
"Lanjut atau kembali, Ciel?" tanya Laura.
Kami sekarang bisa lanjut namun bisa juga untuk mundur. Bila lanjut, kami mungkin bisa menyelesaikan masalah yang ada di kota ini. Namun, bisa juga kami mundur untuk bergabung dengan Evan dan yang lain nantinya.
"Berapa jumlah potion yang tersisa?" tanyaku.
"Sekitar 6 untuk penyembuh dan 5 untuk mana," jawab Laura.
"Lalu untuk makanan dan minuman?"
"Bisa untuk 4 hari master," jelas Emilia.
"Baiklah kita maju saja sekarang," kataku.
Kami melanjutkan penyelidikan kami di istana yang sekarang telah menjadi dungeon ini. Aku ingin tahu monster macam apa yang ada di dalam sini.
Sepanjang jalan kami hanya melihat patung kesatria yang ada di kiri dan kanan jalan. Ada yang membawa pedang, ada yang membawa tombak, dan ada juga yang membawa busur panah.
Aku merasa tidak enak ketika sedang berjalan melalui lorong. Selain diriku, Emila dan Laura juga merasakan hal yang sama tidak enaknya.
Namun kami tetap melangkah maju walau keadaannya seperti itu.
Kami berjalan dengan 1 barisan, aku berada di depan, kemudian Laura, dan di bagian belakang ada Emilia. Ia berada di belakang untuk mengantisipasi serangan kejutan.
Aku tetap menggunakan Luminatio untuk berjaga-jaga dan juga Umbra untuk mengcover Laura. Selain itu aku juga menggunakan Gladio sebagai senjata.
Ketika kami memasuki sebuah ruangan yang besar, patung-patung tadi mulai bergerak dan menyerang kami. Mereka bergerak sama persisi dengan gerakan pasukan yang sedang menyerbu.
Pemanah berada di belakang, lalu pembawa pedang di tengah, dan pengguna tombak di depan. Mereka bergerak dengan sangat rapi.
Kami bertiga dihujani dengan tembakan panah, sementara pasukan tombak terus maju mendekati kami. Aku tidak melihat pergerakan dari pasukan pedang.
Panah-panah yang mengarah kepada kami di tangkis oleh Laura menggunakan Holy Wall. Untuk menyerang balik aku menggunakan Arcus Union yang membuat mereka dihujani panah. Sementara itu Emilia bersiap menghadapi pasukan tombak yang mendekat.
Laura juga menggunakan Holy Ray untuk mengurangi pasukan tombak yang mendekati kami. Ketika mereka sudah berada dalam jangkauan serangku, aku menggunakan Grando untuk membekukan mereka. Dengan 1 jentikan jari banyak pasukan tombak itu hancur.
Namun jumlah mereka masih banyak dan seperti tidak berkurang sama sekali. Pasukan yang membawa pedang juga sudah mulai maju menyerang. Emilia memulai pertarungan melawan pasukan tombak yang paling depan.
Emilia dengan kelincahannya mengalahkan mereka satu persatu. Gerakan bertarung mereka ternyata tidak terlalu cepat. Laura menggunakan Holy Cross untuk menghantam pasukan pemanah yang ada di belakang.
Tetap saja, sebanyak apa pun kami menyerang mereka, jumlah mereka tidak berkurang sama sekali. Di sini aku mulai merasakan ada keanehan.
"Kenapa mereka tidak menyerang ketika kami melewati mereka? Kenapa mereka menyerang saat kami memasuki ruangan ini?" pikirku.
Aku melihat ke sekeliling untuk mencari sesuatu yang mencurigakan dari ruangan ini. Dari lantai hingga dinding, aku mengamati semuanya. Hingga akhirnya aku melihat sesuatu yang aneh di atas ruangan itu.
Sebuah kristal kecil bercahaya menempel pada langit langit ruangan itu. Saking kecilnya, hingga aku baru bisa melihatnya ketika sudah mengeluarkan cahaya.
"Laura, sepertinya aku tahu penyebab mereka bergerak sekarang."
"Benarkah?"
Aku menganggukan kepala.
Setelah itu, aku menggunakan Ignis untuk menembakan bola api ke kristal itu. Hanya dengan sekali serang saja, kristal itu hancur.
Lalu pasukan yang menyerang kami tidak bergerak dan hancur menjadi debu. Dari pasukan yang sedang dilawan Emilia hingga pasukan pemanah yang berada di belakang hancur menjadi debu.
Emilia berlari ke arahku dengan wajah tersenyum.
"Sudah selesai kah master?"
"Bagaimana kamu tahu Ciel?" tanya Laura.
"Aku hanya merasa aneh saja dengan mereka. Kenapa mereka menyerang kita ketika masuk ke ruangan ini dan juga mereka tidak menyerang kita ketika berjalan lewat."
"Jadi, master pikir kalau ada sesuatu yang aneh dengan ruangan ini?"
"Iya. Aku melihat sekeliling dan aku menemukan sesuatu yang aneh di atas sana. Pada awalnya aku tidak tahu kalau ada benda aneh di atas sana karena terlalu kecil. Tapi ketika mereka menyerang benda itu bercahaya sehingga terlihat."
"Benda apa itu memangnya Ciel?"
"Hanya sebuah kristal kecil. Tapi aku heran kenapa kristal sekecil itu bisa menggerakan pasukan sebanyak ini?"
Setelah selesai dengan pertarungan melawan patung pasukan itu, kami melanjutkan ke ruangan atau area berikutnya. Kami masuk melalui sebuah pintu raksasa yang ada di ruangan itu.
Area berikutnya yang kami masuki adalah sebuah hutan. Hanya ada pepohonan di area itu. Mengingat area sebelumnya yang aneh, kami meningkatkan kewaspadaan untuk mengantisipasi serangan dari musuh.
Baru beberapa langkah saja, ada panah yang di tembakan kepada kami. Aku melihat ke arah darimana panah itu berasal dan ternyata itu adalah seorang elf.
"Elf?" tanyaku.
"Bagaimana mungkin ada elf di tempat ini?" kata Laura bingung.
"Lebih penting dari itu. Kita harus memastikan apakah elf itu musuh atau bukan," kata Emilia.
Laura kemudian maju ke depan untuk berbicara dengan elf itu. Ia melihat ke arah Laura dengan wajah bingung.
"Sebutkan nama dan kenapa kalian datang ke sini?"
"Namaku Laura. Kami datang untuk menyelidiki keanehan tempat ini."
"Menyelidiki?"
Elf itu kemudian memanah Laura. Aku menggunakan Umbra untuk melindungi Laura dari panah itu.
Elf itu terkejut dan pergi mundur. Kami mengikuti kemana elf itu pergi. Ia juga sempat menembakan beberapa panah ke arah kami ketika sedang berlari.
Hingga akhirnya ia sampai di sebuah desa yang dihuni oleh elf. Ketika kami mendekati desa itu, beberapa elf keluar dengan membawa senjata lengkap.
"Tunggu dulu, kami tidak datang untuk bertarung," kata Laura.
"Apa benar itu?" tanya salah seorang dari elf itu.
Laura mengangguk dan berkata, "Kami bahkan tidak tahu tempat apa ini."
Elf yang kami kejar tadi berbisik pada mereka. Kemudian mereka diam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Jadi tujuan kalian untuk menyelidiki tempat ini?"
Laura kemudian menjelaskan bagaimana kami bisa sampai di tempat ini.
"Kalau begitu kita bisa berbicara di dalam desa."
Kami diajak masuk ke desa itu. Banyak orang melihat ke arah kami. Desa ini lebih kecil dari kelihatannya dan juga penduduknya tidak terlalu banyak.
Kami dibawa masuk ke sebuah bagunan yang besar. Itu adalah bagunan terbesar yang ada di desa itu sepertinya.
Di dalam sudah menunggu beberapa elf yang sepertinya adalah para tetua di desa itu. Kami dipersilahkan duduk dan menjelaska apa yang terjadi.
"Memang benar tempat ini berada di dalam dungeon. Namun berbeda dari dungeon pada umumnya. Dungeon ini disebut dengan Royal dungeon."