
Kami akhirnya sampai di lantai 5 dari Royal Dungeon. Ketika kami pertama kali tiba, kami berada di depan sebuah pintu besar yang memiliki ukiran sebuah perisai dengan dua buah pedang yang menyilang.
"Pintu ini?" tanya Emilia.
"Pintu ruangan boss dari lantai 5 pastinya," jawabku.
"Ciel, sebaiknya kita istirahat saja dulu sebelum masuk ke dalamnya," kata Laura memberi saran.
"Aku juga setuju dengan Laura master."
"Baiklah. Aku juga sudah lelah."
Kami beristirahat sebelum menghadapi boss di lantai 5 ini. Kami makan dan juga minum, lalu kami juga tidur sebentar untuk memulihkan diri. Kami juga mengisi mana dengan meminum potion mana.
Ketika istirahat kami sudah cukup, kami mempersiapkan diri untuk bertarung dan masuk ke dalam ruangan boss. Kami berdiri di depan pintu itu dan cahaya dari pintu itu menyinari kami bertiga.
Ketika cahaya itu menghilang, pintu itu mulai terbuka. Getaran dari pintu itu bisa kami rasakan serta suara gesekannya dengan lantai sangat keras.
"Kalian siap?"
"Tentu."
"Ya master."
Kami melangkah masuk ke dalam ruangan boss. Ketika kami masuk, ruangan itu cukup luas namun gelap. Di tengah ruangan itu terdapat sebuah lingkaran sihir.
Saat kami sudah berada di dekat lingkaran itu, pada dinding-dinding ruangan muncul api biru yang menerangi seluruh ruangan. Lingkaran sihir itu juga mengeluarkan cahaya.
"Master, hati-hati."
"Ya. Akan segera dimulai pertarungan kita."
"Aku akan memberikan beberapa skill support."
Laura mengaktifkan beberapa skill miliknya.
Divine Protection
Null All
Accelerate
Sword Blessing
Aku baru pertama kali mendengar 2 skill terakhir.
"Laura 2 skill terakhir tadi?" tanyaku.
"Itu skill dari class saint. Peningkatan kecepatan dan juga kekuatan serang," jawab Laura.
"Hebat sekali Laura," kata Emilia.
Kemudian dari tengah lingkaran sihir itu muncul monster berkepala manusia dan memiliki tubuh seekor singa berwarna merah. Ia memiliki sepasang tanduk di kepalanya dan juga sepasang sayap naga. Ekornya adalah ekor dari kalajengking.
Boss Manticore telah muncul.
"Itu manticore," kata Emilia.
"Ya. Tapi pastinya bukan manticore biasa karena ia menjadi boss bukan?" kata Laura.
"Kita harus lebih berhati-hati kalau begitu."
Manticore memang sering muncul di dalam sebuah dungeon. Tapi untuk menjadi boss, itu pasti memiliki sesuatu yang berbeda dan ia pasti sangatlah kuat.
Laura juga mengaktifkan Holy Wall sebagai perlindungan. Aku menahan cakar manticore dan Emilia di bagian ekornya. Dengan menggunakan Ignis, aku menembakan bola-bola api yang memaksa manticore itu mundur.
Emilia menggunakan Mirror Image untuk mengeluarkan beberapa bayangan sebagai pasukan bantuan. Laura menembakan Holy Ray pada manticore itu juga.
Manticore itu menggunakan nafas api untuk menyerang kami, namun di tahan oleh Laura dengan menggunakan Holy Wall. Aku menggunakan Caleo untuk membuat Emilia dan bayangannya mendekati manticore.
Ketika sudah di dekat manticore itu, mereka langsung menggunakan serangan cepat. Manticore yang kesusahan menerima serangan Emilia, mengaum dan membuat gelombang yang melemparkan Emilia beserta bayangannya. Bahkan lantai di sekelilibg manticore hancur karena gelombang itu.
Laura segera berlari ke tempat Emilia untuk mengobati luka Emilia. Berkat Divine Protectio****n, Emilia tidak terluka parah.
Manticore yang melihat Emilia sedang diobati, segera menerjang ke tempat Emilia dan Laura. Namun karena ada Umbra milikku pada Laura, manticore itu tidak bisa mendekat. Umbra milikku membentuk dinding tombak untuk melindungi mereka berdua.
Aku maju menyerang menggunakan Gladio dan juga Luminatio. Dengan menggunakan ekornya, manticore itu menyerangku. Aku melompat mundur untuk menghindari serangan itu. Luminatio milikku langsung membalas serangan manticore secara otomatis.
Serangan dari Luminatio milikku berhasil membuat beberapa luka pada ekor manticore. Manticore itu berusaha membalas serangan dengan menggunakan nafas apinya.
Dengan menggunakan Grando, aku membuat dinding es untuk menahan serangannya. Aku melompat ke atas dan menyerang dengan menggunakan Arcus Ignis. Tembakan panah api itu mengenai kedua sayap manticore itu.
Namun seranganku itu tidak bisa membakarnya. Aku pikir kalau ia pasti memiliki ketahanan terhadap api. Selain itu, aku merasa kalau ia lebih kuat dari Black Dragon. Hanya saja ukurannya yang lebih kecil.
Ketika aku masih berada di udara, manticore itu terbang dan menabraku hingga terbentur ke dinding. Tidak sampai di situ saja, ia juga menggunakan ekornya untuk menyerangku. Walau aku sudah menghindarinya, kaki kananku tetap terkena.
"Master!!"
"Ciel!!"
Aku merasakan kakiku mati rasa. Null All milik Laura mungkin sudah mengurangi efeknya. Karena biasanya racun manticore ini langsung membuat lumpuh dan kemudian mati secara perlahan.
Aku masih bisa bertahan walaupun kaki kananku tidak dapat kugerakan. Manticore berusaha menyerangku lagi, namun aku menembakan serangan menggunakan Luminatio Union, yang membuatnya tidak bisa mendekatiku.
Emilia yang sudah pulih langsung menyerang manticore. Sementara Laura mengobatiku, aku juga membantu Emilia dengan menembakan Ignis.
"Maaf merepotkanmu Laura."
"Tidak apa, ini sudah menjadi tugasku. Ini akan membutuhkan sedikit waktu, jadi aku mohon bersabarlah."
Emilia melapisi kedua pedangnya dengan Blue Fire. Ia kemudian menyerang manticore dengan cepat. Sekali lagi ia menggunakan aumannya untuk menjauhkan Emilia, namun Emilia yang sudah tahu akan hal itu menggunakan bayangannya sebagai perisai.
Aku bisa melihat kalau efek dari api milik Emilia ternyata berdampak pada manticore. Aku kira itu karena api Emilia adalah api roh sehingga bisa membakar manticore.
Manticore itu menyerang Emilia dengan ekornya. Sepertinya ia berusaha melakukan hal yang sama padaku sebelumnya. Emilia berhasil menangkis serangan itu dan bahkan ia memotong jarum sengat yang ada di ekornya.
Manticore itu terlihat sangat terkejut ketika jarum sengatnya terpotong. Ia terbang menjauhi Emilia dan menembakan nafas apinya.
Laura yang sudah selesai mengobatiku, segera melindungi Emilia dengan Holy Wall. Ketika manticore itu akan terbang, aku menembakan Arcus Umbra untuk mengikat dirinya.
Ia berusaha mengaum untuk melepaskan ikatan itu. Namun Laura membuat Holy Wall mengelilingi manticore. Bahkan di bagian atas juga dibuatnya. Auman manticore itu, menghancurkan lantai di bawahnya dan juga melukai dirinya sendiri.
"Emilia, ayo kita akhiri sekarang."
"Baik master."
Aku dan Emilia melesat menggunakan Caleo. Serangan gabungan antara Gladio milikku ditambah dengan Blue Fire Emilia yang melapisinya langsung mengarah ke kepala manticore itu.
Dengan 1 tusukan di kepala, kami berhasil menyelesaikan pertarungan ini. Manticore itu hancur menjadi debu berwarna hitam. Kemudian debu itu membentuk sebuah bola kristal.
"Ciel, itu…," kata Laura.
"Sepertinya itu adalah jalan keluar kita dari sini."
Ketika aku menyentuhnya, muncul pilihan untuk lanjut atau keluar. Tentu saja kami memilih untuk keluar dari Royal Dungeon ini.