
Kami keluar dari royal dungeon dan tiba di ruang tahta raja. Ruangan itu sangat berantakan sekali. Bendera kerajaan yang ada di dinding ruangan pun sudah sobek. Begitu pula dengan karpetnya.
Kaca pada jendela-jendela banyak yang pecah. Kursi singgasana raja dan ratu pun juga hancur. Ada juga bercak darah di lantai dan dinding ruangan.
Selain itu ada beberapa mayat tergeletak dilantai. Jika kuperhatikan mereka adalah para bangsawan dan juga prajurit, namun ada juga pelayan di sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi di sini? Sebelum kita pergi bangunan ini tidak ada kerusakan apa-apa,” kata Laura.
“Sudah berapa lama kita berada di sana?” tanya Emilia.
“Aku rasa baru sehari, namun kenapa seperti sudah lama kita ada di sana?”
Emilia kemudian berjalan ke singgasana bersama dengan Laura. Aku sendiri ingin melihat keluar dan memastikan keadaan di kota.
Aku melihat melalui salah satu jendela yang sudah pecah. Di luar aku melihat kepulan asap dari rumah penduduk dan juga terdengar suara jeritan.
“Emilia, Laura kemari dan lihatlah.”
Mereka berdua bejalan ke tempatku. Ketika melihat keluar, mereka juga terkejut dengan apa yang sedang mereka lihat. Bhakan Laura sampai terduduk di lantai.
“Apa-apaan ini?” kata Laura. Ia juga meneteskan air mata.
“Master…”
Kami tidak tahu apa yang sudah terjadi sejak kami pergi. Aku mencoba melihat melalui jendela lain dan sama saja. Seluruh kota sudah hancur.
Emilia memeluk Laura dan mengusap rambutnya. Emilia dulu juga pernah melihat hal yang sama terjadi pada kotanya, jadi ia tahu apa yang dirasakn Laura.
“Ayo kita keluar dari sini dan mencari tahu apa penyebabnya,” kataku.
“Baik master,” jawab Emilia.
Kami keluar dari ruang singgasana dan segera menuju ke halaman istana. Baru saja kami membuka pintu ruang itu, di depannya sudah menanti beberapa pasukan iblis. Jumlah mereka ada 3 ekor.
Begitu melihat kami bertiga, mereka langsung menyerang. Emilia dengan sigap berhasil mengalahkan mereka.
Aku langsung mengaktifkan Luminatio, Gladio, dan juga Umbra untuk bertarung. Emilia juga melapisi pedangnya dengan Blue Fire.
“Kalau mereka ada di sini, berarti pasukan iblis sudah menguasai ibukota bukan?” tanya Laura.
“Mungkin saja.”
Aku harap apa yang dikatakan Laura tidak terjadi. Kami terus berlari menuju ke halaman istana secepat mungkin.
Dalam perjalanan kami pun, beberapa pasukan iblis muncul dan menyerang kami bertiga. Namun bagi kami itu bukanlah masalah yang berarti.
Beberapa saat kemudian, kami sudah sampai di halaman istana. Di sana kami dihadang oleh banyak sekali pasukan iblis.
Aku memanggil nagaku untuk membantu kami bertiga. Sebisa mungkin aku tidak ingin kami terlalu banyak bertarung karena kami tidak tahu keadaan diluar.
Serangan mereka kepada kami dimulai dengan menembakan beberapa bola api kepada kami. Laura melindungi kami dengan menggunakan Holy Protection miliknya.
Kemudian aku membalas serangan mereka tadi dengan menggunakan Luminatio Union. Serangan itu membuat barisan depan mereka hancur.
Ketika mereka mulai ingin melakukan pertarungan jarak dekat, Aku dan Emilia maju melawan mereka. Sementara nagaku membantu dari udara berasama dengan Laura.
Pasukan iblis yang kami hadapi saat ini lebih lemah kurasa atau mungkin kami yang semakin kuat. Kami tidak mengalami kesulitan yang berarti ketika melawan mereka. Hanya dalam 10 menit kami bisa mengalahkan pasukan iblis yang berada di halaman istana.
Beberapa orang prajurit berusaha melindungi para penduduk yang sedang diserang. Tapi mereka bukan tandingan bagi pasukan iblis itu.
“Kita bantu mereka. Emilia dan aku akan membantu pertarungan, Laura obati mereka yang terluka dan jangan turun dari naga,” kataku.
“Baik,” kata Emilia dan Laura bersamaan.
Kami mulai bergerak membantu para penduduk dan juga prajurit yang sedang berada di depan istana.
Aku berkata kepada salah seorang prajurit untuk membawa para penduduk keluar dari kota. Ia kemudian memberitahu teman-temannya untuk membawa para penduduk mengungsi keluar.
Aku dan Emilia mengawal para penduduk menuju gerbang kota. Di jalan kami bertanya tentang apa yang terjadi.
Salah seorang prajurit berkata kalau 2 hari yang lalu, pasukan iblis keluar dari dalam istana dan mulai menyerang penduduk. Banyak yang sudah tewas. Penduduk yang selamat bersembunyi di bawah tanah.
Kemudian kemarin raja mengirim pesan pada beberapa orang bangsawan untuk membawa penduduk segera keluar dari sini.
Para penduduk yang tinggal di dekat gerbang kota sudah mengungsi kemarin. Mereka yang tinggal di tengah kota baru bisa hari ini, itupun masih dihadang oleh pasukan iblis.
Aku mengerti mengenai situasi mereka. Aku juga berusaha tenang ketika mendengar kalau raja dan pasukannya telah sampai di ibukota.
Sambil mengawal mereka, aku berusaha mencerna apa yang terjadi dan masalah waktu ketika kami di dalam Royal Dungeon.
Kami bertiga tahu kalau kami ada di Royal Dungeon selama 1 hari saja. Tapi ketika kami keluar ternyata sudah 1 minggu berlalu.
Emilia dan Laura juga kuberitahu tentang hal ini, mereka berdua juga berusaha tetap tenang dalam kondisi seperti ini. Di sisi lain, kami juga merasa bersalah karena meninggalkan kota.
Beberapa penduduk mulai menggabungkan diri dengan rombongan kami. Aku tidak tahu apakah ini sudah semuanya, tapi aku harap sudah.
Pasukan iblis terus menyerang dari segala arah untuk mencegah kami keluar dari ibukota. Aku menggunakan Umbra Union untuk melindungi para penduduk.
Skill ini membuat bayanganku membesar hingga dapat melindungi para penduduk. Setiap pasukan iblis yang mendekat langsung ditusuk oleh bayanganku.
Ketika kami sudah tiba di dekat gerbang, aku berkata pada para prajurit untuk membawa para penduduk ini pergi. Aku juga akan mengirim nagaku untuk melindungi mereka.
Sementara kami bertiga akan tinggal di ibukota untuk mencari penduduk yang selamat. Jika dalam 3 hari kami tidak keluar, serang saja ibukota.
Prajurit itu merasa enggan meninggalkan kami. Namun karena tidak ada pilihan lain ia terpaksa menuruti keinginan kami.
“Maaf, kita belum bisa meninggalkan kota.”
“Tidak apa master. Aku akan selalu bersama master.”
“Iya Ciel. Tidak perlu meminta maaf, kami mengerti.”
Banyak pasukan iblis yang berusaha mengejar para penduduk yang sudah keluar dari kota. Kami bertiga bersiap menghadapi mereka.
Emilia menyiapkan bayangannya dan Laura juga menggunakan skill pendukung pada kami.Aku akan menggunakan Ignis Grando untuk pertama kalinya.
Ketika mereka sudah dekat, aku segera mengaktifkan skill milikku. Serangan yang keluar adalah seluruh suhu udara di sekitar menjadi sangat dingin hingga membekukan pasukan iblis. Kemudian udara menjadi panas dan menimbulkan ledakan.
Ledakan itu menghancurkan area yang sangat luas mengelilingku. Bahkan hingga luar dinding ibukota.
Dengan memanfaatkan asap dari ledakan itu, kami bertiga pergi bersembunyi di sebuah rumah untuk sementara.