hingga akhirnya mereka sampai di sebuah desa.


Di desa ini mereka kembali bertemu dengan orang-orang dari desa Emilia dan Tamaki. Mereka kebanyakan tinggal di desa ini.


Lingkungan dan pemandangan yang sama dengan desa mereka sebelumnya. Serta penduduk yang ramah, membuat mereka memilih untuk menetap di desa itu.


Itulah yang Emilia dan yang lain pikirkan. Sebuah tempat tinggal baru yang sama dengan desa mereka sebelumnya.


Kehidupan mereka kembali berjalan normal seperti biasa. Hal itu berlangsung selama setengah tahun lamanya sejak Emilia dan Tamaki tiba.


Namun beberapa saat kemudian keanehan terjadi. Beberapa penduduk desa menghilang secara misterius pada malam hari. Saat pagi mereka sudah ditemukan tidak bernyawa.


Hal ini membuat gempar penduduk desa. Selama seminggu sekali penduduk desa menghilang dan ditemukan tewas. Masalahnya adalah yang menjadi korban adalah para pendatang.


Emilia dan Tamaki yang tidak ingin kehidupan baru mereka hancur kembali berusaha mencari tahu penyebabnya. Selama seminggu, mereka berdua tidak tidur. Namun hasilnya nihil.


Tapi, pada hari ke delapan, Tamaki melihat ada beberapa orang masuk ke dalam salah satu rumah penduduk yang merupakan pendatang. Mereka menggunakan jubah hitam dan memakai topeng tengkorak.


Tamaki segera memanggil Emilia. Kemudian mereka mengikuti orang-orang itu hingga tiba di dekat sebuah gua. 


Sebelum orang-orang misterius itu masuk, Emilia dan juga Tamaki segera berlari untuk menyelamatkan orang yang diculik itu. Terjadi sedikit pertarungan, namun untungnya Emilia dan Tamaki pernah berlatih seni pedang.


Setelah berhasil menumbangkan para penculik itu, karena penasaran Tamaki membuka topeng mereka. 


“Emilia, mereka ini…,” kata Tamaki.


Para penculik itu rupanya adalah penduduk desa. Emilia menanyai salah seorang dari mereka yang masih sadar.


“Kenapa kalian melakukan ini?”


“Ini untuk persembahan pada si kembar....”


Setelah mengatakan itu, pada kulit orang itu muncul tulisan aneh. Beberapa saat kemudian orang itu tewas. Dari situ Emilia dan Tamaki tahu kalau itu kutukan.


Emilia, Tamaki, dan penduduk yang mereka selamatkan segera kembali ke desa untuk memberitahu yang lainnya. Tapi dari kejauhan, terlihar asap membumbung tinggi yang berasal dari desa.


Ketika sampai, mereka melihat desa diserang oleh pasukan Tornia. Ada yang dibunuh namun ada juga yang ditangkap. Emilia dan Tamaki segera berlari meninggalkan desa. Sementara penduduk yang mereka selamatkan tertangkap ketika mencoba lari.


Di pelarian mereka, Emilia dan Tamaki bertemu dengan pasukan Tornia. Tamaki berhasil melarikan diri, namun Emilia tertangkap karena sihir es.


Emilia dan para penduduk yang tertangkap dibawa menuju ibukota. Disini Emilia dan yang lainnya disidang. Para penduduk asli dijatuhi hukuman mati, sedangkan para pendatang dijadikan budak.


Meskipun Emilia dan yang lain mengatakan kalau mereka juga korban, namun kerajaan tidak mempedulikan hal itu. 


Ini adalah bagaimana Emilia bisa menjadi budak. Emilia juga mengatakan kalau selama ini ia masih mengingat Tamaki.