Alchesia

Alchesia
Chapter 45 Royal Dungeon 3



Kami tiba di lantai 4. Lantai ini berupa wilayah pegunungan dan bebatuan. Kami sudah tidak terkejut lagi melihat ini karena apa yang kami lihat di lantai 3 sebelumnya.


Aku sepertinya sudah tahu monster macam apa yang ada di lantai 4 ini. Laura tiba-tiba menyentuhku dari belakang ketika kami sedang berjalan.


"Maaf…," kata Laura tertunduk lesu.


"Kenapa meminta maaf?" tanyaku bingung.


"Di lantai 3 tadi, aku tidak membantu banyak dalam pertarungan melawan monster-monster itu."


"Hmmm, soal itu tidak apa-apa. Kamu juga tidak salah. Selain itu tugasmu memang di belakang sebagai pendukung bukan?"


"Tapi…"


Aku mengusap kepalanya dan berkata kalau tidak apa-apa. Aku baru tahu kalau Laura juga bisa mengeluarkan wajah imut. Padahal selama ini ia terlihat paling dewasa diantara kami bertiga.


Laura memang bertugas di belakang sebagai pendukung serangan dan juga penyembuh. Ia memang tidak sesuai bila harus bertarung seperti diriku dan Emilia. Namun berkat dukungan Laura selama ini, kami bisa bertahan.


Emilia juga menghibur Laura dan memberikan semangat padanya. Di lantai 3 tadi Laura memang harus menghemat mana untuk pertarungan berikutnya dan dia sepertinya masih belum mengerti.


Lantai 4 ini kami sepertinya akan merepotkan Laura untuk bertahan. Benar saja beberapa ogre yang membawa gada kayu raksasa datang mendekat.


"Laura, sekarang giliranmu," kata Emilia.


Laura baru mengerti ketika melihat ogre-ogre itu datang. Lalu ia menggunakan Divine Protection pada kami bertiga dan juga Anti Regeneration pada ogre-ogre itu.


Skill Anti Regeneration memiliki efek mengurangi kemampuan regenerasi target hingga 90 persen. Ogre memiliki kemampua regenerasi yang sangat tinggi sehingga akan sulit untuk melukainya.


Aku sebenarnya bisa menggunakan Ignis Unio****n untuk mengalahkan mereka tapi aku juga harus menghemat manaku. Untuk saat ini glyph yang paling sesuai kugunakan adalah Gladio atau Arcus. Aku juga menggunakan Umbra untuk melindungi Laura.


Aku dan Emilia maju menghadapi ogre-ogre itu. Serangan mereka banyak yang meleset dan menghancurkan lantai dungeon ini. Walaupun senjata mereka hanya terbuat dari kayu, tapi kekuatan ayunanya sangat kuat.


Aku menggunakan Arcus untuk membutakan mata mereka dan serangang penghabisan dilakukan oleh Emilia. Terkadang Laura juga menembakan Holy Ray kepada ogre-ogre itu.


Seperti lantai 3, aku mencari keanehan dari lantai 4 ini. Namun tetap tidak bisa aku temukan. Emilia dan juga Laura membantu mencari keanehan itu, namun hasilnya nihil.


Ketika kami sedang bertarung dan juga mencari, segerombolan naga kecil datang dan menembakan beberapa bola apinya kepada kami. Namun Laura dengan Holy Wall miliknya dapat menangkis bola-bola api itu.


"Kita sudah pernah melawan naga yang lebih kuat dari ini," kataku.


"Benar master. Yang ini belum ada apa-apanya dibandingkan dengan naga yang kita lawan dulu."


"Black Dragon jelas sekali lebih kuat dari naga-naga ini, " kata Laura semangat.


Mereka lebih mudah diserang. Sisik mereka juga tidak keras sama sekali, atau mungkin tidak bisa digunakan untuk pertahanan diri sama sekali.


Aku dan Emilia bahkan bisa membunuh mereka dengan mudah. Naga-naga itu bekerja sama dengan ogre-ogre itu untuk menyerang kami bertiga.


"Hal aneh lainnya," kata Emilia.


"Maksudnya?" tanyaku bingung.


"Maksud Emilia adalah tidak mungkin naga akan bekerja sama dengan ogre. Karena naga itu adalah ras yang lebih tinggi daripada ogre," jawab Laura.


"Tapi, karena dari awal dungeon ini sudah aneh, maka tidak mengherankan sesuatu yang aneh seperti ini terjadi bukan?" kataku.


Emilia dan Laura menjawab dengan senyuman.


"Emilia, kamu lawan ogre-ogre itu. Aku akan melawan para naga kecilnya. Lalu Laura gunakan skill support untuk membantu kami."


"Baik," jawab Emilia dan Laura bersamaan.


Pertempuran kami dimulai. Ogre-ogre langsung maju menyerang ke arah kami. Emilia menggunakan Blue Fire pada kedua pedangnya dan menyerang para ogre itu. Kelincahan Emilia bukan tandingan mereka.


Ia berhasil menumbangkan beberapa ogre dengan cepat. Laura juga menggunakan Holy Ray untuk membantu Emilia dalam pertarungannya.


Sementara aku langsung melesat menuju ke tempat para naga itu dengan menggunakan Caleo. Sebagai pembukaan beberapa naga langsung dihantam dengan Luminatio yang mengelilingiku.


Sekarang mode sihir Ignis dan Grando. Sesedikit mungkin akan aku gunakan kedua glyph ini. Tembakan api dari Ignis dan juga tembakan es dari Grando membuat naga-naga itu tumbang satu persatu.


Aku mengganti glyph menjadi Gladio untuk menghemat mana. Pedang dari Gladio ini bisa menebas mereka dengan mudah. Dari pertarungan sihir menjadi pertarungan pedang.


Pertarungan ini tidak terlalu sulit bagi kami, hanya saja memakan waktu. Kami awalnya berpikir mungkin ada cara untuk menghentikan mereka seperti lantai-lantai sebelumnya, namun tidak bisa.


Setelah beberapa saat, kami akhirnya bisa mengalahkan mereka semua. Ketika kami akan melanjutkan perjalanan, seekor naga merah muncul bersama dengan ogre yang memakai armor lengkap.


Mini Boss Ogre General dan Flame Dragon telah muncul.


Ternyata ada juga mini boss di sini pikirku. Naga dan ogre dengan peringkat A ini akan melawan kami.


"Master, mereka ini?"


"Mini boss. Mungkin mereka adalah syarat menyelesaikan lantai 4 ini."


"Baiklah, kita hanya perlu mengalahkan mereka saja bukan?" tanya Laura.


Aku mengangguk.


Aku memulai serangan dengan menggunakan Luminatio Union. Serangan ini mengeluarkan 6 buah bola cahaya dan menembak musuh. Serangan ini kuarahkan kepada Flame Dragon.


General Ogre yang melihat seranganku tadi berusaha menyerang, namun ditahan oleh Emilia. Adu serangan antara Emilia dan General Ogre terjadi. Suara senjata mereka yang beradu menggema di sini.


Sementara itu Flame Dragon menyerang balik dengan menembakan bola-bola api secara beruntun. Laura menggunakan Holy Wall untuk menangkis serangan itu.


Flame Dragon kemudian terbang untuk menyerang Laura. Aku menggunakan Arcus Umbra untuk melindungi Laura. Serangan berupa panah hitam yang kemudian mengikat target dengan bayangan.


Serangan itu membuat Flame Dragon terjatuh dan tidak bisa bergerak lagi. Aku menembakan Luminatio Union lagi secara berulang-ulang untuk menghabisinya. Setelah beberapa serangan akhirnya Flame Dragon itu mati.


Sekarang tinggal Ogre General yang sedang dilawan Emilia. Sepertinya Emilia bisa mengatasinya sendiri. Ia menggunakan Stealth untuk menghilang lalu menyerang Ogre General dari belakang. Pola itu dilakukan terus menerus.


Ogre General memiliki gerakan yang lambat apalagi ia juga mengenakan perlengakapan berat yang membuat dirinya semakin lambat. Serangan api dari pedang Emilia membuat Ogre General itu terluka parah.


Sebenarnya Emilia bisa mengalahkannya dengan cepat bila tidak menghemat mana. Setelah beberapa serangan, Emilia mengakhiri pertarungan dengan satu tusukan di dada.


Setelah Ogre General kalah, pintu menuju lantai 5 muncul. Lantai selanjutnya adalah lantai boss dan juga jalan pulang kami.