
Pada malam harinya, pasukan iblis kembali menyerang kota. Sesuai dugaanku mereka membawa pasukan yang lebih banyak dan juga lebih kuat.
Mereka bahkan sudab menguasai gerbang kota. Para petualang dan juga pasukan elf bukan tandingan mereka.
Aku dan Emilia bertugas membantu Laura yang bertugas mengobati orang-orang yang terluka. Semakin lama, jumlah orang yang terluka semakin meningkat.
Ketika kami sedang sibuk membantu orang-orang yang terluka, seorang pembawa pesan datang dan meminta kami untuk mundur karea pasukan musuh sudah hampir mendekati tempat kami.
"Apa yang terjadi dengan pahlawan Evan dan juga kelompoknya?" tanyaku pada pembawa pesan itu.
"Mereka bertugas memperlambat laju pasuka iblis hingga bantuan dari ibukota datang."
Aku menoleh ke arah Emilia dan berkata, "Ini percuma. Jumlah korban akan semakin meningkat. Kita maju Emilia. Panggil juga Laura."
"Siap Master."
Pembawa pesan itu bertanya kepadaku, "Kalia hanya peringkat C, apa yang akan kalian lakukan?"
"Kami akan membuat pasukan musuh mundur."
"Mustahil."
Kemudian aku meniggalkan tempat itu bersama dengan Emilia dan juga Laura.
"Jadi apa rencana kita?" tanya Laura.
"Musnahkan musuh."
"Itu saja?" tanya Laura.
"Memang seperti master biasanya."
Aku melihat para petualang dan pasukan elf yang kewalahan menghadapi serbuan ini. Pasukan iblis juga membawa banyak raksasa untuk menyerang, jadi tidak mengherankan jika para petualang dan juga pasuka elf tidak sanggup melawan.
Sebagai permulaan aku menggunakan Arcus Union dan Ignis Union. Serangan itu langsung membuat pasukan raksasa itu banyak yang tewas. Lalu aku mengubah ke mode Gladio untuk pertarungan jarak dekat.
Emilia juga langsung menyusulku. Sedangkan Laura berada di belakang untuk memberikan dukungan.
Sejak masuk ke dalam pertempuran, aku belum melihat Evan dan yang lainnya. Aku pikir mungkin mereka ada di bagian lain di dalam pertempuran ini.
Aku menghadapi pasukan raksasa yang tersisa dan Emilia melawan pasukan iblis lainnya. Gerakan raksasa itu sangat lambat, tapi kekuatanya cukup untuk menghancurkan sebuah bangunan.
Aku juga menambahkan Ignis pada Gladio untuk memperkuat serangan. Beberapa raksasa berhasil kutumbangkan. Sementara yang lain tidak berani mendekatiku.
"Jika kalian tidak maju, maka aku yang akan maju."
Pasukan iblis itu juga memiliki penyihir diantara mereka. Mereka menyerang dari barisan belakang pasukan penyerang. Emilia menggunakan Blue Fire miliknya untuk menghancurkan mereka.
Pasukan elf yang tersisa membantu Emilia untuk melawan pasukan iblis yang mendekatinya.
Laura juga terus maju bersama dengan beberapa petualang termasuk dengan Luna.
"Mereka berdua kuat sekali," kata Luna.
"Kan kakak sudah bilang. Black Dragon saja bukan lawan mereka."
"Black Dragon?"
"Lupakan saja."
Mereka melanjutkan pertarungan. Luna tetap berada di dekat Laura untuk menjaganya. Ia tahu kalau kami kehilangan Laura, maka kekuatan pendukung kami akan berkurang.
Tapi menurutku pribadi itu memang benar. Laura juga pernah mengalahkan Black Dragon dan mendapatkan skill khusus darinya. Jika kami kehilangan Laura, maka sama saja kehilangan 30% kekuatan pendukung.
Ketika aku sedang bertarung melawan pasukan raksasa, terdengar ledakan dari sisi kananku. Aku melihat ke arah sumber ledakan dan itu adalah Evan serta kelompoknya yang sedang terkepung.
"Emilia! Pergilah ke arah ledakan tadi dan tolong bantu mereka!"
"Baik master."
Emilia berlari ke tempat Evan dan yang lainnya berada. Aku sebenarnya ingin menggunakan Exitium tapi di sini banyak orang yang melihat.
"Baiklah. Berhati-hatilah Ciel. Serahkan yang di sini padaku."
"Terima kasih. Kamu juga hati-hati."
Aku maju menerobos menggunakan Caleo, sehingga aku dapat bergerak di udara. Beberapa pasukan iblis berusaha menghalangiku, tapi tidak bisa karena kecepatan dari Caleo.
Di tempat Evan, Emilia berhasil memaksa pasukan iblis mundur. Terdengar sorakan dari tempat itu. Kemudian Emilia menuju ke tempat Laura dan Luna.
Sebentar lagi aku sampai di gerbang kota. Jumlah musuh di tempat ini semakin meningkat. Ketika aku sudah dekat, sebuah tombak raksasa meluncur ke arahku. Aku berhasil menghindarinya.
"Hebat juga kau manusia," terdengar suara mengerikan dari tempat tombak itu meluncur.
Saat aku melihat ke sana, terlihat sosok tinggi besar. Ia menggunakan armor hitam dengan jubah berwarna merah. Dari helm yang ia kenakan terlihat sorot mata berwarna merah.
Aku langsung menyerangnya menggunakan Gladio. Ia menahannya menggunakab perisai. Ketika kami saling berbenturan, tanah yang menjadi pijakannya hancur karena tekanan. Aku sendiri tidak menyangka kalau kekuatanku meningkat hingga seperti ini. Mungkin karena skill Dragon Force yang meningkatkan kekuatan fisik dan juga sihir.
"Tidak kusangka kau bisa menekanku seperti ini manusia. Kau cukup kuat juga."
Aku kemudian melompat kebelakang, karena kulihat ia akan menyerang.
"Namaku adalah Regyus, salah satu jendral pasukan iblis ini. Siapa namamu manusia?"
"Ciel."
"Aku menantangmu berduel Ciel."
Regyus kemudian mengeluarkan pedang dari bayangannya. Pedang itu cukup besar dan panjang. Mungkin setara dengan Gladio Union.
"Jangan ada yang ikut campur!" katanya kepada pasukan iblis.
Regyus lalu menghilang dan muncul tepat di atasku. Ia langsung menyabetkan pedangnya ke arahku. Aku menghindarinya dengan berguling kesamping. Kekuatanya memang besar sehingga serangannya dapat menghancurkan tanah.
Aku menembakan beberapa Ignis untuk mengetahui apakah ia mempan dengan serangan sihir dan ternyata tidak terlalu berefek. Aku pikir mungkin karena armornya.
Regyus meluncur ke arahku dan menyabetkan pedangnya secara horizontal. Aku berhasil menghindarinya, tapi serangan itu menggores lengan kiriku. Walaupun tidak terkena langsung, tapi anginya saja bisa melukaiku.
Sekarang giliranku menyerang balik. Aku menyerang secara beruntun. Regyus menahannya menggunakan perisai, tapi ia tidak memiliki kesempatan untuk membalas, karena kecepatanku.
Setelah beberapa serangan perisai itu hancur.
"Apa?"
"Sekarang habislah kau!!" teriakku.
Regyus menangkis seranganku dengan pedang miliknya. Ia kemudian berusah melemparkanku Tapi aku menggunakan Caleo untuk mendorong diriku.
Serangan Regyus untuk melemparkanku tertahan. Kami saling beradu kekuatan hingga pedang Regyus patah. Ia kemudian menendangku hingga terpental, karena aku tidak siap.
Aku beralih ke Arcus dan Ignis. Beberapa tembakan aku lancarkan dan mengenai pasukan di belakang Regyus. Mereka langsung mati terbakar seperti Black Dragon.
Regyus yang melihat hal itu memberi tanda ke pasukannya untuk mundur.
"Kami akan mundur kali ini. Terima kasih telah menghiburku."
"Apa? Cuma seperti ini?"
"Kami tidak mau kehilangan pasukan lagi saat ini. Kau yang memanggil naga itu tadi kan?"
"Bagaimana kau tahu?"
"Melihat semua petualang dan elf yang ada disini, tidak ada yang lebih bodoh dan kuat seperti dirimu. Yang langsung datang menyerangku."
"Awalnya aku tidak ada rencana melawanmu. Aku hanya ingin memanggil naga itu lagi untuk mendorong pasukanmu mundur. Tapi kau duluan yang menyerang. Jadi mau tidak mau aku harus melawanmu."
"Seperti itu kah? Kalau begitu aku pergi dulu. Kami akan kembali lagi nanti."
Ia kemudian pergi bersama pasukannya. Pasukan yang sedang dilawan Emilia, Laura, dan yang lainnya juga mundur.