Alchesia

Alchesia
Chapter 67 Keluarga Emilia 2



Setelah mendengar cerita Emilia, semua orang yang ada di ruangan ini terdiam beberapa saat. Selama ini Emilia belum pernah menceritakan hal itu kepadaku. Aku juga tidak bertanya karena aku tidak ingin Emilia mengingat hal buruk.


Selain itu, aku terpikirkan sesuaru dari cerita Emilia tadi, yaitu mengenai iblis kembar. Aku tertarik akan hal itu. Ada banyak kemungkinan mengenai kedua iblis kembar tersebut.


Mungkin itu hanya sesuatu yang tidak nyata dari sebuah sekte atau bisa juga mereka adalah pasukan dari raja iblis. Itu membuatku penasaran. Bila memang ada, mereka sekarang pasti ada di suatu tempat.


Untuk sekarang aku tidak akan bertanya apapun mengenai iblis kembar itu kepada Emilia, karena sekarang kami sedang membahas keluarganya. 


“Emilia, apa kamu tidak apa?” tanya ratu.


“Saya baik-baik saja yang mulia.”


“Lalu jika boleh tahu, siapa nama kedua orang tuamu?” tanya raja.


“Ayah saya bernama Tokikawa Zen dan ibu saya bernama Yukimura Akagi.”


Tadi Emilia mengatakan kalau ibunya bernama Yukimura Akagi. Nama keluarganya sama dengan keluraga raja. 


“Jadi itu memang benar,” gumam ratu.


“Maksud anda?” tanya Emilia bingung.


“Akagi adalah kakak perempuanku. Jadi kau adalah keponakanku Emilia,” kata raja.


Aku dan teman-temanku semua terkejut, walaupun kami sebenarnya sudah siap untuk mendengar hal ini. Tentu saja yang paling terkejut adalah Emilia.


Lalu nama Emilia sendiri tidak menggunakan nama dari negara ini. Namanya lebih cenderung ke arah daerah Tornia dan Ellis. Pasti ada penyebabnya.


“Bagaimana mereka bisa berada di Tornia?” tanya Emilia.


“Ini cerita lama dan hanya beberapa orang saja yang mengetahui hal ini,” kata raja.


Raja mulai menceritakan kejadian yang terjadi 23 tahun lalu, ketika ia masih seorang pangeran dan ibu Emilia masih tinggal di sini.


Pada saat itu, kerajaan tetangga Sakura Empire yang bernama Liden memulai perang demi merebut beberapa daerah milik Sakura Empire. Mereka mengatakan kalau dulu itu adalah wilayah mereka.


Itu memang benar. Namun Sakura Empire mendapat wilayah itu bukan melalui perang tapi membelinya. Ini mirip seperti saat Amerika membeli Alaska dari Rusia.


Raja saat itu sudah mengatakannya dan menunjukan surat itu, namun Liden tidak percaya dan memulai perang. Peperangan itu terjadi selama hampir 5 tahun dan menunjukan kalau kekalahan Liden.


Karena tidak ingin ada korban lagi, Sakura Empire mengusulkan perdamaian dan disetujui. Perwakilan dari Liden datang ke Sakura Empire untuk menandatangani perjanjian damai. Pangeran ke dua Liden yang menjadi perwakilan itu.


Namun sebelum menandatanganinya, ia yang melihat ibu Emilia saat itu menambahkan persyaratan. Ia akan menandatanganinya jika ia menikah dengan ibu Emilia. Ia merasa sebenarnya Liden akan menang dalam perang namun kenyataannya adalah sebaliknya.


Satu orang bodoh lagi yang merasa tahu segalanya. Benar-benar hebat. Bila aku di sana, mungkin ia sudah kuhajar sampai babak belur. 


Raja melanjutkan ceritanya. Tentu hal itu ditolak oleh semua keluarga kerajaan bahkan rakyat. Pangeran Liden pergi meninggalkan ruangan itu tanpa menandatagani surat perdamaian.


Malam harinya beberapa shinobi dari Liden datang untuk menculik ibu Emilia, namun tertangkap oleh ayahnya dan raja saat ini. Para shinobi itu melakukan bunuh diri sebelum diinterogasi.


Dengan alasan kalau para bawahannya dibunuh, pangeran kedua memulai peperangan. Ia mengatakan akan menghentikan perang bila menyerahkan ibu Emilia.


Untuk melindungi ibu Emilia, raja meminta ayah Emilia saat itu untuk mengungsi ke negara lain dengan menyamar. Sementara Sakura Empire mencari jalan keluar dari masalah itu. 


“Ada yang ingin saya tanyakan sebelum anda melanjutkan cerita,” kata Emilia.


“Apakah ayah saya juga seorang bangsawan?”


“Tidak. Ia hanya rakyat biasa.”


Ayah Emilia merupakan teman ibunya di akademi. Sejak di akademi, ia memiliki kemampuan yang hebat. Bahkan raja saat itu meminta dirinya untuk menjadi seorang kesatria di istana. 


Setelah 2 tahun menjadi kestaria, ibu Emilia memintanya menjadi pengawal pribadi. Semuanya anggota kerajaan setuju karena mereka tahu kalau ayah dan ibu Emilia saling menyukai 1 sama lain. 


Itu juga bagian dari rencana raja saat itu. Untuk menikahi anggota keluarga kerajaan, seorang rakyat biasa harus mempunyai prestasi setara dengan para bangsawan. 


Prestasi yang ia dapatkan adalah mengalahkan pasukan Triden selama 2 tahun hingga menguasai beberapa kota di sana. Mulai pada tahun ketiga perang, ia menjadi pengawal pribadi.


Raja melanjutkan ceritanya kembali. Untuk menghindari kecurigaan, mereka hanya diantar hingga ke perbatasan Ellis.


Sementara itu, penduduk Sakura Empire juga geram dengan tindakan pangeran ke dua, sehingga mereka juga ingin ikut berperang. Namun hal ini ditolak oleh raja, karena ia tidak ingin rakyat terlibat.


Perang pun dimulai, raja sekarang yang saat itu masih seorang pangeran yang memimpin. Tidak sampai 2 bulan, Sakura Empire merebut ibukota Liden. 


Raja dan putra mahkota beserta keluarga kerajaan Liden ternyata ditahan oleh pangeran kedua di dalam istana. Ini merupakan usaha pangeran kedua untuk naik tahta.


Setelah dibebaskan, pangeran kedua mendapatkan hukuman dari 2 negara. Keputusannya sama, yaitu eksekusi mati. Ia dan para pengikutnya mendapatkan hukuman yang sama. 


Sejak awal perang ini adalah rencana pangeran kedua dan pengikutnya. Beberapa dari mereka yakin kalau bisa menang meskipun raja sudah melarangnya. Sebelum perang kedua dimulai, keluarga kerajaa ditahan.


Setelah perang berakhir, Sakura Empire mengirim beberapa orang untuk menjemput ayah dan ibu Emilia di Ellis, namun hasilnya tidak ada. 1 tahun kemudian, kerajaan menerima sebuah surat.


Surat itu dari orang tua Emilia dan berisi kalau mereka berdua baik-baik saja. Mereka tinggal di Tornia dan memulai kehidupan yang baru. Mereka tidak ingin kembali ke Sakura Empire dahulu.


Setelah menerima surat itu, raja mengumumkan kalau orang tua Emilia sudah meninggal untuk Sakura Empire. Para penduduk mengerti apa yang dimaksudkan dan menjadikannya rahasia mereka.


Kebenarannya tidak diberitahukan ke generasi selanjutnya hingga saat ini. Kemudian waktu berlalu dengan cepat hingga sekarang.


Emilia terlihat bingung dan terkejut setelah mendengar itu semua. 


“Emilia, selamat datang kembali ke rumah,” kata raja dan ratu.


“Iya, saya pulang,” kata Emilia dengan meneteskan air mata.


Ini masih belum selesai. Raja dan ratu menanyakan apakah Emilia ingin tinggal di sini.


“Untuk hal itu, saya tidak bisa. Saya akan tetap bersama master. Untuk identitas saya, bisakah anda tetap merahasiakannya?”


Ia memilih menjadikan ini sebagai rahasia untuk menjaga nama ayah dan ibunya. Serta kebenaran yang ada. Ini bisa menjadi masalah antar negara bila sampai ketahuan.


“Kami mengerti. Tapi bila kamu membutuhkan sesuatu, jangan sungkan mengatakan kepada kami,” kata ratu.


“Selain itu, kamu sama dengan ibumu. Lebih memilih tinggal bersama dengan orang yang paling berharga untukmu. Selain itu wajah dan cara bicaramu juga sama. Namun kekuatan hatimu sama dengan ayahmu,” kata raja.  


Emilia hanya tersenyum.