Alchesia

Alchesia
Chapter 65 Pesta 2



Aku sempat berpikir mengenai hubungan dari Emilia dengan keluarga kerajaan. Bisa jadi kalau Emilia memiliki hubungan dengan mereka dan membuatnya menjadi seorang bangsawan juga.


Tapi itu hanya kemungkinan saja. Bila memang benar, aku juga merasa senang karena Emilia masih memiliki keluarga. Juga mungkin kami nantinya akan berpisah ketika aku harus kembali ke duniaku.


Raja kemudian memberikan sambutan untuk para tamu yag hadir. Ratu juga sama, tapi ia lebih tepat hanya menyampaikan salam. Kemudian mereka mulai makan malam.


Setelah itu semua, dimulailah acara utama dari pesta ini. Pergantian kelompok Yuna, penaklukan dungeon, dan penyerahan beberapa penghargaan.


Yuna maju bersama kelompok lama dan baru. Aku merasa beberapa bangsawan tidak setuju dengan pergantian ini. Terutama keluarga dari anggota kelompok lama Yuna.


Itu wajar saja, karena dapat mempengaruhi kekuatan politik dan pengaruh mereka dalam kerajaan. Intinya mereka hanya ingin pengaruh.


Tapi mereka tidak sadar kalau perang bukan hanya masalah kekuasaan dan juga harta, tapi juga nyawa yang dipertaruhkan. Juga ada orang lain yang harus dilindungi. Jika tidak mampu lebih baik jangan ikut.


Aku bukan meremehkan kemampuan mereka, tapi untuk sekarang mereka tidak siap. Bila memaksa pun, mereka hanya akan mati sia-sia.


Raja berjabat tangan dengan Luna dan memberi selamat atas berhasilnya penaklukan labirin belum lama ini. 


“Itu karena saya tidak sendiri. Ada teman-teman dari petulang yang membantu dalam penaklukan itu.” 


Kata-kata Yuna ini menegaskan kalau para petualanglah yang berkontribusi banyak dalam penaklukan itu. Ini juga akan membantu mengamankan posisi Luna dan yang lain untuk masuk ke dalam party Yuna.


Luna dan yang lain juga pernah terlibat dalam pertarungan melawan pasukan raja iblis. Itu terjadi ketika perang merebut ibukota Ellis. Surat yang diberikan Guild Master Negara Ellis dan juga dari raja Ellis menegaskan hal itu.


Setelah pemberian hadiah untuk Yuna dan party lamanya, acara selanjutnya adalah pergantian party Yuna. Lebih tepatnya serah jabatan. Ini akan menjadi pukulan bagi beberapa bangsawan yang meremehkan petualang.


Dengan wajah tersenyum mereka memberikan jabatannya. Walaupun terpaksa juga. Sebenarnya dalam penaklukan dungeon sebelumnya ada beberapa korban akibat kecerobohan mereka.


Tapi Guild Master meminta untuk tidak membahasnya, karena pihak kerajaan juga sudah mengetahui hal itu juga. Hal itu disampaikan melalui surat rahasia dari Yuna.


Itu juga yang menjadi dasar pergantian anggota ini. Party pahlawan setidaknya ada 1 anggota yang merupakan bangsawan, tapi untuk Yuna tidak. Yuna sendiri juga memilih untuk bersama petualang juga.


Tugas bangsawan akan difokuskan untuk melindungi negara dari serangan pasukan iblis. Hal ini juga disampaikan raja. Mantan party Yuna diberikan tugas untuk memimpin pasukan pertahanan anti iblis.


Setelah semua acara itu, pesta dilanjutkan kembali. Raja dan ratu terlihat sedang berbicara dengan Yuna dan party barunya. Mereka terlihat sangat akrab.


“Ini berbeda dengan di Tornia,” kataku pelan.


“Maksudnya?” tanya Charlote.


“Di sana, para pahlawan diperlakukan layaknya sebuah alat. Meski tidak secara langsung juga.”


Aku ingat tentang pertarungan di dungeon Tornia bersama party pahlawan. Mereka sama sekali belum siap saat itu, bahkan hanya untuk menjelajah saja.


Tapi kudengar sejak kami meninggalkan Tornia, para pahlawan sudah memulai latihan dibawah pengawasan putri pertama, Rumia.


Ia sendiri juga pernah bertugas di guild, serta kami juga pernah bertarung bersama. Ia sangat kuat, jadi tidak mengherankan ia yang melatih mereka.


Aku sedikit menceritakan hal itu pada Charlote. Hingga sampai putri pertama yang menjadi pelatih pahlawan.


Berikutnya adalah acara dansa. Seperti dugaanku, beberapa orang langsung mendekati Laura dan Emilia. Mereka langsung menolaknya, meskipun ada yang belum mengatakan apa-apa.


“Ciel, kamu tidak ingin berdansa?” tanya Laura.


“Iya, kakak bisa berdansa dengan kak Emilia,” sambung Charlote.


“Aku tidak bisa. Meskipun ingin, aku tidak bisa,” jawabku.


Ketika kami sedang berbicara, pangeran datang menghampiri kami. Tentu saja tujuannya adalah mengajak Emilia untuk berdansa dengannya.


“Perkenalkan, namaku Yukimura Hayate. Maukah kau berdansa denganku, Nona?”


Emilia segera menolaknya. Namun Pangeran ini tidak menyerah dan berusaha semakin mendekati Emilia. Jika Emilia marah, ia bisa menebas kepala pangeran ini sebelum ada yang sadar.


Emilia menggenggam erat tangangku. 


Kuharap ia segera pergi. 


“Seperti itukah, namun tidak bisakah kau meminjamkannya sebentar?”


Sejujurnya, kalimat yang bar saja ia katakan membuatku kesal. Dia orang yang memaksa orang lain untuk memenuhi keinginannya.


Beberapa tamu melihat ke arah kami. Mungkin mereka berpikir bahwa diriku tidak sopan karena menolak permintaan pangeran.


“Kakak, hentikan! Kau membuat tamu kita tidak nyaman,” kata seseorang dari belakang pangeran.


Ketika kulihat, ternyata itu adalah putri.


“Perkenalkan, namaku Yukimura Kanae. Saya meminta maaf karena perbuatan kakak saya,” kata putri.


“Tidak apa,” kata Emilia.


Untung saja ia datang sebelum Laura dan Charlote terlibat. 


Luna datang ke tempat kami dan mengajakku beserta partyku untuk bertemu raja dan ratu. Pangeran tersenyum dan mengikuti kami dari belakang.


Yuna masih ada disana bersama kelompoknya. 


“Perkenalkan, ini adalah Ciel beserta partynya. Mereka yang disebutkan di dalam surat itu Yang Mulia,” kata Yuna.


“Jadi kalianlah yang dimaksudkan dalam surat itu?”


“Maaf, surat apakah yang anda maksud?” 


Yuna menjelaskan kalau surat dari guild master mengatakan soal kami berempat yang membantu Yuna dalam mengalahkan Boss dungeon. 


“Kami tidak banyak membantu. Yuna memang sudah menjadi kuat,” kataku.


Ratu menatap Emilia dengan seksama. 


“Apa kamu berasal dari ras serigala perak?” tanya ratu.


“Itu benar Yang Mulia. Orang tua saya berasal dari negara ini dan mereka serigala perak,” jawab Emilia.


Raja dan ratu saling menatap dengan wajah terkejut.


“Sesudah pesta, apa kau bisa datang menemui kami? Ada hal yang ingin kami bicarakan,” kata raja.


Emilia terlihat bingung.


“Jika kau tidak ingin, kami tidak akan memaksa,” sambung ratu.


Emilia menjawab, “Saya akan datang, namun bersama dengan master dan teman-teman saya.”


“Master?” tanya raja dan ratu dengan wajah bingung.


Aku enggan untuk menjelaskannya, namun aku mengatakan akan memberitahu mereka nanti. Ini juga menyangkut Emilia. 


“Selain itu, mungkin sebaiknya kita mebicarakannya besok. Karena akan jadi cerita yang panjang untuk masalah ini,” kataku.


“Baiklah. Besok Yuna dan kelompoknya akan menjemput kalian,” kata raja.


Raut wajah pangeran tampak bingung begitu pula dengan putri. Kami sendiri juga bingung sebenarnya.


Mulai hari ini Luna dan yang lain akan tinggal di istana bersama dengan Yuna. Pada awalnya mereka menolak namun setelah dibujuk Yuna, mereka setuju.


Pesta diadakan hingga larut malam. Setelah selesai kami berempat diantar menggunakan kereta kuda kembali ke penginapan. Luna dan yang lain juga ikut untuk mengemasi barang meraka.