Alchesia

Alchesia
Chapter 5 Dungeon



Kami melanjutkan perjalanan kami menuju ke Ellis. Tidak berapa lama kami sampai di depan mulut gua. Aku merasa ada yang aneh dengan gua ini. Emilia menggenggam erat bajuku. Ia terlihat cemas.


"Emilia apa kamu tahu tempat apa ini?"


"Iya, saya tahu. Ini dungeon."


"Apa? Jadi ini yang namanya dungeon."


Aku dan Emilia mencoba untuk masuk ke dalam.


Anda telah memasuki dungeon


Muncul permberitahuan kalau aku sudah masuk ke dalam dungeon. Sepertinya cara untuk membedakan sebuah gua dengan dungeon adalah dengan memasukinya terlebih dahulu.


Aku tidak terlalu yakin dengan kekuatan kami sekarang untuk melawan monster-monster yang terdapat di dalam dungeon. Bila terlalu kuat atau levelnya berada jauh di atas kami, lebih baik bagi kami untuk mundur.


Aku sempat berpikir biasanya kalau di dalam game, sebuah dungeon akan memiliki berbagai macam harta tersembunyi. Ini kesempatan bagus.


Aku kira yang namanya gua itu gelap, tapi yang ini terang. Hal itu dikarenakan adanya beberapa jamur yang bercahaya menempel di dinding gua.


Tidak jauh dari tempat kami masuk, beberapa monster laba-laba hitam berhadapan dengan kami. Ukuran mereka cukup besar menrurutku, sekitar setengah meter. Mereka menembakan jaring kepada kami. Aku menghindari serangan mereka sambil bergerak mendekat, sedangkan Emilia membakar mereka.


Awalnya aku kira akan sulit, ternyata tidak. Kami terus menelusuri dungeon ini. Aku bisa mendengar suara tetesan air tidak jauh dari kami.


"Emilia, kamu dengar suara air yang menetes?"


"Iya, saya dapat mendengarnya."


"Ayo kita ke sana."


Kami akhirnya tiba di sebuah kolam. Airnya sangat jernih sehingga aku dapat melihat dasar kolam itu.


Tunggu dulu kenapa tidak ada monster yang terlihat di sekitaran kolam. Aku menengok ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada monster. Kemudian aku mencoba melihat ke atas, ternyata ada sesekor monster kelelawar yang berukuran sangat besar ada di atas kami.


KRAAAAKKKK


Monster itu terbang turun ke arah kami. Aku melihat ia terbang menuju Emilia, sehingga aku mendorong Emilia menjauh. Dia terbang ke atas kemudia berbalik kembali. Kali ini ia menuju ke arahku.


Aku mengeluarkan sebuah pedang untuk melawan. Ketika ia menyerangku, aku menghindar ke samping dan melukai sayapnya sehingga ia terjatuh. Aku lihat Emilia langsung menembaki kelelawar itu dengan Blue Fire. Kelelawar itu terbakar hingga mati.


"Anda tidak apa-apa tuan?"


"Aku baik-baik saja. Ayo kita lanjut lagi."


"Baik."


Setelah itu kami berhadapan dengan beberapa lizardman. Mereka cukup gesit, sehingga kami cukup kerepotan menghadapi mereka.


Aku dan Emilia dipaksa untuk bertarung jarak dekat. Ketika kami sudah mengalahkan mereka, level kami juga naik beberapa kali.


Skill Stealth C telah didapatkan Emilia


Emilia Lv up 8->12


Aku sendiri sekarang sudah level 15. Aku penasaran apakah aku mendapatkan skill baru, jadi aku membuka layar statusku.


Skill Item Craft C telah didapatkan


Skill Detection C telah didapatkan


Ternyata aku dapat 2 skill baru, untuk membuat item dan skill untuk mendeteksi musuh. Setidaknya aku dapat menghindari serangan kejutan.


Kami masih melanjutkan penelusuran. Masih ada beberapa laba-laba dan lizardman yang kami hadapi. Hingga kami tiba di depan sebuah pintu yang terkunci. Terdapat sebuah batu berwarna merah di tengah-tengahnya.


Aku mencoba menyentuh batu itu.


KRIIK


Batu itu berputar lalu bersinar. Pintu itu kemudian bergerak naik ke atas. Ada ruangan yang gelap di balik pintu itu. Ketika Emilia akan masuk.


"Tunggu dulu, aku akan memeriksanya menggunakan skill."


Aku tidak mendeteksi apa-apa. Tapi apa ini kenapa firasatku tidak enak. Aku merasakan ada bahaya di dalam sana. Aku melihat Emilia juga merasakan ada yang tidak beres.


"Apa kami harus mundur?"


"Tapi kami sudah sejauh ini."


"Bagaimana ini?"


Setelah berpikir, aku memutuskan untuk masuk.


"Emilia kamu tidak perlu masuk kalau takut."


"Tidak. Jika tuan masuk saya juga akan masuk."


Kami memasuki ruangan gelap itu. Begitu kami masuk, beberapa obor di ruangan itu menyala.


Boss Dungeon telah dipanggil


Pertarungan akan segera dimulai


Boss?


Sudah kuduga ada sesuatu yang mengerikan dan berbahaya di tempat ini.


GRUKGRUKGRUK


Aku mendengar suara ada yang sedang menyeret sesuatu. Aku mencari sumber suara itu.


ROOAAARGH!!!!


Terdengar teriakan dari atas.Sesuatu turun dari atas menghancurkan langit-langit ruangan itu.


BRUUUKKK


Aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang baru saja turun karena terhalang oleh asap. Tiba-tiba makhluk itu maju menyerang kami.


Emilia dan Aku melompat ke samping untuk menghindari serangannya. Aku melihat kembali makhluk itu.


Boss Executioner


Monster mengerikan dengan dua pedang raksasa yang mengeluarkan aura hijau. Kepalanya memakai helm yang bertanduk sebelah.


"Ini benar-benar gawat. Apa kami dapat mengalahkannya?"


"Yah… hadapi saja dulu."


Executioner itu mulai mengayunkan kedua pedangnya dan mendekat ke arahku. Kali ini aku harus menggunakan dua pedang untuk menghadapinya.


Ia menyerangku dengan beberapa serangan berat yang menghancurkan lantai ruangan. Aku tidak bisa menahan serangan itu karena bila kutahan pasti pedangku hancur. Jadi aku menghindari seranganya dan menyerang bila ada kesempatan.


Sementara itu Emilia menembaki bagian punggung Executioner itu. Aku juga melancarkan beberapa serangan. Seranganku berhasil melukai tangannya. Namun, luka itu kurang dalam.


"Emilia gabungkan Blue Fire milikmu dengan pisaumu. Kita harus menyerangnya dari jarak dekat."


"Baik."


Emilia membuat pisaunya berapi biru. Ia kemudian berlari menyerang Executioner di bagian punggungnya. Tebasan pisaunya memberikan luka bakar yang cukup besar.


Executioner itu berbalik dan menyerang Emilia dengan brutal. Dia kuat tapi dari segi kecepatan dan ketepatan sangat buruk.


Emilia yang unggul dari segi kecepatan dapat menghindari serangan yang dilancarkan dengan mudah. Sesekali Emilia menyerang balik Executioner itu.


Kami harus segera mengalahkannya, baik Emilia dan aku sudah kelelahan. Aku berlari membantu Emilia.


Aku mengincar luka bakar yang dibuat Emilia di punggung Executioner. Aku melakukan beberapa tebasan di luka itu dan itu sangat efektif rupanya.


Setebal apapun dirimu kalau diserang pada titik yang sama pasti akan tembus juga. Kami terus melancarkan serangan di luka-luka yang sudah kami buat sebelumnya. Di sini ketepatan serangan kami diuji.


Kami berhasil membuatnya terluka cukup parah. Serangannya juga mulai melambat.


Ketika kami akan menyerang lagi.


RAAAARGH!!!


Executioner tiba-tiba melompat mundur. Dia bersiap menyerang, tapi posisinya berbeda dengan yang sebelumnya.


"Jangan-jangan."


Executioner berlari ke arah kami dengan cepat. Ia lebih cepat dari sebelumnya. Ini gawat.


Ketika ia akan menyerang kami.


"Emilia…"


Aku mendorong Emilia menjauh. Gawat aku tidak dapat menahan serangannya. Ia mengayunkan pedangnya dan…


BRUAAAK


Aku terlempar dan membentur sesuatu. Kepalaku sakit sekali. Aku juga merasakan sakit di perut. Sepertinya tanganku juga patah.


"Maaf Emilia. Kau bisa pergi sekarang."


"Apa ini?"


Terdengar suara besi yang saling berbenturan.


Aku membuka mataku perlahan…


Aku melihat Emilia masih melawan Executioner itu.


"Kenapa dia tidak lari?"


"Ini kesempatan baginya untuk melarikan diri dan bebas, jika membiarkanku mati."


"Kenapa?"


Aku berusaha bangkit berdiri. Kemudian aku mengambil beberapa pisau dan kawat. Kemudian aku maju menyerang.


"Tuan, anda baik-baik saja?"


Dia terlihat senang ketika aku datang. Aku menusukan pisau-pisau tadi di luka-luka tadi. Executioner itu menyerangku sekali lagi, tapi aku berhasil menghindari serangannya.


"Emilia bakar dia!"


"Tapi?"


Ia tampak ragu karena serangan api sebelumnya tidak mempan.


"Lakukan!"


Emilia menembakan Blue Fire secara beruntun. Tubuh Executioner itu terbakar.


"Bagaimana bisa tuan?"


"Aku menggunakan minyak pada kawat yang aku ikatkan pada pisau-pisau itu."


"Jadi…"


"Pisau-pisau itu saling terhubung."


Executioner tampak kesakitan karena terbakar.


"Emilia, ayo kita akhiri."


"Baik tuan!"


Aku dan Emilia berlari maju menyerang. Tebasan demi tebasan kami lancarkan hingga Executioner itu tumbang.


Hah… syukurlah kita masih hidup.


Tiba-tiba kepalaku pusing, kemudian pandanganku menjadi gelap.


"Tuan, tuan, tuan!"


Ada yang memanggilku. Aku membuka mataku perlahan dan melihat Emilia menangis.


"Hai, apa kami tidak apa-apa?"


"Saya baik-baik saja."


Aku penasaran kenapa ia tidak pergi meninggalkanku. Jadi aku mencoba bertanya.


"Tadi kenapa kamu tidak pergi? Kamu bisa bebas bila aku mati kan?


"Saya tidak bisa. Anda telah melindungi saya dan menyelamatkan saya."


"Jadi ini tentang balas budi kah?"


Dia menggelengkan kepala.


"Lalu?"


"Anda telah mengatakan kepada saya kalau anda akan selalu bersama saya, jadi saya juga akan tetap bersama anda."


"Ooo… Terima kasih. Aku bisa minta tolong untuk mengambilkan potion di tasku."


"Baik."


"Terima kasih."


Emilia mengambil potion dan memberikannya kepadaku. Setelah aku meminumnya luka-lukaku sembuh.


Emilia telah menjadi Servant


Apakah anda menerimanya?


"Servant?"


"Bukan budak?"


Seorang budak tidak memiliki kehendak atau tepatnya hak untuk itu. Sedangkan servant dia bisa bebas.


Aku tidak tahu kalau ada sistem seperti itu, tapi sebenarnya sekarang ia bisa hidup sendiri.


"Emilia, kamu bisa pergi kalau mau. Aku membebaskanmu. Pilihlah kehidupan yang ingin kamu jalani."


"Terima kasih, kalau begitu saya memilih tetap bersama dengan anda. Saya memberikan semuanya kepada anda."


"Kalau begitu apa kamu ingin jadi pelayanku?"


"Iya tuan."


Emilia telah menjadi servant Ciel


Dia kemudian mencium tanganku. Lambang budak di dadanya menghilang.


Akhirnya pertarungan disini berakhir.


Tiba-tiba muncul lingkaran sihir di bawah kami. Ini bukan sihir serangan kurasa atau jangan-jangan sihir perpindahan ruang. Silau sekali cahaya ini. Aku lalu menutup mataku.


Ketika aku membuka mata, kami sudah ada di sebuah ruangan dengan kristal besar di tengahnya.