
Kami bergerak menggunakan Caleo agar lebih cepat sampai ke hutan elf. Kami jalan melalui hutan agar tidak terlalu mencolok. Kurasa jika orang melihat kami bergerak di udara pasti mereka mengira kalau kami menggunakan sihir terbang.
Kami juga menghindari berkontak langsung dengan monster agar tidak memakan waktu. Sejak masuk di wilayah Ellis, aku hanya melihat beberapa goblin, warg wolf, dan juga slime. Aku tidak melihat monster selain mereka.
Ketika siang kami beristirahat untuk makan siang. Laura memperkirakan kalau kami akan tiba di sana saat sore hari. Aku bisa mendengar suara kicauan burung ketika kami beristirahat. Sudah lama aku tidak bersantai di dalam hutan. Selama ini ketika kami di hutan hanya untuk menjalankan misi jadi tidak ada waktu bersantai.
Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan.Kami sempat melewati sungai yang jernih dengan bebatuan yang ada di tepinya. Kau bahkan bisa melihat dasar dari sungai itu. Laura mengatakan semakin dekat kita denga hutan elf, semakin baik kondisi alamnya.
“Sebentar lagi kita akan sampai,” kata Laura.
“Bagaimana kamu tahu?” tanya Emilia.
“Aku bisa merasakan kekuatan pelindung dari hutan elf,” jawab Laura.
Tidak lama kemudian…
“Itu dia!” kata Laura sambil menunjuk ke depan.
Ketika aku melihat ke depan, dari kejauhan tampak dinding besar berwarna putih yang dihiasi pepohonan.
Jadi itu hutan elf?
Tunggu dulu bukannya itu lebih terlihat seperti sebuah kota kerajaan yang besar.
“Kalian pasti heran ya?” tanya Laura.
Rupanya dia tahu apa yang sedang aku pikirkan.
“Dari luar mungkin terlihat seperti kota kerajaan, tapi sebenarnya di balik dinding itu adalah hutan tempat kami tinggal. Dinding itu untuk melindungi tempat tinggal kami,” jelas Laura.
“Laura kita berhenti di dekat sini saja. Lalu kita akan berjalan kaki,” kataku.
Aku berkata seperti itu karena akan jadi masalah bila kami datang dengan menggunakan Caleo. Aku lupa menanyakan sesuatu yang penting, tapi tunggu dulu setelah kami berhenti.
Setelah berhenti aku menanyakan pada Laura soal boleh atau tidaknya ras lain masuk ke dalam hutan itu.
“Boleh-boleh saja asalkan ada surat khusus atau kamu datang dengan elf,” kata Laura.
“Tapi kalau ada orang yang membawa sandera elf itu bagaimana?” tanya Emilia.
“Tenang saja. Pelindung hutan yang akan mengurusnya. Ia akan membebaskan elf itu tentunya,” jawab Laura.
“Pelindung hutan itu kuat sekali ya…,” kataku kagum.
“Tentu saja.”
Aku penasaran sebenarnya siapa pelindung hutan itu?
Tapi itu urusan nanti saja pikirku.
Kami berjalan menuju menuju dinding itu tadi. Aku dapat melihat beberapa elf berjaga di depan gerbang. Selain itu di atas dinding juga terdapat beberapa penjaga dan juga beberapa ballista.
Sebelum masuk ke dalam kami di wajubkan menunjukan identitas kami. Sesuai perkataan Laura tadi aku dan Emilia bisa masuk karena datang bersama Laura. Berbeda dengan ketika melewati perbatasan, kami tidak perlu membayar.
Ketika kami masuk, aku merasa sangat kagum dengan tempat ini. Bagunan dan pohon yang menyatu. Ada yang berada di atas pohon juga seperti rumah puhon dan ada yang dibawah. Kurang lebih hampir mirip dengan yang aku bayangkan.
“Jadi sekarang kita akan pergi kemana?” tanyaku.
“Kita akan mencari penginapan untuk kalian berdua, baru kita beli makan malam,” jawab Laura.
Kami mencari tempat menginap untukku dan Emilia. Sementara Laura akan tidur di rumahnya. Beberapa penginapan ternyata sudah penuh. Hal itu dikarenakan saat kami tiba berdekatan dengan diadakannya festival bulan sehingga banyak pengunjung dari yang datang.
Setelah mengunjungi beberapa penginapan kami akhirnya menyerah. Dimana-mana sudah penuh.
“Kalau sudah begini, bagaimana kalau kalian tidur di rumahku?” tanya Laura.
“Boleh?” tanyaku balik.
“Tidak masalah untukku. Nanti aku akan berbicara dengan adikku.”
“Baiklah.”
“Tapi sebelum itu, kita belanja dulu untuk makan malam dan juga sarapan besok.”
Kami akhirnya memutuskan untuk tidur di rumah Laura. Aku juga baru tahu kalau ia memiliki adik. Ia tidak pernah menceritakan keluarganya selama ini.
“Akhirnya kakak pulang. Aku kangen…,” kata gadis itu.
“Maaf, kamu lama menunggu ya?” kata Laura sambil mengusap kepala gadis itu.
Gadis itu lalu melihatku dan Emilia.
“Kakak, mereka siapa?”
“Oh… Mereka ini teman-temanku, Ciel dan Emilia.”
Aku dan Emilia tersenyum melihat gadis itu.
“Aku Luna, adiknya kak Laura,” kata Luna malu-malu.
“Luna, mereka berdua akan menginap di rumah kita selama beberapa hari. Aku minta tolong kamu siapkan kamar, sementara kakak akan memasak makan malam.”
“Baik kak.”
Kemudian kami masuk ke dalam. Emilia membantu Laura menyiapkan makan malam. Sementara aku membantu Luna menyiapkan kamar untuk diriku dan juga Emilia.
“Kak Ciel, belum lama bertemu dengan kakak?” tanya Luna.
“Ya. Kurasa 1 bulan juga belum ada.”
“Aku senang kakak dapat teman yang baik lagi. Kakak sudah pernah cerita atau belum soal party kakak yang sebelumnya?”
“Sudah”
“Sejak kejadian itu kakak jadi kurang ceria. Tapi ketika kakak dan kalian datang hari ini, aku melihat kakak sudah kembali ceria. Itu membuatku bahagia.”
Setelah itu aku dan Luna mengobrol tentang berbagai hal hingga kami selesai menyiapkan kamarnya. Tidak berselang lama Laura dan Emilia juga sudah selesai memasak. Kami berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan malam bersama.
Setelah selesai makan, kami berkumpul di ruang keluarga.
“Luna, aku dengar pahlawan yang sudah dipanggil di Ellis ada di kota ini. Apa itu benar?”
“Itu benar. Ia tiba di kota ini 1 bulan yang lalu. Sekarang ia berlatih di guild bersama putri Teresia.”
“Putri Teresia?” tanya Laura kaget.
“Iya. Dia adalah orang yang akan menjadi teman seperjalanannya nanti.”
“Putri Teresia itu siapa?” tanya Emilia.
“Putri Teresia adalah anak kedua dari raja elf saat ini. Ia sangat ahli dalam memanah. Class yang dia miliki adalah Holly Archer,” jawab Laura.
Aku baru pertama kali dengar ada class seperti itu, tapi aku ingin tahu siapa nama pahlawan itu dulu.
“Aku ingin tahu siapa nama pahlawan itu?” tanyaku.
“Namanya adalah Evan. Ia menggunakan pedang suci rexus sebagai senjatanya.”
Jadi ia pengguna pendangkah?
Sama dengan Rafael ternyata. Aku harap dapat segera bertemu dengannya. Tapi kenapa firasatku tidak enak ketika mendengar namanya ya?
“Besok kami akan menuju guild untuk mendaftar sebagai petualang di hutan elf,” kata Laura.
“Jadi ada kemungkinan kalian akan bertemu dengan Rex sepertinya,” kata Luna.
“Justru itu yang kami harapkan.”
Kami masih membicarakan hal lainya. Laura juga memberitahu kami alasannya menjadi petualang untuk mebiayai kehidupannya dan Luna. Ia sering mengirim uang hasil misi kepada Luna.