Alchesia

Alchesia
Chapter 20 Adamantoise



Guardian Adamantoise telah muncul


Dia terlihat sangat kuat sekali. Aku perkirakan pertahanannya sangat sulit untuk ditembus. Ukurannya juga sangat besar hingga menghancurkan ruangan ini.


“Pasukan paladin buat formasi bertahan! Pasukan sihir dan tim penyerang mulai serangan!”


Para paladin maju untuk membentuk formasi melingkar untuk melindungi para mage dan priest. Sedangkan tim penyerang sudah memulai seeriangan dengan dukungan dari priest dan mage. Aku dan Emilia juga ikut maju menyerang.


Pertama aku harus mencari tahu kekuatan serangan milik monster ini. Kemudian mencari titi lemahya. Untuk awalan aku menembakan Ignis di beberapa tempat yang berbeda. Emilia mengerti apa yang sedang aku cari dan ia membantuku dengan Blue Fire.


Cangkang di punggungnya juga menembakan duri ke beberapa arah secara acak, serangan itu mengganggu pergerakan dan juga formasi para petualang yang menyerangnya.


“Apa yang kalian lakukan? Serang kepalanya saja yang tidak terlindungi!”


Ada petualang yang protes dengan apa yang aku dan Emilia lakukan. Aku tahu kalau kepalanya tidak terlindungi namun pasti ia memiliki sesuatu untuk melindungi kepalanya. Dan benar saja, ia menembakan beberapa bola air ke segala arah.


Beberapa orang terluka dan juga ada yang tewas karena serangan itu. Para mage juga ikut-ikutan menyerang kepalanya sebagai serangan balasan. Tentu saja Adamantoise juga menyerang balik menggunakan meriam air dan menghancurkan formasi para mage.


Aku memeriksa Rafael dan partynya, untungnya mereka tidak apa-apa. Adamantoise bersiap menembakan meriam airnya lagi.


Ini bahaya!


Para mage belum kembali memperbaiki barisan begitu pula dengan para paladin. Kalau di biarkan akan sampai ke barisan para priest.


Kalau begitu…


“Laura berikan aku dan Emilia Holly Protection!”


“Baik.”


Seorang petualang berteriak,”Oi oi oi. Kalian ingin selamat sendiri?”


“Kau diam! Jangan ganggu master!” kata Emilia dengan nada marah.


“Ayo Emilia! Kamu gunakan skill Blue Fire lagi dan aku akan menggunakan Ignis Union. Tapi kali ini kita kana menggunakan Caleo.”


“Siap master.”


Setelah Laura menggunakan Holly Protection pada kami berdua, aku dan Emilia maju. Tepat saat Adamantoise menyerang kami juga menyerang. Kami berdua menahan tembakan itu dengan Blue Fire dan Ignis Union yang digabungkan. Serangan kami berhasil menahan meriam air Adamantoise.


Para paladin dan mage sudah kembali ke formasi mereka dan melakukan serangan. Rafael. Ruka dan juga Mia menyerang bagian kepala lagi bersama petualnga yang lainnya.


Aku dan Emilia masih mencari titik lemah Adamantoise. Laura mengerti apa yang aku dan Emilia lakukan, jadi ia berfokus memberikan dukungan padaku dan Emilia.


“Gadis Elf! Apa yang kau lakukan? Kenapa hanya mereka saja yang kau support?” tanya pemimpin pasukan priest.


“Kenapa? Kau tanya kenapa? Karena dari awal mereka tidak ada yang support dan juga mereka melakukan hal yang lebih masuk akal.”


“Masuk akal dari mana?”


“Perhatikan yang tim penyerang, apa tujuannya? Serangan asal? Aku akan maju mengikuti mereka berdua.”


“Apa priest maju?”


Dia menghampiri Mia dan berkata,” Aku akan membantu mereka berdua.”


“Kenapa?” tanya Mia.


“Aku lebih percaya mereka daripada kelompok ini. Sejujurnya kelompok ini kacau sekali.”


“Baiklah aku juga ikut.”


Laura dan Mia mengikuti aku dan Emilia maju ke depan. Aku membuat Caleo sebagai pijakan untuknya. Ternyata Laura lincah juga bisa mengikuti kecepatan Caleo. Kulihat beberapa petualangg tercengang dengan cara bertarung kami berempat.


Kami terlihat seperti terbang dengan kecepatan tinggi. Aku menggabungkan Gladio dengan Ignis sehingga aku sekarang mengguanakn pedang api. Emilia juga menggunakan Blue Fire dan masamune. Kami berdua mulai menyerang dari jarak dekat.


Ketika aku menyerang tepat di tengah-tengah cangkangnya aku merasa ada energy aneh dari sana. Mungkinkah itu sumber kehidupan atau titik lemahnya?


“Emilia kita fokus menyerang di tengah cangkang!”


“Baiklah master!”


Kami berdua melakukan serangan beruntun pada titik itu. Mau sekeras apapun, kalau di serang secara terus menerus pasti akan hancur juga. Laura juga membantu menggunakan Holly Ray. Sementara Mia melindungi kami dari serangan yang mendekat.


Kami melakukan serangan itu selama beberapa waktu tanpa menghiraukan petualang lain yang menyerang bagian kepalanya. Mereka tidak memperhatikan kalau kepalanya selalu beregenerasi setiap terluka. Berbeda dengan cangkangnya yang tetap meninggalkan luka dari seranganku dan Emilia sebelumnya.


KRAAAAKK


Akhirnya kami berhasil menembusnya. Adamantoise itu nampak kesakitan ketika kami menghancurkan cangkangnya. Terlihat sebuah kristal berwarna biru di balik cangkang yang kami hancurkan.


Aku harap tidak ada rage mode agar kami tidak semakin sulit mengalahkannya. Tidak ada perubahan pola serangan setelah beberapa saat, jadi tidak ada rage mode. Ini akan selesai.


“Ayo kita selesaikan ini!”


“Baik!” jawab Emilia, Laura, dan juga Mai.


Lalu kami berempat menghancurkan kristal itu bersama-sama. Setelah kristal itu hancur, Adamantoise itu mengaum dengan keras, lalu tumbang dan mati.


Ini lebih mudah daripada melawan Roxas. Serangan milik Adamantoise yang monoton serta ukuran yang besar dan lambat mebuat kami mudah untuk mengalahkannya. Serangannya memang kuat, tapi sangat mudah dihindari. Aku heran kenapa sampai ada yang terkena serangannya.


Aku tidak terlalu memeprhatikan Rafael yang lainnya ketika kami berempat melancarkan serangan. Beberapa petualang terlihat kelelahan. Mereka melancarkan serangan yang sia-sia. Aku heran apa mereka ini benar-benar pernah menaklukan dungeon.


“Mia, ketika kembali ada beberapa hal yang ingin aku tanyakan.”


“Baiklah. Pasti soal para petualang ini kan?”


“Ya. Sekarang cari Rafael dan yang lainnya. Kemudian kita kembali.”


“Aku mengerti.”


Mia lalu pergi mencari Rafael dan yang lainnya.


“Ciel kamu juga merasakannya?” tanya Laura.


“Ya.”


“Aku juga sama master.”


“Aku rasa walau kita hanya bertiga ini mudah,” kata Laura.


“Menurutmu yang sudah lama menjadi petualang daripada kami, apa mereka pernah melawan boss dungeon?” tanyaku pada Laura.


Laura menggelengkan kepalanya.


“Seminggu lagi kita akan berangkat ke Ellis. Bagaimana menurut kalian?”


“Saya tidak keberatan master,” jawab Emilia.


“Aku juga,” kata Laura


Kami bertiga kemudian menemui pemimpin kelompok penjelajahan ini. Aku merasa kesal sekali dengan kelompok ini. Tidak peduli peringkatnya apa tapi cara mereka ini, membuat banyak yang terluka dan juga tewas.


“Kau pemimpin kelompok ini?” tanyaku.


“Ya, memang kenapa?”


“Apa kau sadar apa yang sudah kau lakukan?”


“Tentu, kami berhasil mengalahkan monster itu. Jangan kira dengan mengawal party pahlawan kalian lebih hebat dari kami.”


Laura maju mendekatinya


“Dari kata-katamu, aku sudah kalau kau belum pernah melawan boss dungeon,” kata Laura.


“Apa yang kau katakan? Jangan asal bicara.”


Laura menunjuk ke kepala Adamantoise.


“Lihat apa ada luka di tempat kalian menyerang?”


Si ketua melihat kepala itu.


“Tidak ada, tapi dia mati kan?”


“Itu memang benar. Tapi siapa yang mengalahkannya?”


Lalu Laura menunjuk ke cangkan yang kami hancurkan.


“Bagaimana…?” tanya Laura.


"Kami tidak peduli siapa yang mengalahkannya. Tapi cara kalian ini membuat banyak yang tewas," kata Emilia.


Aku memberi kode ke Emilia dan Laura dengan menganggukan kepala.


“Kami bertiga adalah orang yang mengalahkan Roxas sebelumnya,” kata Emilia.


“Tidak mungkin. Yang mengalahkan Roxas adalah seorang laki-laki bersama gadis serigala dan juga elf. Tunggu dulu kalian…,” katanya sambil menunjuk kami dengan wajah gugup.


“Pikir saja sendiri,” kataku.


Kemudian kami pergi mencari Mia. Setelah ketemu , kami dan juga party pahlawan kembali ke kota meninggalkan kelompok penjelajah.